background image
Artikel
OPINI
Masalah Asma di Indonesia
dan Penanggulangannya
Zul Dahlan
Subunit Pulmonologi Bagian/UPF Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Rumah Sakit Hasan Sadikin. Bandung
PENGANTAR
Asma mempakan penyakil saluran nafas yang ditandai oleh
penyempitan bronkus akibat adanya hiperreaksi terhadap se-
suatu perangsangan langsung/fisik ataupun tidak langsung.
Tanpa pengelolaan yang baik penyakit ini akan mengganggu
kehidupan penderita sehari-hari dan penyakit akan cenderung
mengalami peningkatan dan dapat menimbulkan komplikasi
ataupun kematian.
Walaupun asma merupakan penyakit yang dikenal luas di
masyarakat namun kurang dipahami semestinya hingga timbul
anggapan dari sebagian dokter dan masyarakat bahwa asma
merupakan penyakit yang sederhana serta mudah diobati, dan
bahwa pengelolaannya yang utama adalah obat-obatan asma
khususnya bronkodilator. Timbul kebiasaan dari dokter dan
pasien untuk mengatasi gejala asma saja khususnya terhadap
gejala sesak nafas dan mengi dengan pemakaian obat-obatan
dan bukannya mengelola asma secara lengkap.
Penderita asrna ringan dan periodik tidak menyadari meng-
idap penyakit ini dan menduganya sebagai penyakit pernafasan
lain atau "batuk biasa'". Gangguan batuk dan sesak dialami bila
ada rangsangan seperti angin malam yang dingin, flu atau iritasi
bahan polutif seperti rokok atau asap hingga diduganya semata-
mata terjadi akibat rangsangan faktor pencetus tersebut. Pemikir-
an timbul bila nafas telah berbunyi atau mengi dan mengganggu
kegiatan sehari-hari. Padahal pada saat tersebut mungkin telah
terdapat gangguan lanjut berupa emfisema alas gangguan faal
paru hingga perlu menggunakan obat asma secara kontinyu.
Mengingat hal tersebut pengelolaan asma yang terbaik
haruslah dilakukan pada saat dini dengan berbagai tindakan
pencegahan agar penderita tidak mengalami serangan asma dan
pemakaian,hal bisa seperlunya pada waktu serangan asma saja.
Namun pada saat ini hal tersebut masih jauh dari kenyataan.
Akhir-akhir ini dilaporkan adanya peningkatan prevalensi
morbiditas dan moratitas asma di seluruh dunia terutama di
daerah perkotaan dan industri. Prevalensi yang tinggi ini
menunjukkan bahwa pengelolaan asma belumlah herhasil.
Berbagai faktor menjadi sebab dari keadaan ini yaitu berbagai
kekurangan dalam hal pengetahuan tentang asma, kelaziman
melakukan diagnosis yang lengkap atau evaluasi pre terapi,
sistimatikadan pelaksanaan pengelolaan, upaya pencegahan dan
penyuluhan, sena pendanaan pengelolaan asma.
Untuk meningkatkan pengelolaan asma yang baik hal-hal
tersebut di atas harus dipahami dan dicarikan pemecahannya.
EPIDEMIOLOGI ASMA
Definisi asma
Terdapat kesulitan dalam mengetahui sebab dan cara me-
ngontrol asma. Pertama-tama timbul akibat perbedaan perspektif
mengenai definisi asma serta metode dan data penelitiannya
(1,2)
.
Ke dua. diagnosis asma biasanya berdasarkan hasil kuesioner
tentang adanya serangan asma dan mengi raja tanpa disertai hasil
tes faal paru untuk mengetahui adanya hiperreaksi bronkus
(HRB). Ke tiga, untuk penelitian dipakai definisi asma
berbedabeda. Woodcock (1994) menyebut asma akut (current
asthma) bila telah ada serangan dalam 12 bulan terakhir dan
terdapat HRB: asma persisten, bile terus menerus terdapat
gejala dan HRB: sedangkan asma episodik bila secara episodik
dijumpai gejala asma tanpa adanya HRB pada tes provokasi
(1)
.
Ke empat, angka kejadian dari penelitian dipengaruhi oleh
berbagai faktor dan objek penelitian yaitu faktor lokasi (negara,
daerah. kota atau desa), populasi pasien (masyarakat atau
sekolah/rumah sakit, rawat inap atau rawat jalan) usia (anak,
dewasa) cuaca (kering atau lembab), predisposisi (atopi,
pekerjaan), pencetus (infeksi, emosi, suhu, debu dingin,
kegiatan fisik), dan tingkat berat serangan asma.
