Peranan
ERGOTAMINEe
pada migraine
dr. Sidiarto Kusumoputro
Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta
'It is
important to give it in the right form in the right dose
to
the right patient at the right time
"
WILKINSON -- 1971
Ergot pertama kali dipakai untuk peng-
obatan migraine pada tahun 1884 oleh
dr. WILLIAM H. THOMPSON; ia me-
makai cairan ekstrak ergot dengan dosis
dan cara pemberian yang hampir sama
dengan cara yang dipakai sekarang (10).
Alkaloid ergot terdiri dari 2 isomer,
bentuk levo dan bentuk dextro; yang
aktip dan dapat dipakai untuk pengobat-
an hanya yang berbentuk levo. Ergot da-
pat diisolasi untuk pertama kali dengan
ditemukannya ergotoxine dalam bentuk
kristal aktip pada tahun 1906, disusul
berturut-turut oleh ergotamine (1920),
ergosine (1936) dan ergonovine (1937).
Alkaloid ergot dapat berbentuk ergotami-
ne, ergosine, ergocristine, ergokryptine
dan ergonovine. Hanya yang terakhir ini
yang mempunyai efek oksitosik kuat dan
berguna untuk lapangan kebidanan.
Migraine ialah nyeri kepala vaskuler,
yang terjadi secara paroksismal, rekuren,
biasanya unilateral, disertai rasa mual/
muntah atau gangguan saraf otonom yang
lain. Disebut migraine klasik bila nyeri
kepala ini didahului oleh gejala prodromal
berupa gangguan visuil, motorik atau
sensorik; bila gejala-gejala prodromal ter-
sebut tidak ada, disebut sebagai migraine
umum.
FISIOLOGI
Efek fisiologik ergotamine berupa va-
sokonstriksi langsung pada otot-otot polos
pembuluh darah kranial dan efek peng-
hambat adrenergik. Untuk migraine, yang
disebut pertama mempunyai peranan lebih
penting. Telah dibuktikan bahwa nyeri
kepala migraine disebabkan oleh vasodi-
latasi dan peninggian amplitudo denyut
arteria temporalis. Ergotamine dapat meng-
hilangkan nyeri kepala ini dengan cara
menurunkan amplitudo denyut arteria
tersebut sampai 50% secara konstan dan
dalam waktu lama.
Zat-zat lain seperti ergonovine, ephedrine
sulphate dan benzedrine sulphate tidak
dapat
menurunkan amplitudo tersebut
seperti ergotamine, sehingga kurang ber-
guna pada pengobatan migraine (10).
BERDE (1) dalam penyelidikannya
pada anjing, telah melaporkan bahwa
alkaloid ergot mempunyai efek amfoterik.
Efek langsung pada otot polos pembuluh
darah ini sangat bergantung pada resistensi
vaskuler pembuluh darah tersebut pada
waktu itu. Ergotamine, dihydroergotamine
dan beberapa preparat serupa, mempunyai
efek vasokonstriksi pada resistensi vaskuler
rendah dan efek vasodilatasi pada resistensi
yang tinggi.
Tentang metabolisme ergotamine be-
lum
banyak
diketahui.
Dengan cara
fluoresensi
larutan
ergotamine
dalam
etanol dari hasil ekstraksi 5 ml plasma
darah penderita yang telah disuntik de-
ngan 0,5 mg ergotamine, dapat diukur
kadar ergotamine tadi sampai 2 nG/ml
(2 x 10
-9
G/ml) (2).
Dengan
pemberian secara parenteral,
ergotamine dapat menghilangkan nyeri
kepala dalam waktu 10 menit, tetapi
ergotamine dapat pula menyebabkan rasa
mual atau muntah dalam waktu 1 -- 2 jam
setelah diberikan. Dari hasil penyelidikan
itu ternyata ergotamine menurun sampai
kadar dibawah minimum yang dapat di-
ukur dalam waktu 5 -- 10 menit, tetapi
sebaliknya dapat ditemukan 'zat lain
'
yang konstan berada dalam plasma sampai
1½
jam. 'Zat lain' ini mungkin suatu
metabolit dari ergotamine yang meng-
gantikan ergotamine. Dihubungkan dengan
gejala kliniknya, maka disangka bahwa
ergotamine cepat
hilang, tetapi diganti
oleh metabolitnya yang masih tetap aktip
dan menyebabkan rasa mual atau muntah
(2).
ERGOTAMINE DAN CAFFEINE
Caffeine banyak dikombinasikan de-
ngan ergotamine pada preparat untuk
pengobatan
migraine.
