background image
Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Periodontologi
dari Masa ke Masa
S.W. Prayitno
Max Joseph Herman
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Periodontologi adalah cabang Ilmu Kedokteran Gigi yang
mempelajari pengetahuan mengenai jaringan gusi, tulang
penyangga gigi dan jaringan ikat di sekitar gigi dalam keadaan
sehat dan sakit yang meliputi juga cara pencegahan dan pe-
rawatannya.
Berbagai bentuk penyakit jaringan ini telah mulai di-
kenal manusia sejak permulaan sejarah. Kemudian berdasarkan
hasil pengamatan maupun penelitian-penelitian yang dilakukan
para ahli ilmu ini terus berkembang melalui berbagai macam
perubahan konsep.
Selama beberapa dasawarsa terakhir ini perkembangannya
demikian pesat, lebih-lebih dengan kecanggihan teknologi di
bidang diagnostik sehingga misteri-misteri mengenai periodon-
tologi dapat terungkap.
Dalam makalah ini akan dibahas secara bertahap perkem-
bangan periodontologi dan waktu ke waktu, didahului secara
singkat mengenai garis besar sejarah perkembangannya.
SEJARAH PERIODONTOLOGI
(1)
Studi dalam paleopatologi menjelaskan bahwa penyakit
periodontal dengan tanda-tanda kehilangan tulang telah menye-
rang manusia dan berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan,
seperti antara lain yang ditemukan pada orang-orang Mesir purba
dan penduduk asli Amerika pra Columbus. Praktek-praktek
mengenai pencegahan penyakit ini telah dibuktikan semenjak
300 tahun S.M. di Sumeria dengan ditemukannya peninggalan
kuno berupa tusuk gigi emas. Pada hampir semua tulisan zaman
dahulu yang dapat diselamatkan, ditemukan banyak bab yang
menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan penyakit perio-
dontal. Hubungan antara karang gigi dan penyakit periodontal
sering dibahas, dan penyakit sistemik sering diperkirakan se-
bagai penyebab penyakit periodontal. Tetapi pembahasan me-
ngenai penyebab dan metode perawatannya baru muncul pada
abad 15.
Lama sebelum Pierre Fauchard (1678­1761), Bapak Ilmu
Kedokteran Gigi Modern, menganjurkan pencegahan penyakit
gusi dengan obat-obat kumur Besar kita Muhammad SAW
yang dilahirkan di Mekah pada tahun 570 telah mengenalkan
dasar-dasar kebersihan mulut kepada kaumnya dengan cara me-
masukkannya ke dalam syariah agama. Islam telah mengajarkan
pentingnya kebersihan raga dan jiwa. Di antara tugas orang
muslim yang ditentukan (Hadits) adalah keharusan membersih-
kan din lima kali setiap hari, termasuk melakukan kumur-
kumur 5 x 3 atau 15 kali sehani, sebelum menunaikan ibadah
shalat. Nabi juga menganjurkan membersihkan gigi dengan
siwak atau miswak, tangkai pohon Salvadora Persica, yang
kayunya mengandung natrium bikarbonat dan asam tanin dan
juga adstringen yang mempunyai efek menyehatkan gusi. Cara-
cara yang dianjurkan oleh Nabi tersebut sampai sekarang masih
digunakan.
Bukti lain yang dapat diungkapkan adalah bahwa pada abad
15 bangsa Inggris masih kurang memberikan perhatian pada ma-
salah kebersihan pribadi. Ratu Elizabeth I sendiri menjelaskan
bahwa beliau hanya mandi satu kali dalam satu bulan. Sabun
sangat mahal dan jumlahnya sangat terbatas karena merupakan
barang impor. Meskipun demikian perlunya membersihkan
mulut sering ditekankan dalam tulisan-tulisan pada waktu itu.
Sikat gigi ternyata tidak biasa digunakan meskipun beberapa
orang membersihkan giginya dengan jan yang dibungkus kain.
