Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Masalah Multi Drug Resistance
pada Demam Tifoid Anak
Sri Rezeki Hadinegoro
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta
PENDAHULUAN
Demam tifoid termasuk salah satu jenis penyakit infeksi
bakteri yang banyak ditemukan di negara kita, baik pada
dewasa maupun anak. Demam tifoid pada anak terbanyak
terjadi pada umur 5 tahun atau lebih dan mempunyai manifes-
tasi klinis ringan. Makin muda umur anak, gejala klinis demam
tifoid makin tidak khas. Perbedaan lain antara demam tifoid
pada anak dan dewasa adalah mortalitas demam tifoid pada
anak lebih rendah bila dibandingkan dengan dewasa. Risiko
terjadinya komplikasi fatal terutama dijumpai pada anak besar
dengan manifestasi klinis berat, menyerupai kasus dewasa.
Pada lima tahun terakhir ini, para klinisi di beberapa negara
mengamati adanya kasus demam tifoid anak yang berat bahkan
fatal, yang ternyata disebabkan oleh strain Salmonella typhi
yang telah resisten terhadap antibiotik yang lazim diperguna-
kan untuk pengobatan demam tifoid.
(1)
Strain Salmonella typhi
yang resisten terhadap 2 atau lebih jenis antibiotik yang lazim
dipergunakan yaitu ampisilin, kloramfenikol, dan kotrimok-
sazol dinamai strain multi drug resistance (MDR) Salmonella
typhi.
(1,2)
Dengan ditemukannya MDR Salmonella typhi, maka
pemilihan antibiotik yang tepat akan menjadi masalah,
termasuk kendala biaya.
Dalam makalah ini dibahas mengenai MDR strain Sal-
monella typhi di beberapa negara, serta laporan resistensi
Salmonella typhi di Bagian I1mu Kesehatan Anak Rumah Sakit
Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
DASAR RESISTENSI MIKROBA
Paul Ehrlich pada akhir Perang Dunia II menulis dengan
kata-kata sederhana, bahwa keberhasilan pengobatan antibiotik
ditentukan oleh interaksi obat dengan mikroorganisme patogen;
oleh karena itu, kualitas anti-mikroba dinilai berdasarkan
afinitas antara obat dengan reseptor yang terdapat pada mikro-
organisme.
Sekali terjadi ikatan antara mikroorganisme dengan obat,
maka daya toksis yang dimiliki oleh obat tersebut mampu
menghancurkan mikroorganisme. Pernyataan Paul Ehrlich ini
ternyata sampai saat ini masih relevan, hanya ilmu pengetahuan
telah mampu mengungkapkan dengan kata-kata yang lebih
tepat dan rinci
(4)
.
Shulman CW dkk
(3)
mengemukakan bahwa interaksi antara
obat dengan mikroba patogen diawali oleh proses transport
aktif antibiotik ke dalam sel, sehingga menyebabkan peningkat-
an konsentrasi antibiotik bebas intraselular, selanjutnya diikuti
oleh proses transport pasif dengan enzim atau komponen sub-
selular mikroba.
Pada keadaan tertentu, apabila interaksi antara obat dengan
mikroba kurang baik atau tidak terjadi sama sekali; maka
dikatakan bahwa antibiotik tersebut telah resisten terhadap
mikroba tertentu. Melihat dasar interaksi obat dengan mikroba
seperti diterangkan di atas, maka sesungguhnya resistensi me-
rupakan terminologi biokimiawi. Resistensi antibiotik dapat
terjadi melalui dua mekanisme yaitu, terjadi sebelum antibiotik
bereaksi dengan sel pejamu atau sebagai komplikasi yang
timbul selama pengobatan.
Terdapat 4 jalur mekanisme resistensi antibiotik, yaitu pe-
nurunan permeabilitas terhadap antibiotik, adanya proses enzi-
matik, modifikasi letak reseptor obat, dan peningkatan sintesis
metabolit antagonis terhadap antibiotik.
