Artikel
Evaluasi Serologis Vaksinasi Polio
di Jambi
Gendrowahyuhono, Suharyono Wuryadi
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penelitian evaluasi serologis terhadap vaksinasi polio di Jambi bertujuan untuk
mendapatkan data mengenai tanggap kebal anak setelah mendapat 2 kali vaksinasi me-
nurut keadaan (virologis, serologis) daerah setempat, dan untuk mengetahui jenis dan
distribusi virus entero, status kekebalan anak sebelum divaksinasi dan keadaan vaksin
dengan cold chain yang ada di suatu daerah. Sampel berupa darah dan usapan dubur
anak-anak yang berumur 236 bulan, diperiksa secara uji netralisasi (serologis) dan
isolasi virus. Hasil pemeriksaan serologis anak yang belum divaksinasi menunjukkan
bahwa 54,5% anak-anak tersebut tidak mempunyai kekebalan sama sekali terhadap
ketiga virus polio. Hasil pemeriksaan serologis anak yang sudah mendapat 2 kali
vaksinasi menunjukkan bahwa seroconversion rate terhadap virus polio tipe 1 sebesar
86,6%, terhadap tipe 2:83,9% dan terhadap tipe 3:92%. Serokonversi terhadap ketiga tipe
sebesar 75%. Hasil isolasi virus dari usapan dubur anak sebelum divaksinasi
mendapatkan virus entero di 112 spesimen (18,7%). Virus-virus tersebut terdiri dari virus
polio type], Coxsackie B type 5 dan type 7, Echo type 3, 5, 7, 9, 14 dan 23. Sesudah anak
mendapat 2 kali vaksinasi maka hanya ditemukan virus Echo type 5 dan 9. Hasil
pemeriksaan potensi vaksin menunjukkan tidak ada penurunan potensi.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa anak-anak berumur 236 bulan di
Jambi sebelum divaksinasi mempunyai status kekebalan yang rendah. Bahwa tanggap
kebal anak terhadap 2 kali vaksinasi polio sudah baik. Cold chain vaksin sudah baik dan
aman (tidak menurunkan mutu vaksin).
PENDAHULUAN
Pengembangan program immunisasi (PPI) di Indonesia
telah dimulai sejak tahun 1980, di antaranya adalah program
immunisasi polio. Penyakit polio (poliomielitis) di Indonesia
belum banyak diketahui, data mengenai derajat morbiditas
(morbidity rate), derajat kematian (mortality rate) dan derajat
kelumpuhan pasca infeksi polio masih sangat sedikit. Penelitian-
penelitian mengenai jenis dan distribusi virus-virus entero yang
beredar di masyarakat clan tingkat kekebalan anak-anak terhadap
penyakit polio dari berbagai golongan umur juga masih terbatas
jumlahnya. Selain itu apakah penyimpanan dan pengiriman
vaksin polio ke daerah PPI yang sekarang dipakai telah memadai
Cermin
Dania
Kedokteran
No. 100, 1995 7
Cermin
Dania
Kedokteran
No. 100, 1995 7
untuk menjamin kualitas vaksin, masih perlu diteliti. Efektivitas
vaksinasi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
adanya virus entero yang beredar di masyarakat karena kemung-
kinannya mengadakan interferensi, status kekebalan anak yang
akan divaksinasi, dan pengiriman atau penyimpanan vaksin
(cold chain). Hasil penelitian di beberapa daerah seperti di
Bandung (4), Purwakarta (2) dan di Jakarta (1) menunjukkan
adanya virus-virus entero dari berbagai tipe dengan prevalensi
yang berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Prevalensi
virus entero di daerah-daerah lain belum banyak diketahui,
demikian juga pengaruhnya terhadap vaksin polio hidup yang
diberikan secara oral (OPV). Tingkat kekebalan anak-anak ber-
bagai umur terhadap virus polio juga masih terbatas datanya.
