background image
Artikel
Pengobatan Hepatitis B Kronik
dengan Interferon
Dr H Achmad Hassan
Seksi Hepatologi, Laboratorium Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga/RSUD Dr. Sutomo, Subaraya
Secara fungsional sistim imun terdiri dari 2 kelompok,
sistim kekebalan alamiah (innate immunity) dan sistim kekebal-
an yang didapat (acquired immunity). Sistim kekebalan alamiah
merupakan mekanisme pertahanan yang telah dimiliki tubuh
sejak lahir, terdiri dari : lisosim, komplemen, protein fase akut,
interferon, fagosit serta sel Natural Killer (NK). Agen luar yang
masuk ke tubuh, pertama kali akan berhadapan dengan elemen-
elemen tersebut. Bila sistim pertama ini gagal, akan berfungsi
Sistim Kekebalan Yang Didapat yang komponen utamanya
terdiri dari antibodi dan limfosit T. Di antara kedua sistim
tersebut selalu terjadi interaksi
(1)
.
Suatu unsur penting dalam Sistim Kekebalan Alamiah ada-
lah interferon (IFN), yang juga ikut mengatur Sistim Kekebalan
Yang Didapat. Sistim IFN terdiri dari sejumlah protein yang
disekresi oleh beberapa jenis sel sebagai respon terhadap virus
atau rangsangan lain. Sejak ditemukan oleh Isaac dan Lindenann
(1957), IFN dikenal memiliki daya antivirus. Dalam perkem-
bangannya, ternyata IFN juga memiliki daya antiproliferatif
serta imunomodulasi. Pengaruh IFN telah nyata beberapa jam
setelah infeksi virus, jauh lebih cepat sebelum mekanisme imun
lainnya berfungsi
(1,2)
. Kemampuan IFN telah dimanfaatkan pada
berbagai bidang, antara lain untuk mempelajari patofisiologi
serta pengobatan penyakit hati akut maupun kronik.
Dalam makalah ini akan dibahas rasionalisasi pengobatan
hepatitis B kronik dan tinjauan umum tentang IFN terutama
mengenai mekanisme kerja serta peranan IFN dalam hepatitis B
dan penggunaannya dalam bidang terapi.
RASIONALISASI PENGOBATAN
Hepatitis B kronik adalah suatu penyakit hati serius yang
dapat berakibat sirosis hati, kanker hati dan bahkan kematian.
Dalam suatu penelitian multisentral(
3
) didapatkan bahwa angka
ketahanan hidup 5 tahun :
­
Hepatitis B kronik persisten sebesar 97%
­
Hepatitis kronik aktif sebesar 86%
­
Hepatitis kronik aktif plus sirosis hati sebesar 55%.
Penyebab kematian terbanyak akibat kegagalan fungsi hati.
Ditambahkan pula, pada suatu penelitian masal di Taiwan di-
dapatkan pengidap VHB berpotensi untuk terkena kanker hati
sebesar 200 kali lebih besar dibanding dengan yang tidak
mengidap VHB.
Di samping itu juga dijumpai beberapa faktor yang ikut
berperan :
·
Adanya beberapa episode spontan dari VHB yang meng-
alami eksaserbasi dan replikasi yang menjurus ke arah dekom-
pensasi dan progresivitas penyakit hati pada penderita yang se-
belumnya hanya menderita penyakit hati yang ringan dan stabil.
·
Bentuk yang ringan dari hepatitis kronik persisten,
sewaktuwaktu dapat progresif menjadi hepatitis kronik aktif
bahkan sirosis hati.
·
Pengidap hepatitis B dapat bertindak sebagai reservoir atau
sumber infeksi bagi sekitarnya.
·
Ketidakmampuan kortikosteroid dalam pengobatan hepati-
tis B kronik; disamping dalam kurun waktu yang lama dapat
meningkatkan replikasi VHB dan mencegah menghilangnya
HBeAg dalam serum penderita
(3)
.
MEKANISME KERJA INTERFERON
A. Jenis-jenis Interferon
Sampai kini telah diketahui 3 jenis IFN : alfa, beta dan gama.
Ketiganya memiliki efek biologik yang sama pada sel, namun
berbeda dalam struktur, berat molekul serta daya antivirus dan
imunomodulasinya.
1) IFN alfa
a) IFN Leukosit
Leukosit manusia dapat memproduksi IFN setelah diinduksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 5
background image
dengan virus Sendai; IFN terbentuk lengkap dalam 18 jam.
