Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pemanfaatan Hormon
dalam Kontrasepsi
Max Joseph Herman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Pertambahan penduduk dunia yang sangat pesat terutama di
negara-negara berkembang dan kemajuan dalam dunia kedokter-
an serta kesehatan masyarakat yang menurunkan tingkat morta-
litas dan meningkatkan harapan hidup menimbulkan tanggung
jawab dunia kedokteran atas populasi yang berlebihan. Dalam
hal ini kontrasepsi sangat efektif dan memegang peranan
penting dalam kontrol ledakan penduduk dunia. Meskipun ada
kekhawa- tiran akan penyalahgunaan seksual dan degenerasi
moral, peng- gunaan hormon steroid dalam kontrasepsi oral
(KO) dengan cepat tersebar luas dan terkenal.
Insiden reaksi samping serius yang tidak banyak meskipun
sudah jelas dan hormon kontrasepsi harus dipertimbangkan
untung ruginya terhadap akibat dan tidak terkendalinya partum-
buhan penduduk dunia. Lagi pula di negara-negara terbelakang
morbiditas dan mortalitas kehamilan serta persalinan jauh me-
lebihi insiden efek yang tidak diharapkan dari KO sehingga di
beberapa negara KO bahkan dapat diperoleh tanpa resep dokter.
Selain risiko kesehatan, kontrasepsi juga memberikan ba-
nyak manfaat kesehatan non-kontrasepsi dan informasi ini pen-
ting untuk pengambilan keputusan. Misalnya KO bukan hanya
mencegah kehamilan tetapi juga menurunkan risiko kanker
endometrium dan ovarium serta melindungi terhadap penyakit
radang pelvik akut dan kehamilan ektopik, meskipun KO juga
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler. Alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR) memberikan perlindungan kontrasepsi
yang efektif tetapi meningkatkan potensi infeksi dalam kelom-
pok risiko tinggi tertentu, metoda kontrasepsi barrier kurang
begitu efektif tetapi melindungi dari infeksi penyakit akibat hu-
bungan seksual (PHS) termasuk HIV. Kepentingan manfaat dan
risiko kontrasepsi bervariasi antar masyarakat karena variasi
prevalensi penyakit yang terlibat.
Antar negara serta antar waktu terjadi perubahan metoda
yang banyak dipakai dengan pola perubahan yang bergantung
pada berbagai faktor seperti metoda, fasilitas medis dan personel
yang tersedia, penetapan target, promosi metoda tertentu dan
perubahan selera pemakai. Tiap metoda memiliki keuntungan
dan kerugian, tidak ada metoda yang cocok untuk semua pemakai
dan metoda tertentu bahkan merupakan kontraindikasi bagi ke-
lompok tertentu. Sedangkan hormon mungkin digunakan pada
AKDR, KO maupun implantasi atau injeksi.
SIKLUS MENSTRUASI
Karakteristik hormon dalam siklus menstruasi manusia ber-
ubah dari satu tahap perkembangan ovarium ke tahap berikutnya
dan setelah usia mencapai 45 tahun ada kecenderungan ambang
estrogen yang lebih rendah dalam siklus. Siklus menstruasi nor-
mal berlangsung rata-rata 28 hari dan terdiri atas 3 fasa dalam
hubungannya dengan efek baik terhadap ovarium maupun ter-
hadap uterus dapat dilihat di Gambar 1.
Gambar 1. Perbandingan Fasa-fasa Siklus Menstruasi dalam Efek ter -
hadap
Ovarium
dan
Uterus
Fasa-fasa sehubungan dengan efek terhadap ovarium adalah
fasa folikular, ovulasi dan luteal. Fasa folikular berlangsung
selama 14 hari awal dari siklus saat folikel yang mengandung
oocyte berkembang dan membesar serta akhirnya satu folikel
Graafian pecah dengan melepaskan telur (ovulasi). Fasa ovulasi
berlangsung biasanya pada hari ke 1315 dalam siklus saat
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
5
folikel yang pecah berubah bentuk menjadi corpus luteum yang
memelihara produksi estrogen dan progestin selama sisa waktu
dalam siklus. Apabila tidak terjadi kehamilan, corpus luteum
mulai berdegenerasi dan menghentikan produksi hormon dan
penurunan produksi estrogen dan progestin ini mengakibatkan
perdarahan menstruasi hingga suatu siklus baru dimulai lagi.
Fasa-fasa sehubungan dengan efek terhadap uterus adalah
fasa menstruasi, proliferasi dan sekretori. Fasa menstruasi mulai
pada hari pertama dari siklus dan berlangsung 36 hari dengan
total darah dan cairan yang keluar bervariasi tetapi biasanya tidak
lebih dari 60 ml. Fasa ini diikuti oleh fasa proliferasi (hari ke
614) saat lapisan endometrium dan kelenjar serta pembuluh
rahim tumbuh sebagai respons terhadap stimulasi oleh estrogen.