Morbiditas asma
Dilaporkan adanya peningkatan prevalensi asma di seluruh
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 5
background image
dunia secara umum dan khususnya peningkatan frekuensi pe-
rawatan pasien di RS atau kunjungan ke emergensi. Penyebab
terjadinya hal ini diduga disebabkan peningkatan kontak dan
interaksi alergen di rumah (asap, merokok pasif) dan atmosfir
(debu kendaraan). Kondisi sosioekonomis yang rendah
menyulitkan pemberian tempi yang haik
c
".
Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8­10%
pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir
ini meningkat sebesar 50%
(4)
. Prevalensi asma di Jepang di-
laporkan meningkat 3 kali dibanding tahun 1960 yaitu dari 1,2%
menjadi 3,14%, lebih banyak pada usia muda°
1
. Penelitian pre-
valensi asma di Australia 1982-1992 yang didasarkan kepada
data atopi, mengi dan HRH menunjukkan kenaikan prevalensi
asma akut di daerah lembab (Belmont) dari 4,4%(1982) menjadi
11,9% (1992). Singapura dari 3,9% (1976) menjadi 13,7%(1987),
di Manila 14,2% menjadi 22.7% (1987). Data dari daerah perifer
yang keying adalah sebesar 0,5% dari 215 anak dengan bakat
atopi sebesar 20,5%, mengi 2%, HRH 4%
(1)
.
Serangan asma juga semakin berat, terlihat dari meningkat-
nya angka kejadian asma rawat inap dan angka kematian. Asma
juga merubah kualitas hidup penderita dan menjadi sebab pe-
ningkatan absen anak sekolah dan kehilangan jam kerja. Biaya
asma sebesar F. 7.000 Milyard di Perancis yaitu 1% dari biaya
pemeliharaan kesehatan langsung ataupun tidak langsung.
meningkat terus
(4)
.
Penelitian di Indonesia tersering menggunakan kuesioner
dan jarang dengan pemeriksaan HRB. Hampir semuanya dilaku-
kan di lingkungan khusus misalnya di sekolah atau rumah sakit
dan jarang di lingkungan masyarakat
(6)
. Dilaporkan pasien
asma dewasa di RS Hasan Sadikin berobat jalan tahun 1985-
1989 sebanyak 12.1% dari jumlah 1.344 pasien dan 1993
sebanyak 14,2% dari 2.137 pasien. Pada perawatan inap 4,3%
pada 1984/ 1985 dan 7,5% pada 1986­1989. Pasien asma anak
dan dewasa di Indonesia diperkirakan sekitar 3­8%, Survai
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 mengajukan angka
sebesar 7,6%. Hasil penelitian asma pada anak sekolah berkisar
antara 6,4% dari 4.865 anak (Rosmayudi, Bandung 1993), dan
15,15% dari 1.515 anak (multisenter, Jakarta)
(6)
.
Komplikasi asma
Mortalitas asma meningkat diseluruh dunia dari 0,8/100.000
(1977), menjadi 1,2 (1990) dan 2,1 (1991)
(7)
. Di Singapura di-
laporkan sebesar 1/10.000
(2)
. Laporan yang terkumpul dari Indo-
nesia adalah dari pasien status asmatikus dengan angka kematian
di RS Sutomo Surabaya 2,9% dari 68 pasien (1978), RS Hasan
Sadikin Bandung 0,73% dari 137 pasien (1984)
(6)
.
MASALAH PENGELOLAAN ASMA
Terdapat berbagai hal yang menimbulkan masalah dalam
pengelolaan asma khususnya di Indonesia :
1) Pengetahuan Yang Kurang Tepat Mengenal Konsep
Asma
a) Para medisi
Pengetahuan patogenesis asma yang benar bahwa peradang-
an bronkus sebagai faktor dasar asma belum merata, dan belum
disadari bahwa mengatasi peradangan bronkus adalah tujuan
utama terapi. Asma potensil untuk menjadi penyakit seumur
hidup dan harus diperlakukan sebagai penyakit kronik lain se-
perti DM, dan hipertensi. Belum ada kerjasaina berlanjut antara
dokter dan pasien dalam upaya penegakan diagnosis dan terapi
asma yang benar yang diikuti upaya kelola mandiri dari pasien.
