INTERSEKSUALITAS
Jauh sebelum seorang bayi lahir, calon
orang tua sudah mengharapkan akan di-
karunia seorang anak laki-laki atau perem-
puan, sesuai dengan keinginannya dan
sering juga sudah dipersiapkan nama dan
baju-bajunya. Segera setelah bayi lahir,
orang tuanya akan bertanya : "Anak saya
laki-laki atau perempuan?" Dokter atau
bidan yang menjawab pertanyaan orang
tua itu seketika memikul tanggung jawab
atas penentuan jenis kelamin si bayi itu.
Pada umumnya penentuan jenis kelamin
ini tidak sulit. Kalau ada penis dan scro-
tum maka ia dinyatakan pria dan kalau
kelihatan ada vulva dan vagina maka-
wanitalah dia.
Tetapi kita mengetahui bahwa antara
dua jenis kelamin ini ada variasinya. Sejak
dahulu kala penyimpangan antara dua
jenis kelamin ini sudah dikenal, a.l. di
dalam sejarah Yunani banyak ceritera-
ceritera dan hasil-hasil seni seperti patung-
patung yang menyinggung hal ini. Perka-
taan "Hermaphrodit" berasal dari mytho-
logi Yunani sebagai hasil gabungan "Her-
mes" (dewa pencipta, atletik dan filsafat
ajaib) dan "Aphroditus"(dewi percintaan).
Di zaman modern kini makin banyak
kita mendengar dan membaca mengenai
banci-banci, homoseksualitas, pertukaran
kelamin, transvestism dsb. Persoalan ini
sudah menjadi suatu kenyataan dan bukan-
lah dongeng-dongeng belaka seperti di
zaman Yunani. Dengan kemajuan ilmu
kedokteran penentuan jenis kelamin pada
kasus-kasus yang meragukan sudah ada
kriterianya, walaupun ini tidak berarti
bahwa semua problematik sudah dapat
dipecahkan.
Kriteria jenis kelamin
Pada dewasa ini untuk menentukan
pria dan wanita yang sempurna sedikit-
dikitnya harus dipenuhi tujuh kriteria.
Di antara ketujuh ini lima adalah organik
dan dua psikologik.
Ketu
juh sifat ini ialah :
1. Chromosome jenis kelamin (sex chro-
mosome)
Manusia memiliki 23 pasang chromo-
some dan sepasang di antaranya secara
genetik menentukan jenis kelamin. Wa-
nita mempunyai sex chromosome XX
dan pria XY.
dr. M. Sutan Assin
Sub Bagian Endokrinologie bagian llmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran U.I.
Cara pemeriksaan yang paling sederha-
na ialah pemeriksaan "sex chromatine"
Yang dicari ialah Barr-bodies atau
drumsticks pada sel-sel buccal smear
atau leucocyte. Wanita ialah sex chro-
matine positip dan pria sex chromatine
negatip. Cara yang lebih sulit ialah pe-
meriksaan chromosome yang hanya
dapat dilakukan di beberapa laborato-
ria di lndonesia.
2. Gonadal sex
Jenis gonad perlu diperiksa dengan
seksama untuk dapat menentukan apa-
kah jaringan tsb. testis atau ovarium.
Kadang-kadang perlu pemeriksaan mi-
kroskopis. Kriterium ini sangat penting,
mungkin yang terpenting.
3. Morfologi genitalia externa
Bagi dokter, bidan atau dukun beranak
genitalia externa ini menjadi pegangan
untuk menentukan jenis kelamin sese-
orang. Pada umumnya tidak dibuat
kesalahan, tetapi kita harus waspada
jangan sampai ada kekeliruan seperti
makin banyak kita temukan dalam
kepustakaan. Setiap kelainan, walaupun
kecil dapat membantu kita untuk me-
nemukan seorang dengan
interseksua-
i
l
4. Morfologi genetalia interna
Pada hermaphrodit bentuk genitalia
interna dapat berbeda, kontradiktif,
campur aduk atau secara makroskopik
sulit dikenal.
5. Hormon sex
Faktor endokrin ini tidak hanya pen-
ting untuk menentukan morfologi dari
genitalia, tetapi justru sangat penting
untuk perkembangan selanjutnya. Hor-
mon inilah yang kelak pada masa akil
balik akan mengendalikan "secundary
sex characteristics" seperti pertumbuh-
an payu dara, rambut pubis dan ketiak,
penis, bentuk badan dll.