Penggunaan tusuk gigi sangat populer di antara orang-orang
pandai dan kaya, yang mengimpor barang tersebut dari Perancis,
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
5
background image
Spanyol dan Portugal. Hal ini semua sangat erat hubungannya
dengan penyakit periodontal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
6
Akhirnya pada abad 20 ini bermunculan para klinisi dan
ahli yang meminati bidang Periodontologi. Dewasa ini perkum-
pulan dokter gigi yang berminat di bidang Periodontologi telah
banyak terbentuk di seluruh dunia, antara lain yang terkenal
dengan nama International Academy of Periodontology. Mereka
saling tukar menukar pengetahuannya melalui seminar, kongres
atau majalah-majalah international yang terkenal. Puncaknya
pada akhir tahun 1992 telah diselenggarakan International
Conference on Periodontal Research (ICPR) IX di Jepang
dengan tema Pathologic Features of Host Responses and Their
Use in Diagnostic Strategies. Pembahasannya meliputi Bacte-
rial Pathogenesis, Immunopathogenesis (cellular and mo-
lecular), Clinical Diagnostic Strategies dan Periodontal Tissue
Regeneration ( cellular and molecular biology), sebagai hasil
penelitian dengan menggunakan teknologi tinggi. Dan pada
tahun 1995 ini ICPR X diadakan lagi di Rochester Amerika
Serikat dengan tema Molecular Basis of Periodontal Pathology
and Therapy.
BIDANG DIAGNOSTIK
Apabila perkembangan periodontologi ditelusuri, dapat
diamati perkembangan konsep mengenai diagnostik. Dalam ber-
bagai literatur, bidang diagnostik ini sering dijelaskan melalui
pembagian penyakit atau klasifikasi.
Goldman, Schluger dan Fox (1956) mengklasifikasikan pe-
nyakit periodontal sebagai berikut
(2)
(Tabel 1).
Tabel 1. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Goldman, Schiuger, Fox, 1956)
(2)
Setelah lebih dari 30 tahun melalui berbagai penelitian dan
pengamatan, baik secara laboratorik maupun klinik, Genco,
Goldman dan Cohen (1990) dalam bukunya yang berjudul Con-
temporary Periodontics telah menyarankan kiasifikasi penyakit
periodontal sebagai berikut
(3)
(Tabel 2).
Apabila diamati, ada kesan bahwa pada kiasifikasi `56 mar-
ginal periodontitis dianggap merupakan lanjutan gingivitis yang
tidak: terawat. Demikian juga faktor-faktor lokal yang dianggap
sebagai penyebab gingivitis juga dianggap sebagai penyebab
marginal periodontitis. Istilah idiopathic dimasukkan dalam
klasifikasi `56 dan tidak muncul dalam kiasifikasi `90. Hal ini di-
sebabkan karena perkembangan yang demikian pesat di bidang
etiologi sehingga berbagai faktor risiko telah banyak diketahui.
Masalah oklusi traumatik yang pada klasifikasi `56 merupa-
kan bagian yang cukup mendapatkan perhatian, pada klasifikasi
Tabel 2.. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Genco,Goldman,Cohen, 1990)
(3)
`90 tidak terungkap. ini bukan berarti masalah oklusi traumatik
tidak penting, tetapi karena tidak banyak pembuktian yang di-
laporkan bahwa oklusi traumatik merupakan salah satu penyebab
itama terjadinya marginal periodontitis seperti yang diperkira-
kan semula.
Akhir-akhir ini dengan mengkaitkan faktor penyakit siste-
mik dan sistem pertahanan tubuh Ranney (1993) telah menyusun
kiasifikasi yang lebih jelas dan rinci sebagai berikut
(4)
.
Tabel 3. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Ranney, 1993)
(4)
A. Gingivitis
1.
Gingivitis,
plaque
bacterial
Non-aggravated
Systemically
aggravated
Related
to
sex
hormones
Related
to
drugs
Related to systemic disease
2.
Necrotizing
ulcerative
gingivitis
Systemic
determinants
unknown
Related to HIV
3.
Gingivitis,
non-plaque
Associated
with
skin
disease
Allergic
Infectious
B. Periodontltis
1.
Adult
periodontitis
Non-aggravated
Systemically
aggravated
Neutropenias
Leukemias
Lazy
leukocyte
syndrome
AIDS
Diabetes
mellitus
Crohn's
disease
Addison's
disease
2.
