background image
Artikel
ANALISIS
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
pada Usia 55 Tahun menurut Survai
Kesehatan Rumah Tangga 1992
R. Wasis Sumartono*, Ni Ketut Aryastami **
* Pusat Penelitian Penvakit Tidak Menular. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. Jakarta
** Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, Badan Penelitian, dan Pengembangan kesehatan
Departemen Kesehatan RI. Jakarta
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJP) yang paling
penting untuk diperhatikan adalah Penyakit Jantung Koroner
(PJK)
(1)
. Hipertensi dan penyakit serebrovaskular mendapat per-
hatian juga, tapi tidak terlalu mendalam. Sedangkan PJP lain
yang secara global cukup penting seperti penyakit jantung rema-
tik, kardiomiopati dan venous pulnionary embolism tidak diper-
timbangkan. PJK mempunyai makna kesehatan masyarakat yang
amat luas mengingat PJK merupakan penyebab utama kematian
di negara-negara maju dan mulai timbul sebagai penyebab ber-
makna atas kepenyakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas)
di negara berkembang.
Meningkatnya usia harapan hidup di negara-negara ber-
kembang­termasuk Indonesia­akan menyebabkan peningkatan
prevalensi PJP dan kecacatan yang berkaitan dengannya di
tahun-tahun yang akan datang jika upaya-upaya pencegahan
tidak dilakukan mendahului kecenderungan-kecenderungan ke-
pendudukan. Oleh karena itu masalah kesehatan usia lanjut, yang
seringkali berarti masalah PJP. akan menjadi lebih penting di
negara ini baik secara medik. sosial niaupun ekonomi. Makalah
ini akan membahas PJP pada usia 55 tahun menurut SKRT 1992.
KECENDERUNGAN-KECENDERUNGAN PADA POPU
LASI USILA DI INDONESIA
Yang dimaksud dengan Populasi Usia Lanjut menurut Ke-
lompok Studi WHO adalah orang-orang berumur 65 atau lebih
(2)
.
Sedangkan di Indonesia. berdasarkan UU No.4Th. (965. orang-
orang berumur 45 tahun ke atas dikelompokkan sebagai: (1) Pra
Usda yaitu yang berumur 45­54 tahun. (2) Usila Dini :55­64
tahun. (3) Usila: 65­69 tahun. dan (4) Usila Berrisiko tinggi:70
tahun ke atas ini dapat diartikan bahwa di Indonesia orang yang
berumur 55 tahun sudah dianggap Usila.
Tiga dasawarsa terakhir ini ditandai dengan peningkatan
yang nyata pada usia harapan hidup penduduk Indonesia dan 45
tahun pada tahun 1967 menjadi 63 tahun pada tahun 1995 (Data
Pengkajian Kecenderungan Pembangunan Kesehatan di Indo-
nesia. 1993). Kalau data ini diproyeksikan ke tahun-tahun yang
akan datang, terlihat bahwa populasi Usila di Indonesia akan
meningkat dalam jumlah besar. Hal ini tentu akan berpengaruh
pada struktur sosial. ekonomi dan sistim pelayanan kesehatan di
Indonesia.
Berdasarkan perkiraan pertumbuhan penduduk. jumlah Usila
(di atas 55 tahun) di Indonesia akan naik dari 11.319.000 jiwa
tahun 1985 men jadi 23.172.000 jiwa pada tahun 2000 (Budi
Darmojo 1989). ini menunjukkan kenaikan 65%. Penuaan popu-
lasi ini merupakan hasil penurunan angka kematian (mortalitas)
dan kesuburan (fertilitas). Bahkan Kelompok Studi WHO me-
ngenai Epidemiologi dan Pencegahan PJP pada Usila mem-
proyeksikan persentase peningkatan populasi penduduk Usila di
Indonesia tahun 1990­2025 sehagai persentase peningkatan
tertinggi di dunia yaitu 415%. Sebagai perhandingan. pada
rentang waktu itu persentase peningkatan populasi-populasi
Usila di Malaysia 321%. China 220%. Amerika Serikat 101%.
Jerman 66%. Inggris 45%. dan yang paling rendah Swedia 33%
(Gambar 1).
