1. MASALAH UMUM
Kebijaksanaan Pemberantasan Penyakit
Parasit di lndonesia
Adhyatma MPH
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Menular, Departemen Kesehatan R.I.
PENDAHULUAN
Penyakit menular merupakan salah satu masalah kesehat-
an utama di Indonesia. Dari survey rumah tangga (house hold
survey) yang diadakan oleh Departemen Kesehatan pada
tahun 1972 ternyata bahwa 60% dari penyakit yang ada di
Indonesia adalah penyakit menular. Dari sejumlah kasus-
kasus penderita penyakit tersebut tercakup pula sejumlah
besar kasus-kasus penderita penyakit parasit.
Sesuai dengan prioritasnya, berbagai parasit telah ditanggu-
langi secara bertahap. Pemberantasan malaria telah dimulai
sejak sebelum perang dunia kedua kemudian ditingkatkan
menjadi pembasmian malaria di Jawa dan Bali mulai tahun
1952. Setelah melalui kemunduran akibat situasi politik dan
dengan dimulainya Pelita I maka pemberantasannya dapat
dimulai lagi dengan perencanaan lebih mantap pada tahun
1969.
Penyakit filaria mulai dikembangkan pemberantasannya pada
Pelita I dan sejak Pelita II dapatlah dimulai pemberantasannya
secara sistematik. Sementara itu penyakit schistosomiasis
memerlukan penelitian dan pengembangan metodologi pem-
berantasannya sampai akhir Pelita II dan baru dapat dimulai
pemberantasannya secara terbatas pada Pelita III . Penyakit
parasit lainnya yang juga sudah dimulai pemberantasannya
secara terbatas adalah penyakit-penyakit cacing yang ditular-
kan lewat tanah.
Sementara itu penyakit-penyakit parasit lainnya yang belum
ditanggulangi masih memerlukan penelitian untuk mengetahui
besar masalahnya dan metoda intervensinya.
PEMBERANTASAN PENYAKIT PARASIT SEBAGAI SA-
LAH SATU KOMPONEN DALAM PEMBANGUNAN NA-
SIONAL BIDANG KESEHATAN.
Dari berbagai penelitian telah diketahui adanya hubungan
timbal balik antara keadaan gizi dan berbagai penyakit parasit
di mana keadaan gizi yang buruk akan memperberat keadaan
penyakit parasit yang diderita dan sebaliknya adanya penya-
kit parasit yang memperburuk keadaan gizi.
Selain itu diketahui pula bahwa perilaku serta lingkungan
fisik dan biologis sangat besar pengaruhnya terhadap adanya
berbagai penyakit parasit dalam masyarakat. Kebiasaan mem-
buang kotoran (tinja) di tempat yang tidak tertutup memung-
kinkan timbulnya pencemaran tanah dengan ova dan larva
dari berbagai parasit perut yang selanjutnya dapat berkembang
dan menimbulkan infeksi lewat kulit. Demikian pula air dapat
memainkan peranan penting dalam penularan berbagai penya-
kit parasit, yaitu sebagai medium untuk infeksi dari aquatic
intermediate host atau sarana dari parasit untuk mencemari
makanan. Lingkungan fisik perumahan yang tidak memadai
telah memungkinkan berbagai macam arthropoda menimbul -
kan infeksi berbagai penyakit parasit, yaitu sebagai pembawa
parasit secara mekanis maupun sebagai intermediate host.
Keadaan seperti tersebut di,atas dapat kita temukan terutama
pada penduduk yang tidak mampu dipedesaan dan di kota,
serta tidak mendapat pendidikan untuk mengetahui cara-
cara pencegahannya.
Mengingat adanya kaitan yang erat dan timbal balik antara
infeksi penyakit parasit dengan keadaan gizi, perilaku, ling-
kungan fisik serta tingkat sosial ekonomi dari masyarakat
maka pemberantasan penyakit parasit tidak dapat berdiri
sendiri dan harus merupakan bagian atau komponen dari
pembangunan nasional di bidang kesehatan. Berhubung dengan
itu maka strategi pemberantasan dari berbagai penyakit
parasit haruslah berlandaskan kebijaksanaan dan langkah-
langkah pokok dari Rencana Pembangunan Lima Tahun
Bidang Kesehatan yang arahnya ditentukan oleh Garis-garis
Besar Haluan Negara.
KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN LIMA TAHUN KE-
TIGA DIBIDANG KESEHATAN.
Di dalam Kebijaksanaan Pembangunan Lima Tahun Ketiga
disebutkan antara lain bahwa Tujuan umum pembangunan
kesehatan adalah untuk mengusahakan kesempatan yang
lebih luas bagi setiap penduduk untuk memperoleh derajat
kesehatan yang sebaik-baiknya dengan mengusahakan pelayan-
an kesehatan yang lebih luas, lebih merata dan terjangkau
terutama oleh masyarakat berpenghasilan rendah baik di desa
maupun di kota serta dengan peran-serta aktif dari masyarakat.
Untuk mencapai tujuan umum tersebut maka landasan kebi-
jaksanaan umum dalam peningkatan pelayanan kesehatan
adalah sbb. :
1.
Pelayanan kesehatan ditujukan terutama kepada golongan
masyarakat berpenghasilan rendah baik di desa maupun
di kota.
2.
Pelayanan kesehatan diutamakan pada usaha kesehatan
pencegahan dan pembinaan.
3.
Kegiatan dalam pelayanan orang sakit diutamakan peng-
obatan jalan, serta ditujukan untuk memberikan pelayan-
an kesehatan secara merata dengan peran serta aktif
dari masyarakat.
Dengan didasari oleh kebijaksanaan umum tsb. di atas maka
di dalam Program Pemberantasan Penyakit Menular disusun-
lah kebijaksanaan yang mencakup a.l. prioritas pemberantasan,
cara pendekatan pemberantasan serta cara pelaksanaan pem-
berantasan.
Adapun kebijaksanaan dalam program pemberantasan penya-
kit menular adalah sbb. : Dalam menentukan penyakit mana
yang akan diberantas dipertimbangkan faktor-faktor sbb. :
angka kesakitan atau angka kematian yang tinggi,
menyerang terutama golongan anak-anak dan golongan
usia produktif,
menyerang terutama penduduk di daerah pedesaan atau
penduduk yang berpenghasilan rendah di daerah perkota-
an,
menyerang terutama daerah-daerah pembangunan eko-
nomi,
1
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
-- adanya metodologi yang efektif dan efisien untuk mem-
berantas penyakit tsb.
-- serta adanya ikatan perjanjian dengan luar negeri (Inter-
national Health Regulation).
Kegiatan pemberantasan sejauh mungkin diintegrasikan dalam
sistem pelayanan kesehatan dan dengan mengikutsertakan
masyarakat secara aktif.
Cara pelaksanaan pemberantasan penyakit menular dilakukan
a.1. dengan menghilangkan sumber/pembawa penyakit, mem-
perbaiki lingkungan, mencegah hubungan dengan penyebab
penyakit atau memberikan kekebalan kepada penduduk.
Kebijaksanaan tsb. diatas merupakan landasan bagi penyusun-
an strategi pemberantasan berbagai penyakit parasit.
STRATEGI PEMBERANTASAN BERBAGAI PENYAKIT
PARASIT
1.
PENYAKIT MALARIA
1.1.
Keadaan dan masalah
Mengingat perkembangan pemberantasan malaria di Jawa/Bali
dan diluar Jawa/Bali adalah berbeda maka keadaan dan ma-
salah malaria di Jawa/Bali dipisahkan dengan keadaan dan
masalah malaria diluar Jawa/Bali.
Di Jawa/Bali terjadi penurunan A.P.I. sejak tahun 1974
secara lambat.
Tabel 1. A.P.I. MALARIA DI JAWA/BALI 1974 - 1979.
TAHUN
A.P.I. (per seribu)
1974
1975
1976
1977
1978
1979
2,73
1,45
1,11
1,23
1,39
0,77
(s/d Nop.
1979)
Sumber : Sub. Dit. Malaria.
Penyebaran kasus malaria di Jawa/Bali ternyata tidak merata
tetapi terjadi konsentrasi dari kasus di beberapa fokus (High
Case Incidence Areas) di mana A.P.I. nya per kecamatan dapat
mencapai 18 per seribu. Di samping daerah-daerah fokus
malaria terdapat pula daerah-daerah di mana endemisitas
malaria adalah rendah untuk waktu yang lama sehingga timbul
kelompok-kelompok penduduk yang tidak imun lagi terhadap
malaria.