Survai serologis di beberapa tempat di Indonesia
(1,2,3)
me-
nunjukkan bahwa 1383% anak-anak berumur kurang dari 3
tahun tidak mempunyai zat kebal (antibodi) terhadap ketiga tipe
virus polio (tripel negatit). Tetapi sebaliknya jumlah anak yang
mempunyai zat kebal terhadap ketiga tipe virus polio (tripel po-
sitif) bertambah dengan meningkatnya umur; sebagai contoh : di
Purwakarta 22% di antara anak kurang dari 1 tahun telah mem-
punyai zat kebal tripel positif dan prosentase meningkat menjadi
77% pada anak-anak berumur 45 tahun, sedangkan di Tanjung
Priok dan Kebayoran Baru dari 0% menjadi 60% pada anak-anak
dalam periode umur yang sama
(1,2)
.
Indonesia adalah negara tropis, suhu udara tinggi sepanjang
tahun selain komunikasi di masing-masing daerah berbeda-beda.
Keadaan demikian dapat berpengaruh terhadap cold chain dari
pada vaksin yang dapat menurunkan mutu atau potensi vaksin
sehingga mengganggu efisiensi imunisasi. Karena itu perlu di-
lakukan penelitian untuk mengetahui apakah pengiriman vaksin
dengan termos yang berisi es dan penyimpanan dengan
.
freezer
yang tersedia sekarang ini telah cukup menjamin mutu vaksin.
Untuk mendapatkan hasil imunisasi yang maksimal maka
perlu diteliti pengaruh virus-virus entero yang ada di masyarakat,
status kekebalan anak-anak, cara pengiriman dan penyimpanan
vaksin dan cara vaksinasi di daerah-daerah yang akan dilakukan
imunisasi polio. Penelitian ini ditujukan untuk mencari dan
melengkapi data dasar seperti jenis dan distribusi virus entero,
status kekebalan anak sebelum vaksinasi dan keadaan vaksin
dengan cold chain yang ada di suatu daerah sebagai penunjang
berhasilnya program imunisasi polio, dan selain itu untuk men-
dapatkan data mengenai tanggap kebal (immune response) anak
terhadap dua kali vaksinasi di suatu daerah menurut keadaan
(virologis, serologis) setempat.
BAHAN DAN CARA
Spesimen (bahan pemeriksaan) berupa usapan dubur dan
darah (serum), yang diambil dari anak-anak berumur 236 bulan,
sejumlah 600; terdiri dari 300 spesimen berasal dari anak-anak
yang divaksinasi dengan 2 kali dan 300 spesimen dari anak-anak
yang tidak mendapat vaksinasi. Contoh (sampel) diambil ber-
tahap, dua kali yaitu pertama sebelum vaksinasi dan yang kedua
setelah vaksinasi dilakukan. Serum untuk pemeriksaan zat kebal
(antibodi) diambil dari darah ujung jail dengan tabung kapiler,
sedangkan usapan dubur diambil dengan kapas berlidi yang telah
dibasahi dengan larutan Hank's berisi antibiotik (penisilin 200
IU/ml dan streptomisin 200 mg/ml), dipergunakan untuk isolasi
virus. Serum dalam vial dan usapan dubur dalam tabung berisi
Hank's dikirim ke Jakarta dalam thermos berisi es. Pemeriksaan
zat kebal dan isolasi serta identifikasi virus dilakukan di Pusat
Penelitian Penyakit Menular di Jakarta.
Vaksin yang digunakan adalah trivalent oral polio vaksin
(OPV) yang didistribusikan oleh PN Bio Farma. Vaksin dikirim
ke Jambi oleh Dir.Jen PPM & PLP dengan pesawat udara dan
kemudian dibagikan ke daerah-daerah vaksinasi dalam keadaan
dingin dengan cold pack atau dengan thermos berisi es. Vaksinasi
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kodya Jambi pada bulan Okto-
ber s/d Desember 1982.
Pemberian vaksinasi dua kali dengan interval 46 minggu.