Secara umum di Indonesia wanita mempunyai usia harap-
an hidup tiga sampai empat tahun lebih tinggi dari usia harapan
hidup pria. Sebagai contoh tahun 1976, 1986, dan 1990 berturut-
turut usia harapan hidup pria adalah 42.1, 50.64 dan 58.6 tahun
sedangkan usia harapan hidup wanita adalah 53.69, 61.54 dan
63.28 tahun (sumber dari BPS 1993).
Kelompok Studi WHO mengenai Epidemiologi dan Pen-
cegahan PJP pada Usila memperkirakan bahwa di negara maju
maupun berkembang akan lebih banyak wanita maupun pria
yang menjanda atau menduda. Status perkawinan ini akan ber-
pengaruh pada pengaturan hidup pada populasi Usila. Proporsi
orang­orang Usila yang hidup sendirian di negara berkembang,
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 5
background image
Gambar 1. Peningkatan persentasi yang diproyeksikan pada populasi Usila
(60
tahun
ke
atas),
1990­2025
Sumber : US Bureau of Census, Center for Internasional Research, Inter-
national
Database
on
Aging,
dalam Epidemiology and prevention of
Cardiovascular Diseases in Elderly People, Report at WHO Study
Group.
WHO
1995
(Hal
6)
termasuk Indonesia. memang lebih sedikit dibanding di negara-
negara maju. Hal ini karena adanya tradisi rumah tangga multi-
generasi, orang-orang Usila yang masih berpasangan hidup
maupun ang sudah menjanda atau menduda secara umum
tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Pola seperti ini
sekarang dirasakan sudah banyak berubah karena banyak anggota
keluarga yang masih muda urhanisasi ke perkotaan untuk be-
kerja, sehingga di masa depan akan terjadi keadaan banyak
orang­orang Usila di negara-negara berkembang­seperti Indo-
nesia ­ juga hidup sendirian.
PJP PAPA USIA 55 TAHUN MENURUT SKRT 1992
Dalam SKRT 1992 tidak dilakukan pengumpulan data
kepenyakitan (morbiditas) PJP secara langsung sehingga dari
SKRT 1992 belum diketahui populasi survai yang menderita
PJK, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik. kardiomiopati
dan venous pulmonary embolism. Di bidang PJP, yang dilakukan
dalam SKRT 1992 adalah pengumpulan data kematian (morta-
litas) dengan cara yang disebut otopsi verbal. Anggota Rumah
Tangga yang menjadi sampel SKRT 1992 yang salah seorang
anggota keluarganya meninggal pada satu tahun terakhir ditanyai
tentang gejala yang timbul pada anggota keluarga yang me-
ninggal tersebut sebelum ia meninggal. Berdasarkan keterangan-
keterangan inilah ditentukan apa penyebab nieninggalnya misal-
nya karena PJP atau karena sebab lain.
Dr. Suhardi MPH, seperti Yang dikemukakan Kelompok
Ilmiah WHO mengenai Faktor-faktor Risiko NP: Bidang-bidang
Baru untuk Penelitian (1994) ­ memperkirakan bahwa di antara
semua jenis PJP yang paling banyak di Indonesia adalah PJK,
sedangkan yang lainnva relatif rendah. Lebih lanjut karena
dasar SKRT 1992 se luruh kematian yang ditemukan dalam
Survai ini berjumlah 1235 orang, dimana 778 orang (atau 63%)
di antaranya terjadi pada usia 15 tahun ke atas. Kematian akibat
PJP pada kelompok umur 25 sampai 34 tahun memiliki persen-
tase sebesar 5.8% dari total kematian .Proporsi ini semakin
meningkat pada usia 35 sampai 44 tahun (11%). pada usia 45
sampai 54 tahun (20.9%) dan mencapai 33.2% pada umur 55
tahun ke atas. Menurut hasil SKRT 1992, PJP telah menjadi
penyebab dari 16.4% dari total kematian di Indonesia (Tabel 1).
