background image
Artikel
Mekanisme Anemi Defisiensi Besi
A. Harryanto Reksodlputro
Subbagian Hematologi-Onkologi Medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Sel darah merah manusia dibuat dalam sumsum tulang.
Dalam keadaan biasa (tidak ada anemi, tak ada infeksi, tak ada
penyakit sumsum tulang), sumsum tulang memproduksi 500 x
10
9
sel dalam 24 jam. Rata-rata sumsum tulang orang yang
berusia 70 tahun telah memproduksi 12 x 10
15
darah. Jumlah
sel yang terbentuk selama 70 tahun tadi bila dikumpulkan akan
mempunyai volume ± 12 ton jaringan.
Sesuai fungsinya sumsum tulang dapat dibagi dalam bebe-
rapa sistem/kelompok sel :
1.
Kelompok sel induk pluripotensial + multipotensial
2.
Kelompok sel induk unipotensial atau bipotensial + sel-sel
yang berdiferensiasi
3.
Sistem pengaturpertumbuhan (menstimulasi proliferasi set)
Dalam sumsum tulang yang aktif memproduksi sel darah
terdapat dua sistem yaitu 1. stroma sumsum tulang dan 2.
sinusoid. Sel yang berperan dalam hemopoesis mengambil tempat
dalam stroma sumsum tulang, hanya sel yang sudah matang
masuk dalam sinusoid dan terus ikutdalam aliran darah
masukke dalam sirkulasi darah. Sel yang belum matang pada
prinsipnya tetap tinggal dalam stroma sumsum tulang.
Kelompok Sel Induk Pluripotensial + Multipotensial
Berbeda dengan sel induk unipotensial maupun sel proeri-
troblas, sel mieloblas, sel megakarioblas dart sel limfoblas yang
dapat diidentifikasi dengan mudah secara morfologis dengan
pewarnaan rutin (Giemsa, Wright dsb), sel induk pluripotensial
dan multipotensialsulit diidentifikasi dengan cara tadi. Dengan
pewarnaan seperti yang dikemukakan di atas sel induk pluripo-
tensial dan multipotensial sulit dibedakan dengan limfosit tua.
Para ahli Ilmu KedokteranDesar telah dapat menemukan
petanda sel induk pluripotensial dan multipotensial; selanjutnya
dengan menggunakan antibodi monoklonal dan teknik flow
immunositometri'orang dapat mengenal sel-sel induk tersebut,
namun pemeriksaan ini memerlukan dana yang mahal.
Kelompok sel induk unipotensial + sel yang berdiferensiasi
Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari sel berinti
dalam sumsum tulang. Jumlah mitosis yang terjadi sejak tahap
sel induk unipotensial s/d sel matang (eritrosit, granulosit dan
sebagainya) dapat berjumlah tiga s/d 20x.
Selama proses pertumbuhan sel matang terjadi dua proses
penting yaitu 1. mitosis dan 2. diferensiasi. Yang dimaksud
dengan berdiferensiasi adalah proses di mana sel dalam bentuk
yang lebih matang. Sel-sel ini semua mudah diidentifikasi de-
ngan pewamaan biasa. Perlu diketahui bahwa sel-sel darah
yang berada pada tahap "belum" matang pada prinsipnya tidak
keluar dari sumsum tulang; baru keluar dari sumsum tulang
bila telah mencapai bentuk matang. Hal ini berbeda dengan sel
induk multipotensial yang morfologinya seperti sel limfosit tua;
yang masuk ke dalam aliran darah dan berbaur di antara sel-sel
berinti dalam darah tepi.
Sistem faktor yang menstimulasi proliferasi sel
Dari pengalaman mengkultursel darah invitro disadari adanya
serta nerlunva faktor-faktor yang dapat menstimulasi proliferasi
sel hingga terbentuk koloni-koloni sel. Berbagai faktor yang
dapat menstimulasi proliferasi sel ini telah dapat diidentifikasi,
dipisahkan bahkan diproduksi dan diperjual belikan saat ini.
Dari tabel 1 dapat terlihat berbagai zat stimulasi yang telah
beredar saat ini. Terlihat pula jenis sel yang dapat distimulasinya
dan sel yang memproduksinya. Eritropoetin merupakan zat sti-
mulator hemopoesis yang pertama-tama dapat diidentifikasi
dan dipisahkan.