Dengan makin membaiknya transportasi terjadi influx dari
penderita malaria dari luar Jawa/Bali; hal ini terjadi a.1. karena
para transmigran yang kembali ke Jawa/Bali secara berkala.
Di Jawa/Bali species yang dominan pada umumnya adalah
P. vivax. Di sebagian daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur
terdapat vektor malaria yang telah resisten terhadap racun
serangga DDT.
Di luar Jawa/Bali keadaan malaria pada umumnya belum
dapat diturunkan karena daerah pemberantasannya masih
sangat terbatas. Di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi ter-
dapat daerah-daerah yang luas dengan malaria yang meso-atau
hiper-endemis. Dapat pula ditemukan daerah hipo-endemis di
Sumatera dan Sulawesi. Beberapa daerah yang hiper- dan
holo-endemis dapat ditemukan dibeberapa pulau di Indonesia
bagian Timur. P. malariae dalam jumlah yang banyak dapat
ditemukan di beberapa daerah di NTT sedangkan P. ovale
telah ditemukan di Biak dan Owe di Irian Jaya. Dari hasil-
hasil survey maupun dari passive case detection di unit-unit
kesehatan dilaporkan 600.000 sampai 800.000 penderita
klinis malaria.
Mengingat jangkauan unit-unit kesehatan
di luar Jawa/Bali masih sangat terbatas maka diperkirakan
jumlah kasus malaria yang sebenarnya adalah jauh melampaui
jumlah yang dilaporkan. Selain itu di Kalimantan Timur dan
di Irian Jaya telah ditemukan strain P. falciparum yang resis-
ten terhadap chloroquin.
Dengan adanya perpindahan penduduk dari Jawa/Bali yang
sebagian besar adalah non-imun terhadap malaria ke luar Jawa/
Bali di mana malaria masih endemis maka kelompok penduduk
tersebut (para transmigran) merupakan high-risk-population,
dan timbullah kemungkinan terjadinya wabah malaria di
kalangan para transmigran dengan angka kematian yang tinggi
terutama bila yang menyerang adalah P. falciparum.
1.2.
Strategi pemberantasan
Di Jawa/Bali.
--
meningkatkan pemberantasan malaria diHCI dan di mana
perlu dengan mempergunakan racun serangga lainnya
khususnya bila HCI tsb. ada di daerah di mana vektor
malarianya telah resisten terhadap DDT.
--
meningkatkan surveillance epidemiologi terutama dalam
menghadapi influx penderita malaria dari luar Jawa/Bali.
--
mengadakan monitoring susceptibility vektor terhadap
DTT.
--
mengadakan monitoring susceptibility parasit terhadap
chloroquin.
--
melindungi para transmigran yang akan berangkat ke luar
Jawa/Bali dengan memberikan pengobatan pencegahan
dengan chloroquin.
-- bekerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian untuk
melaksanakan applied research khususnya untuk meng-
atasi masalah-masalah setempat.
Di luar Jawa/Bali.
--
meluaskan pemberantasan malaria ke luar Jawa/Bali
secara terbatas dengan mengutamakan daerah transmi-
grasi, daerah-daerah prioritas sosial ekonomi dengan P.R.
lebih tinggi dari 2% dan daerah-daerah dengan P.R. lebih
dari 2% dimana P. falciparum adalah dominan.
--
meningkatkan dan memperluas penyelidikan lapangan
untuk mengetahui epidemiologi dan entomologi malaria
secara lebih tepat.
--
mengadakan monitoring susceptibility parasit terhadap
chloroquin.
--
melindungi para transmigran dengan cara menyemprot
rumah yang akan ditempati dengan DDT dan sanitasi
lingkungan pemukiman.
--
meningkatkan partisipasi dari Puskesmas dalam surveil-
lance dan pengobatan malaria.
--
bekerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian untuk
melaksanakan applied research khususnya untuk meng-
atasi masalah-masalah setempat.
Mengingat pentingnya peran serta aktif dari masyarakat serta
pentingnya koordinasi lintas sektoral maka :
Simposium Masalah Penyakit Parasit
2
perlu ditingkatkan peran serta masyarakat dalam penemu-
an penderita dan pengobatan penderita malaria.
perlu meningkatkan koordinasi lintas sektoral terutama
dengan sektor-sektor yang kegiatan pembangunannya
mempunyai pengaruh terhadap angka malaria.