6. Cara mengasuh (the sex of rearing)
lni adalah faktor psikologik. Kalau
seorang anak dibesarkan sebagai wani-
ta, maka tindak tanduknya akan seper-
ti wanita. Masyarakat akan mengang-
gapnya sebagai wanit
a pula.
7. Gender role and orientation
"Gender role
"
ialah tindak tanduk se-
seorang untuk mewuludkan dirinya
sebagai seorang wanita atau pria. Yang
kita perhatikan ialah :
kelakuannya, impian, perhatian (interest)
percakapan, khayalan, tingkah laku ero-
tik, dll.
Pada orang normal ketujuh kriteria ini
akan terpenuhi. Seorang hermaphrodite
akan menunjukkan kontradiksi antara 5
kriteria pertama yakni faktor organik.
Jika timbul kontradiksi antara faktor or-
ganik dan faktor psikologik, maka akan
ti
mbul persoalan psikiatrik seperti homo-
seksualitas, transvestism, dll.
Klasifikasi
Berpuluh-puluh tahun ahli-ahli telah
berusaha untuk menggolongkan kelainan
intersex ini, tetapi sampai sekarang belum-
lah memuaskan. Di dalam textbook-text-
book kita akan menemukan klasifikasi
yang berlainan. lni dapat dimengerti kalau
dapat dibayangkan, bahwa tiap faktor
organik yang disebut di atas tadi dapat
menyebabkan satu atau lebih dari satu
kelainan.
Untuk tidak terlampau membingung-
kan, kami hanya akan memberikan bebe-
rapa contoh kelainan jenis kelamin yang
sering ditemukan dalam kepustakaan.
1. Kelainan chromosome sex
Contoh : Turner s syndrome. Pada syn-
drome ini terdapat kelainan chromo-
some sex yang tidak lengkap atau
mozaik, misalnya : XO, Xx,XO/XX/XY.
Phenotypenya ialah wanita, tetapi kare-
na chromosomenya tidak lengkap, ma-
ka bukanlah wanita yang sempurna,
karena untuk itu diperlukan chromo-
some sex XX, jadi ada satu chromo-
some yang hilang (XO) atau cacad (Xx).
Wanita-wanita ini biasanya mandul
karena tidak memiliki ovaria.
2. Kelainan bentuk gonad
Contoh: Hermaphrodite sejati. Manusia
ini memiliki baik
ovarium maupun
testis, kadang-kadang terpisah, kadang-
kadang menjadi satu, sehingga baru
dapat diketahui dengan pemeriksaan
mikroskopik. Phenotypenya bisa pria
atau wanita dan sex chromosomenya
bisa XX atau XY.
13
litas
3. Kelainan bentuk genitalia external
Contoh: Male pseudo-hermaphrodite.
Di sini sex chromatine selalu negatip
dan sex chromosomenya XY, tetapi
genitalia externanya seperti wanita atau
bersifat dua. Yang mempunyai genita-
lia externa seperti wanita biasanya
dibesarkan sebagai wanita, padahal ia
secara genetika seorang pria.
4. Kelainan bentuk genitalia interna
Pada tiap hermaphrodite bentuk geni-
talia interna dapat berbeda, kontra-
diktif, bercampur aduk atau secara
makroskopik sulit dikenal.
5. Kelainan hormon sex
Contoh: Female pseudohermaphrodite
Secara genetik ia seorang wanita (XX)
dengan genitalia interna wanita, tetapi
genitalia externa seperti pria. lni dite-
mukan pada wanita dengan "Congeni-
tal adrenal hyperplasia". Karena sesua-
tu enzym defect di kelenjar adrenal,
maka .terjadi produksi berlebihan dari
androgen, sehingga anak ini tumbuh
seperti pria dengan clitoris yang besar,
bentuk badan dan pertumbuhan ram-
but seperti pria, suara rendah, dsb.
Diagnosa dapat dibuat dengan pemerik-
saan sex chromatine serta chromosome,
pemeriksaan ginekologik dan pemerik-
saan kadar 17-ketosteroid dalam urine.
Kecurigaan terhadap adanya suatu intersex
Kita harus waspada kalau menemukan
hal-hal di bawah ini :
1. Genitalia externa yang bersifat dua
(ambiguous)
2. Benjolan-benjolan di daerah inguinal
atau labia pada wanita.
3. Scrotum yang kosong pada pria.
4. Pengobatan seorang wanita hamil de-
ngan androgen atau progesteron.
5. Adanya kakak dengan kelainan geni-
talia.