Eritropoesis
Proses eritropoesis dimulai tentu saja dari sel induk multipo-
tensial. Dari beberapa sel induk multipotensial terbentuk sel-sel
induk unipotensial yang masing-masing hanya membentuk satu
jenis sel misalnya eritrosit. Proses pembentukan eritrosit ini
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 5
background image
Keterangan
:
CSF
=
"Colony
Simulating
Factor"
IL = Interleukin
E = Eritrosit
G
=
Granulosit
M
=
Monosit
Meg = Megakariosit
Eo =
Eosinofit
Gambar 1. Konsep proliferasi + diferenslasi set induk dalam sumsum
tulang
Tabel 1. Faktor-faktor yang dapat menstimulasi proliferasi sel hemopoesis
Faktor
Set yang
memproduksi
Set yang
distimulasi
ILl
lL3
CSF-GM
CSF-G
CSF-M
IL6 + IL7
Monosit
Sel T
Sel T, monosit endotel
Endotel, fibroblas
Endotel, fibroblas
Fibroblas
Sel induk pluripotensial +
Multipotensial
Sel induk unipotensial
Sistem Monosit + Neutrofil
Sistem Neutrofil
Sistem Monosit
Sel induk, sistem limfosit T + B
disebut eritropoesis. Sel induk unipotensial yang membentuk
eritrosit termuda yang dapat diidentifikasi secara morfologis
dengan pewarnaan sitokimia adalah sel proeritroblas.
Dalam keadaan normal 20% dari sel sumsum tulang yang
berinti adalah sel berinti pembentuk eritrosit. Sel berinti pem-
bentuk eritrosit ini biasanya tampak berkelompok-kelompok dan
biasanya tidak masuk ke dalam sinusoid. Baru pada tahap reti-
kulosit (tak berinti lagi) sel-sel ini menjadi lebih bebas satu sama
lain dan dapat masuk ke dalam sinusoid untuk terus masuk dalam
aliran darah. Sel induk unipotensial yang committed akan mulai
bermitosis sambil berdiferensiasi menjadi sel eritrosit bila men-
dpatrangsangan eritropoetin. Selain merangsang proliferasi sel
induk unipotensial, eritropoetin juga merangsang mitosis lebih
lan jut sel promonoblas, normoblas basofilik dan normoblas poli-
kromatofil. Biasanya diperlukan 3­5x mitosis untuk mengubah
proeritroblas mencapai tahap terakhir dari sistim eritropoesis
yang masih berinti. Pada tahap ini inti sel sudah piknotis dan
segera dikeluarkan dari sel. Sel eritrosit termuda yang tidak ber-
inti disebut retikulosit yang kemudian berubah menjadi eritrosit.
Dalam proses pembentukan sel darah merah, rangsangan
oleh eritropoetin dalam jumlah yang amat kecil saja akan me-
rangsang sel unipotensial yang committed untuk segera mem-
belah diri dan berdiferensiasi menjadi proeritroblas. Morfologi
sel induk unipotensial yang committed untuk membentuk eritro-
sit sukar dibedakan dengan limfosit tua; seperti halnya sel induk
multipotensial. Dengan sekali rangsangan maka proliferasi dan
pematangan eritroblas akan berlangsung selama 7 hari dan se-
lanjutnya akan berhenti dalam 2­3 minggu. Bila dirangsang
lagi atau kadar eritropoetin yang diberikan cukup banyak, maka
pada hari ke 8­10 akan terjadi pembentukan koloni baru lagi.
Ada dua proses yang memegang peranan utama dalam
proses pembentukan eritrosit dari sel induk unipotensial :
1.
pembentuk deoxyribonucleic acid (DNA) dalam inti sel
2.
pembentuk Hb dalam plasma eritrosit
Pembentukan DNA dalam inti sel
Agar mitosis dapat terjadi, inti sel yang akan bermitosis
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
6
background image
terlebih dahulu harus membentuk DNA yang diperlukan untuk
membentuk 2 pasang kromosom yang masing-masing
kemudian akan berada dalam inti sel hasil mitosis. Bila
pembentukan DNA ini mengalami hambatan maka walaupun
pembentukan Hb dalam plasma telah cukup, mitosis tidak
mungkin terjadi dan akan mengalami "penundaan" sampai
jumlah DNA yang diperlukan tercapai.