(3)
1) Perubahan permeabilitas
Antibiotik tidak dapat mencapai lokasi target yang dike-
hendaki. Keadaan ini berhubungan dengan penurunan permea-
bilitas dinding mikroorganisme terhadap antibiotik. Perubahan
permeabilitas berhubungan dengan perubahan reseptor permu-
kaan sel sehingga antibiotik kehilangan kemampuan untuk
melakukan transportasi aktif guna melewati membran sel, dan
akhirnya terjadi perubahan struktur dinding sel yang tidak
Dipresentasikan pada Siang Klinik : "Pandangan Baru Pengobatan Demam
Tifoid." Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, Jakarta 14 Oktober 1998.
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 5
spesifik. Sebagai contoh mekanisme ini terjadi pada Gram
negatif. Bakteri Gram negatif mempunyai lapisan lipid pada
membran luar dinding sel, membran luar tersebut terdiri dari
protein porin yang berbentuk saluran, penuh berisi air.
Perubahan yang terjadi pada porin akan menyebabkan pe-
nurunan permeabilitas terhadap antibiotik tertentu, misalnya
golongan beta laktam.
2) Proses inaktifasi oleh enzim
Organisme patogen memacu terjadinya mekanisme bio-
kimia, melalui proses enzimatik yang berperan mengurangi
atau mengeliminasi antibiotik. Pada mikroorganisme yang telah
mengalami mutasi, terjadi peningkatan aktifitas enzim atau
terjadi mekanisme baru sehingga obat menjadi tidak aktif.
Contoh, adanya b-laktamase menyebabkan penisilin dan
sefalosporin menjadi in-aktif, enzim asetilase menyebabkan
golongan aminoglikosid tidak aktif melalui mekanisme fosfori-
lasi, adenilasi, atau asetilasi. Modifikasi biokimia antibiotik
oleh enzim bakteri merupakan suatu masalah yang sangat
serius dalam pengobatan antibiotik dan kemoterapi.
3) Modifikasi lokasi reseptor sel target
Melalui mekanisme biokimiawi yang menyebabkan ikatan
antara antibiotik dengan mikroorganisme tidak berlangsung
lama, interaksi antara obat dengan sel target tidak terjadi. Pada
mikroorganisme yang telah mengalami mutasi, perubahan bio-
kimiawi ini terjadi selama fase pengobatan pasien. Contoh,
resistensi yang terjadi pada pengobatan eritromisin, klinda-
misin, dan streptomisin.
4) Peningkatan sintesis metabolit yang bersifat antagonis
Peningkatan kemampuan mikroba untuk membuat zat
metabolit esensial yang bersifat antagonis terhadap antibiotik,
dapat memutuskan kerja antibiotik. Sebagai contoh terjadinya
resistensi terhadap kloramifenikol, trimetropim disebabkan
oleh plasmid mediated.
Sampai saat ini baru diketahui empat faktor tersebut di atas
yang dapat memutuskan kerja antibiotik, yang selanjutnya
dapat menyebabkan resistensi; masih terdapat faktor fisiologi
dari mikroorganisme, tetapi hanya sedikit berpengaruh yaitu
replikasi genetik sel (transcription, translocation).
RESISTENSI SALMONELLA TYPHI
Sejak tahun 1948 kloramfenikol merupakan drug of choice
untuk infeksi Salmonela. Keampuhan kloramfenikol pada
pengobatan demam tifoid telah diakui berdasarkan efektifitas-
nya terhadap Salmonella typhi di samping harga obat relatif
murah. Setelah kloramfenikol bertahan sekitar 25 tahun, di-
laporkan oleh beberapa peneliti di berbagai negara adanya
strain Salmonella typhi yang resisten terhadap kloramfenikol
(4)
.