6. Wanita dengan short stature, webbed
neck atau lain-lain yang mungkin Tur-
ner s syndrome.
7. Pria dewasa dengan testis yang kecil.
Terapi
Sering mengalami kesulitan. Tujuannya
ialah untuk memberi kepada penderita
ini suatu kehidupan yang lebih
wajar,
baik dalam masyarakat maupun dalam
kehidupan sex. Tindakan ini sebaiknya
dilakukan sedini-dininya, termasuk juga
pemberian pengertian kepada orang tua
penderita agar dapat menerima keadaan.
Tindakan yang dapat kita lakukan ialah:
a. koreksi secara pembedahan
b. pengobatan hormonal
c. kombinasi dari kedua tindakan di atas
d. psikologik
Untuk dapat mencapai hasil yang mak-
si mal diperlukan suatu teamwork yang
baik antara ahli-ahli Biologi, Biokimia,
Endokronologi, Bedah, Cinekologi, Psiki-
atri dan Pediatri Sosial.
OMRON
ELECTRONIC
SPHYGMOMANOMETER
MODEL HE P -1
Tensimeter (sphygmanometer) elektronik OMRON, buatan Jamanouchi Pharma-
ceutical Co., Ltd.
Tak memerlukan stethoskop.
Setiap orang dapat mempergunakannya dengan mudah.
Mengukur tekanan darah lebih teliti dan lebih tepat oleh karena memperguna-
kan transistor2 dan integrated circuit. sehingga tak terdapat faktor individu lagi.
Sangat mengesankan didalam kamar praktek dokter.
Dapat pula dipergunakan untuk mengukur sendiri tekanan darah di rumah sebagai
penunjuk kesehatan.
Data teknis :
Model
: HEP
1
Ukuran luar kotak
: tinggi 47.0 X lebar 70.0 X panjang 150.0 mm
Pengukur berdasar
: aneroid meter system
Batas-batas pengukuran : 20 hingga 300 m Hg
Sumber kekuatan
: batu battere, DC, 9 volt, 006 P
yang
mudah diperoleh
Tersimpan didalam kotak dengan bahan nilai-nilai tekanan darah normal sesuai
dengan usia.
Sole Distributor: P.T. Kalbe Farma
Dapat dibeli pada: Cabang2 P.T. Kalbe Farina seluruh lndonesia.
14
INTERSEKSUALITAS
Jauh sebelum seorang bayi lahir, calon
orang tua sudah mengharapkan akan di-
karunia seorang anak laki-laki atau perem-
puan, sesuai dengan keinginannya dan
sering juga sudah dipersiapkan nama dan
baju-bajunya. Segera setelah bayi lahir,
orang tuanya akan bertanya : "Anak saya
laki-laki atau perempuan?" Dokter atau
bidan yang menjawab pertanyaan orang
tua itu seketika memikul tanggung jawab
atas penentuan jenis kelamin si bayi itu.
Pada umumnya penentuan jenis kelamin
ini tidak sulit. Kalau ada penis dan scro-
tum maka ia dinyatakan pria dan kalau
kelihatan ada vulva dan vagina maka-
wanitalah dia.
Tetapi kita mengetahui bahwa antara
dua jenis kelamin ini ada variasinya. Sejak
dahulu kala penyimpangan antara dua
jenis kelamin ini sudah dikenal, a.l. di
dalam sejarah Yunani banyak ceritera-
ceritera dan hasil-hasil seni seperti patung-
patung yang menyinggung hal ini. Perka-
taan "Hermaphrodit" berasal dari mytho-
logi Yunani sebagai hasil gabungan "Her-
mes" (dewa pencipta, atletik dan filsafat
ajaib) dan "Aphroditus"(dewi percintaan).
Di zaman modern kini makin banyak
kita mendengar dan membaca mengenai
banci-banci, homoseksualitas, pertukaran
kelamin, transvestism dsb. Persoalan ini
sudah menjadi suatu kenyataan dan bukan-
lah dongeng-dongeng belaka seperti di
zaman Yunani. Dengan kemajuan ilmu
kedokteran penentuan jenis kelamin pada
kasus-kasus yang meragukan sudah ada
kriterianya, walaupun ini tidak berarti
bahwa semua problematik sudah dapat
dipecahkan.
Kriteria jenis kelamin
Pada dewasa ini untuk menentukan
pria dan wanita yang sempurna sedikit-
dikitnya harus dipenuhi tujuh kriteria.
Di antara ketujuh ini lima adalah organik
dan dua psikologik.
