PENYAKIT JANTUNG THYROTOXIC
dr. John M. F. Adam
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Ujung Pandang.
Summary
Thyrotoxic heart disease as a clinical manifestation of thy-
rotoxicosis is hereby presented. It is usually encountered in
patients of advanced age together with other with heart di-
seases.
Atrial fibrillation, cardiac enlargement with or with out
decompensation are the most frequent abnormalities.
Its diagnosis can sometimes be very difficult as the cardiac
changes mask the underlying disease.
Treatment of thyrotoxic heart disease is not different than
that of thyrotoxicosis without cardiac involvment.
Radio active iodine therapy gives satisfactory results espe
cially in elderly patients.
PENDAHULUAN
Kelainan jantung pada thyrotoxicosis mula-mula digambar-
kan oleh PERRY pada tahun 1825. Ia menemukan tanda-
tanda palpitasi, aritmi dan pembesaran jantung pada beberapa
penderita thyrotoxicosis. Istilah Penyakit Jantung Thyrotoxic
(PJT) mula-mula diusulkan oleh LE
V
I
N dan
ST U
R G IS
pada tahun 1924. Walaupun demikian hubungan antara hi-
persekresi hormon thyroid dan kelainan jantung belum begitu
jelas sampai saat ini. Yang jelas pada thyrotoxicosis ditemukan
adanya peninggian cardiac output disertai penggunaan oxygen
berlebihan yang dapat membebankan pekerjaan jantung.
Beberapa peneliti menganggap PJT adalah suatu penyakit
jantung yang murni, diakibatkan kelebihan hormon thyroid.
Sebagian lain berpendapat bahwa suatu penyakit jantung lain
mendahului atau bersamaan dengan PJT ; keaadaan thyroto-
xicosis mempermudah atau mempercepat munculnya gejala-
gejala kelainan jantung. Pemeriksaan bedah mayat pada
50 -- 90% penderita di temukan adanya kelainan jantung or-
ganik. SANDLER dan WILSON (SOKOLOW, 1972) mene-
liti 150 penderita PJT, ternyata sebagian besar disertai penya-
kit jantung koroner atau hipertensi. SUTIKNO (1975) mela-
porkan 27 PJT dimana 40,7% disertai penyakit jantung lain-
nya. Disamping itu adalah suatu kenyataan bahwa PJT ham-
pir selalu ditemukan pada umur diatas 40 tahun, pada umur
mana penyakit jantung koroner dan penyakit jantung hi-
pertensi mulai ditemukan.
Insiden PJT meningkat dengan lanjutnya umur, jarang pada
umur di bawah 40 tahun. BARKER melaporkan umur rata-
rata 51,5 tahun pada 108 penderita yang diteliti (FRlED-
BERG, 1969) sedang HAMMONDS (1960) melaporkan umur
rata-rata 50 tahun pada 25 kasus. Di Indonesia beberapa pene-
liti telah melaporkan tentang PJT. Tampaknya umur rata--
rata di Indonesia lebih rendah dari angka-angka di luar negeri.
DALDIJONO (1972) pada penelitian 48 penderita yang di-
rawat di R.S. Cipto Mangunkusumo mendapatkan umur rata-
rata 35 tahun,
SUTIKNO (1975) di Semarang melaporkan
umur rata-rata 38,2 tahun sedang
TALKANDA (1975)
melaporkan 49,5 tahun (hanya pada 7 penderita). Rendahhya
umur rata-rata di Indonesia mungkin dapat dikaitkan dengan
adanya Penyakit jantung rematik yang bersamaan. Sesuai
dengan pernyataan KAPLER umur yang lebih muda biasanya
ditemukan pada mereka dengan Penyakit Jantung rematik.
Penyakit ini ditemukan lebih banyak pada wanita dimana
HAMMONDS (1960) menemukan 4 : 1, DALDIJONO 6 : 1,
sedang SUTIKNO (1975) 2,9 : 1.