Early-onset
periodontitis
Localized
early-onset
periodontitis
Gingival diseases and conditions
A. Gingivitis
l. Marginal
gingivitis
2.
Acute
necrotizing
ulcerative
gingivitis (ANUG)
B. Gingivitis and other gingival changes with systemic involvement
1.
Gingival
changes
associated with sex hormnones
2.
Gingival
changes
associated
with diseases of the skin and mucous
membranes
3. Gingivitis in generalized systemic diseases
4.
Infective
gingivo
stomatitis
5.
Drug
associated
gingival
changes
C. Miscellanous gingival conditions
1.
Gingival
cysts
2.
Gingival
fistulas
3.
Neoplasms
4.
Gingival
clefts
5.
Gingival
recession
6.
Aberrant
frena
or
muscle
attachments
7. Epulis or gingival pyogenic of granuloma
8.
Gingival
abscesses
Periodontal diseases and conditions
Periodontitis in adults
1. AAP classification I, II, III, IV
2.
Epidemiologic
:
moderately and rapidly progressing periodontitis
3. Clinical based on treatment : refractory and recurrent
4.
Clinical based on
history :
recurrent acute necrotizing ulcerative
periodontitis and post localized juvenile periodontitis.
I. Inflammation
A. Gingivitis (with or without gingival enlargement acute or chronic)
II. Dystrophy
A. Disuse
B. Occlusal traumatism - accentuated or initiated by habits (bruxism,
clenching
etc)
1.
Malfunctional
occlusion
2.
Faulty
restorations
3.
Secondary to marginal periodontitis where clinical crown be
comes
greater
than
clinical
root.
4.
Secondary
to
periodontitis.
C. Degenerative disease of the attachment apparatus - periodontosis.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
7
Klasifikasi menurut Ranney ini didasari oleh berbagai hasil
penelitian yang dikaitkan dengan perkembangan mutakhir tekno-
logi canggih bidang diagnostik khususnya mikrobiologi dan
imunologi. Meskipun demikian diagnosis yang tegas dan pe-
nyakit periodontal tampaknya belum atau tidak dapat ditegakkan
untuk masa sekarang maupun di masa mendatang. ini membukti-
kan bahwa memang benar penyakit periodontal sifatnya sangat
kompleks.
ETIOLOGI PENYAKIT PERIODONTAL
Meskipun sejak permulaan abad ke 18 mikroorganisme
pada permukaan gigi telah ditemukan oleh Anton V. Leeuwenhoek
(1682­1723) dengan menggunakan mikroskop pertama hasil
ciptaannya
(5)
, hingga tahun 1956 Goldman dkk. dalam buku
teksnya yang berjudul Periodontal Therapy, belum menjelaskan
peran mikroorganisme yang telah ditemukan tersebut. Baru pada
tahun 1965 bertitik tolak pada suatu penelitian kiasik terkenal
yang dilakukan oleh Loe dkk.
(6)
keberadaan mikroorganisme
tersebut mulai dikaitkan dengan terjadinya keradangan gingiva.
Apabila kita menelusuri kembali etiologi penyakit perio-
dontal di masa sebelum penemuan Loe dkk. (1965), jelas sekali
belum ada ketegasan mengenai faktor penyebabnya sehingga
istilah idiopathic masih banyak digunakan. Diagnosis pada
umumnya hanya berdasarkan perbedaan gambaran klinik tanpa
dibarengi den.gan penjelasan mengenai faktor penyebab. Se-
bagai akibatnya istilah `periodontosis" selalu dipergunakan
untuk segala bentuk kerusakan jaringan periodontal pada usia
muda dengan tambahan penyebabnya idiopatik.
Tampaknya penemuan Loe dkk. merupakan titik awal dari
penyelidikan yang lebih intensif mengenai mikroorganisme se-
bagai penyebab utama penyakit periodontal. Didukung oleh per-
kembangan teknoiogi yang demikian pesat dalam dua dasawarsa
terakhir ini para ahli lebih dapat memperkirakan macam mikro-
organisme yang berbeda pada kelainan periodontal yang secara
klinis menunjukkan gambaran kelainan yang serupa.