Ketu
juh sifat ini ialah :
1. Chromosome jenis kelamin (sex chro-
mosome)
Manusia memiliki 23 pasang chromo-
some dan sepasang di antaranya secara
genetik menentukan jenis kelamin. Wa-
nita mempunyai sex chromosome XX
dan pria XY.
dr. M. Sutan Assin
Sub Bagian Endokrinologie bagian llmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran U.I.
Cara pemeriksaan yang paling sederha-
na ialah pemeriksaan "sex chromatine"
Yang dicari ialah Barr-bodies atau
drumsticks pada sel-sel buccal smear
atau leucocyte. Wanita ialah sex chro-
matine positip dan pria sex chromatine
negatip. Cara yang lebih sulit ialah pe-
meriksaan chromosome yang hanya
dapat dilakukan di beberapa laborato-
ria di lndonesia.
2. Gonadal sex
Jenis gonad perlu diperiksa dengan
seksama untuk dapat menentukan apa-
kah jaringan tsb. testis atau ovarium.
Kadang-kadang perlu pemeriksaan mi-
kroskopis. Kriterium ini sangat penting,
mungkin yang terpenting.
3. Morfologi genitalia externa
Bagi dokter, bidan atau dukun beranak
genitalia externa ini menjadi pegangan
untuk menentukan jenis kelamin sese-
orang. Pada umumnya tidak dibuat
kesalahan, tetapi kita harus waspada
jangan sampai ada kekeliruan seperti
makin banyak kita temukan dalam
kepustakaan. Setiap kelainan, walaupun
kecil dapat membantu kita untuk me-
nemukan seorang dengan
interseksua-
i
l
4. Morfologi genetalia interna
Pada hermaphrodit bentuk genitalia
interna dapat berbeda, kontradiktif,
campur aduk atau secara makroskopik
sulit dikenal.
5. Hormon sex
Faktor endokrin ini tidak hanya pen-
ting untuk menentukan morfologi dari
genitalia, tetapi justru sangat penting
untuk perkembangan selanjutnya. Hor-
mon inilah yang kelak pada masa akil
balik akan mengendalikan "secundary
sex characteristics" seperti pertumbuh-
an payu dara, rambut pubis dan ketiak,
penis, bentuk badan dll.
6. Cara mengasuh (the sex of rearing)
lni adalah faktor psikologik. Kalau
seorang anak dibesarkan sebagai wani-
ta, maka tindak tanduknya akan seper-
ti wanita. Masyarakat akan mengang-
gapnya sebagai wanit
a pula.
7. Gender role and orientation
"Gender role
"
ialah tindak tanduk se-
seorang untuk mewuludkan dirinya
sebagai seorang wanita atau pria. Yang
kita perhatikan ialah :
kelakuannya, impian, perhatian (interest)
percakapan, khayalan, tingkah laku ero-
tik, dll.
Pada orang normal ketujuh kriteria ini
akan terpenuhi. Seorang hermaphrodite
akan menunjukkan kontradiksi antara 5
kriteria pertama yakni faktor organik.
Jika timbul kontradiksi antara faktor or-
ganik dan faktor psikologik, maka akan
ti
mbul persoalan psikiatrik seperti homo-
seksualitas, transvestism, dll.
Klasifikasi
Berpuluh-puluh tahun ahli-ahli telah
berusaha untuk menggolongkan kelainan
intersex ini, tetapi sampai sekarang belum-
lah memuaskan. Di dalam textbook-text-
book kita akan menemukan klasifikasi
yang berlainan. lni dapat dimengerti kalau
dapat dibayangkan, bahwa tiap faktor
organik yang disebut di atas tadi dapat
menyebabkan satu atau lebih dari satu
kelainan.
Untuk tidak terlampau membingung-
kan, kami hanya akan memberikan bebe-
rapa contoh kelainan jenis kelamin yang
sering ditemukan dalam kepustakaan.
1. Kelainan chromosome sex
Contoh : Turner s syndrome. Pada syn-
drome ini terdapat kelainan chromo-
some sex yang tidak lengkap atau
mozaik, misalnya : XO, Xx,XO/XX/XY.
Phenotypenya ialah wanita, tetapi kare-
na chromosomenya tidak lengkap, ma-
ka bukanlah wanita yang sempurna,
karena untuk itu diperlukan chromo-
some sex XX, jadi ada satu chromo-
some yang hilang (XO) atau cacad (Xx).
Wanita-wanita ini biasanya mandul
karena tidak memiliki ovaria.