Usaha penyuluhan asma yang lebih balk juga masih kurang,
hingga tidaklah disadari bahwa komplikasi kematian akibat
asma dapat dihindari.
b) Pasien dan masyarakat
Masyarakat masih menganggap asma penyakit tidak bisa
disembuhkan, bersifat kronik dan cenderung progresif. Juga
tidak mengetahui cara ataupun tidak melaksanakan pencegahan
dari serangan asma di rumah. Masyarakat umumnya
mempunyai pengertian yang salah tentang pemakaian inhaler.
Penderita asma memiliki rasa rendah diri dengan asma yang
dideritanya. Dan belum terlihat adanya usaha yang baik dalam
mengontrol merokok dan menghindari alergen.
2) Cara Penegakan Diagnosis Asma
Menjadi anggapan umum bahwa diagnosis asma ditegakkan
dengan adanya sesak nafas dan mengi (wheezing). Sesungguhnya
kriteria diagnosis yang dianjurkan adalah :
a) Anamnesis
Keterangan adanya sesak nafas paroksismal yang berulang
kali, mengi dan batuk (cenderung timbul pada malam dan dini
hari). Gejala hilang pada saat istirahat dan remisi. Adanya faktor
predisposisi atau presipitasi.
b) Pemeriksaan penunjang
Didapatkan obstruksi bronkus reversibel yang diketahui
dari hasil terapi, tes bronkodilatasi atau perubahan alami; hiper-
sensitifitas bronkus, diketahui dari peningkatan reaksi kontraksi
bronkus terhadap acetylcholine, metacholin, histamin, dan lain-
lain; adanya predisposisi atopik, peninggian IgE antibodi spesi-
fik terhadap alergen lingkungan; adanya peradangan saluran
nafas, peningkatan eosinofil sputum, creola bodies
(8)
.
Diagnosis asma perlu dibuat dengan disertai tingkat ringan-
beratnya asma.
3) Evaluasi Asma Pre Terapi
Jarang dikerjakan diagnosis atau evaluasi asma pre terapi
lengkap sebagai dasar paket pengelolaan asma yang sistimatik
dan individual. Biasanya pasien diobati hanya berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pengelolaan asma dalam hal
ini ibarat mengobati nyeri dada sebagai suatu penyakit jantung
iskemik tanpa melakukan pemeriksaan EKG. Tes faal paru
khususnya tes reversibilitas perlu ditekankan sebagai pemeriksa-
an yang penting untuk diagnosis dan tindak lanjut pengelolaan
asma.
Penelitian Intemasional menunjukkan bahwa di Inggris,
New Zealand, dan Australia pemeriksaan pre terapi Arus Puncak
Ekspitusi (APE) pada pasien asma dilaksanakan mendekati 100%,
dan pengukuran rekaman rutin harian APE oleh pasien sebesar
42,1%. Penelitian asma berdasarkan Iaporan 1.197 dokter Asia
termasuk Indonesia (7.1%) yang terdiri dari pulmonologis, inter-
nis, ahli anak dan ahli alergi mendapatkan penegakan diagnosis
asma yang biaya dilakukan di Asia seperti terlihat pada Tabel 1
(8)
.
Tes reversibilitas rata-rata di Asia yang dikerjakan pada 45%
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
6
background image
Tabel 1. Pemeriksaan diagnostik pada asma dari 12 negara Asia
Anamnesis Auskultasi
Tes
umum
Tes
reversibilitas
Eosinofil
darah
Tes
alergi kulit
IgE
spesifik
Tes
steroid po
Tes prov.
non alergi
Prosentase 91
87.5 67.4 45
11.8 27.3 24.1 21.8 9.3
pasien, oleh dokter ahli di Indonesia prosentase pelaksanaan pe-
meriksaan ini jauh lebih rendah walaupun tes alergi kulit di-
kerjakan pada 18,1%
01
.