Dari 450 ml darah dihasilkan sekitar 5 juta unit (MU) IFN
(2)
.
b)
IFN limfoblastoid (Lymphoblastoid IFN)
Limfosit B manusia yang mengalami transformasi bila di-
induksi dengan virus Sendai dapat menghasilkan IFN. Karena
sel-sel tersebut dapat dibiakkan, maka dapat diproduksi IFN
dalam jumlah besar dengan derajat kemumian 80-95%. Kondisi
ini memungkinkan dilakukannya pengobatan interferon jangka
panjang dan uji klinik yang luas
(2,4)
.
c)
IFN rekombinan (Recombinant IFN)
Sedikitnya 16 gen IFN alfa telah dibuat secara rekayasa
genetik menggunakan ragi dan bakteri Escherichia coli.
Yang sering dipakai untuk terapi adalah IFN alfa-2
(rekombinan A) dan IFN an-1 (rekombinan D). Dengan cara ini
dihasilkan IFN dalam jumlah besar dengan derajat kemumian
yang amat tinggi
(5)
.
2)
IFN beta
IFN beta dibuat oleh fibroblas, 40% susunan gennya mirip
IFN alfa. IFN beta dan IFN alfa mempunyai reseptor yang sama;
keduanya disebut IFN Tipe i
(2)
.
3)
IFN gama
IFN gama dihasilkan oleh limfosit T akibat paparan antigen
berulang; dapat pula diinduksi oleh mitogen nonspesifik seperti
Lectin atau enterotoksin stafilokokus. IFN gama bekerja pada
reseptor yang berbeda dengan IFN alfa dan beta, dan telah di-
gunakan untuk pengobatan beberapa jenis neoplasma atau ke-
lainan darah; pemakaian untuk Hepatitis B sedang dalam per-
cobaan; IFN Gama disebut pula IFN Tipe Imun/Tipe II
(2)
.
MEKANISME KERJA
Seperti yang disebut di atas IFN terjadi karena rangsangan
virus, di samping itu sebagai akibat induksi oleh beberapa
mikroorganisme, asam nukleat, antigen, mitogen dan polimer
sintetik. Proses induksi yang berlangsung berturut-turut
menyebabkan depresi gen pembuat IFN, transplasi warna IFN
dan transplasi protein IFN; keseluruhan proses berlangsung
hanya dalam beberapa jam
(2,6)
.
Setelah dihasilkan, IFN bekerja melalui beberapa meka-
nisme utama sebagai berikut :
1) Efek antivirus
IFN segera terikat pada reseptor spesifik pada permukaan
sel; ikatan ini mengaktifkan 2 macam ensim, yaitu :
a)
protein kinase, yang membantu fosforilasi 2 macam
protein protein Alfa 1 dan elf-2 alfa. Kedua protein ini
menghambat sintesis protein virus.
b)
2', 5' oligoadenylate (2' 5' A) synthetase, yang membentuk
oligonukleotida rantai pendek. Oligonukleotida ini selanjutnya
merangsang ensim ribonuklease, yang akan menyebabkan
degradasi RNA virus
(6)
.
Beberapa ensim lain, seperti sitokrom P450, juga diaktifkan
oleh IFN. Ini berarti IFN bekerja pada beberapa tempat dalam
fungsi antivirus ini
(2)
.
2) Efek imunomodulasi :
IFN memperbaiki sistim imun, baik Sistim Kekebalan
Alamiah maupun Sistim Kekebalan Yang Didapat melalui be-
berapa jalan :
a)
Meningkatkan fagositosis makrofag dan daya sitotoksik sel
NK
(2)
.
b)
Meningkatkan ekspresi HLA pada permukaan sel yang
terinfeksi oleh virus. HLA tersebut bersama antigen virus pada
permukaan sel akan dikenali oleh limfosit T sitotoksik yang
menyebabkan lisis sel
(5,6,7)
.
c)
Ikut dalam lymphokine cascade dan produksi Interleukin 1,
Interleukin 2.
d)
Menginduksi produksi Prostaglandin (PGE2) oleh hipota-
lamus dan menimbulkan demam
(2)
.
3) Efek antiproliferatif
IFN menghambat proliferasi sel tumor dengan mekanisme
,,yang masih belum jelas. Dalam pengamatan pada biakan ja-
ringan ternyata sifat contact inhibition sel dipulihkan. Efek ini
menekan daya metastasis tumor
(2)
.
TARGET INTERFERON DALAM TERAPI ANTI VIRUS
Tujuan utama pengobatan hepatitis B kronik adalah me-
nekan dan mengeliminasi virus hepatitis B sekaligus dapat
mengindusir kesembuhan penyakit hati; sedang target pengobat-
an interferon pada kasus-kasus hepatitis B kronik yang dida-
patkan pada beberapa percobaan klinik adalah menghilangnya
beberapa petanda virus fase replikatif yakni HBeAg, HBV-
DNA dan HBV-DNA polimerase.
Serokonversi HBeAg biasanya akan diikuti dengan meng-
hilangnya HBV-DNA dalam serum penderita; eliminasi HBV-
DNA dalam jaringan hati diikuti dengan normalisasi aminotrans-
ferase serum dan pada akhirnya terjadi resolusi komplit jaringan
hati yang sebelumnya mengalami proses radang nekrosis
(3)
.