Fasa terakhir sekretori (hari ke 1428) saat garis endometnium
makin tebal dan kelenjar utenin mulai mengeluarkan sekret; fasa
terakhir ini terutama diatur oleh progesterone
Estrogen
Estrogen atau hormon seks wanita bertanggung jawab atas
pertumbuhan dan perkembangan tuba Falopi, ovarium, uterus
dan alat kelamin eksternal serta karakteristik seksual sekunder
wanita. Hormon tersebut terutama berkaitan dengan perubahan
-perubahan siklus normal yang terjadi pada endometrium dan
rahim selama siklus. Estradiol merupakan estrogen alam utama
yang diproduksi oleh ovarium di samping beberapa estrogen
yang diproduksi secara metabolik dalam hati.
Berbagai sediaan estrogen alam atau sintetik dikembangkan
untuk pemakaian oral, parenteral maupun topikal. Absorpsi oleh
membran mukosa saluran kelamin dan pencernaan biasanya baik
dan absorpsi melalui kulit juga bisa menimbulkan efek sistemik.
Estrogen digunakan untuk terapi pada beberapa kondisi wanita
termasuk kontrol konsepsi, endometriosis,hipogonadisme, meno-
pause dan perdarahan abnormal, sedangkan pada pria untuk pe-
natalaksanaan paliatif kanker prostat yang tidak bisa dioperasi.
Progestin
Merupakan hormon yang secara alami terutama diproduksi
oleh corpus luteum dan plasenta yang berperan dalam reproduksi
dengan mempersiapkan endometrium untuk implantasi telur
dan membantu perkembangan serta berfungsinya kelenjar
mammary. Di samping efek progestationalnya, progestin sintetik
tertentu memiliki efek anabolik, androgenik atau estrogenik
(biasanya lemah). Progesteron merupakan progestin alam yang
paling banyak yang selain efeknya sebagai hormon juga ber-
fungsi sebagai prazat untuk produksi berbagai androgen, kor-
tikosteroid dan estrogen secara endogen.
METODA KONTRASEPSI
Berbagai metoda kontrasepsi dikenal dan dikembangkan
dalam usaha mengendalikan ledakan penduduk baik secara oral
dengan memanfaatkan hormon dalam berbagai bentuk pil,
AKDR, barrier, kontrasepsi jangka panjang, sterilisasi maupun
metoda tradisional.
Kontrasepsi steroid sangat efektif, relatif aman dan mudah
digunakan, sedangkan prospek pengembangan metoda non-
steroid yang baru sulit sehingga penelitian dewasa ini lebih
menekankan pada pengembangan sistem baru dalam pemberian
kontrasepsi steroid. Rute non-oral unggul dalam hal menghindari
efek first-pass hati sehingga memungkinkan penurunan dosis
hormon dan mengurangi efek samping metabolik, memberikan
kadar hormon serum yang tetap serta menyederhanakan kepatuh-
an pemakai. Implantasi subkutan levonorgestrel merupakan
contoh yang dapat digunakan lima tahunan yang terdiri atas 6
kapsul karet-silikon yang tidak didegradasi biologis dan me-
ngandung total levonorgestrel 36 mg dengan pelepasan zat aktif
rata-rata 30 µg per hari.Tingkat kegagalan meningkat dari 0,04%
pada tahun pertama menjadi 1,1% pada tahun kelima dan lebih
tinggi pada wanita dengan obesitas. Sediaan ini seperti progesto-
gen lainnya berkaitan dengan insiden tinggi ketidak-teraturan
menstruasi.
Beberapa di antara steroid aktif oral yang mula-mula diguna-
kan untuk inhibisi ovulasi memiliki aktivitas estrogenik bawaan
dan beberapa sediaan progestin ternyata terkontaminasi oleh
estrogen. Kenyataan ini mendukung kenyataan bahwa estrogen
meningkatkan efek supresif progestin dan mendukung peng-
gunaan kombinasi keduanya. Untuk meminimalkan efek sam-
ping dengan tetap menjamin fungsi kontrasepsi maka berdasar-
kan pengalaman dosis progestrum dan estrogen harus dikurangi.
Cincin vagina yang hanya mengandung progestogen me-
lepaskan 20 µg levonorgestrel per hari dan digunakan untuk pe-
makaian selama 3 bulan dengan tingkat kegagalan sama dengan
progestogen lain. Kontrol siklus yang Iebih baik diberikan oleh
cincin vagina kombinasi yang melepaskan 15 µg etinilestradiol
dan 120 µg desogestrel sehani selama 21 hari dan tidak diguna-
kan selama 7 hari dengan tingkat kegagalan sama dengan kon-
trasepsi oral kombinasi (KOK).
Kontrasepsi hormonal
Hormon steroid kontrasepsi terutama tersedia dalam bentuk
oral meskipun sediaan implantasi subkutan dan insersi vagina
juga dikembangkan. Per oral hormon kontrasepsi yang diguna-
kan mungkin dalam bentuk pil kombinasi, sekuensial, mini atau
paska senggama dan bersifat reversibel. Kontrasepsi oral kombi-
nasi merupakan campuran estrogen sintetik seperti etinilestra-
diol dan satu dari beberapa steroid C
19
dengan aktivitas progesteron
seperti noretindron. Pada umumnya mengandung dosis estrogen
dan progestogen yang tetap,digunakan selama 21 hari dan diikuti
7 hari tanpa kontrasepsi. Kômbinasi ini sangat efektif dengan
tingkat kehamilan 0,11,0% pada wanita pemakai tetap tahunan.
