background image
Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Osteoartritis dan Artritis Reurnatoid -
Perbedaan Patogenesis, Gambaran Klinis
dan Terapi
Harry Isbagio
Subbagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Osteoartritis (OA) dan artritis reumatoid (RA) merupakan
jenis penyakit reumatik yang sering dijumpai dalam praktek.
Seperti diketahui hingga kini dikenal lebih dari 100 jenis pe-
nyakit reumatik, tetapi hanya beberapa di antaranya yang sering
dijumpai, termasuk kedua penyakit yang tersebut di atas.
Dahulu dua jenis penyakit yang berbeda ini sering diang-
gap sebagai satu penyakit, dan sering terjadi salah diagnosis
sehingga merugikan si penderita. Di samping itu kedua penyakit
ini dapat ditemukan bersama-sama/sekaligus pada seorang pa-
sien, sehingga makin membingungkan dokter pemeriksa.
Pada makalah ini akan dijelaskan secara praktis bagaimana
membedakan kedua jenis penyakit ini dari segi patogenesis,
gambaran klinik dan penatalaksanaan.
PERBEDAAN DALAM PATOGENESIS
Patogenesis keduanya jelas berbeda. OA yang dikenal
sebagai penyakit sendi degeneratif mempunyai kelainan primer
pada rawan sendi (cartilage),, sedangkan RA mempunyai
kelainan primer pada sinovia.
Secara mudah dapat dijelaskan bahwa pada OA, proses
degeneratif pada awalnya menyebabkan perubahan biokimia-
wi pada rawan sendi yang akhirnya menyebabkan integritas
rawan sendi terganggu, sehingga akan terjadi penipisan rawan
sendi sampai akhirnya rawan sendi habis. Perubahan dan awal
sampai akhir berlangsung sangat lambat, dibutuhkan waktu
bertahun-tahun untuk tercapainya stadium akhir yang ditandai
dengan deformitas sendi. Gejala inflamasi sendi tidak mendo-
minasi perjalanan penyakit, inflamasi baru tampak bila terjadi
pelepasan serpihan rawan sendi ke dalam rongga sendi.
Pada RA perubahan patologik yang menonjol ialah infla-masi
sinovia (sinovitis). Penyebab sinovitis ini belum diketahui
dengan pasti, tetapi faktor imunologik sangat berperan. Akibat
sinovitis akan terjadi keadaan:
1) Dilepaskannya berbagai macam komponen destruktif akibat
proses inflamasi ke dalam rongga sendi yang dapat mengakibatkan
kerusakan rawan sendi.
2) Terjadi hiperplasi jaringan granulasi akibat sinovitis, Se-
hingga menebal dan membentuk pannus. Pannus ini sangat
destruktif, akan menyebabkan pula kerusakan rawan sendi.
Akibat kedua keadaan tadi maka gejala inflamasi sendi
akan mendominasi perjalanan penyakit, penyakit sangat progre-
sif dan dalam waktu singkat sudah terjadi deformitas sendi.
Dengan mengenal patogenesis kedua penyakit tersebut
sebenarnya secara kasar dengan segera dapat dibedakan, tetapi
pada beberapa keadaan, terutama pada stadium awal, terdapat
kendala untuk membedakannya; dengan demikian diperlukan
pengamatan klinik, laboratorik dan radiologik yang lebih cermat.
PERBEDAAN GAMBARAN KLINIK
1) Umur, jenis kelamin, onset penyakit
OA biasanya dimulai pada usia sekitar 50 tahun, walaupun
kadang-kadang dapat ditemukan pada usia yang lebih muda,
sedangkan onset penyakit RA umumnya lebih muda yaitu
sekitar 30-50 tahun, walaupun tidak jarang baru dijumpai pada
usia lebih tua. Kedua penyakit lebih sering ditemukan pada
wanita, tetapi pada RA wanita lebih dominan dengan perban-
dingan wanita : pria = 3: 1.
Onset kedua penyakit terjadi secara bertahap, makin lama
makin berat, RA biasanya berjalan lebih progresif sedangkan OA
Dibacakan pada Simposium Penanggulangan Penyakit Reumatik, IDI Jakarta
Selatan, Aula RS Fatmawati, 31 Juli 1993..
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
5
background image
berlangsung lebih lambat.
2) Keluhan penderita
Sebagaimana halnya dengan penyakit reumatik pada umum-
nya, maka keluhan penderita pada kedua penyakit tersebut me-
liputi nyeri sendi, kaku sendi, bengkak sendi dan gangguan
fungsi. Pada OA nyeri biasanya dangkal (dull-pain), penderita
mengeluh linu dan pegal; sedangkan pada RA nyeri terasa lebih
tajam dan berat (sharp-pain).Penderita RA biasanya lebih cepat
pergi ke dokter karena nyerinya yang lebih hebat, sedangkan
penderita OA biasanya terlebih dahulu berusaha mengobati
sendiri misalnya dengan jamu, diurut atau makan obat bebas.
Pada OA nyeri paling berat pada malam hari, pada pagi hari
masih nyeri tetapi lebih ringan dan membaik pada siang hari.