Daerah pengambilan contoh di Kecamatan Telanai Pura dan
Kecamatan Jambi Selatan, Kodya Jambi. Kecamatan Telanai
Pura dipilih sebagai daerah yang mendapat vaksinasi sesuai
dengan program vaksinasi oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jambi,
sedangkan Kecamatan Jambi Selatan dipilih sebagai daerah yang
tidak divaksinasi. Pemeriksaan zat kebal dalam serum dilakukan
dengan uji netralisasi pada biakan primer sel ginjal kera secara
mikro terhadap 100 TCID
50
virus polio. Isolasi virus dilakukan
pada biakan primer sel ginjal kera yang ditumbuhkan dalam
tabung menggunakan supernatan dari perasan usapan dubur
dalam larutan Hank's setelah dipusing (sentrifuge) sebagai
inokulum sesuai dengan cara yang pernah dilaporkan
(1)
.
Virus isolat kemudian diidentifikasi dengan uji netralisasi
menggunakan zat kebal tipe spesifik virus-virus entero pada
biakan primer sel ginjal kera. Untuk pemeriksaan kualitas atau
potensi vaksin, beberapa contoh vaksin sebelum dikirim dan sisa
dari yang telah digunakan di lapangan dikirim kembali dalam
thermos berisi es ke Jakarta untuk dilakukan titrasi. Titrasi di-
lakukan pada biakan primer sel ginjal kera.
HASIL
Sejumlah 600 anak berumur 236 bulan digunakan sebagai
studi populasi. Dari 600 anak tersebut dibagi menjadi 2 kelom-
pok : Kelompok I sejumlah 300 anak berasal dari Kecamatan
Telanai Pura, merupakan kelompok yang di vaksinasi. Kelompok
II sejumlah 300 anak berasal dari Kecamatan Jambi Selatan,
merupakan kelompok yang tidak divaksinasi. Dari jumlah 300
anak kelompok vaksinasi, yang berhasil diambil spesimennya
sebelum dilakukan vaksinasi, 216 (72%) berhasil diberi vaksin
1 kali; dari 216 anak tersebut, 116 (38,7%) anak berhasil diberi
vaksin yang ke dua kalinya. Dari 116 anak yang berhasil diberi
vaksinasi 2 kali, 100 anak berhasil diambil spesimennya;
sedangkan dari 100 anak (216116) yang tidak dapat diberi
vaksinasi ke 2 (hanya mendapat 1 kali vaksinasi) hanya 70 anak
berhasil diambil spesimennya. Dari 300 anak kelompok tidak
divaksinasi, hanya 100 anak yang berhasil diambil spesimen dua
kali.
Berdasarkan hasil pelaksanaan pengambilan spesimen ke
dua maka populasi yang bisa dianalisis untuk melihat efek
Cermin
Dania
Kedokteran
No. 100, 1995 7
vaksinasi adalah anak-anak yang dapat diikuti mulai dari sebe-
lum vaksinasi sampai dengan setelah vaksinasi dilakukan, yaitu
sejumlah 270 sampel yang terdiri dari : 100 anak yang mendapat
vaksinasi 2 kali, 70 anak yang mendapat vaksinasi 1 kali, dan 100
anak yang tidak mendapat vaksinasi.
Sedangkan sejumlah 600 anak yang berhasil diambil
spesimennya sebelum vaksinasi dapat digunakan sebagai data
dasar mengenai status kekebalan anak, jenis dan distribusi virus
entero di daerah Kodya Jambi. Pemeriksaan serum anak-anak
berumur 2-36 bulan yang belum mendapatkan vaksinasi me-
nunjukkan bahwa 54,5% tidak mengandung zat kebal sama
sekali terhadap ketiga tipe virus polio (tripel negatif), dan hanya
6% yang mengandung zat kebal terhadap ketiga tipe virus polio
(tripel positif) (Tabel 1).
