Artikel
HASIL PENELITIAN
Fluktuasi Padat Populasi
An. balabacensis dan An. maculatus
di Daerah Endemis
Kabupaten Banjarnegara,
Jawa Tengah
Hadi Suwasono*, Widiarti*, Sustriayu Nalim*, Anwar**
* Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Departemen Kesehatan RI, Salatiga, Jawa Tengah
** Dinas Kesehatan Kabupaten Dati II Banjarnegara, Jawa Tengah
ABSTRAK
Bionomi An. balabacensis dan An. maculatus di daerah endemis malaria Banjar-
negara, Jawa Tengah perlu diketahui berkenaan dengan ditemukannya sporozoit pada
An. balabacensis di daerah tersebut; salah satu aspeknya yakni fluktuasi padat populasi
diteliti pada kesempatan ini. Penangkapan nyamuk yang hinggap/menggigit orang di luar
dan di dalam rumah dikerjakan sebulan sekali dan dilakukan sepanjang malam mulai
pukul 18.00 hingga 06.00. Pembedahan ovarium dilakukan guna menentukan angka
paritas (parity rate) kedua spesies tersebut.
Puncak padat populasi pertama kedua spesies terjadi sekitar Juni sedang puncak
kedua sekitar Januari (An. balabacensis) dan Nopember (An. maculatus) yang bersamaan
dengan naiknya/puncak kasus malaria. Dalam semalam An. balabacensis mempunyai
tiga puncak kepadatan (18.0019.00; 24.0001.00; 05.0006.00) sedang An. maculatus
mempunyai dua puncak kepadatan (18.00 19.00; 04.0005.00).
PENDAHULUAN
Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau secara geo-
grafis terbentang dan 6°LU 11°LS dan 95 °BT 1 40°BT
mempunyai ekosistem yang beragam. Lebih kurang 80 spesies
Anopheles telah ditemukan di Indonesia namun hanya 16 spesies
di antaranya yang telah terbukti dapat menularkan malaria. Di
Pulau Jawa dikenal 4 spesies yang menjadi vektor malaria yakni
Anopheles aconitus (mintakat daerah persawahan bertingkat),
An. sundaicus (mintakat goba/lagun daerah pantai), An. balaba-
censis dan An. maculatus (mintakat sungai kecil daerah hutan/
pegunungan)
(1)
.
Kabupaten Banjarnegara yang berada di Jawa Tengah se-
belum 1980 merupakan daerah endemis malaria tinggi. Hal ter-
sebut ditunjukkan oleh tingginya jumlah kasus yang mencapai
25,6% dari jumlah kasus malaria di Jawa Tengah atau mempunyai
Annual Parasite Incidence (API) sebesar 57,8%
(2)
. Berbagai
upaya pemberantasan telah dilakukan dan berhasil menurunkan
kasus terutama di daerah persawahan beririgasi teknis, namun
tidak demikian halnya di daerah beririgasi non teknis; keadaan
terakhir tersebut ditambah dengan adanya laporan tentang naik-
nya kasus malaria yang cukup tinggi di daerah pegunungan yang
tidak memiliki lahan persawahan.
Survei entomologi yang dilakukan di daerah pegunungan
Kab. Banjarnegara berhasil mendapatkan sporozoit dan nyamuk
An. balabacensis
(3)
. Penemuan ini telah mengalihkan perhatian
para pelaksana program dari An. aconitus (vektor daerah persa-
wahan) ke An. balabacensis dan An. maculatus yang bermintakat
sungai kecil berbatu-batu di daerah pegunungan. Berbagai pene-
litian yang menunjang upaya pemberantasan kedua vektor ter-
akhir tersebut banyak dilakukan dan salah satu di antaranya
adalah fluktuasi padat populasinya hasil pengamatan selama 8
bulan yang akan disajikan dalam makalah ini.
Disajikan pada Seminar Ilmiah dan Kongres Nasional Biologi XI, Jakarta, 24
27Juli 1995.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
5
BAHAN DAN CARA KERJA
Lokasi
Lokasi penelitian berada di Desa Kaliurip, Kecamatan Madu-
kara, Banjarnegara yang berupa daerah pegunungan dengan
ketinggian ± 710 m dari permukaan laut. Dari ibukota kabupaten,
desa ini berjarak ± 9km ke arah utara. Dua dusun di desa tersebut
yakni Warudengklok dan Sigedang dijadikan pos penangkapan
nyamuk. Lingkungan kedua dusun yang terpisah sejauh ± 500 m
satu sama lain secara umum serupa. Hampir seluruh luas tanah di
kedua dusun tersebut berupa kebun salak yang ada sejak 1966;
oleh karena itu mata pencaharian utama penduduk di sana adalah
sebagai petani salak. Panen besar tiap tahunnya berlangsung
sekitar Oktober Desember dan pemetikan buah umumnya di-
lakukan pagi hari (pukul 04.00 05.00). Topografi daerah yang
berbukit dan rindangnya rumpun salak memberi suasana teduh
dan lembab di daerah tersebut. Sungai kecil berbatu-batu meng-
alir di antara kebun salak dan beberapa sumber air yang ada
dimanfaatkan oleh penduduk untuk keperluan sehari-hari. Ter-
nak besar (sapilkerbau) tidak dijumpai di kedua dusun tersebut.