Suatu studi histologik jangka panjang sangat dibutuhkan
untuk mendapatkan konfirmasiadanya perubahan ke arah kanker
hati, atau suatu keadaan radang yang minimal dan stabil. Suatu
kenyataan bahwa dengan menghilangnya HBsAg dari serum
penderita berarti berakhirnya suatu status karier HBV, tapi keadaan
ini masih meninggalkan problematik pengobatan dengan anti
virus, karena bila sekali terjadi intergrasi DNA virus ke dalam
genome host, keadaan tersebut sudah tidal( mungkin dihambat
dengan cara apapun. Oleh karena itu dari beberapa observasi
klinik dikemukakan pendapat bahwa pengobatan pada saat
awal sebelum terjadinya integrasi (HBV-DNA virus ke genome
host) lebih mempunyai makna ketimbang pada fase integrasi,
dan ini dapat berakibat menghilangnya HBsAg
(3)
.
INTERFERON DAN HEPATITIS VIRUS
IFN tak terdeteksi dalam serum individu sehat, sebaliknya
pada fase akut beberapa penyakit virus kadarnya mencapai
beberapa ratus unit/ml. Sebelum tahun 1980 dinyatakan bahwa
IFN tidak diproduksi pada hepatitis virus akut
(2)
, namun Levin
dan Hahn (1981) menemukan IFN alfa pada 75% kasus hepatitis
virus akut baik karena virus A, B atau virus C, tetapi tak terdapat
pada hepatitis fulminan akut
(8)
. Chousterman (1988) mempertegas
hal ini dengan bukti bahwa sel mononuklear berada dalam status
antivirus pada hepatitis B akut yang tidak fulminan
(9)
. IFN
diproduksi pada fase prodromal hepatitis B, yaitu ketika terjadi
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
6
background image
mialgia, demam dan sakit kepala. Ketika ikterus timbul,
transaminase serum meningkat dan kadar virus telah berkurang,
selanjutnya tak terjadi lagi peningkatan IFN
(2,10)
.
Pada hepatitis kronik, khususnya hepatitis B, IFN tak ter-
deteksi dalam serum penderita maupun partikel tuboretikuler
(yang lazim terbentuk akibat rangsangan IFN)
(2)
. Dalam analisis
invitro, Kato et al. menemukan bahwa sel monosit penderita
tersebut mampu memproduksi IFN setelah diinduksi dengan
virus Sendai, di samping ensim 2
'
5
'
a synthetase mempunyai
aktivitas normal (dikutip dari 3). Ikeda mendapatkan bahwa
IFN dari luar dapat bereaksi dengan reseptor secara normal
(11)
.
Semua ini menunjukkan adanya cacad dalam mekanisme
produksi IFN pada penderita hepatitis B kronik, namun belum
diketahui pasti letak gangguan yang terjadi
(10,11,13)
.
Dengan memakai antibodi monoklonal, diketahui bahwa
IFN alfa menginduksi munculnya HLA Kelas 1 pada membran
sel hati. HLA Kelas 1 tersebut bersama HBcAg pada permuka-
an sel hati memberi isyarat pada limfosit T sitotoksik untuk
melakukan lisis sel yang mengandung virus
(7,11,14)
.
Pengaruh IFN terhadap replikasi virus hepatitis B (VHB)
dapat diketahui dengan melihat kadar HBV-DNA atau ensim
DNA polymerase (DNA/p). Kadar kedua petanda tersebut berku-
rang 12 jam setelah pemberian IFN dan mencapai titik terendah
setelah 48 jam, yaitu 15%-35% dari kadar awal. Jumlah IFN
yang diperlukan untuk inhibisi maksimal adalah 3-20 juta unit
(MU); peningkatan dosis tidak memberikan inhibisi yang lebih
besar. Lama inhibisi VHB berlangsung 2-4 hari. Terhentinya
replikasi VHB ditandai oleh berkurangnya produksi HBeAg
dan HBsAg serta timbulnya antibodi spesifik
(2,6,10)
.
PERANAN INTERFERON PADA PENGOBATAN HE-
PATITIS B
Tujuan Pengobatan IFN
1)
Menghambat replikasi virus hepatitis B, baik melalui efek
langsung atau melalui stimulasi sistim imun penderita.
2)
Menghentikan/menghambat nekrosis sel hati akibat reaksi
radang.
3)
Mencegah transformasi maligna sel-sel hati.
Indikasi
(3,5)
a)
Penderita dengan HBeAg dan HBV-DNA positif.
b)
Penderita Hepatitis Kronik Aktif, dibuktikan dengan pe-
meriksaan histopatologi.
Dapat dipertimbangkan pemberian IFN pada Hepatitis Ful-
minan Akut, meskipun belum banyakpenelitian yang dilakukan
di bidang ini.