Peneliti India melaporkan adanya kasus demam tifoid yang
resisten terhadap kloramfenikol pada tahun 1970, sedangkan di
Mexico pertama kali dilaporkan pada tahun 1972. Resistensi
tersebut ternyata diikuti oleh adanya resistensi Salmonella typhi
terhadap obat-obat lain yang biasa dipergunakan untuk meng-
obati demam tifoid. Di negara berkembang, antibiotik yang
tersedia untuk pengobatan demam tifoid adalah ampisilin,
kloramfenikol, dan kotrimoksazol. Olarte dan Galindo me-
laporkan pertama kali adanya strain Salmonella typhi yang
resisten terhadap ampisilin dan kloramfenikol di Mexico tahun
1973.
(5)
Pada saat itu kotrimoksazol baru ditemukan sebagai
pengganti kloramfenikol untuk mengobati demam tifoid; tetapi,
ternyata kotrimoksazol cepat menjadi resisten. Pada per-
kembangan resistensi Salmonella typhi selanjutnya, beberapa
negara melaporkan adanya strain Salmonella typhi yang telah
resisten terhadap dua atau lebih golongan antibiotik utama
untuk pengobatan demam tifoid yaitu kloramfenikol, ampisilin,
amoksilin, dan kotrimoksazol (multi-drug resistant = MDR
Salmonella typhi).
(1,4,5,6)
Thailand (1984) merupakan negara
yang pertama kali melaporkan adanya MDR pada demam tifoid
anak, selanjutnya diikuti oleh negara lain.
(5)
Penyebab terjadinya MDR pada demam tifoid diduga
karena; (1) Pemakaian antibiotik yang berlebihan (over-use),
(2) Penggunaan antibiotik yang salah (mis-use), dan (3) Pem-
berian antibiotik yang kurang tepat (in-appropriate), di sam-
ping (4) Adanya faktor intrinsik mikrobiologi yaitu plasmid
mediated.
(4)
Laporan mengenai MDR pada demam tifoid anak telah
terjadi di China (1987), Pakistan (1988), India (1990), Bahrain
(1990), Malaysia (1991), Vietnam, dan Mesir (1993).
(6)
Girgis
(7)
dari Mesir melaporkan pada tahun 1990-1993, telah
terjadi MDR pada lebih dari 75% kasus demam tifoid pada
anak. Di pakistan
(4,6)
sejak tahun 1988 telah pula dilaporkan
adanya MDR terhadap Salmonella typhi, kejadian tersebut
makin meningkat dari tahun ke tahun.Tahun 1995, secara
in-vitro pada biakan Salmonella typhi ditemukan MDR pada
50% yang kemudian meningkat menjadi 78% pada tahun 1997.
Angka kejadian MDR strain Salmonella typhi tampak pada
tabel 1.
Tabel
1.
Kejadian MDR terhadap Salmonella typhi pada Anak di
beberapa negara.
Penulis
Negara
Tahun
Kejadian MDR (%)
Girgis Mesir 1990-1993
75
1996
85
Mirza SH
Pakistan
1994
77
Bhutta Pakistan 1995
50
Memon IA
Pakistan
1997
78
PENGAMATAN RESISTENSI SALMONELLA TYPHI
DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSCM
Melihat perkembangan MDR strain Salmonella typhi,
yang begitu cepat di beberapa negara sehingga mengakibatkan
mortalitas tifoid pada anak meningkat, maka telah dilakukan
pengamatan resistensi Salmonella typhi pada anak yang didiag-
nosis secara klinis demam tifoid di Bagian Ilmu Kesehatan
RSCM jakarta.
(8)
Penelitian dilakukan pada tahun 1990-1994.
Selama waktu penelitian telah dirawat 645 orang anak dengan
diagnosis klinis demam tifoid,131 (20,3%) dikonfirmasi
dengan biakan positif terhadap Salmonella typhi, dan 61 (9,5%)
kasus diantaranya mempunyai hasil uji resistensi. Kelompok
umur 59 tahun merupakan proporsi terbanyak (48,9%), sedang-
kan 18 (13,6%) kasus adalah kelompok balita, terdiri dari 60
(45,8%) anak laki-laki dan 71 (54,2%) anak perempuan.