2. Kelainan bentuk gonad
Contoh: Hermaphrodite sejati. Manusia
ini memiliki baik
ovarium maupun
testis, kadang-kadang terpisah, kadang-
kadang menjadi satu, sehingga baru
dapat diketahui dengan pemeriksaan
mikroskopik. Phenotypenya bisa pria
atau wanita dan sex chromosomenya
bisa XX atau XY.
13
litas
ini pada orang dewasa banyak terdapat
pada penderita-penderita cirrhosis hepatis.
Bila setelah pubertas berakhir, gyneco-
mastie masih tetap membandel, dan akan
dikoreksi dengan pembedahan plastik, ma-
ka perlu diselidiki terlebih dahulu umur
tulang-tulang serta apakah garis-garis epi-
physe sudah tertutup , untuk memastikan
apakah pubertas sudah benar-benar selesai.
Pada anak-anak yang terlalu gemuk
sering terdapat penis yang kecil; sebenar-
nya alat kelamin relatip normal, akan
tetapi terpendam dalam lemak badan yang
berlebihan. Bila testis pada masa prapuber-
tas berukuran panjang kurang dari 1,5 cm,
terdapat kemungkinan kelainan testis per
se dan kelainan pertumbuhan. Penis dan
testis yang kecil merupakan salah satu
symptom dari syndroma Klinefelter. Diag-
nosa kelainan ini dapat ditegakkan dengan
chromosomal sex. Anak dengan syndroma
ini perlu diobati dengan hormon androgen
pada kira-kira umur 14 tahun, supaya
dapat mencapai habitus laki-laki dan iden-
titas kelamin yang normal.
Besar kecilnya penis kerap menjadi
topik ngobrol di antara kelompok-kelom-
pok pria yang bersenda-gurau, tapi berda
-
sarkan hasil researchnya team MASTERS
dan JOHNSON, besar atau kecilnya alat
ini tidak ada hubungan setimpal dengan
fungsinya dalam coitus. Kaliber penis ti-
dak memberi garansi akan kehebatan alat
tersebut bila beraksi, oleh karena coitus
bukan semata-mata satu operasi teknis,
tapi banyak berhubungan dengan faktor-
faktor psychologis. Pembahasan soal ini
dapat menjadi satu dongeng tersendiri
yang panjang, akan tetapi akan menyim-
pang dari judul cerita ini.
Sedikit uraian tentang cryptorchisme.
Bila pada umur 6 tahun masih terdapat
cryptorchisme, keadaan menjadi gawat,
sebab biasanya testis yang berada di dalam
canalis inguinalis pada umur tersebut telah
menyampaikan descensusnya yang terlam-
bat. Kalau testis masih berada dalam ruang
abdomen, perlu dipertimbangkan perto-
longan yang lebih agresip, walaupun dapat
ditunggu sampai anak berumur 8--9 tahun.
Terapi terdiri dari pemberian chorionic
gonadotropin 500 units, dua kali seming-
gu, selama sepuluh minggu. Bila dengan
pengobatan ini descensus belum juga terja-
di, maka tibalah waktunya untuk memba-
wa turun testis yang malu-malu
ini,
keluar
dari persembunyiannya. Pembedahan or-
chiopexy ini perlu untuk mempertahan-
kan fungsinya, yang terancam musnah
karena suhu badan yang lebih tinggi dalam
perut. Operasi ini harus dikerjakan dengan
teliti.
Problema-problema pada putri-putri da-
lam pubertas ialah: pembesaran mammae
yang tidak sesuai, tinggi badan yang
abnormal (terlalu pendek atau terlalu
tinggi), kelainan menstruasi dan last but
not least problema-problema kontrasepsi,
kehamilan dan penyakit kelamin. Proble-
ma-problema yang disebut terakhir untuk
negara Indonesia belum menyolok seperti
di Eropa Barat dan U.S.A., di mana
proporsi persoalan ini diperbesar oleh
karena adanya "sexuai permissiveness"
(kebebasan sexuil).
Syndroma Turner dapat diduga dari
habitusnyaanak yang menderitanya: leher
melebar ke bawah (webbed neck), badan
pendek, bentuk pelvis yang abnormal,
kadang-kadang tak ada rambut pubes.