4) Sistim Pengelolaan Asma
Pengelolaan asma belum menyeluruh terhadap berbagai
aspeknya secara sistimatik dan kontinyu. Terapi belum tuntas
dan umumnya baru ditujukan untuk mengatasi gejala asmanya
saja. Pengelolaan secara sistimatis seharusnya mencakup: a)
Penegakan diagnosis lengkap; tingkat beratnya asma, faktor
pencetus dan presipitasi. b) Kerjasama yang kontinyu antara
dokter (klinik/RS) dengan pasien dan lingkungannya (di rumah
dan tempat kerja). c) Upaya mengatasi bronkospasme/serangan
dengan tempi akut dan terapi pencegahan di klinik/RS dan di
rumah, pencegahan serangan dengan mengatasi faktor trigger
dan inducer. d) Pilihan obat yang tepat berupa suatu sistim
.
dengan pemilihan steroid sebagai terapi asma utama yang di-
tujukan untuk mengatasi inflamasi pada semua tingkat asma,
kecuali yang paling ringan
(9)
. Pada waktu ini disarankan terapi
asma sebagai berikut: jenisnya adalah CBA (corticosteroid, b2
agonis, aminofilin), terpilih dalam bentuk obat inhalasi, dengan
dosis yang adekuat secarateratur, bilaperlu kontinyu. e)
Tersedia pedoman tartans bagi pasien untuk pelaksanaan di
rumah: membiasakan tindak lanjut dengan pengukuran APE
(menggunakan Peak Flow Rate Meter), melaksanakan usaha
rehabilitasi atau preventif. f) Upaya pengelolaan asma yang
dilakukan secara gigih dan teratur.
5) Pembiayaan dan cara terapi
Obat asma inhalasi terutama obat inhalasi kortikosteroid
mahal. Obat asma per oral tetap dapat dipakai asal dikontrol
dengan baik.
6) Peningkatan limn dan keterampilan dokter serta penyu-
luhan kepada masyarakat
Hal ini telah Bering didengung-dengungkan namun pelak-
sanaannya belum cukup. Di camping itu perlu dilakukan pe-
nyiapan tenaga paramedis ataupun non medis sebagai petugas
penyuluhan di klinik/RS.
7) Penelitian asma dan perencanaan pengelolaannya
Data studi epideminlogi membantu usaha pencegahan asma
dan perencanaan peningkatan pengelolaan asma yang lebih balk.
Untuk ini diperlukan tatacara dan koordinasi pendataan asma
yang haik, serta perlu dibuat protokol yang seragam agar data
dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya secara nasional.
Penelitian asma yang balk antara lain dari International
Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) yang
diselenggarakan di 15 negara dan terdiri dari 2 bagian yaitu
kuesioner dan tes atopi serta HRB
(1)
.
Di Indonesia belum ada data yang lengkap mengenai ber-
bagai aspek asma misalnya yang berkaitan dengan keadaan
morbiditas/mortalitas, atopi, faktor predisposisi dan pencetus,
penyulit, dan pengelolaannya. Penelitian umumnya baru di-
lakukan dalam bentuk kuesioner pada lingkungan terbatas. Hal
ini merupakan hambatan untuk melakukan rencana pengelolaan
yang lebih terarah.
Berdasarkan hal-hal tersebut di alas jelaslah bahwa perlu
dilakukan berbagai hal antara lain, penyebarluasan
pengetahuan mengenai asma, pelaksanaan pengelolaan yang
sistimatik, serta penelitian yang baik agar dapat terlaksana
pengelolaan asma yang benar. Diharapkan kelak akan dapat
tercapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik dan
peningkatan produktifitas kerja pasien asma.
STRATEGI PENGELOLAAN ASMA
Berbagai hal tersebut di alas diharapkan dapat diatasi dan
dilaksanakan dengan suatu sistim pengelolaan asma praktis yang
dilaksanakan bersama-sama oleh pihak medisi dan pasien
untuk mendapatkan suatu kontinuitas pengelolaan asma di
sarana pela-yanan kesehatan dan di rumah pasien. Dengan cara
ini gangguan penyakit dapat diatasi dan seterusnya
serangannya dapat dicegah. Perlu dilaksanakan koordinasi
dalam peningkatan tata cara serta upaya pengelolaan asma
dengan didasarkan pada pendataan asma yang baik.
1) Dasar strategi pengelolaan asma
Petunjuk Pengelolaan Asma Internasional misalnya Inter-
national Consensus Report on Diagnosis and Management of
Asthma
(9)
, atau Global Initiative For Asthma
(10)
.