MANIFESTASI JANTUNG
Pada thyrotoxicosis makin muda umur penderita makin
jelas gejala thyrotoxicosisnya, terutama pada wanita. Pada
umur lanjut (terutama pada umur diatas 60 tahun) gejala
thyrotoxicosis bisa berupa monosimptom tanpa adanya stru-
ma yang jelas, disebut juga masked thyrotoxicosis. Dalam hal
ini gejala jantung paling sering dijumpai sebagai gejala tunggal.
HELSLOOT (1976) mendapatkan 80% dengan keluhan
jantung pada 119 penderita berumur diatas 60 tahun dan
hanya 53% pada 159 penderita yang kurang dari 60 tahun.
Penyulit jantung yang sering ditemukan ialah fibrillasi
atrium, pembesaran jantung dan payah jantung. Kelainan-
kelainan
lain yang jarang ditemukan ialah nyeri angina,
ekstrasistol dan blok jantung. CAMPUS (1975) mendapatkan
dua kasus dengan blok jantung.
Fibrillasi atrium yang khas biasanya bersifat paroxysmal,
bentuk ini dalam kepustakaan dilaporkan sebanyak 10-20%.
Lebih sering ditemukan pada umur lanjut. HELSLOOT (1976)
menemukan fibrillasi atrium sebanyak 50% pada mereka de-
ngan umur diatas 60 tahun dan hanya 15% pada mereka yang
berumur kurang dari 60 tahun. DALDIJONO (1972) menda-
patkan fibrillasi atrium sebanyak 18,7% sebagian besar pada
umur diatas 40 tahun. Pada mereka dengan fibrillasi atrium
yang menetap, angka kematian lebih kurang 20%.
Pembesaran jahtung ditemukan pada 30--50% penderita
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979 17
dimana kelainan tersebut bisa berdiri sendiri tetapi lebih sering
bersamaan dengan payah jantung atau fibrillasi atrium. Kira-
kira 20% pada mereka dengan payah jantung meninggal da-
lam waktu satu sampai tujuh tahun.
DIAGNOSA
Diagnosa PJT tidaklah sukar terutama pada mereka dengan
tanda-tanda thyrotoxicosis yang jelas. Problema diagnostik
justru timbul pada mereka dengan manifestasi jantung yang
menonjol sehingga menutupi tanda-tanda penyakit dasar.
Dalam hal adanya kecurigaan, dengan bantuan tes faal thyroid
diagnosa dapat ditegakkan.
Perlu kiranya dipertimbangkan kemungkinan PJT pada ke-
adaan-keadaan dibawah ini
(RUBIN,
1972 ;
HURST,
1974) :
Adanya fibrillasi atrium tanpa sebab yang jelas atau yang
cepat dan kurang bereaksi dengan digitalis terutama yang ber-
sifat paroxysmal.
Adanya tachykardi tanpa sebab yang jelas atau yang mene-
tap walaupun payah jantung telah ditanggulangi.
Adanya payah jantung tanpa sebab yang jelas ; yang kurang
bereaksi pada pengobatan yang adekwat atau adanya payah
jantung dengan waktu sirkulasi yang normal.
Pengobatan
Pengobatan pada PJT tidaklah berbeda dengan pengobatan
pada thyrotoxicosis tanpa kelainan jantung. Walaupun demi-
kian pilihan cara pengobatan harus disesuaikan dengan usia
penderita, keadaan penyulit jantung dan fasilitas yang ada
(RUBIN,
1972). Pada keadaan-keadaan tertentu memerlukan
pengobatan ganda misalnya pada payah jantung atau pada
fibrillasi atrium yang cepat.
Pada umumnya pengobatan yang dianjurkan ialah pembe-
rian obat anti thyroid seperti PTU (Propylthiouracil) dan
methimazol kemudian disusul pengobatan lodine radioaktip
(SOKOLOW,
1977).