Diagnosa dibuat dengan pemeriksaan
"buccal smear", melihat nuclear sexnya
dan terdapatnya karyo-type XO. Penderi-
ta membutuhkan pengobatan hormon
oestrogen agar mendapat identitas wanita
yang "normal" dan
dapat menikmati
penghidupan sexuil yang "normal", walau-
pun tidak dapat menjadi hamil. Permulaan
pengobatan dengan oestrogen baru dimu-
lai pada umur 13--15 tahun, sesudah
epiphyses tertutup, agar supaya badannya
tidak tetap pendek.
Eunuchoidisme pada wanita jarang
sekali, tetapi dapat terjadi juga. Pada
permulaan menarche datang, akan tetapi
setelah 1--2 cyclus si penderita, mendadak
masuk masa menopauze. Salah satu sebab
ialah trauma pada ovarium yang disebab-
kan leher
penyakit infeksi yang hebat,
disertai demam yang tinggi. Penderita
tadi perlu diberi hormon oestrogen selama
hidupnya, kerapkali dalam dosis tinggi,
untuk mencegah terjadinya osteoporosis
prematur yang mungkin berat.
Individu yang dihinggapi penyakit
feminisasi testikuler
memiliki habitus
wanita, akan tetapi bergenotype laki-laki,
karena ia mempunyai sex chromosoom,
XY, dan pada pemeriksaan buccal smear,
"
Barr-body" tak nampak. Pada individu
ini terdapat "endorgan failure", yakni
testisnya memprodusir hormon seperti
biasa, tapi tidak dapat menghasilkan dif-
ferensiasi kejantanan, mungkin karena ada
inborn error of metabolism , sehingga sel-
sel badan tidak menunjukkan response
terhadap hormon androgen.
Hasil dari endorgan failure ini ialah
individu yang berphenotype wanita, de-
ngan vagina yang kecil dan tidak ada
uterus. Ini adalah akibat dari bekerjanya
satu faktor yang dibuat oleh testis, yakni
"Mullerian inhibiting faktor
"
. Orang-orang
ini dapat hidup biasa dalam masyarakat,
memakai etiket
"
wanita". Untuk keperlu-
an coitus, kadang-kadang perlu dilakukan
dilatasi dari vaginanya, secara bertahap,
dengan bougie besar yang panjangnya dan
diameternya seperti penis. Proses pembe-
saran vagina kecil ini memakan waktu
cukup lama. Bahaya yang tersimpan pada
kelainan ini ialah 50% dari penderita pada
umur kira-kira 30 tahun dihinggapi oleh
degenerasi carcinomateus dari testis
yang
terletak intra-abdominal. Guna mencegah
malapetaka ini, maka testisnya perlu dike-
luarkan sebelumnya.
Pada umur kurang lebih 15 tahun,
kalau mammae sudah membesar, mela-
lui laparotomi testis yang tersembunyi
diambil, disertai penjelasan pada orang tua,
bahwa explorasi tersebut perlu, guna
mengetahui, mengapa anaknya tidak men-
struasi.
Setelah itu, penderita mendapat hor-
mon oestrogen secara kontinu selama
hidupnya agar supaya dapat melanjutkan
permainan peranannya sebagai "wanita".
Hypotrofia mammae atau mammae
yang perkembangannya kurang memuas-
kan dari sudut esthetik, tidak membutuh-
kan pengobatan. Pada anak ini hanya perlu
dipastikan apakah ia ber-ovulasi; antara
lain dengan cara mengukur suhu badan
basal dengan thermometer. Perlu diingat,
bahwa hypotrofia belum tentu berarti
hypofungsi pada masa laktasi; malah ke-
rapkali dapat terjadi sebaliknya, yaitu
mammae yang berbentuk esthetis bagus
tidak atau kurang berproduksi air susu.
Di negara-negara Eropa dan Amerika
dengan norma-norma dan adat-istiadat
yang berbeda dengan negara-negara Asia,
terdapat klinik-klinik di mana mammae
yang hypotrofis dapat diperbesar dengan
suntikan silicone intramammal. Bila tidak
salah, di Mexico ada dokter-dokter yang
berspesialisasi dalam pengobatan ini. Sun-
tikan kosmetik tersebut antara lain banyak
dipergunakan oleh hostess-hostess dan pe-
nari-penari striptease dan topless a-go-go
yang senantiasa membutuhkan mammae
dalam topform. Di sini tidak akan dibahas
akibat-akibat yang tidak diingini dari
"terapi" tadi, seperti infeksi, degenerasi
ganas.
Hypertrofia mammae atau mammae
yang terlalu besar dan menggantung, dapat
diperkecil dengan pembedahan plastik
(mammopexy), sesudah anak mencapai
16