Pengobatan lini pertama untuk demam tifoid di Bagian
IKA FKUI/RSCM adalah kloramfenikol, bila ditemukan
kontraindikasi misalnya jumlah leukosit kurang atau sama
dengan 2000/ul atau adanya hipersensitivitas terhadap kloram-
fenikol, maka pilihan selanjutnya adalah kotrimoksazol. Peng-
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
6
obatan lini kedua adalah seftriakson intravena.
(9)
Pada penelitian ini sebagian besar kasus telah mendapat
pengobatan lini pertama, dengan tingkat kesembuhan klinis
untuk kloramfenikol 82,9%, kotrimoksazol 62,5%, dan ampi-
sillin 50% (hanya 2 kasus), sedangkan seftriakson 84%.
Keterkaitan sensitifitas in-vitro dengan kesembuhan klinis
(in-vivo) tidak selamanya searah. Dua puluh empat orang
(39,3%) tidak menunjukkan kesesuaian antara hasil in-vitro
dengan in-vivo. Terdapat 19 (31,1%) kasus secara in-vitro
sensitif terhadap antibiotik tertentu ternyata gagal menurunkan
demam, sebaliknya 5 (8,2%) kasus secara in-vitro resisten
terhadap kloramfenikol dan 2 kasus terhadap seftriakson ter-
nyata secara klinis sembuh. Enam orang yang tidak sembuh
dengan pengobatan kloramfenikol, mendapat pengobatan anti-
biotik lain yaitu kotrimoksazol (2 orang) dan seftriakson (4
orang); sedangkan satu kasus yang tidak sembuh dalam
pengobatan seftriakson mendapat kloramfenikol.
Tabel 2. Pola Resistensi Salmonella typhi pada 61 Biakan Darah Kasus
Demam Tifoid Anak Bagian IKA FKU1/RSCM, 1990-1994.
Antibiotik
Sensitif
(%)
Resisten
(%)
Intermediate
(%)
Ampisilin 96,6
3,4
0
Amoksisilin 96,0
2,0 2,0
Kloramfenikol 91,8 3,3 4,9
Kotrimoksazol 93,2 6,8 0
Seftriakson 91,9
0 8,1
Sefotaksim 89,6
0
10,4
Siproftoksasin 92,3 2,6 5,1
Aztreonam 81,8
15,2
3,0
Dari hasil penelitian ini tidak ada satu kasuspun yang
resisten terdapat 2 atau lebih terhadap ampisilin, amoksisilin,
kloramfenikol, maupun kotrimoksazol; maka dapat disimpul-
kan bahwa sampai saat ini di Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUI-RSCM Jakarta belum ditemukan kasus MDR strain
Samonella typhi.
STRATEGI PEMILIHAN ANTIBIOTIK
Melihat kenyataan di beberapa negara bahwa kasus MDR
mempunyai gejala klinis yang berat, mortalitas yang tinggi, dan
pada umumnya telah mendapat antibiotik sebelum dirawat,
maka masalah yang timbul adalah jenis pengobatan apa yang
sebaiknya diberikan kepada pasien tersebut.
Di samping ampisilin, dan kotrimoksazol (pengobatan lini
pertama), terdapat antibiotik alternatif lain untuk pengobatan
demam tifoid yaitu golongan sefalosporin generasi ketiga
(seftriakson intravena), dan golongan fluoro-kuinolon. Di pihak
lain, terdapat masalah dalam pengobatan demam tifoid pada
anak.
(1) Sampai saat ini FDA tidak merekomendasikan kuinolon
untuk pengobatan infeksi pada anak oleh karena kuinolon dapat
menyebabkan artropati pada binatang percobaan. Kuinolon
dapat diberikan pada anak apabila pada uji resistensi tidak ada
antibiotik lain yang masih sensitif.
(10)
(2) Harga seftriakson cukup mahal.
Akhir-akhir ini telah dilakukan beberapa uji klinis sefa-
losporin generasi ketiga oral (cefixime) untuk mengobatan
demam tifoid.
(11,12,13)
Uji klinis komparatif telah dilakukan
antara cefixime dengan kloramfenikol, seftriakson, maupun
aztreonam. Memon dkk.