Apabila telah disepakati bahwa mikroorganisme tertentu
sebagai penyebab utama penyakit periodontal, maka peran daya
tahan dan imunitas tubuh tidak dapat dipisahkan. Dewasa ini
mikroorganisme tertentu seperti Porphyromonas gingivalis,
Actinobacillus actinomycetemcomitans dan beberapa bakteri
anaerob lain sering ditemukan mendominasi daerah jaringan
periodontium yang mengalami keradangan Atas dasar pe-
nemuan tersebut masalah konsep spesifik dan nonspesifik pada
penyakit periodontal menjadi bahan perdebatan.
Neutrophil
abnormality
Generalized
early-onset
periodontitis
Neutrophil
abnormality
Immunodeficient
Early-onset periodontitis related to systemic disease
Leukocyte
adhesion
deficiency
Hypophosphatasia
Papillon-Lefevre
syndrome
Neutropenias
Leukemias
Chediak-Higashi
syndrome
AIDS
Diabetes
mellitus
type
I
Trisomy
21
Histiocytosis X
Ehlers-Danlos syndrome (Type VIII)
Early-onset periodontitis, systemic determinants unknown
3.
Necrotizing
ulcerative
periodontitis
Systemic
determinants
unkown
Related to HIV
Related
to
nutrition
4.
Periodontal
abscess
Dewasa ini para ahli banyak menaruh perhatian terhadap
penyakit periodontal lanjut yang terjadi pada usia muda seperti
yang dikelompokkan dalam juvenile periodonritis dan rapidly
progressive periodontitis. Pengelompokan ini antara lain ber-
dasarkan macam organisme yang ditemukan dalam poket. Kasus
ini sangat mengganggu baik fisik maupun mental penderita,
dan diperkirakan prevalensinya cukup tinggi (5%).
Di samping mikroorganisme dan sistem pertahanan, faktor-
faktor risiko lain seperti penyakit sistemik, hormonal, kebiasaan
merokok dan lain-lain dapat memperberat penyakit periodontal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa etiologi penyakit
periodontal sangat kompleks sehingga memerlukan pemilihan
dengan seksama terapi yang harus dilakukan. Yang menarik
adalah mengenai faktor merokok yang pada beberapa publikasi
aianggap sebagai faktor risiko, akhir-akhir ini dilaporkan ke-
mungkinan faktor suseptibilitas lebih berperan daripada rokok-
nya sendiri. Mereka yang merokok tetapi tidak ada masalah
suseptibilitas tidak akan terkena penyakit periodontal, sebalik-
nya apabila ada masaláh suseptibilitas, manifestasi penyakit
periodontal akan timbul
(9)
.
TERAPI PENYAKIT PERIODONTAL
Sejalan dengan perkembangan di bidang diagnostik dan
etiologi, bidang terapi juga mengalami beberapa perubahan.
1) Skeling dan Penghalusan Akar
Skeling dan penghalusan akar sejak lama merupakan suatu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk perawatan penyakit
periodontal. Skeling merupakan bagian dan prosedur perawat-
an yang penting untuk menghilangkan endapan yang lunak dan
keras pada daerah koronal dan epitel perbatasan (junctional
epithelium). Skeling saja sebenarnya sudah cukup untuk mem-
bersihkan kalkulus dan permukaan email, tetapi apabila pasien
telah menderita penyakit periodontal diperlukan juga penghalus-
an permukaan akar, karena permukaan akar merupakan tempat
timbunan bakteri yang dapat masuk dalam tubuli dentin. Peng-
halusan permukaan akar yang sempurna, yang meliputi pember-
sihan bakteri dan toksinnya, pembersihan kalkulus serta semen-
dan dentin yang sakit, dapat menghasilkan pennukaan akar yang
secara biologis masih dapat diterima. Meskipun demikian ang-
gapan tersebut masih perlu dipertanyakan karena penghalusan
permukaan akar dengan sempurna secara taktil belum menjamin
kebersihan secara mikroskapis. Oleh karena itu dalam beberapa
dasawarsa terakhir ini di samping melakukan skeling dan peng-
halusan permukaan akar, dianjurkan juga mengevaluasi efek-
tifitas dan hasil penghalusan sisa akar tersebut dengan melihat
secara visual kondisi jaringan.