Tabel 1. Zat kebal netralisasi dari anak-anak di Kodya Jambi sebelum
dilakukan
vaksinasi
polio
(Agustus
1982)
Zat kebal positif
terhadap virus polio
Gol Umur
(bulan)
Jumlah spesimen
yang diperiksa
tipe 1 tipe 2 tipe 3
Zat kebal
tripel positif
(%)
Tripel
negatif
(%)
2 11
12 23
24 36
2 36
210
273
117
600
21,4
19,8
26,5
21,7
21,0
34,1
45,3
31,7
17,1
11,7
29,1
17,0
4,8
5,1
10,3
6,0
61,4
54,6
41,9
54,5
Pemeriksaan serum dari 100 anak sebelum dan sesudah
mendapatkan 2 kali vaksinasi menunjukkan bahwa 36 anak
(36%) yang semula tripel negatif menjadi 0 setelah vaksinasi,
sedangkan jumlah anak yang semula 12 (12%) tripel positif se-
belum vaksinasi meningkat menjadi 75 (75%) setelah vaksinasi
(Tabe12).
Tabel 2. Zat kebal netralisasi dari 100 anak berumur 2 bulan 36 bulan,
sebelum
dan
sesudah
mendapat 2 kali vaksinasi di Telanai Pura,
Jambi
Tripel negatif
Tripel positif
Status vaksinasi
n % n %
Sebelum vaksinasi
Sesudah vaksinasi
36
0
36
0
12
75
12
75
Hasil pemeriksaan serum dari kelompok 100 anak yang
tidak mendapat vaksinasi dan kelompok 70 anak yang mendapat
1 kali vaksinasi masing-masing terlihat pada tabel 3 dan 4.
Tabe1 3. Zat kebal netralisasi dari 70 anak berumur 236 bulan sesudah
mendapat 1 kali vaksinasi di Tetanal Pura, Jambi
Tripel negatif
Tripel positif
Status vaksinasi
n % n %
Sebelum vaksinasi
Sesudah vaksinasi
29
1
41,4
1,4
4
28
5,7
40
Selanjutnya tanggap kebal tipe spesifik dari anak-anak ke-
lompok vaksinasi dan kelompok non vaksinasi tampak dalam
tabel 6 dan 7.
Hasil pemeriksaan isolasi virus dari usapan dubur anak se-
belum mendapat vaksinasi menunjukkan bahwa dari 600 spe-
Tabel 4. Zat kebal netralisasi dari 100 anak berumur 236 bulan,
kelompok
tidak
mendapat
vaksinasi,
di
Jambi
Selatan,
Jambi
Tripel negatif
Tripel positif
Waktu pengambilan
spesimen
n % n %
Sebelum vaksinasi
Sesudah vaksinasi
75
64
75
64
2
15
2
15
Tabel 5. Tanggap kebal tipe spesifik anak setelah mendapat 2 kali vaksi
nasi
polio
di
Telanai
Pura,
Jambi
(1982)
Tipe virus
polio
Jumlah sero negatif
sebelum vaksinasi
Jumlah sero positif
sesudah vaksinasi
Conversion Rate
(% )
Tipe 1
Tipe 2
Tipe 3
67
56
75
54
47
69
86,6
83,0
92,0
Tabel 6. Tanggap kebal tipe spesifik anak setelah mendapat 1 kali vaksi
nasi
polio
di
Telanai
Pura,
Jambi
(1982)
Tipe virus
polio
Jumlah sero negatif
sebelum vaksinasi
Jumlah sero positif
sesudah vaksinasi
Conversion Rate
(%)
Tipe 1
Tipe 2
Tipe 3
56
33
55
42
23
35
75,0
69,7
63,6
Tabel 7. Serokonversi tipe spesifik anak kelompok tidak divaksinasi pada
saat
sebelum
dan
sesudah
trial di Jambi Selatan, Jambi (1982)
Tipe virus
polio
Jumlah sero negatif
sebelum trial
Jumlah sero positif
sesudah trial
Conversion Rate
(%)
Tipe l
Tipe 2
Tipe 3
88
85
89
31
24
15
35,2
28,2
16,9
simen yang diperiksa berhasil diisolasi virus entero dari 112
spesimen (18,7%). Dari 112 spesimen virus entero, setelah
diidentifikasi berhasil didapatkan virus polio type 1 dari 10
spesimen (8,9%), virus Coxsackie B group dari 7 spesimen
(6,2%) dan virus Echo group dari 19 spesimen (17,0%), sedangkan
76 spesimen (67,9%) tidak teridentifikasi (Tabel 8).