Dalam hal ini
caffeine mempunyai efek sinergistik, se-
hingga kebutuhan ergotamine untuk va-
sokonstriksi akan lebih kecil. Mungkin
pula caffeine menyebabkan absorbsi ergo-
tamine lebih baik (9). Kenyataan mem-
buktikan bahwa campuran caffeine dan
ergotamine
kadang-kadang
mempunyai
efek lebih baik dibandingkan dengan
ergotamine saja.
Sebaliknya
penderita
yang mendapat nyeri kepala hebat, perlu
istirahat dan tidur sejenak. Dalam hal ini
caffeine sebaiknya tidak digunakan (9).
Istirahat dan tidur sejenak setelah minum
ergotamine akan mempercepat hilangnya
nyeri kepala dan juga akan mengurangi
kesempatan untuk mendapat serangan
berikutnya (10).
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
1 1
ERGOTISME
Intoksikasi ergotamine dapat berupa
intoksikasi akut setelah dosis kecil (hiper-
sensitivitas), intoksikasi akut setelah dosis
besar dan intoksikasi kronik dengan dosis
terapeutik selama beberapa waktu. Gejala-
gejala sampingan ringan dapat berupa rasa
mual, muntah, rasa tebal dan semutan pa-
da tungkai bawah, nyeri otot, kaku pada
paha dan kuduk. Efek yang lebih berat
menyebabkan ekstremitas membengkak,
cyanotik dan arteria tidak berdenyut,
kemudian terjadi gangrena.
Umumnya
intoksikasi ergotamine terjadi pada pe-
makaian parenteral atau suppositoria, te-
tapi beberapa intoksikasi setelah pemberi-
an peroral-pun pernah dilaporkan (5).
Spasme pembuluh darah akibat intoksikasi
ini biasanya terjadi ditungkai bawah.
Antara lain telah dilaporkan oleh IMRIE
(5) 2 kasus dan oleh MCLOUHGLIN (8)
1 kasus; semuanya dengan penyempitan
arteria tungkai bawah yang dibuktikan
dengan angiografi. Kasus pertama IMRIE
minum ergotamine selama 2--3 minggu
sebanyak 4 mg sehari (28 mg seminggu)
dan yang kedua selama seminggu minum
ergotamine 6--8 mg sehari (42 -- 56 mg
seminggu).
Telah dilaporkan pula penderita yang
menderita papillitis bilateral karena mi-
num ergotamine selama 6 hari sebanyak
40 mg (4). Semua intoksikasi tersebut
diatas disebabkan oleh dosis berlebihan.
Sebaiknya dosis tidak melebihi 12 mg
dalam seminggu (9). Kematian oleh intok-
sikasi hanya sekali dilaporkan, yaitu pada
seorang anak umur 14 bulan yang secara
tidak sengaja telah meminum 12 mg
ergotamine sekaligus. Penderita meninggal
karena edema cerebri (6). Gejala intok-
sikasi ergotamine biasanya dapat disem-
buhkan dengan menghentikan ergotamine
dan memberikan vasodilatansia.
CARA PEMAKAIAN
Meskipun telah dilaporkan beberapa
kasus intoksikasi ergotamine, tetapi angka
intoksikasi ini sangat kecil yaitu 0,01%
(3). Pada dosis terapeutik, fenomena kons-
triktip ini jarang terjadi asal diketahui
kontraindikasinya yaitu penyakit vaskuler,
kehamilan, hipertensi, gangguan faal ginjal
dan hati serta sepsis.
Ergotamine hanya dipakai untuk peng-
obatan akut migraine, yaitu pada waktu
nyeri kepala. Untuk terapi profilaktik
dapat dipergunakan obat-obat lain. Terapi
profilaktik dengan ergotamine kadang-
kadang dipergunakan juga untuk beberapa
saat pada
'
cluster-headache
'
(nyeri kepala
vaskuler, unilateral, dengan itensitas nyeri
yang hebat; terjadi dalam serangan-serang-
an nyeri yang berkelompok [cluster]
pada waktu-waktu tertentu, disertai de-
ngan mata merah, lakrimasi dan rasa hi-
dung tersumbat).
Beberapa ahli mempunyai pengalaman
baik dengan ergotamine dosis rendah
(0,3 mg) untuk pengobatan profilaktik
migraine. Karena takut efek sampingan,
maka kadang-kadang ergotamine diberi-
kan dengan sangat hati-hati; pada per-
mulaan dicoba dengan dosis sangat kecil,
bila tidak menolong menghilangkan nyeri
kepala, diulang dengan dosis yang lebih
besar dan seterusnya. Banyak penderita
yang tidak mempan dengan ergotamine,
mungkin karena dosis initial yang terlalu
kecil ini.
