Artikel
Pendekatan Diagnostik
Penyakit Reumatik
Harry Isbagio
Subbagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
R.S. Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Hingga kini dikenal lebih dari 100 macam penyakit sendi
yang seringkali memberikan gejala yang hampir sama. Oleh
karena itu pendekatan diagnostik sangat diperlukan agar di-
dapatkan diagnosis yang tepat, sehingg akhirnya penderita
memperoleh penatalaksanaan yang adekuat.
Perlu diingat pula bahwa gangguan reumatik dapat me-
rupakan manifestasi artikuler dari berbagai penyakit dan se-
baliknya beberapa penyakit reumatik mempunyai manifestasi
ekstra-artikuler pada berbagai organ.
Sebagaimana halnya dengan penyakit lain maim dalam
melakukan pendekatan diagnostik hams melalui tahap-tahap
anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pada makalah ini akan dibahas langkah-langkah pendekat-
an diagnostik tersebut dengan lebih menekankan pada kelainan
sendinya.
TERMINOLOGI
Sebelum melangkah lebih lanjut maka sebaiknya terlebih
dahulu mengenal berbagai terminologi yang sering digunakan
dalam bidang penyakit reumatik. Hal ini diperlukan untuk ke-
samaan pengertian agar kita tidak rancu dalam menggunakan-
nya.
Berbagai istilah yang perlu diketahui ialah :
1.
Artralgia : merupakan keluhan subyektif berupa rasa nyeri
di sekitar sendi, pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan ke-
lainan.
2.
Artritis : kelainan sendi obyektif, berupa inflamasi sendi
disertai tanda inflamasi yang komplit (tumor, rubor, kalor,
dolor, gangguan fungsi).
3.
Monoartritis : artritis yang hanya mengenai satu sendi saja.
4.
Oligoartritis/pausi-artikuler : artritis yang menyerang 2
sampai 4 sendi atau kelompok sendi kecil. Dalam hal ini sendi
interfalang distal = DIP, sendi interfalang proksimal = PIP, sendi
metakarpofalangeal = MCP, sendi karpalis, sendi metatarsofa-
langeal = MTP dan sendi tarsalis merupakan kelompok sendi
kecil yang dihitung sebagai satu sendi walaupun yang terserang
beberapa sendi. Contoh : bila yang diserang sendi PIP II, PIP
III, PIP IV dan PIP V baik secara serentak atau berurutan maka
dihitung hanya sebagai 1 sendi yang terserang.
5.
Poliartritis : artritis yang menyerang lebih dari 4 sendi atau
kelompok sendi kecil.
6.
Sinovitis : inflamasi sinovia sendi yang klinis nyata.
7.
Tenosinovitis : inflamasi sarung tendon.
8.
Tendinitis : inflamasi tendon.
9.
Bursitis: inflamasi bursa.
10.
Entesopati : inflamasi atau kelainan dari entesis (tempat
melekatnya ligamen, tendon, atau kapsul sendi ke periosteum
tulang).
RIWAYAT PENYAKIT
Riwayat penyakit sangat penting dalam langkah awal
diagnosis semua penyakit, termasuk pula penyakit reumatik.
Sebagaimana biasanya diperlukan riwayat penyakit yang
deskriptif dan kronologis; ditanyakan pula faktor yang memper-
berat penyakit dan hasil pengobatan untuk mengurangi keluhan
penderita.
a. Umur
Penyakit reumatik dapat menyerang semua umur, tetapi
frekuensi dari setiap penyakit berbeda-beda pada berbagai ke-
lompok umur. Misalnya osteoartrosis lebih sering ditemukan
pada penderita usia lanjut dibandingkan dengan usia muda. Se-
baliknya lupus eritematosus sistemik lebih sering ditemukan
pada wanita usia muda dibandingkan dengan kelompok usia
lainnya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 5
Pada tabel 1 dapat dilihat berbagai penyakit reumatik yang
sering ditemukan pada berbagai kelompok umur.