Kontrasepsi oral kombinasi (KOK) menghambat ovulasi
dan menginduksi perubahan lendir serviks dan endometnium
sehingga transport sperma dan implantasi embrio menjadi sulit.
Sediaan tiga fasa yang mengandung estrogen dan progestogen
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
6
dalam perbandingan yang bervariasi dikembangkan untuk me-
nurunkan dosis total bulanan progestogen dan lebih menyerupai
perubahan-perubahan hormon dan siklus menstruasi, akan tetapi
dosis estrogen harus dinaikkan untuk menjamin inhibisi ovulasi
dan tidak banyak keunggulannya dibandingkan dengan pil
monofasa.
Pemakaian dosis kecil progestogen (noretindron atau le-
vonorgestrel) setiap hari memungkinkan cara kontrasepsi bebas
estrogen. Ovulasi hanya dihambat pada ± 50% dengan prinsip
kerja berdasarkan kemampuan pengubahan lendir serviks yang
menghambat transport sperma. Kontrasepsi dengan progestogen
saja kurang efektif dibandingkan dengan kombinasi dan peng-
gunaannya sering terbatas pada wanita dengan fertilitas yang me-
mang sudah berkurang seperti yang lebih tua atau sedang me-
nyusui atau dalam hal KOK merupakan kontraindikasi. Per im
progestogen menghambat ovulasi lebih baik dari pada per oral
tetapi menimbulkan gangguan menstruasi seperti halnya pe-
makaian oral. Dalam usaha untuk mengurangi efek samping,
dosis estrogen dikurangi dan progestogen yang lebih baru serta
rute pemakaian yang lain dipelajari. Tiap risiko harus dipertim-
bangkan terhadap bahaya sehubungan dengan kehamilan akibat
persetubuhan yang tidak dijaga atau penggunaan metoda yang
kurang efektif.
Mekanisme kerja hormon kontrasepsi
Pemakaian estrogen dan progestin dapat mengganggu ferti-
litas dengan berbagai cara dan jelas bahwa campuran keduanya
mengharnbat ovulasi. Berbagai efek hormon-hormon ovarium
terhadap fungsi gonadotropik dan hipofisis yang menonjol
antara lain an estrogen adalah inhibisi sekresi FSH dan dari
progesteron inhibisi pelepasan LH. Pengukuran FSH dan LH
dalam sirkulasi menunjukkan bahwa kombinasi estrogen-
progesteron menekan kedua hormon. Jelas bahwa ovulasi dapat
dicegah baik dengan inhibisi stimulus ovarium maupun pen-
cegahan pertumbuhan folikel.
Meskipun ovulasi tidak dicegah, kontrasepsi oral dapat be-
kerja langsung pada saluran kelamin. Endometrium harus berada
dalam status perkembangan yang tepat di bawah pengaruh estro-
gen dan progesteron untuk terjadinya nidasi dan hampir tidak
mungkin terjadi implantasi pada endometrium yang berubah
akibat pengaruh sebagian besar penekan. Demikian pula sekret
serviks yang banyak mengandung air pada saat ovulasi dianggap
esensial bagi sperma dan lendir kental yang dihasilkan karena
pengaruh progesteron merupakan lingkungan yang tidak men-
dukung bagi sperma.
Kekhawatiran akan efek tidak diharapkan dan estrogen
mendorong penggunaan progestin semata dalam berbagai cara.
Pemakaian terus menerus progestin dalam dosis yang cukup
menghentikan siklus selama pemberian dan menyebabkan atropi
ovarium serta endometrium. Dosis sangat kecil dapat mengubah
struktur endometrium dan konsistensi lendir serviks tanpa me-
mutus siklus atau menghambat ovulasi.
Dewasa ini kontrasepsi progestin tunggal menekan berva-
riasi FSH, LH dan ovulasi yang menjelaskan tingkat etikasinya
yang lebih rendah dan pada kombinasi. Dengan pemakaian hari-
an kontinu, menstruasi terjadi tetapi panjang siklus dan durasi
perdarahan sangat bervariasi sehingga mempengaruhi populari-
tasnya.
Dosis besar estrogen yang digunakan sebagai kontrasepsi
pasca senggama bekerja dengan menghambat fertilisasi dan
nidasi dengan berbagai cara. Motilitas saluran telur mungkin
berubah seperti halnya endometrium dan penghentian dosis
besar estrogen menginduksi perdarahan.