Cara pemberian dan Efek samping
IFN harus diberikan secara parenteral karena merupakan
polipeptida. IFM alfa dapat diberikan intravena, intramuskular
ataupun subkutan, sehingga dapat dilakukan secara rawat jalan;
sebaliknya IFN beta dan IFN gama harus diberikan intravena
untuk mencapai kadar optimal dalam serum
(6)
.
Efek samping IFN tergantung pada dosis yang dipakai,
dapat timbul dini maupun lambat. Kemungkinan yang dapat
terjadi harus dijelaskan dengan jujur, karena dapat mempenga-
ruhi hasil terapi. Efek samping tersebut hilang dengan penghen-
tian terapi, sedangkan obat-obatan tidak banyak membantu
(2,15)
.
Tabel 1. Beberapa efek samping interferon
(2)
.
Saat
Umum terjadi
Jarang terjadi
Dini
Lambat
( 2 minggu)
Demam (40°C), menggigil,
sakit kepala, anoreksia,
nausea, kelelahan, nyeri otot,
insomnia.
Kelelahan, nyeri otot, me-
ngantuk, berat badan turun,
rambut rontok, gangguan
emosi, supresi sumsum
tulang.
Hipotensi, sianosis, bingung,
perubahan EEG.
Agitasi, depresi, nausea,
diare, hidung tersumbat,
nyeri tenggorok, sindrom
nefrotik.
Respon terhadap pengobatan IFN
Terdapat tiga jenis respon hepatitis B kronik terhadap IFN
(5)
.
1)
Respon sementara (Transient Response)
Terjadi inhibisi replikasi virus yang ditandai hilangnya
HBV-DNA dan DNA/a, tetapi dalam serum tetap terdapat
HBeAg dan HBeAg. Beberapa saat setelah pengobatan
dihentikan, semua petanda tersebut muncul kembali.
2)
Respon tak lengkap (Incomplete Response)
Terjadi inhibisi permanen replikasi virus, ditandai hilangnya
HBV-DNA dan DNA/a serta serokonversi dari HBeAg menjadi
Anti-HBe selama pengobatan dan bertahan setelah pengobatan
dihentikan. Dalam serum penderita tetap terdapat HBsAg;
diduga telah terjadi integrasi DNA virus B dengan sel hati.
3)
Respon lengkap (Complete Response)
Terjadi inhibisi permanen replikasi virus, ditandai
hilangnya HBV-DNA dan DNA/p serta serokonversi dari
HBeAg dan HBsAg menjadi Anti-HBe dan Anti-HBs.
Hasil-hasil pengobatan IFN
Merigan dick. pada tahun 1976 pertama kali memberikan
IFN Lekosit pada kasus hepatitis kronik aktif; dengan dosis
sedang (5-10 MU/m2/hari) selama 3-6 bulan terjadi hambatan
replikasi virus. Ternyata supresi terhadap replikasi hanya ber-
sifat sementara jika terapi dilakukan kurang dari 10 minggu.
Dan beberapa studi ternyata angka keberhasilan IFN Leko-
sit 17-43%"
0
. Respon permanen lebih banyak didapatkan pada
kasus hepatitis kronik aktif dibanding pada hepatitis kronik
persisten
(2,17)
.
Banyak hal terungkap dengan penggunaan IFN Limfo-
blastoid. Lok mendapatkan bahwa pemberian IFN limfoblastoid
10 MU/m2 3 kali per minggu sama efektifnya dengan pemberian
setiap hari, disertai efek samping yang lebih kecil, meskipun
diberikan 3 bulan lebih"
g
). Alexander pertama kali melaporkan
terjadinya serokonversi HBsAg/AntiHBs pada 22% (5/23)
kasus hepatitis aktif kronik setelah terapi IFN limfoblastoid
(19)
.
Alberti melaporkan hasil penelitian pendahuluan pada kasus
anti-HBe dan HBV-DNA positif, bahwa HBV-DNA menjadi
negatif dan SGOT menjadi normal pada 57%, 9 bulan setelah
terapi IFN limfoblastoid
(20)
.
Adanya IFN rekombinan memungkinkan dilakukannya pe-
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 7
background image
nelitian secara luas. Omata melaporkan bahwa IFN alfa dengan
dosis di atas 9­18 MU/hari umumnya disertai efek samping yang
serius tanpa peningkatan hasil
(13)
; dosis tertinggi yang masih
dapat diterima adalah 36 MU/hari
(10)
. Caremo melaporkan bahwa
IFN rekombinan dapat diberikan pada penderita anak-anak selama
6 bulan dengan dosis 10­20 MU/m2 2 kali/minggu dengan efek
samping minima1
(21)
. Porres mendapatkan bahwa efek antivirus
timbul dengan dosis 2,5 MU/m2 3 kali/minggu, namun perbaik-
an histologis secara nyata terjadi dengan dosis 10 MU/m2 3
kali/ minggu
(11)
Beberapa hasil uji klinik pengobatan IFN yang telah di-
lakukan secara terkontrol :
·
Sepertiga penderita hepatitis B kronik memberi respon ter-
hadap terapi IFN, ditandai hilangnya HBV-DNA dan serokon-
versi HBeAg/Anti-HBe, serokonversi HBsAg/Anti-HBs terjadi
pada sekitar 7% penderita
(3)
.
