Artikel
Pengendalian Infeksi Nosokomial
di RS Dr. Cipto Mangunkusumo
dengan Sumber Daya Minimal
Robert Utji
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Infeksi Nosokomial (INOK) merupakan masalah yang besar
di setiap Rumah Sakit. Apalagi di Rumah Sakit yang jumlah
penderita yang dirawatnya banyak dengan tenaga perawatnya
masih terbatas. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan prinsip-
prinsip higiene kurang mendapatkan perhatian.
Di Amerika Serikat dilaporkan INOK mencapai 5% per
tahun bahkan mungkin lebih lagi, dengan angka mortalitas
1%
0
); bagaimana di RS Dr. Cipto Mangunkusumo? Sebagai
ilustra'si di RSCM telah dilakukan surveilans terbatas selama 6
bulan (1990) dengan hasil sebagai berikut : insiden berkisar
antara 0 14,4% dan angka yang tertinggi INOKnya di Bagian
Parasitologi dengan Sepsis
(2)
.
Rumah sakit dan profesi kesehatan mempunyai tanggung
jawab moral untuk to do the patient no harm. Ini dapat terlaksana
dengan memberikan pelayanan kepada setiap penderita dengan
standar profesi tertinggi. Standar profesi ini adalah dalam pro-
gram yang disusun dan dilaksanakan oleh PPIN seperti sur-
veilans, pendidikan nosokomial kepada tenaga kesehatan, pe-
lacakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan sebagainya. Idealnya
semua program yang disusun dijalankan secara utuh, tetapi me-
nuntut dana yang besar; bagaimana dengan sumber daya mini-
mal? Dalam uraian berikut ini kita akan perhatikan masing-
masing komponen program PPIN.
ORGAMSASI PPIN
Organisasi PPIN adalah bersifat lintas sektoral dan terintegrasi
di antara banyak disiplin pelayanan seperti dokter ahli penyakit
infeksi, administrasi Rumah Sakit, Perawat Pengendali Infeksi
(Infection Control Nurse), ahli mikrobiologi, ahli bedah, Farmasi
Rumah Sakit, Unit Sterilisasi Sentral, Bagian Rumah
Dibacakan pada Seminar Terbatas Pengendalian Infeksi Nasokomial di Rumah
Saki: dengan Sumber Daya Minimal tanggal 22 Februari 1992 di Gedung
Perpustakaan Nasional Jakarta.
Tangga Rumah Sakit dan sebagainya.
Tujuan PPIN yang paling utama adalah mencegah terjadi-
nya infeksi pada penderita di Rumah Sakit dan juga tenaga
kesehatan
(3)
. Ketua PPIN adalah seorang Klinikus ahli penyakit
infeksi yang juga memperdalam pengetahuan epidemiologi dan
mikrobiologi. Ketua PPIN harus diberi wewenang untuk meng-
ambil keputusan penting yang berhubungan dengan INOK.
Jabatan Ketua tidak boleh terlampau singkat mengingat pro-
gram-program PPIN tidak dapat diselesaikan dalam waktu
singkat.
Di dalam organisasi diperlukan juga seorang yang secara
khusus menangani soal dana untuk program serta kelancaran
pelaksanaannya. Tugas PPIN adalah melaksanakan surveilans,
menentukan kebijakan-kebijakan dan cara-cara pencegahan
infeksi.
Surveilans
Surveilans adalah pengamatan yang seksama pada waktu
tenentu terhadap penderita yang dirawat di rumah sakit, tenaga
kesehatan atau lingkungan rumah sakit untuk memperoleh data
untuk ditabulasi dan dianalisa. Surveilans akan memberikan
gambaran tentang INOK atau suatu KLB.
Di RSCM surveilans terhadap penderita yang dirawat sudah
berjalan rutin secara Minis untuk memantau risiko infeksi pen-
derita operasi, infus, kateter. Surveilans mikrobiologi belum
rutin dilakukan terhadap penderita kecuali penderita luka bakar,
dan lingkungan seperti di IGD, ruang rawat TST, dan ICU.
Surveilans mikrobiologi penting untuk mengetahui sumber pe-
nyebab INOK sehingga langkah-langkah pengendalian dan
pencegahan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 5
Buku Panduan
Segala keputusan PPIN sebaiknya dituangkan di dalam
sebuah buku panduan untuk setiap unit di Rumah Sakit. Buku ini
harus menjadi pedoman untuk diketahui dan dilaksanakan oleh
para tenaga kesehatan.
Isi buku ini memberikan petunjuk-petunjuk praktis seperti
petunjuk tentang cara cuci tangan yang baik; cuci tangan biasa
untuk merawat penderita tanpa tindakan invasif hanya perlu air
mengalir dan sabun; untuk tindakan invasif seperti pemasangan
infus, kateter dan sebagainya, cuci tangan dengan air mengalir,
sabun dan desinfekt.an. Apakah cuci tangan untuk tindakan
operatif harus pakai sikat, sabun air mengalir, desinfektan alkohol
dan waktu cuci tangan yang lebih lama.
