background image
Artikel
HASIL PENELITIAN
Keadaan Kegemukan
di Kelurahan Kebon Kelapa, Bogor
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh
Djoko Kartono, Astuti Lamid
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor
PENDAHULUAN
Masalah gizi kurang di Indonesia sudah makin dapat
ditanggulangi dengan makin berhasilnya pembangunan ekonomi.
Pada saat bersamaan peningkatan kemakmuran, masalah gizi
lebih perlu segera mendapatkan perhatian
(1)
. Keadaan gizi lebih
telah dibuktikan di banyak negara maju dapat meningkatkan
kejadian penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner,
tekanan darah tinggi, diabetes melitus dan kanker. Meskipun di
Indonesia hubungan kegemukan dengan penyakit degeneratif
belum dapat dijelaskan tetapi kecenderungan peningkatan
penyakit tersebut cukup jelas
(2)
. Upaya mencegah peningkatan
penyakit degeneratif perlu dilakukan melalui pemasyarakatan
gaya hidup sehat antara lain dengan menjaga berat badan
sehingga tidak terjadi gizi lebih
(1,2)
.
Salah satu cara yang mudah untuk mengetahui keadaan gizi
adalah dengan menilai ukuran tubuh. Index berat/tinggi badan
merupakan suatu ukuran dari berat badan (BB) berdasarkan
tinggi badan (TB). Sebagai suatu ukuran komposisi tubuh, index
berat/tinggi dapat memenuhi kriteria yang diharapkan yaitu
mempunyai hubungan erat dengan jumlah lemak tubuh dan
hubungan yang rendah dengan tinggi badan atau komposisi
tubuh
(3)
. Dengan demikian nilai rasio berat badan menurut tinggi
badan orang yang bertubuh pendek tidak perlu dibedakan dengan
orang bertubuh jangkung/tinggi. Index berat/tinggi yang telah
banyak digunakan dalam survai maupun keperluan klinik adalah
index Quetelet yang kemudian oleh Keys dkk. disebut sebagai
Body Mass Index (BMI) atau Index Masa Tubuh (IMT)
(4)
. Nilai
IMT dapat memberikan indikasi kelebihan timbunan lemak tubuh
yang dapat dikaitkan dengan risiko penyakit
(5)
. IMT akan sangat
bermanfaat apabila dikaitkan dengan mortalitas, morbiditas dan
kemampuan berproduksi
(6)
. IMT yang secara garis besar dibeda-
kan menjadi tiga yaitu kekurangan berat (underweight), normal,
gemuk (overweight dan obese)
(7)
. Gemuk adalah apabila nilai
IMT lebih besar dari patokan normal dan umumnya akan terlihat
jelas adanya kelebihan lemak tubuh
(8)
.
Di negara industri maju data IMT sangat diperlukan terutama
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang kegemukan pada orang dewasa di Kelurahan
Kebon Kelapa Kotamadya Bogor mencakup 1580 responden berumur antara 20­60
tahun. Data yang dikumpulkan meliputi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan serta ukuran tubuh lainnya. Dalam makalah ini kegemukan ditentukan
berdasarkan. indek massa tubuh (IMT).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum kegemukan pada perempuan
cenderung sudah mulai lebih muda yaitu sebelum umur 30 tahun dibanding pada laki-laki
yaitu sesudah umur 40 tahun. Prevalensi kegemukan (IMT > 25.0) pada perempuan lebih
tinggi (31.9%) jika dibandingkan pada laki-laki (16.7%). Nilai rata-rata IMT perempuan
(23.4) secara statistik berbeda nyata (p < 0.001) dan IMT laki-laki (21.9). Kegemukan
pada perempuan cenderung terjadi pada kelompok yang mempunyai tingkat pendidikan
rendah dan yang mempunyai anak lebih banyak (lebih dari 2). Persentase kegemukan
juga lebih tinggi (p < 0.001) pada responden perempuan yang menggunakan alat
keluarga berencana dibandingkan yang tidak menggunakannya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
5
background image
untuk kepentingan yang berhubungan dengan masalah asuransi.
Sementara itu data tentang IMT untuk orang Indonesia yang
berasal dari survai suatu masyarakat belum banyak tersedia.
Data yang tersedia menunjukkan bahwa prevalensi kegemukan
pada laki-laki dan perempuan dewasa umur di atas 18 tahun
adalah 18% dan 24%
(9)
.