Tabel 1. Pola penyakit sebab utama kematian menurut kelompok umur
pada
SKRT
1992
Total
25-35 thn 35-55 thn 45-54 thn > 55 thn
Kelompok penyakit
Sebab Utama
Kematian
n % n % n % n % N %
10 19.2 15 18.3 20 17.4 70 14.3 120 9.8
4 7.7 6 7.3 6 5.2 26 5.3
86 7
1 1.9 13 15.9 6 5.2 25 5.1
54 4.4
3 5.8 9 11 24 20.9 162 33.2 200 16.4
1 1.9 - - 1 0.9 15 3.1 112 9.2
-
-
7 8.5 9 7.8
36
7.4
61
5
Tuberkulosis
lnfeksi dan parasit
Neoplasms
PJP
lnfeksi Sal. Nafas
Bronkhitis, Empi-
sema dan Asma
* Diambil dari SKRT 1992. halaman 42.
Aryastami dkk. (1994)­dalam laporannya mengenai Anali-
sis Faktor Risiko terhadap Kematian Usia Lanjut dan Kelompok
Usia Produktif disebabkan PJP berdasar SKRT 1992 ­ meng-
gambarkan urutan penyebah utama kematian kelompok Usila
seperti Gambar 2.
Gambar 2. Proporsi Penyakit Penyebab Kematian pada Usila
Keterangan :
TBC =
tuberkulosis
inf. & Par. = parasit dan lnfeksi lain
PJP = penyakit jantung; dan pembuluh darah
ISP = infeksi saluran pernnfasan
Jenis PJP sebagai penyebab kematian utama usia lanjut
adalah hipertensi 48.1%. penyakit jantung iskemik 16% (Gam-
bar 3)
Pada semua kelompok umur (yaitu jumlah kelompok-ke-
lompok usia anak-anak. remaja. pra-usila dan usila) berdasarkan
wilayah kepulauan, insidens tertinggi kematian PJP terdapat di
wilayah Jawa-Bali (16.2%), diikuti oleh Sumatera sebesar 5.3%
(Gambar 4).
Pada semua kelompok umur persentase kematian akibat
PJP di daerah perkotaan menunjukkan angka yang lebih tinggi
(28.8%) dibandingkan dengan daerah pedesaan (24.7%). Ke-
matian karena PJP pada laki-laki 1,2 kali lebih banyak dibanding
wanita. Dari total kematian akibat PJP, 26.1 % almarhum berobat
sebelum meninggal dan sisanya sebanyak 24.2% penderita tidak
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
6
background image
Gambar 3. Proporsi Kematian karena PJP Kelompok Usila berdasarkan
jenis PJP
Keterangan :
Hip
=
hipertensi ATE
=
aterosklerosis
PJI = penyaki jantung iskemik
COR =
Cor-pulmonale
CER = penyakit serebrovaskular
Gambar 4. Proporsi Kematian karena PJP Kelompok Usila berdasarkan
jenis PJP
menjalani pengobatan. 25.8% penderita yang mengalami ke-
matian karena PJP mencari pengobatan ke tempat pelayanan dan
27.7% melakukan pengobatan di rumah sendiri.
KESIMPULAN DAN SARAN
Jumlah Usila di Indonesia dewasa ini cukup besar dan terus
meriingkat dengan cepat. Jika pertumbuhan jumlah Usila tidak
segera mendapat perhatian yang memadai dan pembuat kebijak-
sanaan, dampak sosial ekonominya mungkin akan lebih besar di-
bandingkan dampak sosial ekonomi pertumbuhan jumlah Usila
di negara-negara maju. Hal yang penting dan segi kependudukan
barangkali adalah meningkatnya Usila berrisiko tinggi (di atas
70 tahun) di samping jumlah yang besar dari wanita Usila yang
hidup sendirian.
PJP merupakan penyebab kematian utama pada populasi
berumur 55 tahun atau lebih di Indonesia. Ada keaneka ragaman
antara wilayah mengenai kematian karena PJP dengan wilayah
Jawa Bali dan Sumatera sebagai wilayah yang paling tinggi
mortalitas PJPnya. Rate mortalitas pada orang-orang di atas 55
tahun menunjukkan potensi besar untuk program pencegahan
yang efektif.