·
Keberhasilan terapi memerlukan masa pengobatan sedikit-
nya 3 bulan
(3)
.
·
Penderita sirosis kompensata (Prothrombin time 3 detik;
albumin > 3,5 g/dl; kadar bilirubin normal) masih mempunyai
toleransi terhadap efek samping pemberian IFN dosis rendah
(15)
·
5-15% kasus hepatitis B kronik mengalami konversi spon-
tan HBeAg/Anti-HBe dan hilangnya HBV-DNA, karena itu
semua calon sasaran IFN perlu diikuti 3­6 bulan (dikutip dari 3).
BEBERAPA HAL YANG DAPAT MEMPENGARUHI
HASIL PENGOBATAN IFN
1)
Saat pemberian IFN dalam tahap prjalanan hepatitis
B kronik
Fase replikatiftinggi HVB : Dalam darah terdapat titer
tinggi HBsAg, HBeAg, DNA/p, dalam sel hati terdapadaBsAg,
HBcAg dan DNA/p; HBV DNA masih dalam keadaan bebas,
sehingga terjadi replikasi virus lengkap. Terdapat hepatitis
ringan/asimtomatik, transaminase agak naik, gambaran
histologis menunjukkan inflamasi ringan.
Fase replikatif rendah VHB : Titer HBsAg, HBeAg dan
DNA/p mulai turun, demikian juga HBcAg, HBsAg dan DNA/
p dalam sel hati.
Klinis menunjukkan periode remisi/eksaserbasi, ditandai
peningkatan transaminase; gambaran histologis menunjukkan
inflamasi makin luas.
Fase non replikatif VHB : Hampir semua HBV-DNA telah
terintegrasi ke dalam genom sel hati sehingga tak mampu me-
replikasi virus lengkap, kecuali HBsAg. HBc dalam sel hati
juga tak terdeteksi. Fase ini terjadi 3­10 tahun setelah fase
replikasi aktif, ditandai serokonversi spontan HBeAg/Anti-
HBe, sering diawali eksaserbasi akut kemudian remisi.
Pemberian sedini mungkin pada fase replikasi aktif mem-
beri hasil terbaik, karena klon-klon sel hati yang mengandung
integrasi genom VHB belum sempat terbentuk.
2)
Usia terjadinya infeksi VHB untuk pertama kali
Pengobatan IFN lebih berhasil pada pengidap VHB yang
terinfeksi pada usia dewasa dibandingkan pengidap yang ter-
infeksi pada masa bayi/kanak-kanak, seperti hasil penelitian di
Eropa (Kaukasia) dan di Asia (Cina dan Jepang). Pada kelompok
Eropa terdapat defisiensi IFN; mereka dapat memberi respon
terhadap pemberian IFN alfa. Pada kelompok Asia ternyata
produksi IFN normal; pemberian IFN alfa tak bermanfaat.
Diduga telah terjadi toleransi imun pada kelompok yang
terinfeksi pada masa bayi/kanak-kanak; hipotesis lain adalah
telah terintegrasinya HBV-DNA ke dalam genom sel hati,
dibuktikan dengan pemeriksaan biopsi hati
(3,4.12,18,22)
.
3)
Jenis kelamin
(17)
Scullard mendapatkan wanita memberi respon lebih baik
terhadap pengobatan IFN dibandingkan pria (66% : 44%) oleh
sebab yang masih belum jelas.
4)
Kadar transaminase serum sebelum dan selama peng-
obatan
Penderita dengan kadar transaminase rendah sebelum
terapi kurang memberi respon terhadap IFN
(3)
. Kuroki (1990)
mendapatkan bahwa respon yang balk terdapat pada penderita
dengan SCOT di atas 200 U. Kenaikan transaminase selama
terapi pada minggu 8-12, yang dapat mencapai 10 kali harga
normal, disertai keluhan seperti hepatitis akut (Hepatitis-like
syndrome) menunjukkan respon yang baik
(19)
. Pola respon de-
mikian tak terdapat pada kasus dengan AntiHBe dan HBV-
DNA positif
(20)
.
5)
Kadar HBV-DNA sebelum pengobatan
Penderita dengan HBV-DNA titer rendah lebih responsif
dibandingkan penderita dengan HBV-DNA titer tinggi
(3,4,5)
.