2.
PENYAKIT FILARIA
2.1.
Keadaan dan masalah
Di Indonesia ditemukan tiga jenis parasit yaitu Wuchereria
bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Parasit-parasit
tersebut tersebar luas di Indonesia, sedangkan vektor penular-
nya adalah berbagai jenis nyamuk Anopheles, Culex dan
Mansonia. Pada beberapa tempat di Indonesia terutama di
Jawa tampak bahwa prevalensi penyakit menurun atau meng-
hilang dan pada beberapa tempat lainnya terutama di daerah
pedusunan prevalensi penyakit masih tinggi. Rata-rata preva-
lensi penyakit filaria di Indonesia adalah 10 persen.
Table 2.
DISTRIBUSI DAN PREVALENSI PENYAKIT FILARIA
DI INDONESIA
Daerah disurvey
Jumlah
Kab. Desa
Jumlah penderita
diperiksa
M.F. rate (%).
rata-rata.
Jawa dan Bali
13
29
5.828
1,9
Sumatera
26
188
49.889
5,3
Kalimantan
17
136
49.691
9,2
Sulawesi
12
170
40.080
14,2
Maluku, Irian
dan Nusatenggara
10
53
9.737
23,0
Jumlah
98
385
149.397
10,0
Catatan :
memakai sediaan darah tebal dengan Giemsa dari 20mm
3
darah finger tip.
Sumber :
Sub. Dit. Filaria.
Peradangan saluran dan kelenjar getah bening pada pen-
derita-penderita di daerah endemis dengan intensitas infeksi-
nya yang tinggi dapat menyebabkan penderita kehilangan
hari kerja sampai seminggu dalam waktu 3 bulan.
Diantara para transmigran yang berasal dari daerah non-
endemis di Jawa/Bali dan ditempatkan didaerah endemis
filaria diluar Jawa/Bali gangguan peradangan dan demam
timbul dengan tanda-tanda Iebih menonjol daripada penduduk
asli daerah yang bersangkutan.
Pemberantasan
penyakit
tsb.
dengan
cara
pengobatan
massal pada penduduk di daerah endemis telah dapat me-
nurunkan prevalensi penyakit dengan meyakinkan namun
efek sampingan dari pengobatan di beberapa daerah telah
merupakan hambatan dalam pemberantasan.
2.2.
Strategi pemberantasan.
--
daerah prioritas pemberantasan adalah daerah prioritas
sosial ekonomi dan daerah transmigrasi dengan endemisi-
tas yang tinggi.
di daerah-daerah transmigrasi dengan endemisitas tinggi
perlu diadakan tindakan-tindakan pemberantasan untuk
menurunkan endemisitasnya sebelum para transmigran
tiba di daerah tersebut.
metode pemberantasannya adalah pengobatan
massa
dengan DEC untuk daerah-daerah dengan Mf. rate lebih
dari 2%.
perlu ditingkatkan penyuluhan kesehatan masyarakat
untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pem-
berantasan filaria.
meningkatkan kerjasama dengan lembaga penelitian untuk
mengembangkan metode pengobatan massa yang efektif
dengan efek sampingan seminim mungkin, dan mengem-
bangkan metode pemberantasan vektor penular terutama
untuk daerah-daerah yang penyakit filarianya bersifat
zoonotik.
3.
PENYAKIT SCHISTOSOMIASIS
3.1.
Keadaan dan masalah.
Penyakit ini diketahui endemis di daerah yang terbatas yaitu
di sekitar danau Lindu, lembah Napu, dan daerah Besoa,
semuanya terdapat di Propinsi Sulawesi Tengah. Parasitnya
adalah dari jenis Schistosoma japonicum dan hospes perantara-
nya adalah keong dari jenis Oncomelania hupensis linduensis.
Di samping menyerang penduduk di daerah tersebut, parasit
ini juga menyerang binatang piaraan dan binatang buas.
Penyebarannya di ketiga daerah tsb. adalah sbb. :
Table 3.
PENYEBARAN DAN PREVALENSI SCHISTOSOMIASIS
DI SULAWESI TENGAH
Daerah disurvey
Penduduk diperiksa
Prev. (%)
Lembah Linu (4 desa)
1417
berkisar antara 12 - 57
Lembah Napu (9 desa)
936
"
12 - 67
Daerah Besoa (4 desa)
405
"
1-8
Sumber :
Sub. Dit. Schistosomiasis.