Tabel 1. Frekuensi penyakit reumatik pads berbagai kelompok umur
Usia
muds
(225 thn)
Usia
pertengahan
(3050 thn)
Usia
IanJut
(65+)
Penyakit Still
Spondilitis ankilosis
Penyakit Reiter
Demam reumatik
Artritis pads kolitis ulseratif
Artritis septik
Gonokok
Stafilokok dan infeksi lainnya
Artritis Gout
Lupus erimatosus sistemik
Artritis reumatoid
Polimiositis
Skleroderma
SLE akibat obat
Penyakit Paget
Osteoartritis
Pfllimialgia reumatika
Penyakit deposit Kalsium pirofosfat
Osteopenia
Mestastasis karsinoma atau
mieloma multipel
+
++
++
++
+
++
+
+/
+++
++
+
+
+
+
+/
+
+
+
++
+
++
++
++
++
++
++
+
+
+
+
+/
+
+/
+/
+++
++
+
++
++
++
+++
++
+++
++
+++
+++
+++
Keterangan :
= Hampir tak pernah terjadi, +/ = sangat jarang, + = jarang,
++ = sering terjadi, + ++ = sangat sering terjadi
b.
Jenis kelamin
Pada penyakit reumatik perbandingan jenis kelamin ber-
beda pada beberapa kelompok penyakit. Pada tabel 2 dapat
dilihat perbedaan tersebut.
Tabel 2. Perbedaan Jenis kelamin pads penyakit reumatik
Artritis reumatoid
Lupus eritematosus sistemik
Spondilitis ankilosis
Penyakit Reiter
Artritis psoriatik
Artropati intestinal
Artropati reaktif
Artritis Gout
Osteoartritis coxae
Osteoatrosis lutut & Langan
Pria < Wanita (1 : 3)
Pria < Wanita
Pria > Wanita
Pria > Wanita
Pria < Wanita
Pria = Wanita
Pria = Wanita
Pria > Wanita
Pria = Wanita
Pria < Wanita
c.
Nyeri sendi
Nyeri sendi merupakan keluhan utama penderita reumatik.
Penderita sebaiknya diminta menjelaskan lokasi dari nyeri serta
punctum maximumnya, karena mungkin sekali nyeri tersebut
merupakan penjalaran dari tempat lain. Nyeri tajam yang men-
jalar ke tempat jauh merupakan keluhan karakteristik yang di-
sebabkan oleh penekanan dari radiks saraf.
Penting untuk membedakan nyeri yang disebabkan per-
ubahan mekanikal dengan nyeri yang disebabkan inflamasi.
Nyeri yang timbul setelah aktivitas dan hilang setelah istirahat
serta tidak timbul pada pagi hari merupakan tanda nyeri mekanik.
Sebaliknya nyeri inflamasi akan bertambah berat pada pagi hari
saat bangun tidur dan disertai kaku sendi atau nyeri yang hebat
pada awal gerak dan berkurang setelah melakukan aktivitas.
Pada artritis reumatoid nyeri paling berat biasanya pada
pagi hari, membaik pada siang hari dan sedikit lebih berat pada
malam hari. Sebaliknya pada osteoartritis nyeri paling berat pada
malam hari, pagi hari terasa lebih ringan dan membaik pada siang
hari. Pada artritis gout nyeri yang terjadi biasanya berupa se-
rangan yang hebat pada waktu bangun pagi hari, sedangkan
malam hari sebelumnya penderita tidak merasakan apa-apa,
rasa nyeri ini biasanya self limiting dan sangat responsif dengan
pengobatan.
Nyeri malam hari terutama bila dirasakan seperti suatu
regangan merupakan nyeri akibat peninggian tekanan intra-
artikuler akibat dari suatu nekrosis avaskuler atau kolaps tulang
akibat artritis yang berat.
Nyeri yang menetap sepanjang hari (siang dan malam)
pada tulang merupakan tanda dari proses keganasan.
d.
Kaku sendi
Kaku sendi merupakan rasa seperti diikat, pasien merasa
sukar untuk menggerakkan sendi (worn off). Keadaan ini biasa-
nya akibat desakan cairan yang berada di sekitar jaringan yang
mengalami inflamasi (kapsul sendi, sinovia atau bursa).
Kaku sendi makin nyata pada pagi hari atau setelah
istirahat. Setelah digerak-gerakkan maka cairan akan menyebar
dari jaringan yang mengalami inflamasi dan pasien merasa
terlepas dari ikatan (wears off).