Untuk pembentukan DNA ini diperlukan dua katalisator
yang memegang peranan amat penting yaitu 1) vitamin B
12
dan
2) asam folat. Kekurangan vitamin B
12
dan atau asam folat akan
menyebabkan berkurangnya mitosis sel. Karena pada saat yang
bersamaan pembentukan hemoglobin berjalan terus, akan
terjadi disproporsi antara besar dan bentuk inti dengan ukuran
sitoplasma. Akhirnya terbentuk sel eritrosit yang abnormal dan
berukuran besar dalam jumlah yang tidak cukup sehingga
terjadi keadaan anemia (makrositosis). Di samping itu sel
eritrosit berinti yang terdapat dalam sumsum tulang lekas
hancur dalam sumsum tulang sebelum mencapai bentuk
eritrosit matang. Da-lam keadaan normal dibutuhkan sekitar
100-400 ug B
12
dan sekitar 1500 ug asam folat sebulan untuk
mempertahankan jumlah eritrosit yang normal.
Pembentukan Hemoglobin dalam sitoplasma sel
Pembentuk sitoplasma sel dan hemoglobin (Hb) terjadi
bersamaan dengan proses pembentukan DNA dalam inti sel.
Seperti dikemukakan sebelumnya Hb merupakan unsur ter-
penting dalam plasma eritrosit. Molekul Hb terdiri dari 1.
globin, 2. protoporfu-in dan 3. besi (Fe).
Globin dibentuk sekitar ribosom sedangkan protoporfirin
dibentuk sekitar mitokondria. Besi didapat dari transferin. Pala
permulaan sel eritrosit berinti terdapat reseptor transferin.
Gangguan dalam pengikatan besi untuk membentuk Hb akan
mengakibatkan terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang
kecil (mikrositer) dan kurang mengandung Hb di dalamnya
(hipokrom).
Tidak berhasilnya sitoplasma sel eritrosit berinti mengikat
Fe untuk pembentukan Hb dapat disebabkan oleh a. rendahnya
kadar Fe dalam darah. Hal ini dapat disebabkan oleh 1. kurang
gizi, 2. gangguan absorbsi Fe (terutama dalam lambung), 3. ke-
butuhan besi yang meningkat akan besi (kehamilan, perdarahan
dan sebagainya).
Penyebab ketidak berhasilan eritrosit berinti untuk meng-
ikat besi dapat juga disebabkan oleh rendahnya kadar transferin
dalam darah. Hal ini dapat dimengerti karena sel eritrosit berinti
maupun retikulosit hanya memiliki reseptor transferin bukan
reseptor Fe. Perlu kiranya diketahui bahwa yang dapat terikat
dengan transferin hanya Fe elemental dan untuk membentuk 1
ml packed red cells diperlukan 1 mg Fe elemental.
Gangguan produksi globin hanya terjadi karena kelainan
gen (Thalassemia, penyakit HbF, penyakit Hb C, D, E, dan se-
bagainya).
Bila semua unsur yang diperlukan untuk memproduksi
eritrosit (eritropoetin, B , asam folat, Fe) terdapat dalam
12
jumlah
cukup, maka proses pembentukan eritrosit dari pronormoblas
s/d normoblas polikromatofil memerlukan waktu 2-4 hari. Se-
lanjutnya proses perubahan retikulosit menjadi eritrosit me-
makan waktu 2-3 hari; dengan demikian seluruh proses pem-
bentukan eritrosit dari pronormoblas dalam keadaan "normal"
memerlukan waktu 5 s/d 9 hari.
Bila diberikan obat anti anemik yang cukup pada penderita
anemia defisiensi maka dalam waktu 3-6 hari kita telah dapat
melihat adanya kenaikan kadar retikulosit; kenaikan kadar reti-
kulosit biasanya dipakai sebagai patokan untuk melihat adanya
respon pada terapi anemi.
Perlu kiranya diketahui bahwa diperlukan beberapa jenis
ensim dalam kadar yang cukup agar eritrosit dapat bertahan
dalam bentuk aktif selama 120 hari. Kekurangan ensim-ensim
ini akan menyebabkan eritrosit tidak dapat bertahan cukup
lama dan menyebabkan umur eritrosit tadi kurang dari 120 hari.
Ada dua ensim yang berperan penting yaitu 1) piruvat kinase,
2) glukose 6-fosfat dehidrokinase (G6PD). Anemia karena
defisiensi ensim piruvat kinase hanya dapat diobati dengan
transfusi eritrosit. Penderita dengan defisiensi G6PD akan
mengalami hemolisis bila mendapat obat-obat tertentu terutama
1. obat anti malaria (quinine, primaquine dan sebagainya), 2.
golongan sulfa, golongan salisilat, 4. fenasetin, 5. derivat
vitamin K, 6. nitrofurantoin dan sebagainya. Obat-obat tadi
harus dihindari sejauh mungkin pada penderita defisiensi
G6PD. Defisiensi kedua ensim tadi disebabkan oleh karena
adanya kelainan gen dalam kromosom.