Di dalam tulisan ini disajikan hasil analisis IMT pada
orang dewasa umur 20 sampai 60 tahun serta kaitannya dengan
umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan serta alat keluarga
berencana yang digunakan oleh responden perempuan.
METODE
Responden penelitian adalah.penduduk Kelurahan Kebon
Kelapa Kotamadya Bogor berumur antara 20­60 tahun baik
laki-laki maupun perempuan tidak cacat fisik dan dapat berdiri
tegak. Kelurahan Kebon Kelapa terdiri dari 10 Rukun Warga
(RW) dan 44 Rukun Tetangga (RT). Dari 44 RT sebanyak
1580 responden dapat dicakup dalam penelitian ini.
Data yang dianalisis dalam makalah ini meliputi berat dan
tinggi badan, umur, jumlah anak dan alat keluarga yang diguna-
kan oleh responden perempuan.
Pengumpul data adalah tenaga yang telah berpengalaman
terutama dalam penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan. Penimbangan berat badan menggunakan detecto scale
dengan ketelitian 0.1 kg sedangkan pengukuran tinggi badan
menggunakan microtoise dengan ketelitian 0.1 cm. Pelaksanaan
pengumpulan data dilakukan dengan cara memberitahukan dan
mengundang responden untuk datang di rumah Ketua Rukun
Tetangga (RT). Pada saat ditimbang berat badan responden
mengenakan pakaian seringan mungkin dan tidak mengenakan
alas kaki pada saat pengukuran tinggi badan. Wawancara dengan
responden dilakukan untuk mendapatkan data umur, jumlah
anak dan alat keluarga berencana yang digunakan oleh ibu
rumah tangga.
Penentuan tingkat kegemukan berdasarkan Index Massa
Tubuh (IMT) yang dihitung dari berat badan dalam kilogram
(kg) dibagi tinggi badan dalam skala meter (m) kuadrat (BB/
TB, kg/m
2
. Setiap responden baik laki-laki maupun perempuan
dihitung nilai IMTnya.
World Health Organization (1990) telah membuat suatu
klasifikasi yang dianjurkan untuk menilai kegemukan berdasar-
kan IMT (Tabel 1). Namun untuk alasan kemudahan dalam
makalah ini pengelompokan dilakukan sebagai berikut : IMT
< 18.5 sebagai kekurangan berat badan, IMT 18.5­25.0 sebagai
normal, IMT > 25.0 ­ 30.0 sebagai gemuk dan IMT > 30.0
sebagai obes.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebanyak 31 % responden berumur kurang dari 30 tahun
yaitu laki-laki 30.9% dan perempuan 30.8% sedangkan 7.3%
responden berumur lebih dari 50 tahun (laki-laki 7.8% dan
perempuan 6.8%). Hanya sebagian kecil responden mempunyai
tingkat pendidikan sampai perguruan tinggi.Pekerjaan responden
bervariasi tetapi sebagian besar responden perempuan adalah
Tabel 1. Klasifikasi Index Massa Tubuh (IMT) menurut World Health
Organization (WHO)
Klasifikasi
Index Massa Tubuh (IMT)
(kg/ml)
Kurang Energi Kronik:
Berat
< 16.0
Sedang
16.0
­ 17.5
Ringan
> 17.5 ­ 18.5
Kurang
> 18.5 ­ 20.0
Normal
> 20.0 ­ 25.0
Gemuk:
Kegemukan
> 25.0
­ 30.0
Obes
>
30.0
ibu rumah tangga. Dari kedua informasi terakhir di atas dapat
dikatakan bahwa responden yang dicakup dalam penelitian ini
merupakan lapisan sosial ekonomi bawah dan menengah.
Tabel 2 memperlihatkan keadaan IMT menurut umur dan
jenis kelamin orang dewasa. Sebanyak 30.9% responden laki-
laki dan 30.8% responden perempuan berumur kurang dari 30
tahun. Secara keseluruhan nilai IMT perempuan lebih tinggi
dari laki-laki.
Tabel 2. Persentase kelompok Index Massa Tubuh (IMT) menurut umur
dan
jenis
kelamin
Persentase Kelompok Index Massa Tubuh (IMT)
18.5
> 18.5 ­ 25.0
> 25.0 ­ 30.0
> 30.0
Umur
(tahun)
L P L P L P L P
20­24
25­29
30­34
35­39
40­44
45­49
50­54
55­59
14.7
14.8
17.2
12.3
7.3
16.2
17.4
16 1
16.8
9.7
8.3
6.8
4.9
4.1
4.7
102
77.1
80.2
62.5
80.0
72.1
48.7
52.2
54.9
66.4
69.6
596
55.4
54.3
54.8
52.8
54.5
8 2
5.0
15.6
6 2
110
32.4
21 7
29.0
14.4
180
25.9
297
340
38.4
32.1
26.5
0 0
0 0
4.7
1.5
7 4
2.7
8.7
0.0
2 4
2.7
6.2
8.1
6.8
2.7
10.4
8.8
Total 14.2 8.4 69.1 59.7 13.9 260 2.8 5
9
Catatan: L = Laki-laki; P = Perempuan.