HAMMONDS
(1960) mendapatkan hasil
yang sangat memuaskan dengan pengobatan 1
131
pada 25
penderita PJT. Pengobatan bedah dianjurkan pada struma
yang besar atau retrosternal.
KEPUSTAKAAN
1.CAMPUS S, RAPELLI A et al : heart block and hyperthyroidism.
Arch Intern Med
135 : 1091 -- 1095, 1975.
2.DALDIJONO, ISMAIL D, SJAFRIL : Thyrotoxic heart disease.
Acta Med Indon
III, 20 -- 29, 1972.
3.FRIEDBERG ChK :
Disease of the heart.
3rd ed. WB Saunders.
Philadelphia, 1969.
4.HAMMOND E E, CORRIGAN K E, HAYDEN H S : Cardiotoxic
thyroid and radio active iodine.
JAMA
173 : 1902 -- 1906, 1960.
5.HELSLOOT M H, Der KINDEREN P J, RIMKES E E R, SANDER
P C : Hyperthyreoidie op oudere leeftijd.
Ned T Geneesk
120 :
47 -- 53, 1976.
6. HURST J W, LOGUE R B :
The heart arteries and vein.
2nd ed.
Mc Graw Hill Book Company. New York, 1970.
7.RUBIN I L, GROSS H, ARBERT S R:
Treatment of heart disease
in the adult.
2nd ed. Lea Febiger. Philadelphia, 1972.
8.SOKOLOW M, Mc ILROY M B:
Clinical cardiology.
Lange Med
Pub. Los Altos, Calif, 1977.
9.SUTIKNO, DJOKOMOELJANTO R, BOEDHI DARMOJO R:
Thyroid heart disease.
Naskah Lengkap KOPAPDI III :
921 -- 925,
1975.
10.TALKANDA CH S, HASNAM M W : Penyakit jantung Thyrold.
Naskah Lengkap KOPAPDI III :
915 -- 920, 1975.
Pengobatan thyroid krisis
Suportif umum
Cairan intra vena (3 -- 4 liter / hari) Iarutan
glucose 5 %.
Penggantian kehilangan NaCl (yang keluar
melalui keringat) dan KC1 (yang keluar me
lalui gastro intestinal).
Penurunan suhu tubuh untuk memperbaiki
"heat exchange".
Pemberian Hydrocortison bila akan terjadi
collaps dengan 100 mg intra vena yang dite
ruskan dengan 200 -- 400 mg intra vena per
infus.
Oxygen diberikan melalui sungkup atau per-
katheter.
Kontrol tachycardia dan mempertahankan car-
diac out put.
Adrenergic blocking drug.
Reserpin intra muskuler (0,5 mg dosis per-
cobaan kemudian 1,0--2,5 mg setiap enam
jam) atau.
Propanolol (per oral 70 -- 80 mg setiap
enam jam; jarang sekali diberikan intra vena
0,5 -- 2,0 mg setiap 4 -- 6 jam dibawah mo-
nitoring jantung).
Digitalis.
lnfeksi
Perlu diadakan pemeriksaan hapusan teng-
gorok, sputum, urine dan sebagainya. Pem-
berian antibiotika yang tepat.
Kontrol terhadap agitasi
Reserpin (seperti diatas).
Barbiturat (oral atau parenteral 30 -- 60
mg tiap enam jam).
Phenothiazines (50 -- 100 mg intra musku-
ler bila diperlukan).
Kontrole dari sekresi hormon thyroid
Iodine untuk menghambat sekresi hormon
thyroid.
Sodium iodine (100 -- 200 mg secara lam-
bat per infus tiga kali sehari) atau.
Larutan Lugol (sepuluh tetes per oral tiga
kali sehari).
Antithyroid drug untuk menghambat sinte-
sa hormon thyroid.
Propylthiouracil(200 -- 300 mg empat kali
sehari) atau.
Methimazole(20 -- 30 mg empat kali sehari).
18
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979