Analisis Faktor Risiko terhadap Kematian Usia Lan jut dan
Kelompok Usia Produktif disebabkan PJP berdasar SKRT 1992
yang dilakukan Aryastami menunjukkan bahwa penyebab ke-
matian PJP utama usia lanjut adalah hipertensi, yaitu sebesar
48.1%. Oleh karenanya, suatu upaya yang kuat untuk pencegah-
an hipertensi pada Usila perlu dilakukan. Meskipun upaya-upaya
preventif yang bermanfaat bagi Usila seharusnya dilakukan sejak
usia anak-anak dan remaja, namun tetap masih ada manfaatnya
untuk melakukan upaya pencegahgan di usia lanjut. Dengan
demikian kejadian fatal atau kecacatan dapat ditunda sampai usia
yang benar-benar lanjut.
Perubahan gaya hidup (berhenti merokok. membiasakan
pola makan yang sehat, melakukan kegiatan jasmani yang moderat,
dan mengendalikan berat badan) perlu lebih dimasyarakatkan
untuk mengurangi PJP dan meningkatkan kesehatan pada semua
kelompok umur, termasuk Usila. Kebijaksanaan untuk Usila
penlu diarahkan menuju tujuan memelihara kemandirian Usila,
dan ini mencakup pencegahan dan perawatan PJP serta rehabili-
tasi penderita.
Strategi populasi (population strategies) sebaiknya diguna-
kan untuk melakukan perubahan gaya hidup di wilayah yang
kematian karena PJPnya tinggi, yaitu Jawa dan Bali. Strategi ini
mencakup penyempurnaan kebijaksanaan mengenai tembakau,
komunikasi media, serta penyuluhan melalui petugas kesehatan.
Biaya dan efektifitas strategi yang berbeda juga perlu dikaji.
Pada wilayah-wilayah yang kematian karena PJPnya rendah
saat ini, pencegahan primer sebaiknya menjadi strategi kunci.
Pendekatan gaya hidup yang sehat, khususnya upaya memerangi
epidemi merokok, perlu dipusatkan pada anak-anak sekolah dan
remaja dalam rangka mencegah PJP dalam kehidupan dewasa-
nya di kelak kemudian hari.
Strategi risiko tinggi (high risk strategies) akan relevan
untuk sejumlah besai populasi di atas 55 tahun, karena faktor
risiko PJP tertentu­tekanan darah yang tinggi, kolesterol serum
yang tinggi dan diabetes­umum terjadi pada Usila. Bukti-bukti
dan uji coba (trials) intervensi diperlukan untuk mengkonfirmasi
manfaat terapi dengan penggantian hormon (hormone replace-
ment therapy) dan suplementasi vitamin dalam pencegahan PJP
pada Usila.
Dukungan antar sektor sangat penting untuk keberhasilan
kebijaksanaan kesehatan Usila. Pendekatan antar sektor diperlu-
kan untuk menencanakan dan memantau kesehatan dan pelayan-
an lain yang herkaitan dengan kesejahteraan umum Usila. Ke-
bijaksanaan Nasional mengenai Usila akan mempunyai efek
yang diharapkan hanya jika personil kesehatan dan mitranya
pada semua tingkatan, khususnya pada tingkat pelayanan ke-
sehatan dasar. dilatih­ atau dilatih kembali­ mengenai prinsip-
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 7
background image
prinsip promosi kesehatan dan perawatan jantung dan pembuluh
darah pada Usila.
KEPUSTAKAAN
1. Cardiovascular Diseases Risk Factor New Areas For Research, Report of
WHO Scientific Group, WHO TRS 841, WHO Geneva 994: Rh. 3­4.
2. Epidemiology Prevention of Cardiovascular Diseases in Elderly People.
Report of a WHo Study Group. WHO TRS 853. WHo Geneva 1995: Hh. I.
2. 5. 54­55.
3. Aryastami NK dkk. Analisis Faktor Risiko terhadap Kematian pada Usia
Lanjut dan Kelompok Usia Produktif disebabkan oleh Penyakit Kardio-
vaskular. Balitangkes. Jakarta l994 Hh. 1. 13­19.
4. SKRT 1992. Balitbangkes. Jakarta 1994: Hh. 41­44.
5. Suhardi. Puslit Penyakit Tidak Menular. (Anggooa Tim Peneliti Pusat SKRT
1992 Bidang Penyakit Kardiovaskular dan Degeneratif Komunikasi Pribadi
November 1996.
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
8