Persentase laki-laki yang mempunyai ukuran tubuh normal
(IMT > 18.5­25.0) lebih tinggi daripada perempuan yaitu 69.1%
dibanding 59.7%; persentase perempuan yang masuk kelompok
kegemukan (IMT > 25.0) dua kali lebih tinggi daripada laki-
laki yaitu 16.7% dibanding 31.9%. Persentase kegemukan yang
cenderung lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki
sudah mulai terlihat sejak umur menjelang 25 tahun, sementara
itu pensentase kegemukan pada laki-laki mulai meningkat sejak
menjelang umur 40 tahun.
Nilai rata-rata dari simpang baku IMT untuk laki-laki dan
perempuan adalah 21.9 ± 3.3 dan 23.4 ± 3.9 (p < 0.001).
Sedangkan nilai median (5%, 95%) untuk laki-laki dan
perempuan adalah 21.3 (17.3, 28.1) dan 23.0 (17.8, 30.5).
Tabel 3 mempenlihatkan keadaan IMT menurut tingkat
pendidikan. Sebanyak 57.1% responden penempuan dan 35.0%
laki-laki mempunyai tingkat pendidikan paling tinggi tamat
sekolah dasar. Pada responden penempuan terlihat kecenderungan
bahwa semakin rendah tingkat pendidikan semakin tinggi
persentase kegemukan (IMT > 25.0). Sedangkan pada responden
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
6
background image
laki-laki terlihat kecenderungan yang sebaliknya yaitu semakin
tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi persentase kegemukan.
Tabel 3. Persentase kelompok Index Massa Tubuh (IMT) menurut
tingkat
pendidikan
Persentase Kelompok Index Massa Tubuh (IMT)
18.5
> 18.5-25.0
> 25.0-30.0
> 30.0
Tingkat
pendidikan
L P L P L P L P
Sekolah Dasar
17.1
8.3
67.6 59.8 10.8 27.0
4.5
5.1
(27)
(52)
(106)
(371)
(17)
(168)
(7)
(32)
Sekolah (2.4
7.7
71.4
59.6
16.2
24.5
0.0
8.2
Lanjutan (13)
(16)
(75)
(124)
(17)
(51)
(0)
-
(17)
Pertama
Sekolah
12.6
8.8
69.3
60.6
14.7
22.7
3.4'-
7.9
Lanjutan Atas
(19) (19) (104) (131) (22)
(49)
(5)
(17)
Perguruan
5.6 16.2 67.6 65.2 25.0 (8.6 2.8 0.0
Tinggi
(2) (7) (24) (28) (9) (8) (1) (0)
Catatan :
L = Laki-laki; P = Perempuan; angka di dalam tanda kurung adalah jumlah
responden
Tabel 4 menunjukkan keadaan IMT menurut alat keluarga
berencana yang digunakan oleh responden perempuan (ibu).
Responden yang jawabannya meragukan tidak dimasukkan
dalam analisis. Secara umum ada perbedaan yang nyata (p <
0.001) antara distribusi keadaan IMT responden perempuan yang
menggunakan dan tidak menggunakan alat keluarga berencana.
Terlihat bahwa persentase keadaan kurang berat badan (IMT <
18.5) lebih tinggi pada responden yang tidak menggunakan
(62.3%) dibandingkan dengan responden yang menggunakan
alat keluarga berencana (38.7%). Tidak diketahui apakah ada
perbedaan dalam hal beraktifitas atau berolahraga.