(6)
melaporkan hasil yang ditinjau dari
proporsi kesembuhan klinis, mikrobiologis, maupun kejadian
relaps. Penurunan suhu pada kelompok cefixime (n=39) adalah
5,6 hari, sedangkan pada kelompok kloramfenikol (n=44) 4,4
hari. Tampaknya, bila salmonela masih sensitif terhadap klo-
ramfenikol demam akan turun lebih cepat, tatapi bila ditinjau
mengenai kesembuhannya, kelompok cefixime sembuh 95%
sedangkan kelompok kloramfenikol 30%. Melihat hasil pe-
nelitian tersebut di atas, tampaknya di negara yang telah
banyak ditemukan MDR Salmonella typhi, cefixime merupakan
antibiotik pilihan.
Tabel
3.
Uji Klinis Komparatif antara Cefixime, Seftriakson dan
Aztreonam Demam Tifoid Anak (Girgis NI.
2
)
Parameter
Penilaian
Cefixime
10 mg/kg
2x/hari
12 hari
Cetlxime
25 mg/kg
single dose,
8 hari
Aztreonam
50 mg/kg
3x/hari,
7 hari
Ceftriakson
65 mg/kg
single dose
5 hari
Jumlah kasus
100
90
31
43
Kegagalan klinis
0
3*
0
0
Kegagalan
bakteriologis
0 3* 0 0
Relaps 5
1
2
2
Berdasarkan hasil uji klinis (Tabel 3) tersebut di atas,
maka direkomendasikan bahwa cefixime dosis 25 mg/kgBB
sekali sehari selama 8 hari dapat dipergunakan sebagai peng-
obatan alternatif demam tifoid anak, walaupun masih didapat-
kan kegagalan baik klinis maupun bakteriologis (sekitar 3%),
angka relaps dapat ditekan hampir mendekati 1%. Dilaporkan
pula bahwa biaya pengobatan tifoid anak dengan cefiximc, jauh
lebih murah (20 dolar US) bila dibandingkan dengan seftri-
akson (220 dolar US), tetapi lebih mahal daripada pengobatan
dengan kloramfenikol (9 dolar US).
Atas dasar penelitian uji klinis yang telah dilakukan, maka
di Mesir, Grigis NI.
(2)
merekomendasikan pengobatan lini
pertama untuk demam tifoid anak adalah kloramfenikol, lini
kedua cefixime, dan lini ketiga seftriakson. Sedikit berbeda
dengan rekomendasi dari Pakistan, Bhutta Za.
(1)
menganjurkan
kloramfenikol sebagai lini pertama, lini kedua adalah cefixime,
yang dipergunakan untuk kasus demam tifoid yang tidak
sembuh dengan pengobatan kloramfenikol atau diperuntukkan
kasus demam tifoid tersangka MDR Salmonella typhi. Untuk
pengobatan lini ketiga adalah golongan kuinolon atau
aztreonam.
Mereka yang berpendapat bahwa pengobatan kuinolon
pada demam tifoid anak tidak berbahaya adalah dari Bethel
DB. dkk.
(14)
dari Vietnam dan Buttha ZA. dari Pakistan. Hasil
uji klinis yang mereka dapatkan cukup memuaskan dan aman.
Dasar pemikiran mereka bahwa selama ini kuinolon diper-
gunakan untuk mengobati kasus cystic fibrosis dan enteric
fever dengan aman. Para peneliti tersebut melakukan tindak
lanjut selama 6 bulan - 1 tahun, dan mengatakan bahwa tidak
ditemukan kelainan klinis pada tulang maupun sendi. Diduga
reaksi samping kuinolon yang terjadi pada percobaan binatang
tidak berlaku untuk manusia, jadi bersifat spesifik untuk
spesies tertentu.
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 7
KESIMPULAN
4.
Bhutta ZA. MDR Typhoid: a potential algorithmic approach to diagnosis
and management. Dipresentasikan pada Third Asia-Pacific Symposium
on Typhoid Fever and Other Salmonellosis. Bali, 11 Desember 1997.