Pemeriksaan isolasi virus dari usapan dubur anak setelah
mendapat dua kali vaksinasi menunjukkan bahwa dari 100
spesimen yang diperiksa berhasil diisolasi virus entero dari 6
spesimen (6%), dan tidak diketemukan virus polio. Dari 6 spe-
simen tersebut ditemukan virus echo type 9 dari 2 spesimen, dan
virus echo type 5 dari I spesimen, dan 3 spesimen belum dapat
diidentifikasi.
Hasil pemeriksaan potensi vaksin polio sebelum digunakan
mean titernya 10
6,2
TCID
50
per ml, sedangkan sesudah digunakan
mean titernya 10
6,0
TCID
50
per ml.
DISKUSI
Dari hasil pemeriksaan zat kebal anak-anak sebelum men-
dapat vaksinasi ternyata bahwa tripel negatifnya 3 kali lebih
tinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain seperti di
Banjarmasin (15%), Purwakarta (15,7%), Kebayoran Baru
(18,1%). Ini berarti bahwa status kekebalan anak-anak di Jambi
sangat rendah sehingga perlu segera dilakukan vaksinasi polio
terhadap anak-anak yang berumur 2 36 bulan. Jika hasil pe-
Tabel 8. Hasil isolasi virus entero dari usapan dubur anak sebelum dilakukan vaksinasi polio, di Kodya Jambi
Hasil Isolasi
Hasil identifikasi
Asal Spesimen
Jumlah
Spesimen
Positif Negatif p1 CB5 CB6 E3 E5 E7 E9 E14 E23
BID
Telanai Pura
Jambi Selatan
300
300
51 (17%)
61 (20,3%)
249
239
6
4
1
5
1
2
5
1
3
2
3
2
1
33
43
Total
600 112
(18,746)
488 10 6 I 2 5 4 5 2 I 76
(67,9%)
Keterangan :
P1 = polio virus type I
CB5,
CB6 =
Coxsackie
B
virus
type
5
dan
type
6
E3, E5, E7, E9, E14, E23 = Echo virus type 3, 5, 7, 9, 14, 23
BID =
Belum
dapat
diidentifikasikan
meriksaan serologis anak-anak yang telah mendapat vaksinasi
polio yang dilakukan dalam penelitian ini dibandingkan dengan
hasil dari penelitian yang sama di Jakarta
(3)
dan di Bandung
(5)
maka ditinjau dari penurunan persentase tripel negatif dari anak-
anak sebelum dan sesudah vaksinasi, dan juga ditinjau dari
besarnya prosentase serokonversi terhadap ketiga tipe virus polio
maupun seroconversion ratenya terhadap masing-masing tipe
tampak hasilnya tidak berbeda.
Keadaan cold chain vaksin polio sangat berpengaruh ter-
hadap hash yang dicapai. Dalam hal ini maka pengiriman vaksin
polio dari Jakarta ke Jambi menggunakan container yang diisi
cold pack dan dikirim dengan pesawat udara, kemudian vaksin
disimpan dalam frezeer20°C yang ada di Dinas Kesehatan Pro-
pinsi Jambi, sudah cukup aman. (Pemeriksaan potensi vaksin
polio sebelum dan sesudah dikirim tidak mengalami penurunan).