Apabila setelah skeling dan penghalusan permukaan akar
background image
kesembuhan jaringan belum sempurna, hal ini dapat dipakai se-
bagai salah satu indikator bahwa penghalusan perrnukaan akar
juga kurang sempurna.
2) Antibakteri
Telah dijelaskan bahwa akhir-akhir ini peran berbagai ma-
cam mikroorganisme terhadap penyakit periodontal sangat me-
nentukan. Oleh karena itu banyak dilakukan penelitian untuk
menentukan macam obat apa yang paling efektif terhadap
bakteri patogen periodontal.
Apabila pada masa-masa lalu obat-obat kumur yang dianjur-
kan antara lain adalah NaCl atau peroxida, pada dua dasawarsa
terakhir ini obat kumur yang mengandung heksitidin atau
klorheksidin, yang telah terbukti di samping dapat mematikan
bakteri patogen periodontal juga dapat menghambat terbentuk-
nya plak dental, sangat dianjurkan penggunaannya. Umumnya
terapi ini diberikan untuk kasus gingivitis dan periodontitis
ringan. Untuk kasus periodontitis lanjut di samping pemberian
obat-obat kumur tersebut juga diberikan antibiotika secara sis-
temik. Obat pilihan untuk kasus ini adalah tetrasiklin, tetapi
akhir-akhir ini obat yang mengandung metronidazol telah di-
buktikan sangat efektif terhadap bakteri patogen periodontal.
Pengalaman klinik menunjukkan bahwa metronidazol dikom-
binasikan dengan amoksisilin sangat efektif untuk perawatan
periodontitis lanjut dan hasilnya sangat menjanjikan
(10)
. Pem-
berian metronidazol gel dan tetrasiklin juga banyak dipergunakan
untuk terapi lokal.
3) Bedah Periodontal
Pada prinsipnya kuretase adalah merupakan suatu tindakan
membersihkan bagian dalam dari dinding poket dengan tujuan
menyembuhkan jaringan dan keradangan. Kuretase dapat dila-
kukan bersamaan dengan skeling pada kasus-kasus psedopoket
atau sebagai bagian dan perawatan bedah flap. Sebelum dasawarsa
lima-puluhan berbagai tindakan bedah untuk perawatan penyakit
periodontal telab banyak diperkenalkan. Teknik-teknik bedah
untuk perawatan lesi jaringan tulang dan jaringan lunak seperti
osteotektomi, osteoplasti, gingivektomi dan gingivoplasti me-
rupakan cara-cara pilihan pada masa itu. Banyak dan prosedur
tersebut diperkenalkan tanpa melalui percobaan pada binatang
maupun pada manusia. Pada sekitar tahun tujuh dan delapan pu-
luhan beberapa peneliti membuktikan terjadinya beberapa risiko
pada jaringan pendukung setelah teknik-teknik bedah tersebut di
atas dilakukan. Akibat hasil penelitian klinik ini, beberapa fase
perawatan bedah seperti osteotektomi yang telah dianjurkan,
ditangguhkan atau ditunda. Sebaliknya pentingnya skeling dan
penghalusan akar dewasa ini sedang diteliti, yang mungkin akan
dipergunakan sebagai cara atau model yang definitif untuk pe-
rawatan periodontal.
4) Penyesuaian Oklusi dan Splinting
Karena oklusi traumatik dianggap sebagai penyebab pe-
nyakit periodontal, maka pada masa lalu tindakan penyesuaian
oklusi selalu dilakukan bila ditemukan oklusi prematur atau
bloking. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa oklusi traumatik tidak
menyebabkan kelainan periodontal sehingga terdapat pembatasan
pembatasan dalam melakukan penyesuaian oklusi. Apabila ter-
dapat kontak prematur atau bloking tidak perlu dilakukan pe-
nyesuaian oklusi kecuali apabila terjadi pada gigi yang ekstrusi.
Pada prinsipnya penyesuaian oklusi dilakukan dengan ke-
tentuan-ketentuan sebagai berikut:
a) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah
1, pengasahan dilakukan pada tonjol miring bukal gigi rahang
bawah.
b) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah
2, pengasahan dilakukan pada tonjol miring bagian lingual gigi
rahang atas.
c) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah
3, gigi rahang atas biasanya yang disesuaikan tetapi dalam be-
berapa kasus kadang-kadang perlu dilakukan juga penyesuaian
pada rahang bawah.