Penangkapan nyamuk
Penangkapan nyamuk dilakukan di masing-masing dusun
satu bulan sekali untuk jangka waktu 8 bulan dengan cara pe-
nangkapan nyamuk sepanjang malam (18.0006.00) mengguna-
kan aspirator terhadap nyamuk yang hinggap/menggigit orang di
luar dan di dalam rumah (masing-masing 1 orang) di 3 rumah.
Identifikasi
Semua nyamuk yang tertangkap diidentifikasi dengan
mengacu pada buku karangan Stojanovich dan Scott
(4)
.
Parity
Khusus bagi An. balabacensis dan An. maculatus yang ter-
tangkap dilakukan pembedahan ovarium untuk melihat parity-
nya.
Kasus Malaria
Data kasus malaria per bulan di Desa Kaliurip, Kec. Madukara
(daerah penelitian) diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Dati II, Banjarnegara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama 8 bulan pengamatan (Juni`92Januari`93) fiuktuasi
padat populasi An. balabacensis di luar dan di dalam rumah dapat
dilihat pada Gambar 1. Dengan kepadatan 0,08 nyamuk/orang/
jam (di luar rumah) dan 0,05 nyamuk/orang/jam (di dalam ru-
mah) pada bulan Juni, padat populasi spesies tersebut selanjutnya
berfluktuasi hingga mencapai padat populasi tertinggi selama
pengamatan yakni 0,30 nyamuk/orang/jam dan 0,10 nyamuk/
orang/jam masing-masing untuk di luar dan di dalam rumah pada
bulan Januari. Kepadatan terendah dijumpai pada bulan Sep-
tember Oktober (0 nyamuk/orang/jam). Pola fluktuasi baik di
luar maupun di dalam rumah tampak serupa. Curah hujan yang
tinggi tampaknya berkaitan dengan semakin luas/banyaknya
tempat perkembangbiakan yang tersedia bagi spesies tersebut
sehingga padat populasinya akan meningkat. Dengan gambaran
yang diperoleh tersebut maka upaya penanggulangan vektor
(dewasa) dapat dilakukan sebelum Juni dan pada bulan Oktober.
Gambar 1. Kepadatan An. balabacensis yang tertangkap menggigit orang
di
dalam
dan
luar
rumah
pada
malam
hari.
Pada Gambar 2 tampak bahwa penangkapan di luar rumah
memperoleh tiga padat populasi tinggi yakni pada saat-saat pu-
kul 18.019.00; 24.0001.00 dan 05.0006.00 masing-masing
sebesar 0,07 nyamuk/orang/jam. Sedang untuk yang di dalam
rumah terjadi kebalikannya yakni padat populasi rendahnya
terjadi pada saat-saat pukul tersebut di atas sementara padat
populasi tingginya terjadi pada pukul 20.0021.00; 22.0023.00
dan 03.0004.00 masing-masing sebesar 0,04; 0,07 dan 0,04
nyamuk/orang/jam.
Gambar 2. Fluktuasi kepadatan An. balabacensis yang tertangkap
menggigit
orang
di
dalam
dan
luar
rumah
pada
malam
hari.
Oleh karena rata-rata jumlah nyamuk spesies ini yang ber-
hasil tertangkap hinggap/menggigit orang baik di luar maupun
di dalam rumah sangat sedikit (< 10 nyamuk) maka hasil per-
hitungan angka paritasnya kurang dapat memberi gambaran
paritas populasi di daenah tersebut, namun mungkin dapat memberi
gambaran kasar mengenai kaitan antara padat populasi tiap jam
penangkapan dengan paritas nyamuk saat itu (Tabel 1). Untuk
yang di luar rumah ternyata bahwa pada saat-saat populasi tinggi
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
6
Tabel 1. Total Angka Paritas An. balabacensis yang Tertangkap di setiap Jam Penangkapan di Banjarnegara
(Warudengklok dan Sigedang) Juni 1992 - Januari 1993.