Pil kombinasi
Sejak pertengahan tahun 60-an etinilestradiol merupakan
estrogen dalam hampir semua KOK, tetapi dengan kadar yang
makin lama makin kecil. Sediaan sekuensial umumnya mengan-
dung< 35 µg. Sebaliknya dalam usaha untuk meminimalkan efek
samping androgenik yang menyertai, tipe progestogen sintetik
telah diubah. Progestogen yang terbaru yang disebut generasi
ke-3 (desogestrel, gestoden, norgestimat) sangat poten kemam-
puannya untuk inhibisi ovulasi dan transformasi endometrium
sehingga tidak mendukung kehamilan. Ketiganya merupakan
antiestrogen lemah dengan aktivitas androgenik yang lebih kecil
danipada pendahulunya dan berkaitan dengan lebih sedikit per-
ubahan dari metabolisme lipoprotein serta mungkin karbohidrat.
Tiga tipe formula umum dari KOK dikembangkan yaitu
mono-, bi- dan tri-fasa yang semuanya hampir 100% dapat me-
lindungi dari kehamilan bila dipergunakan dengan benar meski-
pun juga menyebabkan morbiditas yang berarti, khususnya
pada wanita perokok.
KO monofasa menggunakan estrogen dan progestin dalam
perbandingan yang tetap selama 21 hari dari siklus menstruasi
normal. Ovulasi dihambat dengan menekan ambang estrogen
dan progestin endogen.
KO bifasa melepaskan jumlah hormon yang berbeda selama
separuh waktu I dan ke II dari siklus menstruasi di mana ambang
estrogen dan progestin yang lebih rendah digunakan dalam fasa
folikular serta ditingkatkan dalam fasa luteal. Satu kelemahan
dari formula ini adalah inhibisi ovulasi yang tidak konsisten
dan ketidak-teraturan pola menstruasi.
KO trifasa merupakan bentuk KO yang terakhir dikembang-
kan dan paling mirip dengan pola normal ambang estrogen dan
progesteron yang teramati selama siklus menstruasi di luar
pengaruh hormon eksogen. Pendekatan ini memungkinkan dosis
rendah estrogen dan progestin selama fasa folikulan, dengan pe-
ningkatan progestin baik pada fasa ovulasi maupun luteal se-
hingga lebih mirip dengan ambang hormon yang terjadi secara
alamiah (Gambar 3).
Gambar 3. Perbandingan Ambang Estrogen dan Progestin Selama Siklus
Normal
dan
Penggunaan
Kontrasepsi
Oral
Trifasa
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
7
Pil mini
Hanya mengandung progestogen dan merupakan satu-satu-
nya alternatif hormon dari pemakaian KOK, diberikan 1 dd se-
lama 28 hari siklus menstruasi dengan proteksi kehamilan pada
penggunaan yang benar ± 97%. Dapat diperkirakan efek sam-
pingnya lebih sedikit, tetapi berhubungan dengan insiden tinggi
gangguan menstruasi khususnya perdarahan tak teratur.Progesto-
gen tidak berefek pada pembekuan darah atau agregasi trombosit
dan merupakan pilihan untuk wanita dengan hipertensi. Per-
injeksi, medroksiprogesteron asetat, bisa digunakan dan mem-
berikan metoda kontrasepsi yang sangat efektif serta aman.
Pil pasca senggama
Konsep metoda kontrasepsi sesudah hubungan intim bukan-
lah hal yang baru dan cukup menarik. Dosis tinggi estrogen
tunggal (misalnya 25 mg dietilstilbestrol sehani selama 5 hari)
atau kombinasi dengan progestogen (100 µg etinilestradiol dan
1 mg levonorgestrel 2 kali sehani dengan selang waktu 12 jam)
dapat mengurangi risiko kehamilan setelah hubungan intim yang
tidak dijaga dengan efek samping mual dan gangguan siklus
menstruasi. Kenyataan bahwa obat harus digunakan dalam waktu
72 jam setelah senggama, di samping penyalahgunaannya untuk
menggugurkan kandungan, kurang mendukung penggunaannya.
Alat kontrasepsl dalam rahim
Mungkin mengandung hormon mungkin pula tidak, sangat
efektif (tingkat kegagalan 6% pada tahun I pemakaian) dan
kegagalan akibat ekspulsi AKDR yang tidak terdeteksi. Kon-
trasepsi bersifat reversibel, mencegah kehamilan ektopik dan
yang mengandung progesteron mengurangi kehilangan darah
menstruasi serta dismenorrhoea. Tidak ada manfaat kesehatan
non-kontrasepsi lain dari AKDR yang diketahui dari risiko yang
mungkin adalah inflamasi pelvik, infertilitas tuba, aborsi septik
atau spontan dari perforasi rahim.
Masalah peningkatan risiko kehamilan ektopik pada pema-
kaian AKDR jenuh hormon dapat diatasi dengan peningkatan
dosis progestogen sintetik. AKDR jenuh levonorgestrel yang
melepaskan 20 µg sehari dapat digunakan. Dibandingkan dengan
AKDR inert atau tembaga, AKDR ini menurunkan kehilangan
darah menstruasi dan banyak yang menjadi amenorrhoea setelah
beberapa bulan pemakaian yang disebabkan oleh atropi endo-
metrium dan mungkmn destruksi reseptor estrogen dan endo-
metrium. Fungsi ovarium jarang dipengaruhi, jadi amenorrhoea
tidak disertai dengan hipoestrogenisme.