Pelaksanaan pedoman pengelolaan asma secara nasional di
Indonesia harus mengusahakan :
a)
pembentukan tim pelaksana asma lokal/nasional.
b)
adaptasi pedoman asma internasional/nasional pada pema-
kaian lokal dengan mempertimbangkan:
keadaan sosioekonomis, yaitu kemampuan daya beli yang
rendah
kultur, sikap pasien yang menganggap asma sebagai pe-
nyakit yang tidak dapat disembuhkan
kebiasaan dokter dalam menulis resep; misalnya kecende-
rungan memberikan sedatif atau anti alergi
(2)
, dan pemberian
campuran obal asma yang rasional.
c)
pelaksanaan petunjuk dalam bentuk protokol dan
formulasi yang jelas.
d) kerjasama yang mantap dalam penggunaan protokol oleh
pusat kesehatan dan pasien agar tercapai kelola diri yang baik.
d) evaluasi pelaksanaan pedoman pengelolaan asma
(2)
.
Telah dipublikasikan pedoman pengelolaan asma yang
baik
(9,10)
. Di Bandung telah dikeluarkan buku Perlman Penge-
lolaan Asma Berobat Jalan (1994) yang mencoba mengupayakan
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 7
background image
hal tersebut
(11)
.
2) Sarana
Perlu dipenuhi adanya hal-hal sebagai berikut :
a) Sistimatika pengelolaan asma yang menyeluruh berdasar-
kan patogenesis asma yang mutakhir.
b) Personil medik yang paham dan trampil mengelola asma.
c)
Pemahaman dan ketrampilan penderita dalam merawat
dirinya sendiri.
d)
Penyediaan pusat-pusat kegiatan pengelolaan asma Serta
peralatan diagnostik dan terapi yang memadai.
3) Cara
Penyediaan buku pedoman penegakan dan pengelolaan asma
yang berdasarkan kepada patogenesis yang terbaru.
Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kalangan medik
(dokter dan paramedik), serta non medik dalam mengelola asma
berdasarkan ilmu dan metoda terbaru.
Meningkatkan pengetahuan. ketrampilan dan kerjasama dari
pasdien asma. kalangan masyarakat/keluarganya mengenai cara-
cara pengelolaan asma.
Menganjurkan, ikut membina dan bila perlu membangun
pusat-pusat pelayanan asma (di RS, puskesmas, klinik). per-
kumpulan masyarakat (misalnya klub asma) dan kegiatan lain-
nya untuk pencapaian maksud di atas.
Mengumpulkan data epidemiologi asma pada pusat-pusat
kesehatan yang akan bermanfaat untuk pengelolaan asma se-
lanjutnya di Indonesia.
Membuat perencanaan pengelolaan asma lebih lanjut.
4) Bentuk kegiatan
Pendidikan :
a) Personil medik
·
Ceramah kepada personil medik pada pusat-pusat kesehatan
·
Mengadakan demonstrasi/petunjuk mengenai cara-cara :
­ diagnostik dan evaluasi asma di klinik/rumah. antara lain
penggunaan Peak Flow Meter
­ pemberian terapi inhalasi atau bentuk lainnya
­ rehabilitasi medik paru
­ pencegahan terhadap labor pencetus asma
­ tindakan mengatasi serangan asma akut
·
Membantu pendirian klinik asma.
b) Penderita atau masyarakat
Mengadakan penyuluhan mengenai asma dengan cara :
·
Penyuluhan langsung dan tanya jawab
·
Memberikan materi cetakan atau bentuk lainnya mengenai
cara-cara pengelolaan asma yang baik :
-
penggunaan PEFR dan cara pemeriksaan APE
-
cara penggunaan alat terapi yang benar
-
cara latihan paru/rehabilitasi
­ cara-cara menghindari labor pencetus/pemberat asma
­ cara pencatatan/pelaporan evaluasi terapi asma
·
Pendirian pusat-pusat pelayanan kesehatan asma.
Untuk tahap permulaan bisa dilakukan oleh 2-4 orang
personil, yaitu : dokter. perawat, fisioterapis
·
Mengumpulkan data epidemiologik dan hasil evaluasi.
5) Rencana Kegiatan
1) Rencana Jangka Pendek
·
Melakukan uji coba pelaksanaan pengelolaan asma terpadu
pada suatu pusat percontohan pelayanan kesehatan asma
·
Menjajagi kemungkinan kerjasama pelaksanaan dengan :
­ instansi pendidikan kedokteran
­ instansi kesehatan
­ badan-badan pemerintah dan swasta yang berminat.
2) Rencana Jangka Panjang
Meluaskan usaha memasyarakatkan cara perawatan asma
yang baik agar :
·
dilaksanakan pula oleh pusat-pusat kesehatan lainnya
·
mencakup kegiatan yang lebih luas. Misalnya pendirian
perkumpulan kemasyarakatan pasien asma.