Jam penangkapan
19 20 21 22 23 24 01 02 03 04 05 06
Dusun
1 d 1 d i d I d I d 1 d 1 d I d 1 d I d 1 d d
Waru 0/1 1/1 0/1 1/1 2/3
dengklok
Si
2/5 1/2 0/1
2/3 2/5 2/2 3/6 1/2 1/2 1/1
gedang
Angka paritas : paritas/jumlah yang diperiksa; l : di luar rumah; d : di dalam rumah
(18.0019.00; 24.0001.00 dan 05.0006.00) angka paritas-
nyapun cukup tinggi (5060%) sedang untuk yang di dalam
rumah tingginya padat populasi yang diikuti oleh tingginya
angka paritas hanya dijumpai pada saat-saat pukul 22.0023.00
dan 03.0004.00. Bila keadaan ini dikaitkan dengan penularan
maka pada saat-saat tersebut merupakan saat-saat efektif ter-
jadinya penularan, sehingga dapat dikatakan bahwa peluang pe-
nularan efektif terjadi sepanjang malam. Jika keadaan tersebut
dihubungkan dengan perilaku/kebiasaan/aktifitas penduduk se-
tempat maka peluang penularan terbesar mungkin terjadi pada
pukul 18.0021.00 dan 04.0006.00 yakni pada saat-saat mereka
mandi sore dan menonton televisi serta saat memetik salak yang
biasa dilakukan pada pagi hari.
Gambar 3 memperlihatkan fluktuasi padat populasi An.
maculatus yang menggigit orang di luar dan di dalam rumah pada
malam hari selama penelitian. Pada gambar tersebut tampak ada-
nya dua puncak padat populasi An. maculatus yang menggigit
orang di luar rumah yakni bulan Juni dan Nopember. Puncak
padat populasi 1(0,10 nyamuk/orang/jam) lebih tinggi daripada
puncak 11(0,08 nyamuk/orang/jam). Dari hasil penangkapan di
dalam rumah juga terlihat adanya dua puncak padat populasi
masing-masing pada bulan Juli (0,02 nyamuk/orang/jam) dan
Oktober (0,04 nyamuk/orang/jam). Jika fluktuasi padat populasi
spesies ini diperhatikan maka tampak bahwa yang di luar dan di
dalam rumah mempunyai pola yang hampir serupa. Curah hujan
yang tinggi tampaknya berpengaruh negatif terhadap padat
populasi spesies ini. Hal tersebut mungkin berkaitan dengan
mintakatnya yang umumnya banyak ditemukan di sepanjang
sungai kecil sehingga pada saat banjir, mintakat-mintakat ter-
sebut di atas maka upaya pengendalian An. maculatus hendaknya
dilakukan sebelum Juni atau saat-saat menjelang musim hujan
dan Agustus atau bulan-bulan pertama musim hujan.
Fluktuasi padat populasi An. maculatus yang hinggap/meng-
gigit orang di luar dan di dalam rumah pada tiap jam penangkapan
disajikan pada Gambar 4. Pola fluktuasi padat populasi di luar
dan di dalam rumah pada tiap jam penangkapan bila diperhatikan
tampak serupa/sama. Pada saat petang hari (pukul 18.00) kepa-
datan spesies ini tinggi (0,03 nyamuk/orang/jam, di luar rumah
dan 0,01 nyamuk/orang/jam, di dalam rumah) kemudian makin
malam makin menurun dan sedikit naik saat menjelang pagi
(pukul 04.0005.00).
Angka paritas yang diperoleh dari hasil pembedahan ova-
rium An. maculatus yang tertangkap hinggap/menggigit orang di
luar dan di dalam rumah pada tiap jam penangkapan disajikan
Gambar 3. Fluktuasi kepadatan An. maculutus yang Menggigit Orang di
Luar
dan
di
Dalam
Rumah
pada
Malam
Hari
Gambar 4. Fluktuasi Kepadatan An. maculatus yang Menggigit Orang di
Luar
dan
di
Dalam
Rumah
Tiap
Jam
Penangkapan.
pada Tabel 2. Jika melihat sedikitnya jumlah nyamuk yang ter-
tangkap (< 10 nyamuk) maka angka paritas yang diperoleh ter-
sebut tidak dapat menggambarkan paritas populasi setempat saat
itu, namun mungkin dapat dijadikan gambaran kasar tentang
peluang penularan malaria efektif yang mungkin terjadi. Bila
nyamuk vektor tersebut mengandung sporozoit maka peluang
penularan lebih besar terjadi di luar rumah pada pukul 20.00
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
7
Tabel 2. Total Angka Paritas An. maculatus yang Tertangkap di setiap Jam Penangkapan di Banjarnegara
(Warudengklok
dan
Sigedang)
Juni
1992-Januari
1993.