Sebaliknya apabila kegoyangan disebabkan berkurangnya ke-
tinggian jaringan pendukung, penyesuaian oklusi tidak akan
memberikan efek. Dalam keadaan demikian satu-satunya cara
adalah dengan splinting.
Dengan berkembangnya ilmu di bidang bahan kedokteran
gigi, dewasa ini splinting dapat dengan mudah dilakukan. Apa-
bila dahulu dilakukan dengan penggunaan kawat halus, seka-
rang dapat dilakukan dengan komposit yang lebih stabil.
BAHAN BANTU REGENERASI
Pada prinsipnya perawatan penderita penyakit periodontal
meliputi terapi anti infeksi, terapi rekonstruksi dan terapi pe-
meliharaan. Dalam fase rekonstruksi diharapkan terjadinya
regenerasi jaringan yang mengalami kerusakan setelah tindakan
bedah. Pada permulaan terapi bedah periodontal diperkenal-
kan, rekonstruksi atau regenerasi jaringan diharapkan terjadi
melalui proses kesembuhan murni. Kemudian diperkenalkan
bahan-bahan bantu regenerasi (graft) seperti penggunaan tulang
alveolar, atau bahan-bahan lain untuk memperoleh regenerasi
tulang alveolar yang lebih baik.
Akhir-akhir ini penggunaan bahan GTR (guided tissue
regeneration) dilaporkan telah membantu regenerasi dan pe-
lekatan jaringan baru ke permukaan akar dengan lebih baik. Pada
prinsipnya GTR dapat menghambat pertumbuhan jaringan epitel
melekat pada permukaan akar selama proses kesembuhan setelah
dilakukan bedah periodontal atau penghalusan permukaan akar.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
8
background image
Dengan bahan bantu regenerasi yang lain GTR juga diharapkan
dapat mengembalikan bentuk dan jaringan alveolar setelah ke-
sembuhan.
PERKEMBANGAN MUTAKHIR DI BIDANG PERIO-
DONTOLOGI
Di atas telah dijelaskan berbagai macam gambaran klinik
penyakit periodontal yang sering ditemukan, khususnya yang
tampaknya berhubungan dengan faktor intrinsik.
Hasil berbagai macam studi yang dilakukan akhir-akhir ini
memberikan kesan bahwa perbedaan genetik antar individu me-
megang peran penting dalam suseptibilitas terhadap periodon-
titis yang terjadi pada usia muda (early onset periodontitis)
(11)
.
Studi ini memusatkan penyelidikan mengenai pertahanan tubuh
keturunan (inherited hostdefenses) sebagai pelengkap dan studi-
studi terdahulu yang mempelajari interaksi bakteri, imunologi,
sitologi dan mekanisme biokimiawi dan patogenesis penyakit
pada daerah kerusakan jaringan. Dari hasil penelitian-penelitian
tersebut dapat disimpulkan bahwa etiologi penyakit periodontal
sifatnya sangat kompleks dan heterogen dengan berbagai macam
interaksi antara faktor keturunan dan faktor risiko lingkungan,
dan karena disebabkan oleh berbagai mekanisme patogenik,
menghasilkan berbagai bentuk kelainan yang sampai dewasa ini
secara klinis belum dapat dibedakan.
Dengan mengacu pada pengetahuan mengenai faktor gene-
tik dan bentuk penyakit lain dalam tubuh seperti karsinoma dan
penyakit kardiovaskuler, dewasa ini sedang banyak dilakukan
penyelidikan serupa untuk penyakit periodontal, mempelajari
implikasi dari hasil pengetahuan yang diperoleh, untuk bahan pe
nelitian di masa datang, penegakan diagnosis dan cara perawat-
annya.
Risiko terhadap perkembangan periodontitis tidak sama
pada setiap individu. Individu-individu tertentu mempunyai
risiko yang lebih tinggi datipada individu yang lain. Risiko ini
mungkin sebagian di bawah pengaruh genetik. Bukti yang paling
jelas mengenai risiko genetik pada periodontitis dapat dilihat dari
timbulnya periodontitis pada usia muda. Hal ini memberikan ke-
san bahwa penyakit-penyakit ini merupakan model yang sangat
berharga untuk mempelajari peran genetik pada suseptibilitas
penodontitis. Sebagai salah sam contoh adalah studi genetik
mengenal sindrom Papillon-Lefevre dan sindrom Haim-Monk.