Kontrasepsi jangka panjang
Terutama berupa injeksi atau implantasi/susuk yang sangat
efektif dalam waktu antara 1 bulan sampai dengan 5 tahun dan
semuanya mengandung progestin yang mungkin mengganggu
siklus menstruasi. Injeksi biasanya diberikan tiap 8-12 minggu
dari bekerja dengan menghambat ovulasi, mengentalkan lendir
serviks serta mengubah endometrium sehingga menyulitkan
implantasi.
Amenorrhoea atau episode perdarahan tidak teratur dan
tidak dapat diduga merupakan masalah yang paling umum pada
injeksi dan merupakan alasan utama untuk penghentian pema-
kaiannya. Injeksi dapat melindungi terhadap penyakit inflamasi
pelvik dengan mengubah lendir serviks selain terhadap kanker
endometrium dan serviks. Sedangkan implantasi subdermal
progestin efektif untuk 35 tahun dengan efek samping sama
dengan injeksi, hanya saja implant dapat dikeluarkan bila kom-
plikasi serius.
Tabel 1. Komposisi dan dosis beberapa kontrasepsi oral
Estrogen (mg)
Progestin I (mg)
Kombinasi
2
0,02 etinilestradiol
0,03 etinilestradiol
0,03 etinilestradiol
0,03 etinilestradiol
0,035 etinilestradiol
0,035 etinilestradiol
0,035 etinilestradiol
0,035 etinilestradiol
0,05 mestranol
0,05 etinilestradiol
0,05 etinilestradiol
0,05 etinilestradiol
0,05 etinilestradiol
0,05 etinilestradiol
Sekuensial
3
0,03 0,04 0,03 etinilestradiol
0,035 etinilestradiol
0,035 etinilestradiol
0,035 etinilestradiol
Pil mini
4
Pil pasta senggama,
Dietiistilbestrol
1,0 noretindronasetat
0,3 norgestrel
1,5 noretindronasetat
0,15 levonorgestrel
0,4 noretindron
0,5 noretindron
1,0 etinodioldiasetat
1,0 noretindron
1,0 noretindron
0,5 norgestrel
1,0 etinodioldiasetat
1,0 noretindron
1,0 noretindronasetat
2,5 noretindronasetat
0,05 0,075 0,125 levonorgestrel
0,5 1,0 0,5 noretindron
0,5 0,75
1,0 noretindron
0,5 1,0 noretindron
0,35 noretindron
0,075 norgestrel
Catatan:
1. Norgestrel bersifat androgenik kuat dan yang lain sedang
2. Kombinasi digunakan 21 hari dan 7 hari kosong. potensi estradiol ± 20x
mestranol
3. Sediaan bifasa, sel I digunakan 10 hari dan sel II 11 hari diikuti 7 hari tanpa
pi1.
Sediaan
trifasa.
tiap
sel digunakan 5-10 hari dalam 3 fasa berturutan dilkuti
7
hari
kosong
4. Digunakan tiap hari terus menerus. tidak begitu efektif
5. Dosis 25 mg 2 dd selama 5 hari dalam 72 jam setelah hubungan seks.
Kontrasepsi pria
Pengembangan metoda kontrasepsi hormon yang dapat di-
percaya untuk pria lebih sulit, Regulasi spermatogenesis kurang
dimengerti dari hubungan antara aktivitas seks dengan hormon
jauh lebih langsung pada pria sehingga setiap metoda juga harus
mencakup penggantian testosteron bila fungsi seks ingin diper-
tahankan. Penggunaan jumlah besar testosteron untuk inhibisi
sekresi FSH serta LH dan karena itu spermatogenesis bukan hal
yang baru. Sejak tahun 1950-an azoospermia sudah dapat dicapai
dengan injeksi harian 25 mg testosteron propionat (androgen
sintetik yang oral aktif seperti metiltestosteron dapat merusak
hati). Kombinasi antagonis poten GRH dan testosteron lebih se-
ring menimbulkan azoospermia tetapi kebutuhan injeksi harian
antagonis ini menjadikan cara ini tidak praktis, lagi pula per-
ubahan-perubahan pot faktor-faktor pembekuan darah,
pembesaran prostat dan perubahan lipoprotein serum menjadi
masalah untuk pemakaian jangka panjang.
Perkembangan terakhir
Perkembangan yang paling menjanjikan dalam bidang
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
8
kontrasepsi hormon adalah pemakaian agonis dan antagonis.