Jam penangkapan
19 20 21 22 23 24 01 02 03 04 05 06
Dusun
I d I d I d I d I d I d I d I d d 1 d I d 1 d
Waru- 1/4
0/1
4/4 0/1 1/3 0/1 1/1
Dengklok
Si-
0/2
0/1
1tl 0/1
0/2 0/1 0/2
0/1
Gedang
Angka paritas : paritas/jumlah yang diperiksa; l : di luar rumah; d : di dalam rumah
22.00 walaupun saat tersebut kepadatan vektor sudah menurun
dan lebih besar di dalam rumah pada saat menjelang pagi (pukul
05.0006.00) yang bersamaan dengan naiknya kepadatan walau-
pun kecil. Jika keadaan tersebut di atas dikaitkan dengan ke-
biasaan/perilaku/aktifitas penduduk maka pada saat-saat ter-
sebut (pukul 20.0022.00) peluang terjadinya kontak vektor-
manusia lebih efektif.
Gambar 5 menyajikan fluktuasi kasus malaria per bulan
yang diperoleh dari Desa Kaliurip (daerah penelitian), Kecamat-
an Madukara. Dari gambar tersebut tampak bahwa meningkatnya
kasus terjadi sekitar Mei (2,25 kasus/l .000 penduduk) yang ke-
mudian berfluktuasi (cenderung meni ngkat) hingga mencapai
puncak sekitar JanuariPebruari (17 kasus/ 1.000 penduduk).
Gambar 5. Fluktuasi KasusMalaria Desa Kaliurip,Kec.Madukara, Banjar-
negara
Bila secara keseluruhan fluktuasi padat populasi kedua
spesies vektor tersebut berikut angka paritasnya dan fluktuasi
kasus diperhatikan maka tampak adanya persamaan dan per-
bedaan antara kedua spesies tersebut. Puncak padat populasi I
An. balabacensis dan An. maculatus terjadi sekitar Juni sedang
puncak II untuk An. balabacensis terjadi sekitar Januari dan
untuk An. maculatus sekitar Nopember. Bila puncak-puncak
padat populasi tersebut dibandingkan dengan fluktuasi kasus
per bulan maka tampak bahwa meningkatnya kasus bersamaan/
hampir bersamaan dengan meningkatnya padat populasi kedua
spesies vektor. Peluang saat-saat kontak/penularan efektif ber-
dasarkan angka paritas dan fluktuasi padat populasi tiap jam
penangkapan tampaknya hampir sama. Hanya perlu diketahui
bahwa An. balabacensis dalam semalam mempunyai tiga puncak
padat populasi (petang, tengah malam, menjelang pagi) sedang
An. maculatus hanya dua (petang dan menjelang pagi).
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan selama 8 bulan (Juni
`92 Januari `93) dapat disimpulkan bahwa puncak padat popu-
lasi I kedua spesies terjadi sekitar Juni sedang puncak II sekitar
Januari (An. balabacensis) dan Nopember (An. maculatus) yang
bersamaan dengan naiknya/puncak kasus malaria di daerah ter-
sebut. Dalam semalam (pukul 18.0006.00) An. balabacensis
mempunyai tiga puncak kepadatan (petang, tengah malam, men-
jelang pagi) sedang An. maculatus mempunyai dua puncak
kepadatan (petang, menjelang pagi) yang efektif.
KEPUSTAKAAN
1. Kirnowardoyo S. Tinjauan penelitian tentang pola penularan malaria yang
telah dilakukan di Indonesia. Tin jauan Peneliti Ekologi Kesehatan di Indo
nesia (19691989). Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan. Badan Litbang
Kesehatan. Jakarta, 1989. hal. 181192.
2. Sukamto,.Sustriayu N. The relationship between riceplanting patterns and
malaria incidence in Ban jarnegara regency : an observation. Berita
Kedokt. Masy. 199!; VIII(4): 23942.
3. Pranoto. Laporan survei, sewaktu entomologi malaria di Kabupaten Banjar
negara, 1623 Januari 1991 (tidak dipublikasi).
4. Stojanovich CJ. Scott HG. Illustrated key to mosquitoes of Vietnam. US
Department of Health Education and Welfare. Public Health Service.
Communicable Disease Centre. Atlanta. Georgia. 1966.
A friend to everybody is a friend to nobody
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
8