Tabel 4. Keadaan Index Massa Tubuh (IMT) menurut alat Keluarga
Berencana
yang
digunakan
oleh
responden
perempuan
Kelompok Index Massa Tubuh (IMT)
responden perempuan
Pemakaian
alat KB
18.5
> 18.5-25.0 > 25.0 ­ 30.0 > 30.0
Total
Ya
31 (38.7)
290 (51.3)
128 (52.5) 25 (49.0) 474 (50.4)
Tidak
49 (62.3)
275 (48.7)
116 (47.5) 26 (51.0) 466 (49.6)
Total
80(100)
432 (100)
244 (100)
51 (100) 940 (100)
Catatan :
Ya adalah mencakup pil, IUD, suntik dan susuk;
X2=41.9, df=3, p < 0,001
Persentase keadaan IMT responden perempuan menurut
jumlah anak disajikan pada tabel 5. Terlihat bahwa semakin
banyak jumlah anak semakin tinggi persentase kegemukan (IMT
> 25.0); persentase kegemukan menjadi tinggi pada responden
perempuan yang mempunyai lebih dari 2 anak. Kegemukan pada
responden dengan jumlah 1-2 anak 25.1% sementara responden
dengan jumlah 3-5 dan lebih dari 5 anak adalah 36.2% dan
46.6%. Kemungkinan dari meningkatnya persentase kegemukan
adalah karena semakin banyak jumlah anak semakin lanjut usia
responden perempuan.
Tabel 5. Persentase kelompok Index Massa Tubuh (IMT) responden
perempuan
menurut
jumtah
anak
Persentase kelompok Index Massa Tubuh (IMT)
responden perempuan
Jumlah anak
18.5
> 18.5-2.0
> 25.0-30.0
> 30.0
0 17.9
59.7
19.4
3.0
1 - 2
11.4
63.5
20.8
4.3
3-5 4.8
59.0
28.9
7.3
> 5
5.7
47.7
36.8
9.8
Catatan:
0 = tidak/belum mempunyai anak
KESIMPULAN
Penelitian ini menyajikan hasil analisis keadaan kegemukan
orang dewasa 20­60 tahun di Kelurahan Kebon Kelapa, Kota-
madya Bogor berdasarkan nilai IMT. Hasil analisis dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1) Prevalensi kegemukan (IMT> 25.0) pada responden laki-
laki adalah 16.7% dan pada responden perempuan 3 1.9%. Nilai
rata-rata IMT perempuan lebih tinggi dari laki-laki dan secara
statistik berbeda nyata.
2) Perempuan cenderung mulai menjadi gemuk sebelum
mencapai umur 30 tahun sedangkan laki-laki mulai setelah umur
40 tahun. Namun demikian terlihat kecenderungan pada pe-
rempuan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin
rendah persentase kegemukan.
3) Terdapat perbedaan nyata nilai IMT antara responden yang
menggunakan dan yang tidak menggunakan alat keluarga be-
rencana. Selain itu terlihat pula kecenderungan semakin banyak
anak semakin tinggi persentase responden perempuan yang
kegemukan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kepada Sdr. Suhartanto, Sudjasmin dan Sunardi yang telah membantu
pengumpulan data penelitian ini penulis mengucapkan terima kasih.
KEPUSTAKAAN
1. Soekirman. Menghadapi masalah gizi ganda dalam Pembangunan Jangka
Pan jang Kedua: Agenda Repelita VI. Dalam: Risalah Widya karya
Nasional Pangan dan Gizi V. LIPI. Jakarta. 1994; 71­85.
2. Slamet Suyono, Samsuridjal Djauzi. Penyakit degeneratif dan gizi lebih,
Dalam: Risalah Widya karya Nasional Pangan dan Gizi V. LIPI. Jakarta.
1994; 387­395.
3. Gibson RS. Principles of nutritional assessment. New York: Oxford Uni
versity Press. 1990.
4. Keys AK, Fidanza F, Karvonen MJ, Kimura N. Taylor HL. Indices of
relative weight and obesity. J Chronic Dis 1972; 25: 329­43.
S. Bray GA. Complication of obesity. An Int Med 1985: 103: (052­62,
6. James WPT. Ferro-Luzzi A, Waterlow JC. Definition of chronic energy
deficiency in adults. Report of a working party of the International Dietary
Energy Consultative Group. Eur'J Clin Nutr 1988: 42: 969­81.
7. World Health Organization. Diet, nutrition and the prevention of chronic
diseases. Tech Rep Ser no. 797. Geneva. 1990.
8. Power PS. Obesity: the regulation of weight. Baltimore: William &
Wilkins Co. l980.
9. Kumara Rai N. Pembangunan kesehatan dan gizi dalam pengembangan
sumber daya manusia. Disampaikan pada Simposium-Nasional Tumbuh
Kembang Otak dan Peran Gizi dalam Pengembangan Sumber Daya
Manusia. Jakarta, 1995.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
7