6)
Penderita dengan antibodi terhadap HIV dan HDV memberi
respon yang kurang balk terhadap pengobatan IFN
(3,12,24)
.
USAHA
UNTUK MENINGKATKAN RESPON TER-
HADAP PENGOBATAN IFN
1) Kombinasi steroid jangka pendek diikuti IFN
Penghentian steroid (steroid withdrawal) setelah pemberian
jangka pendek pada penderita hepatitis B kronik menimbulkan
eksaserbasi hepatitis ditandai peningkatan transaminase dan
diikuti hilangnya DNA/p
@
). Bodcky melaporkan peningkatan
IgG, IgM dan IgA setelah penghentian prednison yang
diberikan selama 6 minggu
(2)
. Kombinasi steroid dan IFN alfa
di negara Banat memberi respon 45-67%
(3,25)
, sedangkan pada
penderita Asia (Cina dan Jepang) dewasa, pemberian
kombinasi ini menghasilkan respon yang lebih baik (56%)
dibanding pemberian IFN tunggal; namun pada anak-anak tak
terjadi respon yang memuaskan
(8,18,22)
.
Umumnya protokol terapi kombinasi ini terdiri dari : steroid
selama 6 minggu berupa prednison 60 mg, 40 mg dan 20 mg/hari,
atau prednisolon 45 mg, 30 mg dan 15 mg/hari, masing-masing
dosis untuk 2 minggu, disusul istirahat selama 2 minggu, di-
lanjutkan dengan IFN 5-10 MU 3x/minggu
(3.8.26)
.
Pemberian steroid dan IFN alfa2 di Indonesia pada 18
penderita hepatitis B kronik mendapatkan HBV-DNA negatif,
HBeAg negatif dan anti-HBe positif berturut-turut pada 94%,
56% dan 50% setelah terapi 6 bulan
(26)
.
Seleksi kasus untuk steroid withdrawal harus dilakukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
8
background image
ketat, karena pada kasus tertentu seperti sirosis dapat terjadi
gagal hati progresif
(15)
.
2) Kombinasi dengan anti virus yang lain
a)
Terapi Adenine Arabinoside Monophosphate (ARA-MP)
atau Adenine Arabinoside (ARA-A) satu siklus (5­15 mg/kg/
hari selama 7 hari) atau lebih, diikuti IFN alfa selama 90 hari
memberi respon yang lebih baik dibanding pengobatan tunggal
ARA-MP, ARA-A atau IFN saja. Efek samping yang timbul
lebih besar; saat ini masih dalam penelitian lebih lanjut
(4,5,7,17)
.
b)
Kombinasi IFN alfa dengan Acyclovir atau Descyclovir
menunjukkan efek sinergistik dengan sedikit efek samping me-
lalui mekanisme yang belum jelas; kombinasi ini masih dalam
penelitian yang terbatas
(27)
.
PROSPEK KINI DAN MENDATANG
Usaha saat ini diarahkan untuk mendapat protokol terapi
yang baku dan kombinasi dengan obat lain dengan efek
samping minimal. Perillo mengusulkan suatu strategi pemilihan
regimen, berdasarkan variabel yang dapat mempengaruhi hasil
terapi
o.10
) Telah dicoba pemakaian IFN beta dan gama untuk
hepatitis B kronik. Penelitian IFN beta di Korea menghasilkan
konversi negatif HBV-DNA 53,3%
06.1s)
,
sedangkan kombinasi
IFN beta dan steroid menghasilkan konversi negatif HBV-
DNA 72,7%
06.2s1
dan 100% (8/8), namun 37,5% (3/8) kasus
menunjukkan HBVDNA kembali 6 bulan setelah terapi
selesaP
,291
. IFN gama dapat menginduksi ekspresi HLA kelas
2, yang bersama HLA kelas 1 lebih merangsang sitolisis oleh
limfosit T dan proses imun lainnya. Dibandingkan IFN alfa,
IFN gama memiliki efek anti-virus yang lebih kecil dan efek
samping yang lebih besar. Kombinasi IFN beta dan IFN gama
belum menunjukkan kelebihan yang nyata dan masih diteliti
lebih lanjut. Belum ada laporan tentang hasil kombinasi IFN
alfa dengan IFN beta maupun gama
(3)
.
Pada beberapa penderita ditemukan antibodi terhadap IFN
dan adanya antiidiorype setelah terapi. Sampai saat ini belum
tampak pengaruh terhadap hasil terapi. Hal ini masih dalam
penelitian lebih lanjut
(3,6,25)
.
RINGKASAN
Interferon (IFN) merupakan suatu unsur Sistim Kekebalan
Alamiah yang mempunyai daya antivirus, antiproliferatif dan
imunomodulasi, yang terbentuk oleh rangsangan virus atau
mitogen lain. Pada hepatitis virus akut terjadi peningkatan IFN,
namun hal ini tak terjadi pada hepatitis fulminan akut dan
hepatitis kronik, khususnya hepatitis B.