Pada RA nyeri paling dirasakan pada pagi hari disertai kaku
sendi, membaik pada siang hari dan sedikit lebih berat pada
malam hari.
Kaku sendi merupakan rasa seperti diikat, lebih terasa pada
pagi hari dan berkurang setelah digerak-gerakkan, kaku pagi hari
(morning stiffness) pada RA terasa lebih berat dan umumnya
berlangsung dalam waktu yang lama (lebih dari 1 jam), sedangkan
pada OA berlangsung ringan dan singkat, umumnya kurang dari
30 menit.
Bengkak sendi dapat terjadi pada kedua penyakit, tetapi
pada RA biasanya lebih menonjol akibat pembengkakan jaringan
lunak (soft tissue swelling) dan sinovitis, sedangkan pada OA
terjadi bila ada inflamasi (akibat pelepasan serpihan rawan sendi
ke rongga sendi) atau akibat efusi sendi. Gangguan fungsi terjadi
akibat inflamasi atau akibat deformitas sendi yang dapat terjadi
pada kedua penyakit.
Keluhan sistemik seperti demam, malas, kelelahan, kele-
mahan otot dan penurunan berat badan hanya dijumpai pada
penderita RA.
3) Pemeriksaan jasmani dan sendi yang terserang
Pemeriksaan jasmani pada OA mendapatkan tanda radang
yang tidak nyata (kecuali bila ada inflamasi), tulang sekitar sendi
tampak membesar (bony enlargement), nyeri gerak, krepitus
(bunyi gemeretak bila sendi digerakkan) dan pada stadium lanjut
dapat ditemukan deformitas atau subluksasi.
Pada RA umumnya didapatkan tanda inflamasi yang nyata,
nyeri tekan, pembengkakan jaringan lunak (soft-tissue swelling),
sendi terabapanas, terbatasnyagerak sendi, sendi yang terserang
bilateral simetris, atrofi otot sekitar sendi dan pada stadium lanjut
tenjadi deformitas yang khas dari subluksasi. Pembengkakan
sendi PIP membenikan gambaran fusiform atau spindle shape.
Dengan melihat sendi yang terserang maka dapat dibedakan
pada OA ialah sendi Distal Interfalang (DIP), Proksimal Inter-
falang (PIP), Metakarpofalangeal I (MCP I); pada kaki yaitu
Metatarsofalangeal I (MTP I) dan lutut, pinggul, vertebra lumbal
dan servikal. Sedan pada RA, maka sendi DIP tidak pernah
terserang, yang terserang ialah sendi PIP, MCP, pergelangan
tangan, siku, bahu, kaki (MTP dan sendi subtalar), pergelangan
kaki, lutut, pinggul dan vertebra servikal (hanya Cl dan C2).
Karena beberapa sendi merupakan predileksi yang sama, maka
pada stadium awal agak sukar membedakannya, secara gam-
pang dapat dikatakan RA menyerang lebih banyak sendi, simetris
dan tanda inflamasi sendi lebih menonjol.
Deformitas sendi pada RA lebih cepat terjadi, sedangkan
pada OA lebih lambat. Beberapa deformitas khas untuk RA,
misalnya pada jari tangan didapatkan swan-neck-finger, jari
boutonniere dan deviasi ke arah ulnar (ulnar deviation) dan atrofi
otot interossei. Sedangkan pada OA dapat ditemukan pemben-
tukan osteofit pada medial sendi DIP yang disebut nodus Heber-
den dan pada sendi PIP disebut nodus Bouchard, dan kadang-
kadang membenkan gambaran deformitas snake-like.
4. Manifestasi ekstraartikuler
Keadaan ini merupakan gangguan perubahan yang tenjadi di
luar sendi yang sering dijumpai pada penyakit sendi. Pada OA
tidak pernah ditemukan adanya manifestasi ekstraantikuler, se-
baliknya pada RA maka keadaan ini sering dijumpai. Manifestasi
esktraantikuler pada RA tersebut antara lain nodul reumatoid di
kulit (nodus subkutan), nodul di jantung dan paru, vaskulitis,
episkienitis, miositis, limfadenopati, sindrom Felty dan sindrom
Sjogren.
PERBEDAAN GAMBARAN LABORATORIK
OA umumnya bukan merupakan penyakit inflamasi sis-
temik , sehingga gambaran laboratoniknya dalam batas normal.
Laju endap darah tidak pennah eningkat, cairan sendinya
menunjukkan gambaran yang normal.
RA menupakan penyakit inflamasi sistemik, sehingga di-
dapatkan peninggian LED, anemia ringan. Fakton reumatoid
positif dan cairan sendi menunjukkan gambaran inflamasi.
PERBEDAAN GAMBARAN RADIOLOGI
Pemeriksaan radiologik dapat membantu membedakan
kedua penyakit ini, tetapi sulit karena pada stadium awal belum
ditemukan perubahan.
Penubahan radiologik pada OA lebih menunjukkan adanya
perubahan degenenatif yang meliputi pembentukan osteofit pada
tepi sendi, sklerosis tulang subkondral, pembentukan kista dan
penyempitan celah sendi.