Lama dan beratnya kaku sendi pagi hari atau setelah
istirahat biasanya sejajar dengan beratnya inflamasi sendi (kaku
sendi pada artritis reumatoid lebih lama dari osteoartritis; kaku
sendi pada artritis reumatoid berat lebih lama daripada artritis
reumatoid ringan).
e.
Bengkak sendi dan deformitas
Pasien sering mengalami bengkak sendi, perubahan wama,
perubahan bentuk atau perubahan posisi dari struktur ekstremi-
tas. Biasanya yang dimaksud pasien dengan deformitas ialah
posisi yang salah, dislokasi atau subluksasi.
f.
Disabilitas dan handicap
Disabilitas terjadi apabila suatu jaringan, organ atau sistem
tidak dapat berfungsi secara adekuat.
Handicap terjadi bila disabilitasmengganggu aktivitas
seharihari, aktivitas sosial atau mengganggu pekerjaan/jabatan
si penderita. Disabilitas yang nyata belum tentu menyebabkan
handicap (seorang yang diamputasi kakinya di atas lutut mung-
kin tidak akan mengalami kesukaran bila pekerjaan yang ber-
sangkutan dapat dilakukan sambil duduk saja). Sebaliknya
disabilitas ringan justru dapat mengakibatkan handicap.
g.
Gejala sistemik
Penyakit sendi inflamatif baik disertai maupun tidak disertai
keterlibatan multisistem lainnya akan mengakibatkan peningkat-
an fase akut reaktan seperti peninggian LED atau CRP. Selain
itu akan disertai gejala sistemik seperti panas, penurunan berat
badan, kelelahan, lesu dan mudah terangsang. Kadang-kadang
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
6
pasien mengeluh hal yang tidak spesifik, seperti merasa tidak
enak badan. Pada orang usia lanjut sering disertai gejala
kekacauan mental.
h. Gangguan tidur dan depresi
Faktor yang beiperan dalam gangguan pola tidur antara
lain : nyerikronik, terbentuknya fase akut reaktan, obat anti-
inflamasi nonsteroid (indometasin). Pada artropati berat ter-
utama pada coxae dan lutut akan berakibat gangguan aktifitas
seksual yang akhirnya menimbulkan problem perkawinan dan
sosial.
Perlu diperhatikan pula adanya gejala depresi terselubung
seperti retardasi psikomotor, konstipasi, mudah menangis dan
sebagainya.
PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan jasmani khusus pada sistem muskuloskeletal
meliputi : Inspeksi pada saat diam/istirahat
Inspeksi pada saat gerak
Palpasi
a. Sikap/postur badan
Perlu diperhatikan bagaimana cara penderita mengatur po-
sisi dari bagian badan yang sakit. Sendi yang meradang
biasanya mempunyai tekanan intraartikuler yang tinggi, oleh
karena itu penderita akan berusaha menguranginyadengan
mengatur posisi sendi tersebut seenak mungkin, biasanya
dalam posisi setengah fleksi. Pada sendi lutut sering diganjal
dengan bantal. Pada sendi bahu (glenohumeral) dengan cara
lengan diaduksi dan endorotasi, mirip dengan waktu
menggendong tangan dengan kain pada fraktur lengan.
Sebaliknya bila dilakukan abduksi dan eksorotasi maka
penderita akan merasa sangat kesakitan karena terjadi
peningkatan tekanan intraartikuler. Ditemukannya postur badan
yang membongkok ke depan disertai pergerakan vertebra yang
terbatas merupakan gambaran khas dari spondilitis ankilosis.
b. Deformitas
Walaupun deformitas sudah tampak jelas pada keadaan
diam, tetapi akan lebih nyata pada keadaan gerak. Perlu di-
bedakan apakah deformitas tersebut dapat dikoreksi (misalnya
disebabkan gangguan jaringan lunak) atau tidak dapat dikoreksi
(misalnya restriksi kapsul sendi atau kerusakan sendi).
Berbagai dformitas di lutut dapat terjadi antara lain genu
varus, genu valgus, genu rekurvatum, subluksasi tibia posterior
dan deformitas fleksi. Demikian pula deformitas fleksi di siku.