Agonis GRH terikat pada reseptornya dalam hipofisis anterior
dan setelah mula-mula menstimulir sekresi FSH serta LH, me-
nimbulkan status hipogonadotropik. Ovulasi dihambat selama
pemakaian intranasal kronis agonis GRH, buserelin, yang ter-
bukti bermanfaat khususnya sebagai kontrasepsi dalam masa
menyusui karena hanya jumlah kecil yang masuk ke dalam air
susu. Bila aktivitas ovarium total ditekan, efek merusak status
hipoestrogenik berkepanjangan pada tulang dan sistem kardio-
vaskular mungkin memerlukan terapi. Sebaliknya penekanan
tidak sempurna dengan aktivitas ovarium sisa mungkin mening-
katkan risiko hiperplasia endometrium dan kanker akibat efek-
efek estrogen yang tidak ditentang.
Antagonis progesteron menawarkan potensi besar untuk
pengaturan fertilitas. Progesteron esensial untuk sejumlah fungsi
reproduksi termasuk pembentukan dan pemeliharaan kehamilan.
Antagonis. progesteron seperti mifepriston memblokir kerja
progesteron pada endometrium sehingga menimbulkan lingkung-
an yang menghambat kehamilan. Dalam kombinasi dengan
prostaglandin sangat efektif dan aman untuk mengakhiri keha-
milan masih dini. Bila diberikan dalam fasa awal luteal dari
siklus dapat mencegah pengembangan endometrium fasa sekresi
dan mungkin efektif pada pemberian sekali sebulan. Kemampu-
an mifepriston untuk memblokir ovulasi bila diberikan dalam
fasa folikular siklus dan mencegah pengembangan endometrium
fasa sekresi menjelaskan alasan penggunaannya sebagai kontra-
sepsi pasca senggama.
Metoda barrier
Mencakup kondom, diafragma dan sponge.
Sterilisasi
Merupakan kontrasepsi yang aman dan sangat efektif de-
ngan risiko sebagian besar karena teknik anestesi atau bedah
yang tidak memadai (tubektomi untuk wanita dan vasektomi
untuk pria).
Metoda tradisional
Mencakup pantang berkala atau ritme, senggama terputus,
pencucian vagina atau puasa total yang semuanya kurang efektif
dibandingkan dengan metoda modern. Proses menyusui juga
dapat menunda ovulasi dan dapat dianggap bentuk kontrasepsi.
Pantang berkala biasanya didasarkan pada kalender, suhu basal
tubuh dan/atau sifat lendir serviks.
EFEK-EFEK HORMON KONTRASEPSI
Di samping mencegah kehamilan berbagai efek baik yang
tidak diharapkan maupun yang bermanfaat terhadap kesehatan
mungkin timbul akibat pemakaian kontrasepsi, misalnya metoda
barrier membantu melindungi terhadap penyakit akibat hubung-
an seksual termasuk HIV dan kanker serviks, KOK mengurangi
kista payudara ganas, kista ovarium kambuhan, anemia keku-
rangan besi tetapi sekaligus juga peningkatan risiko terutama
penyakit kardiovaskular.
Dari efek yang tidak diharapkan yang paling diperhatikan
adalah efek samping kardiovaskular dan induksi atau promosi
tumor. Kebanyakan data efek samping KO diperoleh secara
retrospektif dan tanpa kontrol yang memadai. Lagi pula umum-
nya sediaan yang digunakan mengandung jumlah estrogen dan
progestin yang lebih besar dari pada yang banyak digunakan
masa kini, sehingga banyak pandangan mengenai efek samping
KO sekarang merupakan ekstrapolasi dan data terdahulu. Oleh
karena itu penilaian rasio risiko-manfaat sangat penting agar
diperoleh metoda kontrasepsi yang efektifdengan risiko sekecil
mungkin.
Kanker endometrium dan ovarium
KOK memiliki efek protektif terhadap kanker baik endo-
metrium maupun ovarium dan dosis lebih kecil dan estrogen dan
progestin memberikan proteksi yang sama bila mekanisme kerja-
nya melibatkan pemeliharaan perdarahan reguler akibat peng-
hentian kontrasepsi. Bila dosis kecil memungkinkan untuk pe-
makaian di atas usia 35 tahun risiko kanker endometrium lebih
jauh dikurangi.
Kanker hati
Di daerah tertentu ada hubungan yang erat antara infeksi
virus hepatitis B dan kanker hati dan dalam hal ini penggunaan
jangka pendek KOK tidak meningkatkan risiko kanker hati, se-
baliknya di daerah kanker hati jarang ditemukan ada hubungan
antara kanker hati dan pemakaian KOK.
Kanker serviks
Hubungannya dengan hormon kontrasepsi tidak sejelas
seperti halnya dengan aktivitas seksual. Dengan rnengabaikan
aktivitas seksual dan metoda kontrasepsi barrier yang memiliki
efek protektif, tampaknya tidak ada hubungan kenaikan risiko
kanker serviks dengan pemakaian KOK.
Kanker payudara
Meskipun estrogen menstimulasi perturnbuhan jaringan pa-
yudara dan pemakaiannya dalam jangka panjang sewajarnya bila
berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara seperti
halnya terbukti pada wanita paska rnenopause, dalarn studi tidak
terlihat adanya peningkatan risiko dan tidak ada hubungan antara
dosis dan lama pemakaian dengan risiko tersebut, sebaliknya
sediaan dengan kadar progestin tinggi seperti pada pil mini dapat
menurunkan risiko.