Terapi IFN pada hepatitis B bertujuan menghambat repli-
kasi virus hepatitis B, menghambat nekrosis dan mencegah
transformasi maligna sel hati. IFN diberikan dengan indikasi
utama HBeAg dan HBV-DNA positif serta adanya hepatitis
kronik aktif. Respon terhadap IFN dapat berupa respon se-
mentara, respon tak lengkap dan respon lengkap. IFN efektif
pada dosis 5­10 MU/kali 3 kali/minggu sedikitnya diberikan
selama 3 bulan. Keberhasilan terapi IFN terjadi pada sepertiga
kasus hepatitis B kronik. Hasil terbaik terjadi bila IFN diberikan
sedini mungkin, yaitu pada fase replikasi aktif virus B. IFN lebih
efektif pada pengidap yang terinfeksi pada masa dewasa di-
banding yang terinfeksi pada masa bayi/kanak-kanak. Faktor
lain yang ikut berperan adalah jenis kelamin, kadar transaminase
serum sebelum dan selama terapi, kadar HBV-DNA sebelum
terapi dan adanya antibodi terhadap HIV dan HDV. Untuk
meningkatkan respon terapi, dilakukan kombinasi IFN dengan
anti-virus seperti ARA-A, ARA-AMP maupun Acyclovir.
Penggunaan IFN beta dan gama, baik secara tunggal, kombinasi
keduanya maupun dengan steroid sedang dalam evaluasi.
KEPUSTAKAAN
1.
Roitt I, Brostoff J, Male D. Immunology. 2nd Ed. London-New York:
Gover Medical Publishing. 1989.
2.
Peters M, Davis GL, Dooley IS, Hoffnagle JH. The Interferon System in
Acute and Chronic Viral Hepatitis. In : Progress in Liver Diseases Vol.
VIII. Eds.: Popper H and Schaffner F. Grune & Stratton, Inc. New York,
1986, p. 453.
3.
Perillo RP. Treatment of Chronic Hepatitis B with Interferon: Experience
in western countries, Sem. Liver Dis. 1989; 9: 240.
4.
Thomas HC, Scully LI, Lever AML, Yap I, Pignatelly M. A Review of the
efficacy of Adenine Arabinoside and Lymphoblastoid Interferon in the
Royal Free Hospital Studies of Hepatitis B Virus Carrier Treatment.
Infection 1987; 15 (Suppl.l); 26.
5.
Thomas HC. Treatment of Hepatitis B Viral Infection. In : Viral Hepatitis
and Liver Diseases. Ed.: Zuckermann. Alan R. Liss, Inc. New York, 1988,
p. 817.
6.
Peters M. Mechanism of action of Interferons. Sem. Liver Dis. 1989; 9:
235.
7.
Thomas HC, Shipton U, Mantano. The HLA system : Its relevance to the
padaogenesis of liver disease. In : Progress in Liver Diseases Vol VII. Eds.:
Popper H and Schaffner F. Grune & Stratton, Inc. New York, 1982, p. 517.
8.
Levin S, Hahn T. Interferon in Acute Viral Hepatitis. Lancet 1982; I: 592.
9.
Chousterman S, Chousterman M, Hagege H, Poitrine A, Thang MN.
Chaput JC. Interferon System in Acute Viral Hepatitis B : Pattern of
activations during progress to complete recovery. In : Viral Hepatitis and
Liver Diseases. Ed.: Zuckermann. Alan R. Liss, Inc. New York, 1988,
p. 831.
10.
Dooley IS, Davis GL, Peters M, Waggoner JG, Goodman Z, Hoofnagle
JH. Pilot study of recombinant human alpha-Interferon for chronic type B
Hepatitis. Gastroenterology 1986; 90: 150.
11.
Ikeda T, Lever AML, Thomas HC. Evidence for a deficiency of Interferon
production in patients with Chronic Hepatitis B Virus Infection acquired in
adult life. Hepatology 1986; 6: 962.
12.
Liaw YF, Lin SM, Sheen IS, Chen TJ, Chu CM. Treatment of Chronic
Type B Hepatitis in Southeast Asia. JAMA 1988; 85 (Suppl. 2A): 147.
13.
Unata M, Inazeki M, Yokuosura 0, Ito Y, Uchiumi, Mori J, Okuda K.
Recombinant Leucocyte A Interferon treatment in patients with Chronic
Hepatitis B Virus infection : Pharmacokinetics, tolerance and biologic
effects. Gastroenterology 1985; 88: 870.
14.
PignatelliM, Waters J, Brown D. HLA Class I Antigens on the hepatocyte
membrane during recovery from Acute Hepatitis B Virus Infection and
during Interferon therapy in Chronic Hepatitis B Infection. Hepatology
1986; 6: 349.
15.