Pada jari tangan antara lain boutonniere finger, swan neck
finger, ulnar deviation, subluksasi sendi metakarpal dan per-
gelangan tangan. Pada ibu jari tangan ditemukan unstable Z-
shaped thumbs.
Pada kaki ditemukan telapak kaki bagian depan melebar dan
miring ke samping disertai subluksasi ibujari kaki ke atas. Pada
pergelangan kaki terjadi valgus ankle.
c. Perubahan kulit
Kelainan kulit sering menyertai penyakit reumatik atau
penyakit kulit sering pula disertai penyakit reumatik. Kelainan
kulit yang sering ditemukan antara psoriasis dan eritema nodo
sum. Kemerahan disertai deskuamasi pada kulit di sekitar sendi
menunjukkan adanya inflamasi periartikuler, yang sering pula
merupakan tanda dari artritis septik atau artritis kristal.
d. Kenaikan suhu sekitar sendi
Pada perabaan dengan menggunakan punggung tangan
akan dirasakan adanya kenaikan suhu di sekitar sendi yang
mengalami inflamasi.
e. Bengkak sendi
Bengkak sendi dapat disebabkan oleh cairan, jaringan lunak
atau tulang.
Cairan sendi yang terbentuk biasanya akan menumpuk di
sekitar daerah kapsul sendi yang resistensinya paling lemah dan
mengakibatkan bentuk yang khas pada tempat tersebut, misal-
nya :
1)
Pada efusi lutut maka cairan akan mengisi cekungan medial
dan kantong suprapatelar mengakibatkan pembengkakan di atas
dan sekitar patela yang berbentuk seperti ladam kuda.
2)
Pada sendi interfalang pembengkakan terjadi pada sisi
posterolateral di antara tendon ekstensor dan ligamentum kola-
teral bagian lateral.
3)
Efusi sendi glenohumeral akan mengisi cekungan segitiga
di antara klavikula dan otot deltoid di alas otot pektoralis.
4)
Pada efusi sendi pergelangan kaki akan terjadi pembengkak-
an pada sisi anterior.
Bulge sign ditemukan pada keadaan efusi sendi dengan
jumlah cairan yang sedikit dalam rongga yang terbatas. Misalnya
pada efusi sendi lutut bila dilakukan pijatan pada cekungan
medial maka cairan akan berpindah ke sisi lateral patela dan
kemudian berpindah sendiri ke sisi medial.
Balloon sign ditemukan pada keadaan efusi dengan jumlah
cairan yang banyak, bila dilakukan tekanan pada satu titik akan
menyebabkan penggelembungan di tempat lain. Keadaan ini
sangat spesifik pada efusi sendi.
Pembengkakan kapsul sendi merupakan tenth spesifik dari
sinovitis. Pada pembengkakan tergambar batas dari kapsul sendi
yang makin nyata pada pergerakan dan teraba pada pergerakan
pasif.
f. Nyeri raba
Menentukan lokasi yang tepat dari nyeri raba merupakan
hal yang penting untuk menentukan penyebab dari keluhan
pasien.
Nyeri raba kapsuler/artikuler terbatas pada daerah sendi
merupakan tanda dari artropati atau penyakit kapsuler.
Nyeri raba periartikuler agak jauh dari bates daerah sendi
merupakan tanda dari bursitis atau entesopati.
g. Pergerakan
Pada pemeriksaan perlu dinilai luas gerak sendi pada keada-
an pasif dan aktif dan dibandingkan kiri dan kanan.
Sinovitis akan menyebabkan berkurangnya luas gerak sendi
pada semua arah. Tenosinovitis atau lesi periartikuler hanya
menyebabkan berkurangnya gerak sendi pada satu arah saja.
Artropati akan memberikan gangguan yang sama dengan sino-
vitis. Bila gerakan pasif lebih Iuas dibandingkan dengan gerak-
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 7
an aktif maka kemungkinan ada gangguan pula pada otot atau
tendon.
Nyeri gerak merupakan tanda diagnostik yang bermakna.