Prioritas
PPIN harus melaksanakan banyak program; supaya efisien
dan efektif harus ditentukan prioritas. Berikut ini sebuah contoh
prioritas untuk langkah awal, lanjut sebuah rumah sakit dan
prioritas untuk macam-macam rumah sakit (Gambar 1 dan 2)
(1)
.
Gambar 1.
Examples of time spent in setting up infection control programs, by size and type
of institution. In setting up a program, much time is needed for surveillance and
reporting infections to establish baseline infection rates. Smaller institutions will
generally require less time to do total hospital data collection than will larger
facilities because of the increased complexity of care. Little time is spent in
teaching and consulting, partly because personnel do not know of the availability
of the ICP. Administrative activities consume a great amount of time because of
the need to develop infection control manuals, in both hospitalwide manual and
the infection control sections of departmental manuals.
EPIDEMIOLOGI
Untuk pelaksanaan pengendalian dan pencegahan perlu
diketahui epidemiologi INOK. Kita akan melihat 3 faktor yang
bersama-sama menentukan terjadinya INOK (Gambar 3).
Gambar 2.
Example of time spent in infection control activities in programs 12 years old,
by size and type of institution. After a program has been well established, less time
is needed for surveillance and reporting activities. Additionally, once infection
control manuals (hospitalwide and departmental sections) have been completed,
only annual review is necessary, so that administrative time can be decreased.
More time is then allocated to teaching, consulting, or special studies.
Gambar 3.
For an infection to occur, all three parts of the infection chain must be present,
and all criteria must be met.
Di dalam menentukan skala prioritas untuk melakukan
pengendalian, kita harus dapat tentukan faktor yang paling utama.
Sumber
Sumber infeksi dapat berupa kuman, virus, protozoa dan
parasit yang terdapat di alam. Bahkan manusia sehat juga penuh
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
6
dengan kuman yang dianggap normal. Untuk penderita yang
imunokompromi, kuman normal pun dapat menjadi patogen ka-
rena daya tahan tubuh yang berkurang. Lingkungan kita terkenal
dengan sumber kuman patogen yang paling besar. Bila PPIN
akan mengawasi semua sumber kuman dengan jalan memantau
secara rutin, biayanya akan sangat besar dan tidak praktis.
Penderita
Penderita selalu menjadi sasaran benih penyakit karena
biasanya keadaan tubuh yang lemah. Langkah pertolongan yang
diberikan rumah sakit dalam perawatan penderita serba sulit
karena perawatan yang berlebihan akan meninggikan risiko
infeksi dan perawatan yang kurang akan melemahkan daya tahan
penderita.
Dalam pengendalian INOK, penderita harus menjadi obyek
yang paling utama : to do the patient no harm. Kita harus cepat
dapat menanggulangi atau mencegah infeksi dari luar maupun
dari dalam. Keadaan yang paling optimal adalah kalau penderita
dirawat secara khusus seperti di isolasi atau dilayani khusus
oleh perawat tertentu.
Cara Penularan
Cara penularan melalui tenaga perawat ditempatkan se-
bagai penyebab yang paling utama INOK. Penularan melalui
tangan perawat dapat secara langsung karena tangan yang kurang
bersih atau secara tidak langsung melalui peralatan yang invasif.
Dengan tindakan mencuci tangan secara benar saja, INOK dapat
dikurangi 50%
t`l
.
Peralatan yang kurang steril, air yang terkon-
taminasi kuman, cairan desinfektan yang mengandung kuman,
sering meningkatkan risiko INOK.
KESIMPULAN
Sekarang pertanyaan yang penting yang perlu dijawab :
Bagaimanakah Rumah Sakit dapat melakukan pengendalian
INOK dengan sumber daya yang minimal ?
1.
Tujuan pengendalian harus diprioritaskan kepada penderita
terlebih dahulu dan tidak pada tenaga kesehatan.
2.
Untuk memutuskan mata rantai infeksi, prioritas utama
adalah pada tenaga perawat dengan jalan mengubah perilaku
menjadi lebih aseptik dan menjalankan peraturan-peraturan dalam
buku panduan secara konsekuen.
3.
Surveilan penderita harus dibarengi dengan surveilan
bakteriologik supaya dapat ditemukan sumber infeksinya.
KEPUSTAKAAN
1.
Castle M, Ajemian E. Hospital Infection Control. Principle and Practice.
2nd ed. New York: Wiley Medical, 1987. hal 1-4.
2.
Made Nursari. Laporan Surveilans Nosokomial. RSCM, 1990.
3.
La Force FM. The Hospital Infection Control Committee. A personal view.
Hosp. Pract. 1977; 12(1): 135.
4.
Steere AC, Mallison GF. Hand washing practices for the prevention of
nosocomial infections. Ann. Intern. Med. 1971; 83: 683.
KALENDER PERISTIWA
May 3 6, 1993 DERMATO-THERAPEUTIC UPDATE
'93 INTERNATIONAL SYMPOSIUM
Nusa Indah Convention Centre Bali,
INDONESIA.
Secr.: Dept. of Dermatovenereology,
Faculty of Medicine, University
of Indonesia.
PO Box 4200/JATJG
Jakarta 13041
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 7