KEBUTUHAN SARANA
1) Sarana instansional:
·
Klinik khusus pengelolaan asma di Rumah Sakit/pusat
pelayanan kesehatan lainnya
2) Sarana Personil dan ketrampilannya:
·
Dokter ahli penyakit dalam/anak/paru.
·
Dokter ahli rehabilitasi medik,
·
Dokter umum, atau dokter ahli lain yang berminat
·
para medik, ahli fisioterapi
·
personal lain yang berkecimpung dalam pengelolaan asma.
3) Sarana peralatan, berupa alat yang portabel ataupun tidak :
·
Evaluasi asma: spimmetri, PF Meter, tes alergi, labora-
torium (sel eosinofil, IgE). dan alat radiologi
·
Alat peraga dan informasi
­ terapi asma: obat inhalasi dan alat bantunya
­ set oksigen
­ alat rehabilitasi medik
­ audiovisual, cetakan (brosur, booklet)
·
Sarana informasi dan cetakan (brosur, kuesioner)
·
Transportasi/honor petugas.
Demi keberhasilan usaha pengelolaan asma yang baik perlu
ditegakkan motto: Kelola dan obatilah asma dan bukan hanya
gejalanya.
RINGKASAN
Prevalensi asma meningkat di seluruh dunia. Hal ini di-
sebabkan terutama oleh pengertian yang salah mengenai asma,
pedoman dan pelaksanaan pengelolaan asma yang tidak lengkap
atau sistimatis, sera sangat kurangnya data dan perencanaan
lanjutan.
Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilaksanakan strategi
pengelolaan asma berdasarkan pedoman pengelolaan yang
lengkap dan sistimatik. Kerjasama yang erat di antara para dokter
dan petugas medik lainnya dengan penderita asma sangatlah di-
perlukan untuk mencapai hasil yang sebaik-haiknya. Dengan
upaya ini diharapkan akan tercapai penyebarluasan cara penge-
lolaan asma preventif dan kuratif yang sesuai dengan perkem-
bangan limo dan metoda pengelolaan asma yang mutakhir. Dan
akan tercapai pula penurunan angka morbiditas maupun mortali-
tas yang diakibatkan oleh asma ataupun komplikasinya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
8
background image
KEPUSTAKAAN
1. Woolcock A. Epidemiology asthma - worldwide trends. Airways in
asthma. Effects of treatment. August 1994. Penang Malaysia. Excerpta
Medica 1995: 36-38.
2. Tan WC. Asthma in South Asia-What are the issues? Strategy for reducing
asthma mortality, by Halgate ST. Proc. 12th Asia Pacific Congress on
Diseases of the Chest. Seoul. Korea. 1992 2 I.
3. Pingleton SK. Advances in Respiratory Critical Care. J Crit Care 1966
1-2.
4. Michel FB. Neukirch F. Housyuel J. Asthma: a world problem of public
health. Bull Acad Natl Med 1995 Feb; 199(2): 279-93. discuss. 293-7.
(Abs.).
5. Akiyama K. Review ofl epidemiological studies on adult bronchial asthma.
National Sagamihara Hospital. Japan. Nippon Kyobu Shikkan Gakkai
Zasshi 1994 Dec.; 32 Suppl. 200­10.
6. Soena Stxmantri ES. Epidemiologi asma di Indonesia. Buku Makalah
Lengkap Penemuan Ilmiah Recent Advances In Respiratory Medicine.
Konkemas Peikumpulan Dokter Paru Indonesia. 6-9 Juli 1995.
7. Sly MS. Changing in asthma mortality. Ann Allerg 1994; 73. 259-768.
8. Miyamoyo T, Mikawa H. Asthma management In Asia. The 8th Allergy
and Respiratory Diseases Conference. Life Science Medica Co, Ltd. Marc
1994 : 10­32, 14­54, 124­158.
9. Sheffer AL. International consensus Report on Diagnosis and management
of Astma. US Departement of Health and Human Services. Clinical and
Experimental Allergy, May 1992. Vol. 2. Suppl. I.
10. Lenfant C. Global Initiative for Asthma. Global Strategy For Asthma
Management And Prevention. NHLBI/WHO Workshop Report. March
1993. National Institute of Health. Publication No.: 95-1659. Januari 1995.
11. Dahlan Z. Pedoman Pengelolaan Asma Bronkiale Berobat jalan. Balai
Informasi Asma Bina Husada, Bandung, 1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 9