Penyakit kardiovaskular dan metabolisme lemak
Ada kenaikan risiko kematian 47 kali akibat penyakit kar-
diovaskular pada wanita pemakai KO yang mengandung 50 µg
estrogen danjelas bahwa penurunan dosis estrogen menurunkan
risiko. Risiko ini sering dikaitkan dengan perubahan kadar lipo-
protein serum dan diketahui bahwa KOK tidak mengubah kadar
kolesterol serum total tetapi meningkatkan kadar trigliserida dan
ada juga progestin yang lebih baru yang rneningkatkan kolesterol
HDL serum. Risiko ini biasanya berupa thromboemboli vena,
infark miokardium dan stroke yang terutama terjadi pada wanita
dengan usia lebih dari 30 tahun dan merokok atau memiliki
faktor risiko kardiovaskular lain.
Perubahan metabolisme lipida akibat penggunaan KOK ru-
mit dan hubungan perubahan ambang lipoprotein serum dengan
penyakit kardiovaskular tidak langsung. KOK meningkatkan
produksi faktor X, II dan plasminogen, menurunkan produksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
9
antitrombin dan meningkatkan agregasi platelet dengan menu-
runkan produksi prostaglandin. Perubahan-perubahan ini mung-
kin hanya penting pada wanita perokok karena merokok juga
meningkatkan risiko thrombogenesis, sehi ngga disimpulkan
bahwa KOK aman untuk wanita yang tidak menderita gangguan
sistem sirkulasi sebelumnya dan lebih-lebih bila tidak merokok.
Toleransi glukosa
Tidak seperti estrogen, progestin mengganggu toleransi
glukosa dan derajatnya bergantung pada baik tipe maupun dosis
progestin yang bersangkutan. Gangguan paling menonjol pada
turunan nandrolon dan paling kecil pada medroksiprogesteron
asetat. Progestogen generasi ke-3 bila ada hanya kecil saja efek-
nya pada metabolisme karbohidrat. Lagi pula pada umumnya
wanita yang metabolisme karbohidratnya terganggu setelah pe-
makaian OK akan kembali memiliki toleransi glukosa normal
selama 6 bulan pemakaian. Meskipun demikian KOK dapat me-
ningkatkan kebutuhan insulin pada diabetes melitus dan nilai
peningkatan insulin yang dibutuhkan tidak berarti bila diban-
dingkan dengan jaminan kontrasepsi pada wanita dengan keha-
milan merupakan suatu kontraindikasi.
Hipertensi
KOK menyebabkan hipertensi pada ± 45% wanita normo-
tensi dan meningkatkan tekanan darah pada ± 916% pada wa-
nita dengan hipertensi sebelumnya. Efek ini mungkin karena
baik estrogen maupun progestin memiliki kemampuan untuk
mempermudah retensi ion natrium dan sekresi air akibat kenaik-
an aktivitas renin plasma dan pembentukan angiotensin yang me-
nyertainya. Efek hormon maupun risiko ini berhubungan dengan
ras, sejarah keluarga, kegemukan, makanan, rokok dan lama pe-
makaian KOK. Beberapa progestogen generasi ke-3 memiliki
efek antimineralokortikoid sehingga menurunkan risiko hiper-
tensi. Pemantauan tekanan darah selama 3 bulan awal pemakaian
memungkinkan pendeteksian wanita yang rentan dan efek ini
hampir selalu bersifat reversibel.
Efek lainnya
Efek samping ringan yang sering seperti mual, muntah, pu-
sing, dan kenaikan bobot badan merupakan manifestasi keha-
milan dini dan gejala umum pada pemakaian KO serta biasanya
hanya untuk jangka pendek atau pada 12 siklus awal seperti hal-
nya perdarahan yang tidak teratur. Pemakaian KO terus selama
kehamilan mungkin menyebabkan deformasi dan maskulinisasi
janin dan pemakaian segera setelah persalinan mengurangi lak-
tasi dan menyebabkan ekskresi steroid dalam air susu.
KO dapat mengurangi risiko penyakit radang pelvik yang
sering kali menyebabkan kemandulan dengan dua mekanisme
yang mungkin, yaitu perubahan lendir serviks sehingga patogen
tidak bisa naik ke saluran kelamin bagian atas atau penurunan
darah menstruasi sehingga mengurangi jumlah medium yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan patogen.
KO juga dapat berinteraksi dengan obat lain melalui kerja-
nya yang bertentangan (antagonis farmakologis) seperti halnya
dengan antihipertensi dan antikoagulan oral maupun melalui
peningkatan metabolisme hati seperti halnya dengan rifampin.
KONTRASEPSI DI INDONESIA
Penggunaan kontrasepsi di Indonesia direkomendasikan
dengan tahapan pola dasar memakai pendekatan secara paritas
(Tabel 2 dan 3).