JENIS ANEMIA YANG TERSERING DITEMUKAN
Urutan jenis anemi sesuai dengan angka kekerapannya
adalah seperti terlihat dalam gambar 3. Dan gambar
tersebutjelas terlihat bahwa 25% anemi yang dijumpai adalah
anemi defisiensi besi, 25% anemi karena perdarahan, 25%
tennasuk apa yang dinamakan anemi karena infeksi, 25%
sisanya adalah jenis-jenis anemi lainnya. Dalam pembicaraan
hal ini hanya akan dibahas mengenai :
1.
anemi defisiensi besi
2.
secara singkat mengenai anemi karena infeksi (menahun).
Gambar 3. Insiden berbagal jenis anemi
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 7
background image
Patofisiologi anemi defisiensi besi
Sebenarnya tubuh mengelola besi dalam badan kita dengan
cara yang amat tepat guna. Dari 3000 s/d 5000 mg besi yang
ada dalam tubuh seseorang yang sehat, yang diekskresi tubuh
setiap hari hanya 1 mg. Dan 3000-5000 mg besi tubuh kita
60%, (1800-3000 mg.) berada dalam eritrosit, 30% berada
sebagai besi cadangan dan hanya 20% berada dalam berbagai
organ lainnya seperti otot, ensim dan lain-lain.
Tabel 2. Besi dalam Tubuh
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Volume darah ± 70%/ml/g berat badan
1 ml packed red cells setara 1 mg Fe
Masa eritrosit 60%
Cadangan (feritin, hemosiderin) 30%
Otot 5% -10%
Ensim 1%
Plasma (transferin) 0,1%
Lain-lain 8% ­ 9%
Catatan : Volume masa eritrosit tubuh = 40%-42% dari volume darah
Walaupun pengelolaan besi oleh tubuh dilakukan secara
amat tepat guna, namun kenyataannya 10-20% penduduk dunia
ini menderita anemi karena defisiensi besi. Penderita anemi
defisiensi besi temyata tidak hanya ditemukan di negara ber-
kembang, namun juga di negara maju. Mengapa hal ini dapat
terjadi ?
Tabel 3. Penggunaan Besi oleh Tubuh
1.
2.
3.
4.
Fe rata-rata dalam makanan orang "Barat"..............
Absorbsi oleh usus (10%).................................
Elkskresi Fe sehari.........................................
Kebutuhan Fe tambahan :
­ pertumbuhan per hari ..............................
­ haid
per
hari.........................................
­ hamil
per
hari.......................................
10 ­ 15 mg
1 ­ 1,5 mg
1 mg
1 mg
1 mg
1 mg
Seperti terlihat pada tabel 3 jumlah besi elemen yang dapat
diserap tubuh bilamana menu makanan orang itu seperti menu
makanan orang di negara Amerika Serikat hanya 1mg sehari. Ini
hanya cukup untlzk seorang laki-laki dewasa dan wanita yang
tidak haid lagi. Seorang laki-laki yang masih tumbuh dan wanita
yang masih haid, hamil, menyusui memerlukan besi tambahan
dalam makanan tadi. Kiranya perlu diketahui bahwa sumber besi
utama adalah bahan makanan yang relatif mahal harganya. Di
samping itu besi yang ada pada bahan makanan tersebut adalah
besi elemen. Terlihat pada tabel 3 hanya 10% besi yang
.
ada
dalam usus halus dapat diabsorbsi mukosa usus dan masuk
dalam darah. Hanya Fe" yang diabsorbsi oleh usus halus.
Untuk mengatur masuknya besi dalam tubuh maka tubuh
memiliki suatu cara yang amat tepat guna. Besi hanya dapat
masuk ke dalam mukosa usus apabila ia dapat bersenyawa
dengan apoferitin. Jumlah apoferitin yang ada dalam mukosa
usus bergantung pada kadar besi tubuh. Bila besi dalam tubuh
sudah cukup maka semua apoferitin yang ada dalam mukosa
usus terikat dengan Fe
++
menjadi feritin. Dengan demikian
tidak ada lagi apoferitin yang bebas sehingga tidak ada besi
yang dapat masuk ke dalam mukosa.