Prevalensi berkisar antara 1 sampai 67 persen. Dalam pemerik-
saan klinis banyak di antara penderita ditemukan pembesaran
hati dan pembesaran limpa dan sebagian kecil dengan gejala
ascites.
Jumlah penduduk yang tinggal di daerah endemis adalah kira-
kira 10.000 dan mengingat banyaknya pergerakan penduduk
ke daerah endemis tersebut untuk bertani maka jumlah pen-
duduk yang terancam bertambah. Selain itu dengan akan
dibuatnya jalan Trans Sulawesi yang menyinggung daerah
endemis tsb. maka penyebaran penyakit tsb. ke daerah lain
akan menjadi lebih besar.
3.2.
Strategi pemberantasan.
perlu peningkatan pemberantasan penyakit tsb. untuk
mencegah kemungkinan penyebaran ke daerah lain.
metode intervensi adalah suatu kombinasi antara peng-
obatan penderita, pemberantasan keong, perbaikan sani-
tasi lingkungan, dan agroengineering untuk mengeringkan
daerah-daerah rawa yang merupakan fokus dari keong.
mengadakan kerjasama lintas sektoral khususnya untuk
melaksanakan agroengineering tsb. di atas.
mengadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga peneliti-
an untuk mengadakan penelitian-penelitian untuk menun-
jang program pemberantasan.
4.
PENYAKIT CACING PERUT YANG DITULARKAN
LEWAT TANAH
4.1.
Keadaan dan masalah
Angka kesakitan karena penyakit cacing perut (intestinal
helminths) adalah cukup tinggi di Indonesia, terutama di -
antara penduduk pedesaan dan penduduk dengan tingkat
3
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
sosio-ekonomi yang rendah. Dari penelitian di Sulawesi Sela-
tan, Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing oleh Cross
JH et al, Clarke MD et al ditemukan bahwa 90% dari pen-
duduk yang diperiksa paling sedikit diinfeksi oleh satu macam
cacing, 80% oleh dua macam cacing dan 60% oleh tiga macam.
Hasil survey cacing-cacing yang ditularkan melalui tanah oleh
Departemen Kesehatan antara tahun I975 s/d tahun I980 di
18 lokasi tersebar di 16 propinsi mencakup 6590 orang me-
nunjukkan bahwa prevalensi infeksi cacing
yang
ditularkan.
melalui tanah adalah cukup tinggi yaitu berkisar antara 60 -
90%. Telah diketahui pula bahwa adanya hubungan yang
timbal
balik antara
investasi
parasit
dengan keadaan
gizi khususnya gizi anak, demikian pula ada kaitannya yang
erat dengan perilaku dan lingkungan pemukiman.
4.2.
Strategi pemberantasan
--
mengingat masih terbatasnya sarana maka prioritas pem-
berantasan diberikan kepada daerah produksi vital yaitu
perkebunan, pertambangan dan transmigrasi.
metode pemberantasannya adalah dengan pengobatan
penderita dan perbaikan kesehatan lingkungan.
meningkatkan penyuluhan kesehatan masyarakat untuk
mendorong masyarakat berpartisipasi serta melaksanakan
sendiri pencegahan dan pemberantasan penyakit ini.
untuk mendapatkan dampak yang lebih baik bagi derajat
kesehatan
maupun kesejahteraan
masyarakat
maka
pemberantasan penyakit cacing yang ditularkan lewat
tanah dapat diintegrasikan pada usaha-usaha lainnya
seperti usaha perbaikan gizi maupun kegiatan keluarga
berencana.
KESIMPULAN
1. Penyakit parasit di Indonesia masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting, terutama bagi rakyat
pedesaan dan rakyat yang berpenghasilan rendah di desa
maupun di kota.
2. Mengingat adanya kaitan yang sangat erat antara masalah
penyakit parasit dengan berbagai masalah lainnya seperti
misalnya masalah gizi, perilaku, lingkungan fisik dan
biologis serta tingkat sosio-ekonomi dari rakyat maka
pemberantasan penyakit parasit haruslah merupakan
salah satu komponen dalam pembangunan nasional
bidang kesehatan.