Tabel 2. Tahapan Pola Dasar Penggunaan Kontrasepsi dengan Pendekatan
Paritas
Masa menunda
kehamilan
Masa mengatur
jarak kehamilan
Masa mengakhiri
kehamilan
I Ha
fib
IIIa
flub
3 - 4 tahun
2 0
3
0
Pil AKDR
AKDR
Kontap
Kontap
Sederhana Pil
Suntikan
Susuk
KB
AKDR
AKDR
Suntikan Susuk KB
AKDR
Susuk KB
Sederhana
Pil
Sederhana
Suntikan
Pil
Suntikan
Pit
Sederhana
Tabel 3. Bagan Pendekatan Secara Paritas
Jumlah anak
Umur
20
20-24
25-29
30-34 35
0 1
I
1
Risiko
tinggi
1
IIa
IIa
IIb Ilb
Risiko
tinggi
2
IIb
IIIa
Ma IIIa
IIIb
3/lebih IIIa IIIa IIIb IIIb
IIIb
PEMANTAUAN RESPONS PEMAKAI KONTRASEPSI
Efek tidak diharapkan yang lebih ringan dan KO biasanya
akibat formulasi dan membutuhkan waktu ± 3 bulan agar tubuh
dapat menyesuaikan din. Sering kali pada saat ini dibutuhkan
pemantauan respons, khususnya untuk identifikasi bila efek
tidak diharapkan terjadi akibat kelebihan atau kekurangan estro-
gen atau progestin.
Bercak darah dan perdarahan pada bagian awal siklus mung-
kin menunjukkan defisiensi estrogen, sedangkan mual-muntah
(khususnya pagi hari), udema mungkin pula terjadi karena efek
estrogen. Efek lain seperti payudara lunak, depresi, lelah dan
tidak ada inisiatif disebabkan oleh progestin. Sebagian besar efek
tidak diharapkan karena KO dapat dikurangi atau dihilangkan
dengan memantau efek samping yang disebabkan oleh keku-
rangan/kelebihan hormon dan mengganti sediaan yang lebih
mendekati siklus hormon individu.
KESIMPULAN
Insiden gangguan kardiovaskular yang meningkat selama
masa kehamilan dan postpartum serta kenaikan mortalitas akibat
berbagai sebab selama kehamilan mendukung pandangan bahwa
kenaikan insiden gangguan kardiovaskular akibat KO merupa-
kan risiko yang relatif kecil dan d ditenima karena kehamilan
secara efektif dapat dicegah olehnya. Komplikasi serius kehamil-
an demikian jauh lebih sering dan pada akibat pemakaian KO se-
hingga kesulitan yang timbul dan kehamilan yang tidak diharap-
kan masih lebih tinggi bila digunakan metoda kontrasepsi lain
yang kurang efektif. Sehubungan dengan kanker sedikitnya
laporan tentang efek samping meskipun penggunaan KO sangat
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
10
banyak dan luas mencerminkan perioda laten yang dibutuhkan
untuk transformasi selular sehingga studi prospektif tambahan
dibutuhkan untuk menentukan apakah KO berhubungan dengan
berkembangnya tumor. Lagi pula perlu dipertimbangkan penilai-
an faktor yang dapat mengubah efek KO seperti usia saat keha-
milan I untuk kanker payudara dan jumlah partner seks untuk
kanker serviks.
KEPUSTAKAAN
1. Baird DT, Glasier AF. Hormonal Contraception, N. Engi. J. Med. 1993;
328(21): 15437.
2. BKKBN. Pola Pengembangan Pelayanan Kontrasepsi dalam Pelayanan
Swasta. Jakarta, 1988: 15-6.
3. Cutler WB et al. The Medical Management of Menopause and Premeno
pause. Pennsylvania: J.B. Lippincott Company, 1984: 164, 175.
4. Gilman Act al. The Pharmacological Basis of Therapeutics, 8th ed., vol. II.
Singapore: Pergamon Press Inc. 1991: 140209.
Metoda kontrasepsi hormon dewasa ini dalam klinis telah
terbukti efektif dan bisa diterima, lagi pula manfaat metoda ini
dari segi kesehatan melebihi risiko dan efek sampingnya. Setelah
faktor risiko diidentifikasi (merokok, hipertensi dan obesitas)
terbukti KOK aman untuk kebanyakan wanita untuk sebagian
besar masa reproduksinya. Meskipun demikian kebutuhan kon-
trasepsi maupun risiko-manfaatnya bagi wanita berubah selama
perjalanan hidup reproduksinya.
5. National Research Council. Contraception and Reproduction. Washington:
National Academy Press, 1989: 3652, 923.
6. Pagliaro AM et al. Pharmacologic Aspects of Nursing. Missouri: CV
Mosby Co, 1986: 14504.
7. Rayburn WF et al. Every Woman's Pharmacy-A Guide to Safe Drug Use.
Toronto: CV Mosby Co, 1983: 99114.
8. World Health Organization. Contraceptive Method Mix : Guidelines for
Policy and Service Delivery, 1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 11