Nyeri ringan hingga sedang yang meningkat tajam bila dilakukan
gerakan semaksimal mungkin sampai terasa tahanan disebut
sebagai stress pain. Bila didapatkan stress pain pada semua arah
gerak, maka keadaan tersebut merupakan tanda khas untuk
sinovitis. Stress pain terbatas pada satu arah saja merupakan
tanda khas untuk gangguan yang berasal dari luar sendi (tenosi-
novitis). Nyeri yang dirasakan sama kualitasnya pada semua arah
gerak sendi, lebih menunjukkan gangguan mekanik dari nyeri
inflamasi.
Resisted active movement merupakan suatu cara pemeriksa-
an untuk menemukan adanya gangguan periartikuler. Pemeriksa-
an tersebut dilakukan dengan cara pasien melawan gerakan yang
dilakukan oleh tangan pemeriksa, akibatnya terjadi kontraksi
otot tanpa disertai gerakan sendi. Bila timbul rasa nyeri maka hal
tersebut berasal dari otot, tendOn atau insersi tendon, misalnya
pada :
1)
Tahanan pada aduksi sendi coxae yang mengakibatkan
timbulnya rasa nyeri pangkal paha merupakan tanda tendititis
aduktor.
2)
Tahanan pada abduksi glenohumeral yang mengakibatkan
timbulnya rasa nyeri pada lengan atas merupakan tanda ganggu-
an otot supraspinatus dan lesi pada tendon.
3)
Tahanan pada ekstensi siku yang menyebabkan nyeri pada
epikondilus lateralis merupakan tanda dari tennis elbow.
Sama halnya dengan di atas maka pada passive stress test,
bila pasien mengikuti gerakan dari tangan pemeriksa akan
timbul rasa nyeri sebagai akibat dari regangan ligamen atau
tendon, misalnya uji Finkelstein pada tenosinovitis De Quervain
(passive stress dari otot abduktor policis longus dan ekstensor
policis brevis menimbulkan rasa nyeri).
h.
Krepitus
Krepitus merupakan bunyi berderak yang dapat diraba
sepanjang gerakan dari struktur yang terserang.
Fine crepitus (krepitus halus) yang dapat didengar dengan
menggunakan stetoskop dan tidak dihantarkan ke tulang di
sekitarnya. Keadaan ini ditemukan pada radang sarung tendon,
bursa atau sinovia.
Coarse crepitus (krepitus kasar) dapat terdengar dari jauh
tanpa bantuan stetoskop dan dapat diraba sepanjang tulang.
Keadaan ini disebabkan kerusakan rawan sendi atau tulang.
i.
Bunyi lainnya
Ligamentous snaps merupakan suara tersendiri yang keras
tanpa rasa nyeri. Keadaan ini merupakan hal yang biasa ter-
dengar sekitar femur bagian atas sebagai clicking hips.
Cracking merupakan bunyi yang diakibatkan tarikan pada
sendi, biasanya pada sendi jari tangan, kcadaan ini disebabkan
terbentuknya gelembung gas intraartikuler. Cracking tidak dapat
diulang selama bebcrapa menit scbelum gas tersebut habis di-
scrap.
Cloncking merupakan suara yang ditimbulkan oleh per-
mukaan
-
yang tidak teratur (irregular), suara ini ditemukan
misalnya pada gesekan antara skapula dengan iga.
j.
Atrofi dan penurunan kekuatan otot
Atrofi otot merupakan tanda yang sering ditemukan. Path
sinovitis segera terjadi hambatan reflex spinal lokal terhadap
otot yang bekerja untuk sendi tersebut. Pada artropati berat
dapat terjadi atrofi periartrikuler yang luas. Sedangkan pada
jepitan saraf, gangguan tendon atau otot terjadi atrofi lokal.
Perlu dinilai kekuatan otot, karena ini lebih penting dari
besar otot.
k.
Ketidak stabilan/goyah
Sendi yang tidak stabil/goyah dapat terjadi karena proses
trauma atau radang pada ligamen atau kapsul sendi. Pada artro-
pati dapat terjadi sendi goyah sebagai akibat kerusakan rawan
sendi atau inflamasi kapsul atau ruptur ligamen. Perlu di-
bandingkan sendi yang goyah dengan sendi sisi lainnya.
l. Gangguan fungsi
Fungsi sendi dinilai dengan observasi pada penggunaan
normal; seperti bangkit dari kursi dan berjalan dapat digunakan
untuk menilai sendi coxae, lutut dan kaki. Kekuatan genggam
dan ketepatan menjepit benda halus untuk menilai tangan.