Gambar 3. Metabolisme Fe
Besi yang ada dalam mukosa usus hanya dapat masuk ke
dalam darah bila ia dapat berikatan dengan G-globulin yang
ada dalam plasma. Gabungan Fe dengan B-globulin disebut
feritin. Apabila semua G-globulin dalam plasma
.
sudah terikat
Fe" (menjadi feritin) maka Fe'' yang terdapat dalam mukosa
usus tidak dapat masuk ke dalam
'
plasma dan turut lepas ke
dalam lumen usus saat sel mukosa usus lepas dan diganti
dengan sel baru.
Hanya Fe++ yang terdapat dalam transferin dapat
digunakan dalam eritropoesis, karena sel "eritroblas" dalam
sumsum tulang hanya memiliki "reseptor" untuk feritin.
Kelebihan besi yang tidak digunakan disimpan dalam stroma
sumsum tulang sebagai feritin. Besi yang terikat pada B-
globulin (feritin) selain berasal dari mukosa usus juga berasal
dari limpa, tempat eritrosit yang sudah tua (berumur 120 han)
dihancurkan sehingg besinya masuk ke dalam jaringan limpa
untuk kemudian terikat pada B-globulin (menjadi transferin)
dan kemudian ikut aliran darah ke sumsum tulang untuk
digunakan eritroblas membentuk hemoglobin.
DIAGNOSIS PENGOBATAN ANEMI DEFISIENSI BESI
Diagnosis anemi defisiensi besi dibuat berdasarkan data
yang dapat diperoleh dengan berwawancara (anamnesis). Pada
sebagian besar pendenta anemi defisiensi besi didapati adanya
gejala perdarahan menahun baik melalui saluran cerna/hemor-
hoid, ulkus lambung, amubiasis dan lain-lain, melalui sistem
urogenital (menorhagi, hematuri berulang dan sebagainya). Pada
sebagian lagi didapat adanya gizi yang kurang (terutama daging).
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
8
background image
Pada pemeriksaan fisik selain keadaan pucat juga didapati
adanya penipisan kuku dan kulit yang atrofis. Pada
pemeriksaan laboratorium didapat adanya eritrosit yang kecil
dan pucat (mikrositer, hipokrom).
Pengobatan anemi defisiensi besi cukup dengan obat oral
saja. Pengobatan secara parenteral hanya diberikan pada keada-
an sebagai berikut :
1.
Gangguan absorbsi besi (reseksi jejenum + duodenum,
penyakit sprue.
2.
Enam minggu sebelum partus bila kadar Hb < 8 g%.
3.
Penyakit saluran cerna yang terganggu oleh obatbesi
(kolitis ulseratifa, iliostomi dan lain-lain).
Apabila penderita memang mengidap anemi defisiensi besi
dan tak ada gangguan absorbsi besi maka akan terlihat sebagai
berikut .
1.
Dalam 5 ­ 10 hari kadar eritrosit naik
2.
Dalam 7 -10 hari kadar Hb naik
3.
Dalam 30 hari kadar Hb hampir normal
ANEMI KARENA INFEKSI MENAHUN
Pada infeksi menahun kadar B-globulin akan menurun. Hal
ini antara lain disebabkan oleh karena transferin difagositer
oleh makrofag; akibatnya besi yang tertimbun dalam sistem
RES akan berjumlah amat banyak (hemosiderin). Sedangkan
karena B-globulin jumlahnya rendah maka besi dari mukosa
usus tidak dapat masuk ke dalam darah untuk kemudian
sebagai transferin digunakan "eritroblas" membuat hemoglobin
dalam sel darah muda tersebut.
Akibatnya terbentuk sel darah merah yang kecil dan pucat
(mikrositer, hipokrom) sebagai anemi defisiensi besi. Bedanya
pada anemia karena infeksi menahun walaupun kadar besi
darah rendah namun kadar feritin dalam darah datam sistem
RES (termasuk sumsum tulang) tinggi. Pengobatan adalah
dengan mengobati penyakit menahunnya.
KEPUSTAKAAN
1.
Williams WJ, Herder E,,Erslev AJ, Licktman MA (eds). Hematology. Mc
Graw-Hill, 1990.
2.
Haak HL. Hematopoesis. Hematology Update 1991 Course, Jakarta 13­15
Mei 1991.
3.
Finch CA, Hilman RS. Red Cell Manual. Philadelphia PA: Davis Co.
4.
Louis J. Differentiation of anemia. J Med Clin Am 1969; 53: 47-60.
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 9