Pada RA stadium awal ditemukan adanya pembengkakan
jaringan lunak dan osteoporosis subkondnal (juxta-artikuler).
Pada stadium lebih lanjut ditemukan gambaran permukaan sendi
yang tidak nata akibat enosi sendi, penyempitan celah sendi,
subluksasi dan akhirnya ankilosis sendi.
PERBEDAAN TERAPI
Sebenannya pninsip penatalaksanaan semua penyakit sendi
hampir sama yaitu meliputi:
1) Pnoteksi sendi
2) Diet
3) Medikamentosa
4) Rehabilitasi
5) Pembedahan
6) Psikoterapi
Dengan demikian penatalaksanaan RA prinsipnya sama
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
6
background image
pula, hanya. ada kekhususan tertentu.
Penggunaan medikamentosa pada penyakit reumatik dapat
dibagi dalam:
1. Obat analgetik
2. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
3. Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARD)
4. Kortikosteroid sistemik dan suntikan intra-artikuler.
Prinsip penggunaan analgetik dan OAINS pada OA dan RA
adalah sama. Obat ini berguna untuk menekan nyeri dan in-
flamasi, tetapi tidak dapat menghentikan perjalanan penyakit OA
dan RA,jadi lebih bersifat simptomatik. Walaupun demikian obat
ini masih diperlukan karena dapat mengurangi keluhan penderita
sehinggfa tetap dapat melakukan aktifitas sehari-hari. Penderita
RA umumnya lebih sering dan lebih banyak menggunakan obat
in karena keluhan inflamasi sendinya lebih menonjol, dengan
demikian efek samping juga lebih sering dijumpai.
Hingga saat ini DMARD baru ditemukan untuk penderita
RA. Untuk OA belum ditemukan obat yang dapat menekan
perjalanan penyakitnya. DMARD dapat menekan perjalanan
penyakit RA sampai tahap remisi, penderita selama beberapa
waktu dapat bebas dari keluhan inflamasi sendi tanpa
menggunaKan obat analgetik atau OAINS, DMARD membu-
tuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 6 bulan, agar dapat
mencapai efek yang diharapkan, oleh karena itu pada tahap awal
kombinasi DMARD dengan OAINS sangat dianjurkan. DMARD
yang sering digunakan untuk RA ialah Hidroksiklorokuin, Ga-
ram emas, D-pennicilamin, salazopirin dan obat imunosupresif.
Kortikosteroid sistemik tidak dianjurkan untuk penderita
OA, karena lebih banyak efek samping dan efek terapi yang
diharapkan. Pada RA,, kortikosteroid sistemik ternyata tidak
dapat menghentikan progresifitas penyakit, sehingga pengguna-
annya sebaiknya dibatasi, hanya bersifat simptomatik saja.
Penggunaan kortikosteroid hanya pada kasus berat, yang
tidak responsif dengan OAINS dan yang mempunyai kontrain-
dikasi mutlak dengan OAINS. Pada kasus berat yang ditandai
dengan demam tinggi, anemia, berat badan menurun dengan
cepat, neuropati, vaskulitis, perikarditis, pleuritis, skieritis dan
sindrom Felty biasanya diberikan dosis tinggi, yang segera
diturunkan bertahap bila gejala berkurang. Pada penderita yang
tidak responsif dengan OAINS, maka dosis yang diberikan
biasanya dosis rendah : metilprednisolon 5-7,5 mg/hari.
Suntikan kortikosteroid intraartikuler dapat dipertimbangkan
pada penderita RA dan OA yang pada 1-2 sendinya masih tetap
meradang, pemberian tidak boleh terlalu sering dan hati-hati
pada sendi penopang berat badan.
KESIMPULAN
Osteoartritis dan Artsitis Reumatoid merupakan dua penyakit
yang berbeda, walaupun keduanya memberikan gejala yang
hampir sama. Kedua penyakit ini mempunyai perjalanan penya-
kit, penatalaksanaan dan prognosis yang sangat berbeda, Se-
hingga pengenalan penyakit ini dengan baik akan menghindari
pengobatan yang kurang tepat, baik berlebihan (overtreatment)
atau kurang (undertreatment).
KEPUSTAKAAN
1. Schumacher HR. Primer on the Rheumatic Disease. Ninth Ed. Arthritis
Foundation. Atlanta GA. 1988.
2. Harry lsbagio. Penyakit Reutnatik 1, Yayasan Penerbit lDl, Jakarta, 1992.
3. MoskowitzRD. Clinical and Laboratory Findings in Osteoarthritis. In McCarty
Diet al (eds).Arthritis andAllied Condition. A Textbook of Rheumatology.
Twelfth ed Philadelphia., London: Lea & Fcbiger.
4. Harris ED. The Clinical features of Rheumatoid Arthritis. In Kelley WN (ed):
Textbook Rheumatology. Third ed. Philadelphia: W.B. Saunders 1989.
p. 943-74.
Manners carry the world for the moment, cliaracterfor all the time
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
7