Hal ini dapat dimengerti, karena makin
lama vasodilatasi arteria makin hebat dan
dengan sendirinya membutuhkan dosis
ergotamine yang lebih besar pula (2).
Supaya pengobatan dengan ergotamine
memberi hasil yang memuaskan, maka
untuk tiap-tiap individu perlu ditentukan
dosis initial yang tepat dari ergotamine
ini. Maka tepatlah WILKINSON mengata-
kan 'it is important to give it in the right
form in the right dose to the right patient
at the right time'. Pemakaian 0,5 -- 1 mg
secara oral pada waktu nyeri kepala
dirasakan akan memberi hasil yang cukup
baik. Bilamana perlu dosis ini dapat di-
ulang tiap 30 menit sampai 3 kali (7).
Bila masih belum berhasil, sebaiknya
penderita diberi juga sedativa supaya da-
pat tidur, oleh karena dosis ergotamine
yang lebih besar lagi praktis tidak akan
berhasil juga. Bila terjadi muntah-muntah
dan pemberian peroral tidak mungkin,
dapat diberikan secara parenteral, i.m.
atau s.c. 0,25 -- 0,5 mg (9). Dapat pula
diberikan
suppositoria.
Suntikan
dan
suppositoria ergotamine tidak beredar di
Indonesia.
Dihydroergotamine mempunyai khasiat
vasokonstriksi yang lebih lemah diban-
dingkan dengan ergotamine, tetapi efek
sampingannya juga lebih sedikit. Dengan
dosis 0,5 mg sebagai dosis initial pada
waktu serangan nyeri kepala, dihydro-
ergotamine memberikan hasil yang baik
juga (7).
Pengobatan serangan akut dengan ergo-
tamine memberi perbaikan sebesar 80%.
Mungkin sekali bila pengobatan dilaku-
kan secara lebih tepat, angka ini dapat
menjadi lebih tinggi.
KEPUSTAKAAN
1.
BERDE, B.: Some new vascular and
biochemical aspects
of
the mechanism
of
action
of
ergot compounds.
Headache
11: 139147, 1972.
2.
EADIE, MJ.: The use
of
ergotamine in
migraine.
Med J Aust (special suppl)
2: 2629, 1972.
3.
FRIEDMAN, A.P.: Migraine headache.
JAMA 222:
13991402, 1972.
4.
GUPTA, D.R. and SROBOS, R.J.: Bila-
teral papillitis associated with Cafergot
therapy.
Neurology 22:
793, 1972.
5,
IMRIE, C.W.: Arterial spasm associated
with oral ergotamine therapy.
Brit J Clin
Practice 27:
457460, 1973.
6.
JONES, E.M. and WILLIAMS,
B.: Two
cases
of
ergotamine poisoning in infants.
Brit Med J I:
466, 1966.
7.
KUSUMOPUTRO, S., SIDIARTO, L. dan
GUNAWAN, S.: Pengobatan migraine
dengan Cosadon-S. Diajukan pada Per-
temuan Tahunan Ke-4 PNPNch, Nopem-
ber 1974, Semarang.
8.
MCLOUHGLIN, M.G. and SANDERS,
R.J.: Ergotisme causing peripheral vas-
cular ischemia.
Hemicrania 4: 14,
1972.
9.
WILKINSON, M.: Migraine Treatment
of
acute attack.
Brit Med J
2: 754755,
1971.
10.
WOLFF, H.G.:
Wolffs
headache and
other headpain. Rev. by DJ Dalesio
Third ed., New York, Oxford Univers
Press., 1972.
"Seorang dokter harus dapat mengetahui
(keadaan) yang mendahului, memahami
(keadaan) sekarang, dan meramalkan yang
akan datang ia harus mempertimbangkan
hal tersebut dan punya 2 tujuan utama
terhadap penyakit, yaitu: menyembuh-
kannya atau (sekurang-kurangnya) tidak
melakukan tindakan yang merugikan.
Seni (kedokteran) itu mencakup 3 hal-
penyakit, pasien dan dokter.
Dokter merupakan pelayan dari seni ter-
sebut dan pasien harus berjuang melawan
penyakitnya bersama dengan dokternya".
HIPPOCRATES
Of
the Epidemics.
1 2
Cermin Dunia Kedokteran
No. 5, 1975.