Pada kedua sindrom tersebut terdapat gambaran klinik yang
hampir minip sehingga kedua penyakit tersebut dikelompokkan
dalam diagnosis banding dengan tanda-tanda klinik kerusakan
jaringan periodontium yang hebat pada usia 1­5 tahun dan ter-
dapat hiperkeratosis pada telapak tangan
(12)
. Hasil studi genetik
ini memberikan kesan bahwa efek dan gen pada sindrom Haim-
Monk bukan disebabkan oleh mutasi dari gen keratin seperti
yang terjadi pada kasus-kasus hiperkeratosis yang lain tetapi
kemungkinan disebabkan oleh mutasi gen lain yang masih me-
merlukan penelitian lebih lanjut
(13)
.
Demikian antara lain perkembangan penelitian-penelitian
mutakhir di bidang periodontologi untuk membuka tabir-tabir
yang selama ini masih tertutup.
KESIMPULAN
Dengan pesatnya kemajuan di bidang ilmu dan teknologi,
serta meningkatnya jumlah peneliti yang berminat melakukan
studi di bidang penodontologi, diharapkan di masa mendatang
akan ditemukan cara-cara pencegahan dan perawatan yang lebih
sederhana dan efektif, khususnya untuk kasus-kasus penyakit
periodontal lanjut yang ditemukan pada usia muda yang dewasa
ini masih cukup memprihatinkan para klinisi.
Para klinisi diharapkan selalu mengikuti perkembangan
ilmu di bidang penodontologi dan mengetrapkannya, agar dapat
memberikan umpan balik kepada para peneliti untuk penelitian-
penelitian lebih lanjut.
KEPUSTAKAAN
1. Prayitno SW. Periodontologi, cabang ilmu kedokteran gigi, peranannya
dalam menunjang pembangunan nasional bidang kesehatan. Pidato Pengu
kuhan, Februari 1993.
2. Goldman, Schluger, Fox. Periodontal therapy. CV. Mosby Company. St.
Louis, 1956: 15­18.
3. Genco RJ, Goldman HM, Cohen DW. Contemporary Periodontics. CV.
Mosby Company. St. Louis, 1990 : 63­65, 427­429.
4. Ranney RR. Classification of periodontal diseases. Periodontology 2000
Ed. by Harold Loe & L. Jackson Brown. Munksgard. Copenhagen Vol.2,
1993 : 13­4.
5. Malvin ER. Dentistry an illustrated history. Hany N. Abrams Inc. New
York, 1985.
6. Loe H, Theilade E, Jensen SB. Experimental gingivitis in man, J Periodon
tol 1965; 5/177­15/187.
7. Tanner ACR, Socransky SS, Goodson JM. Microbiodata of periodontal
pockets losing crestal alveolar bone. .1 Periodon Res 1984; 19: 279­91.
8. Scots J, Genco RJ. Black pigmented bacteroides soeçies, Capnocytophage
species and Actinobacillus IinomycctemcomitanS human periodontal
disease Virulence factors in lonization survival and tissue destanction J
Den Res 1984; 63: 412­21.
9. Seymour Gg. Komunikasi pribadi. 1995.
10. Prayitno SW. klinik 1995.
11. Scott R. Some thoughts on what might be learned by comparison of early
onset periodontitis with other complex human disease. Abstracts I.C.P.R.
Western New York, U.S.S. September 1995.
12. Hart TC, Stabhotz A, Meyle J, Shapira L, van Dyke TE, Cutler CW,
Soshone A. Genetic Studies of Syndromes with Severe Periodontitis and
Palpoj,lantarHyperkeratosis. Abstracts I.C.P.R. Western New York, U.S.A.
September 1995.
13. Hart TC, ShapiraL. Papillon-Lefevre syndrome: Periodontology 2000. Ed.
van Dyke TE. Munksgaard-Copenhagen Vol 6, 1994 : 88­100.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
9