3. Berhasilnya pemberantasan penyakit parasit tidak ter-
gantung dari pemberantasan penyakit parasitnya melulu
tetapi juga tergantung seberapa jauh sektor-sektor lainnya
dalam kegiatan pembangunan di sektor masing-masing
dapat memberikan dampak yang positip bagi berkurang-
nya penyakit parasit.
4. Kelestarian hasil pemberantasan penyakit parasit hanya
dapat terjamin bila masyarakat yang bersangkutan ikut
serta secara aktif.
5. Peranan penelitian adalah penting untuk menunjang
program pemberantasan penyakit parasit dan karena itu
kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian perlu di-
tingkatkan.
Masalah Penyakit Malaria di Jawa Tengah
Soebodro MPH
Kepala Kantor
Wilayah Departemen Kesehatan/Dinas Ke-
sehatan Propinsi Jawa Tengah.
1. PENDAHULUAN
Penyakit malaria di Jawa Tengah sudah lama dikenal
sebagai penyakit rakyat yang telah menjadi problema kesehat-
an sejak jaman penjajahan Belanda, Jepang dan masa perang
kemerdekaan, bahkan sampai dengan masa pembangunan
sekarang ini. Hampir semua daerah Tingkat II di Jawa Tengah
pernah dilanda oleh penyakit ini walaupun dengan angka
penderita mempunyai tingkatan yang berbeda. Sebelum
± I960 malaria lebih banyak diderita oleh penduduk daerah
pantai baik daerah pantai Selatan Jawa Tengah seperti Cilacap,
Kebumen dan Purworejo maupun Pantai Utara seperti Brebes,
Tegal, Batang sampai ke Rembang. Semenjak waktu tersebut
sampai dengan sekarang penyakit malaria di Jawa Tengah
lebih banyak ditemukan di daerah-daerah pedalaman terutama
di daerah persawahan yang mempunyai persediaan air hampir
sepanjang tahun dan waktu tanam padi tidak bersamaan
seperti Banjarnegara, Wonosobo, dan Purbolinggo serta daerah-
daerah perkebunan dan kehutanan yang letaknya mempunyai
ketinggian ± 200 - 500 meter di atas laut, seperti Batang
Selatan, lereng gunung Muria di Kabupaten Jepara.
Menurut catatan sekarang penyakit malaria tidak menim-
bulkan banyak kematian seperti pada waktu-waktu yang lalu,
tetapi bagi perseorangan tetap menimbulkan kelemahan badan
dan gangguan gizi sehingga mudah timbul komplikasi penyakit-
penyakit lain.
Dan oleh karena penyakit malaria yang menurut sifatnya
mudah menyebar pada sejumlah penduduk terutama di daerah
persawahan, perkebunan dan kehutanan yaitu justru di daerah
produsen bahan pangan dan bahan-bahan expor vital, maka
bila penyakit tersebut tidak ditangani secara baik, akan dapat
menjadi problema kesehatan yang luas serta dapat mengham-
bat pelaksanaan pembangunan.
Dalam rangka peningkatan produksi pangan khususnya
beras, pemerintah terus berusaha meningkatkan areal sawah
dan penyediaan pengairan dengan membangun saluran saluran
dan waduk-waduk untuk irigasi, seperti waduk Sempor,
Wadaslintang, Wonogiri, Jratun Seruna dan sebagainya.
Hal tersebut secara tidak langsung akan memperluas pula
areal-breeding place vektor penyakit malaria. Sedangkan
pemberantasan penyakit Malaria dengan mempergunakan
insektisida selalu diikuti dengan efek-efek negatif yaitu polusi
lingkungan dan masalah resistensi vektor. Oleh karena itu
sangat
perlu segera dilakukan penelitian dan percobaan-
percobaan untuk mengatasi penyakit malaria dengan tindakan-
tindakan yang bersifat lintas sektoral.
2. SITUASI PENYAKIT MALARIA DI JAWA TENGAH
2.1. Metode Monitoring
Untuk mengetahui angka penyakit malaria, di Jawa Tengah
telah dilakukan aktivitas surveillance sejak kurang lebih tahun
I960 dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Pencarian penderita malaria secara aktif petugas Sektor
Malaria guna mendatangi dari rumah ke rumah atau dari
Simposium Masalah Penyakit Pazasit
4