Sedangkan aktivitas hidup sehari-hari (Activities of daily
living = ADL) seperti menggosok gigi, buang air besar,
memasak dan sebagainya lebih tepat ditanyakan dengan
kuestioner daripada diperiksa langsung.
Selain pemeriksaan khusus pada sendi maka perlu dilakukan
pemeriksaan jasmani secara umum untuk mencari berbagai
manifestasi luar sendi.
a. Nodul
Nodul sering ditemukan pada berbagai artropati, umumnya
ditemukan pada permukaan ekstensor (punggung tangan, siku,
tumit belakang, sakrum). Nodul sering ditemukan pada artritis
gout (tofi) dan artritis reumatoid (nodul reumatoid).
b. Perubahan kuku
Perubahan kuku sering ditmukan pada penyakit reumatik,
antara lain :
1.
Jari penabuh (clubbing finger) berhubungan dengan osteo-
artropati hipertrofik pulmoner dan alveolitis fibrotik.
2.
Thimble pitting onycholysis (lisis kuku berbentuk lubang)
dan distrofi kuku berhubungan dengan artropati psoriatik dan
penyakit Reiter kronik.
3.
Serpihan berdarah (splinter haemorrhages) pada vaskulitis
pembuluh darah kecil.
c. Lesi membrana mukosa
Keadaan ini sering tanpa gejala (pada penyakit Reiter atau
artropati reaktif) atau dengan gejala Oupus eritematosus sis-
temik, vaskulitis, Sindrom Behcet). Perlu diperhatikan adanya
ulkus pada oral, genital dan mukosa hidung dan telangiektasia.
d. Gangguan mata
Gangguan mata meliputi :
1) Episkleritis dan skleritis pada artritis reumatoid, vaskulitis
dan polikondritis.
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
8
2. Iritis pada spondilitis ankilosis dan penyakit Reiter kronik.
2)
Iridosiklitis pada artritis juvenil kronik jenis pauciartikuler.
3)
Konjungtivitis pada penyakit Reiter akut dan sindrom sika.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN PROSEDUR
DIAGNOSTIK
Dalam tabel 3 dapat dilihat pemeriksaan yang perlu di-
lakukan pada penderita dengan gejala rematik generalisata.
Tabel 3. Pemeriksaan laboratorium dan prosedur diagnostik pada
penyakit
muskuloskeletal
Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1)
Laju endap darah meningkat dengan bertambahnya usia,
sehingga nilai sekitar 4050 mm/jam masih dapat ditemukan
pada orang usia lanjutyang masih sehat.
2)
Kadar fosfatase asam perlu diperiksa pada penderita pria
dengan keluhan nyeri pinggang (metastasis karsinoma prostat).
3)
Kadar Ca, P dan Fosfatase Alkali untuk membedakan
hiperparatiroid dengan artritis generalisata.
4)
Elektroforesisprotein untukmembedakandengan mieloma
multipel.
5)
Kadar asam urat serum untuk mencari kemungkinan penya-
kit gout, sedangkan kreatinin untuk menilai fungsi ginjal.
6)
Kadar T3 dan T4 untuk mencari kemungkinan kelainan
tiroid.
7)
ANA diperiksa pada penderita dengan artritis generalisata
yang menyerang sendi kecil disertai nram kulit, gangguan
hematologik dan ginjal.
8)
Pada pemeriksaan Faktor Reumatoid penderita AR perlu
diingat bahwa frekuensi RF (+) meningkat pula dengan ber-
tambahnya usia.
9)
Foto sinar X dapat membedakan kelainan sistemik atau
lokal. Untuk mencegah pemeriksaan yang berlebihan, usaha-
kan/pilihlah sendi yang paling perlu dilakukan pemeriksaan
tersebut.
10)
CT Scan terutama untuk kelainan di vertebra seperti
fraktur, kelainan diskus, spinal stenosis dan sebagainya.