Telah dilaporkan terjadinya multidrug resistance pada
Salmonella typhi di beberapa negara tropis. Pemakaian anti-
biotik yang tidak rasional dan adanya perubahan intrinsik di
dalam mikroba merupakan penyebab multidrug resistance ini.
Walaupun negara lain telah melaporkan kasus multidrug
resistance pada Salmonella typhi sejak tahun 1990, sampai saat
ini di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI -RSUP Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta belum pernah melaporkan hal ini.
Pengobatan alternatif untuk kasus multidrug resistance pada
Salmonella typhi yang direkomendasikan adalah cefixime di
samping seftriakson. Kuinolon sebaiknya tidak dipergunakan
untuk pengobatan demam tifoid anak bila masih ada alternatif
antibiotik lain, mengingat efek samping yang mungkin timbul
di kemudian hari.
5. Mirza SH. The prevalence and clinical features of multi-drug resistant
Salmonella typhi infections in Baluchistan, Pakistan. Ann Trop Med and
Parasitol 1995; 89 : 513-9.
6. Memon IA, Billoo AG, Memon HI. Cefixime : An oral option for the
treatment of multidrug-resistant enteric fever in children. South Med J
1998; 90 : 1204-7.
7. Girgis NI, Tribble DR, Sultan Y, Farid Z. Short course chemotherapy
with cefixime in children with multidrug-resistant Salmonella typhi
septicemia J Trop Pediatr 1995; 41 : 364-5.
8.
Ringo-Ringo PH. Pola resistensi antibiotik pada penderita demam tifoid
anak di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. RSCM Jakarta Tahun 1990-
1994. Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta 1996.
9. Hadinegoro SR. Pengobatan Seftriakson Dosis Satu Kali Sehari pada
Demam Tifoid Anak. Dipresentasikan pada KONIKA IX, di Semarang
13-17 Juni 1993.
10. Hadinegoro SR. Kuinolon pada anak: suatu dilema. Alan RT, Hadinegoro
SR, Oswari H. penyunting. Dalam: Naskah lengkap Pendidikan
Kedokteran Berkelanjutan Bagian Ilmu Kesehatan Anak XL. Balai
Penerbitan Universitas Indonesia, Jakarta 1997; 133-40.
KEPUSTAKAAN
1. Bhutta ZA, Khan IA, Molla AM. Therapy of multidrug-resistant typhoid
fever with oral cefixime vs. intravenous ceftriaxone. Pediatr Infect Dis J
1994; 13 : 990-4.
11. Girgis NI, Kilpatrick ME, Farid Z, Sultan Y, Podgore JK. Cefixime in the
treatment of enteric fever in children. Drugs Exp Clin Res 1993; 19 :
47-9.
2.
Girgis NI, Sultan Y, Hammad O, Farid ZH. Comparison of the efficacy,
safety and cost of cefixime, ceftriaxone, and aztreonam in the treatment
of multidrug-resistant Salmonella typhi septicemia in children. Pediatr
Infect Dis J 1995; 14 : 603-5.
12. Ali SMI. Use of cefixime in treatment of enteric fever in children.
Pakistan's J Med Sci 1996; 12 : 185-9.
13. Lari AR, Validi N, Ghaffarzadeh K, Shamshiri. In vitro activity of
cefixime versus ceftizoxime against Salmonella typhi. Pathol Biol 1997;
45 : 415-9.
3. Corcoran JW, Shulman ST. Molecular biology of sensitivity and
resistance to antimicrobial agents. Dalam The Biology & Clinical Basis
of Infectious Diseases, Shulman, Phair, Sommers penyunting. Phila-
delphia, Tokyo, WB Saunders Company, edisi keempat 1992; 512-29.
14. Bethel DB, Day NPJ, Dung NM. et al. Pharmacokinetics of oral and
intravenous olloxacin in children with mutidrug-resistant typhoid fever.
Antimicrob Agents & Chemother 1996; 40 : 2167-72.
All kinds are good except the kind that bores you
(Voltaire)
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
8