Di Bisceglie AM. Interferon therapy of complicated Hepatitis B Infection.
Son. Liver Dis. 1989; 9: 254.
16.
Greenberg HB, Pollard RB, Lutwick LI, Gregory PB, Robinson WS,
Merigan TC. Effect of Human Leucocyte Interferon on Hepatitis B Virus
infection in patients with Chronic Active Hepatitis. N. Eng. J. Med. 1976;
295: 517.
17.
Scullard GH, Pollard RB, Smith JL, Sacks SL, Gregory PB, Robinson WS,
Merigan TC. Antiviral treatment of Chronic Hepatitis B Virus infection.
Changes in viral markers with Interferon combined with Adenine Arabi-
noside J. Infect. Dis. 1981; 143: 772.
18.
Lok ASF, Wu PC, Lau JYN, Leung EKY, Wong LSK. Treatment of
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 9
background image
Chronic Hepatitis B with Interferon; Experience in Asian patients, Sem.
Liver Dis. 1989; 9: 249.
19.
Alexander GIN, Brahm J, Fagan EA dkk. Loss of HBsAg with Interferon
Therapy in Chronic Hepatitis B Virus infection, Lancet 1987; II: 66.
20.
Alberti A, Fauovich G, Pontisso P, Brollo, Bellusi L, Ruol A. Interferon
treatment of anti-HBe positive and HBV-DNA positive chronic hepatitis.
Chemotherapia 1988; 3 (Supp. 1): 15.
21.
Hashida T, Sawada T, Esuni N, Kinugasa A, Kusunoki T, Kishida T.
Therapeutic effects of Human Leucocyte Interferon on Chronic Active
Hepatitis B in children. J. Ped. Gastroenterol. Nutr. 1985; 4: 20.
22.
Lai CL, Lok ASF, Lin HJ, Wu PC, Yeoh EK, Yeung CY. Placebo
controlled trial of recombinant alpha2-Interferon in Chinese HBsAg carrier
children. Lancet 1987; II: 877.
23.
Kuroki T, Takeda T, Nishiguchi S, Nakajima, Shiomi, Kobayashi K. Re-
lationship between changes of serum ALT before Interferon treatment and
the therapeutic effect for HBeAg positive Chronic Hepatitis B (Abstract).
In : VII th Biennial Scientific Meeting of the Asian Pacific Association for
the Study of the Liver, Jakarta, Indonesia, February 19­21, 1990, p. 110.
24.
McDonald JA, Caruso L, Karayuannis P, Scully LI, Harris JRW, Forster
GE, Thomas HC. Diminished responsiveness of male homosexual HBV
carriers with HTLV-III Antibodies to recombinant alpha A-Interferon.
Hepatology 1986; 6: 1149 (Abstract 179).
25.
Craxi A, Di Marco V, Volpes R, Palazzo U. Anti-alpha Interferon Anti
bodies after Alpha Interferon treatment in patients with Chronic Viral
Hepatitis. Hepato-gastroenterol. 1988; 35: 304.
26.
Lesmana LA, Soewignyo, Akbar HN, Sulaiman HA, Noer HNS. Steroid
Withdrawal dan Interferon Alfa Rekombinan pada Hepatitis B Kroniik.
Dalam : Buku Abstrak Kongres Nasional IV PGI-PEGI Pertemuan Iln.;.th
V PPHI, Jakarta, 17­18 Pebntari 1990. hal. 100.
27.
Schalm SW, Heytink RA, Van Buuren HR, De Man RA. Acyclovir
enhances the antiviral effect of Interferon in Chronic Hepatitis B. Lancet
1985; II: 358.
28.
Kim KH, Han KH, Chon CY, Lee SI, Choi HI. Prednisolone withdrawal
followed by B-Interferon in the treatment of Chronic Type B Hepatitis
(Abstract). In : VIIth Biennial Scientific Meeting of the Asian Pacific
Association for the Study of the Liver, Jakarta, Indonesia, February 19­21,
1990, p. 84.
29.
Chang DL, Byune NA, Nam IH dkk. Interferon Beta Therapy in patient
with Chronic Active Hepatitis, Type B (Abstract). In : VIIth Biennial
Scientific Meeting of The Asian Pasific Association for the Study of the
Liver. Jakarta, Indonesia, February 19­21, 1990, p. 58.
30.
Perillo RF, Regenstein FG, Peters M, Bodicky CJ, Campbell CR. Predni-
sone withdrawal followed by recombinant alpha interferon in the treatment
of Chronic Hepatitis B. A randomized, controlled trial. Ann. Intern. Med.
1988; 109: 95.
31.
Porres JC, Carreno V, Mora I dkk. Different doses of Recombinant Alpha
Interferon in the treatment of Chronic Hepatitis B patients without anti
bodies against the Human Immunodeficiency Virus. Hepato-gastroenterol.
1988; 35: 300.
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
10