11)
Scanning tulang (Bone Scan) dengan Technetium dikerja-
kan bila ada kecurigaan keganasan tulang primer atau metastasis.
12)
Artrografi, terutama pada lutut, dapat menentukan adanya
robekan meniskus, nodul sinovia dan kista poplitea. Pada bahu
dapat menentukan robekan rotator cuff.
13)
Artroskopi, terutama di lutut, dapat melihat penyakit intra-
artikuler, sekaligus dapat dilakukan biopsi.
14)
Analisis cairan sendi sebagai pembantu diagnostik; dapat
dibagi dalam 3 kelompok.
a) Nilai diagnostik yang pasti :
1.
Pewarnaan Gram dan kultur bakteriologik memastikan
septik artritis.
2.
Kristal : menentukan pseudogout dan gout.
b) Nilai diagnostik kurang pasti : yaitu pemeriksaan jumlah dan
jenis dari sel, yang dapat membedakan antara keadaan normal-
inflamasi-septik, tetapi belum dapat menentukan jenis penyakit.
c) Nilai diagnostik masih dipertanyakan seperti viskositas,
test bekuan musin, kadar glukosa, faktor reumatoid dan
kompleks imun dalam cairan sendi.
A. Selalu atau hampir selalu dikerjakan
1.
Pemeriksaan Darah Tepi lengkap.
2.
Endap Darah.
3.
Kalsium, Fosfor, Fosfatase Alkali serum
4.
Aram urat dan kreatinin serum
5.
Protein return atau elektroforesis protein.
6.
Foto sinar X Langan atau sendi lain, sesuai gambaran klinik.
B. Dikerjakan bits diperlukan
1.
Faktor reumatoid
2.
ANA
3.
Triiodotironin (T3) dan Tiroksin (T4)
4.
Analisis cairan sendi
5.
Prosedur diagnostik lainnya, seperti artrogram.
15) Biopsi sinovia dapat mendiagnosis tumor, keadaan seperti
tumor (sinovitis vilonodular), tuberkulosis dan jamur.
16) Biopsi tulang dapat mendiagnosis stadium awal penyakit
metabolik tulang. Selain itu pada orang usia lanjut dengan nyeri
tulang generalisata dengan/tanpa kompresi fraktur vertebra,
biopsi tulang dapat membedakan antara osteoporosis, osteoma-
lasia dan hiperparatiroid.
KESIMPULAN
Dengan mengkombinasikan antara umur, jenis kelamin,
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, laboratorium dan peme-
riksaan penunjang maka kita dapat mempersempit diagnosis.
Pemeriksaan penunjang yang berlebihan tidak diperlukan
apabila dari riwayat penyakit, pemeriksaan penunjang dan pe-
meriksaan laboratorium yang ditentukan sudah dapat dibuat
diagnosis.
Dengan diagnosis yang tepat kita dapat merencanakan
pengelolaan pasien dengan lebih baik.
KEPUSTAKAAN
1.
Bossingham D, Dun N. Examination and treatment in rheumatic disease.
Medicine International 1985; 8: 933.
2.
Calkins E, Papademetriou T et al. Muskuloskeletal diseases in the elderly.
In: The practice of the geriatrics. Calkins E et al. (eds.). Philadelphia,
London, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo, Hongkong: WB. Saunders
Co. 1989. p. 386.
3.
Doherty M, Bax DE. Principle of the examination of a patient with rheumatic
disease. Medicine International 1990; 3: 3085.
4.
Mc. Carty DJ. Differential diagnosis of arthritis; Analysis of signs and
symptoms. In: Arthritis and Allied Conditions. McCarty DJ et al (eds.).
Tenth ed. Philadelphia: Lea & Febiger 1985, p. 40.
5.
Michet CJ, Hunder GG. Examination of the joints. In: Textbook of Rheuma-
tology. Kelley WN et al. (eds.). Third ed. Philadelphia, London, Toronto,
Montreal, Sydney, Tokyo: WB. Saunders Co. 1989, p. 425.
6.
Schumacher HR. Evaluation of the patient with symptoms of rheumatic
disease. In: Primer of the Rheumatic Disease. Schumacher HR et al. (eds.).
Ninth ed. Atlanta GA: Arthritis Foundation. 1988, p. 51.
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 9