Dari hasil pemeriksaan isolasi virus entero sebelum vaksi-
nasi ternyata ditemukan virus polio dan virus non polio(Coxsackie
B dan Echo). Sedangkan pemeriksaan isolasi virus dari anak
yang sama setelah mendapatkan vaksinasi, ditemukan virus
entero yang terdiri dari virus Echo tipe 5 dan tipe 9. Dari virus
Echo tipe 9 yang ditemukan sesudah vaksinasi, ternyata di
ekskresi oleh 2 anak yang mengekskresi virus yang sama dengan
sebelum mereka mendapatkan vaksinasi. Hal ini sangat menarik
bila melihat hasil pemeriksaan serologi kedua anak tersebut pada
saat sebelum dan sesudah divaksinasi; hasil serologi menunjuk-
kan bahwa kedua anak tersebut tidak mempunyai zat kebal sama
sekali terhadap ketiga tipe virus polio (tripel negatif) sebelum
mendapatkan vaksinasi, dan menjadi tripel positif (mempunyai
zat kebal terhadap ketiga tipe virus polio) sesudah mendapat vak-
sinasi polio dua kali. Ini berarti bahwa adanya virus Echo type 9
di dalam tractus intestinum tidak mempengaruhi tanggap kebal
anak terhadap vaksinasi polio yang diberikan.
Meskipun data ini hanya ditemukan pada 2 kasus, tetapi
sudah memberi petunjuk bahwa eksistensi Echo virus tipe 9
dalam usus (saluran pencernaan) tidak menghambat pembentuk-
an zat kebal terhadap virus vaksin polio yang diberikan secara
oral.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dan mengingat faktor cold
chain yang dapat berpengaruh terhadap hasil yang dicapai, maka
dapat disimpulkan bahwa cara pengiriman dan penyimpanan
vaksin yang selama ini dilakukan oleh Dir-Jen PPM & PLP,
sudah baik. Program imunisasi dengan 2 kali vaksinasi oral polio
(vaksin didistribusi oleh P.N. Bio Farma Bandung) memberikan
hasil seroconversion rate yang tinggi, yang berarti bahwa dalam
penelitian ini vaksinasi polio dengan cara 2 kali vaksinasi yang
dilakukan di Kodya Jambi, sudah efektif diukur dari hasil pe-
meriksaan serokonversinya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Dr. Iskak Koiman,
Kepala Pusat Penelitian Penyakit Menular, atas segala dorongan dan bimbing-
annya sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan haik
Demikian juga penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Dr. Wibisono MPH, Kepala Bidang P2M Kan Wil Kesehatan Propinsi
Jambi.
2. Dr. Abdul Manaf SKM, Kepala Sub Dinas P2M Dinar Kesehatan Propinsi
Jambi.
3. Mustu}a BSc, Sastriwati BSc, dan Saudara Romli staf Dinas Kesehatan
Propinsi Jambi.
4. Saudara Karoline, Bapak Pakpahan, staff Dinas Kesehatan Kodya Jambi.
5. Para dokter dan petugas dari Puskesmas Telanai Pura dan Jambi Selatan.
6. Petugas-petugas dari kelurahan, RW dan RT di wilayah Kecamatan Telanai
Pura dan Jambi Selatan.
Atas segala bantuan dan nasihat yang telah diberikan selama berlang-
sungnya pengambilan spesimen, mulai dari persiapan sampai dengan pelak-
sanaan penelitian, sehingga tercapai hasil yang memuaskan.
KEPUSTAKAAN
1. Gendrowahyuhono, Suharyono, Iskak Koiman, Harahap DE. Preliminary
study of sero-immunity to polio virus in urban population in Indonesia,
Health Studies in Indonesia 1979; VII(2): 215.
2. Gendrowahyuhono, Suharyono Wuryadi. A preliminary study of enterovirus
infection among children in Purwakarta, West Java, Indonesia. Bull Penelit
Kes 1981; 1X(2): 1417.
3. Gendrowahyuhono, Suharyono Wuryadi. Tanggap kebal anak-anak terhadap
2 dosis vaksin polio di Jakarta. Bull Penelit Kesehatan 1982; X(2): 3134.
4. Soeprapti Thaib, Anna Alisyahbana. Polio in Indonesia. Simposium on
Immunization, Jakarta 27 Nov 1 Des 1979.
5. Hasil trial immunisasi polio di lima Kecamatan di Kodya Bandung (survey
viro-serologi) pada bayi sehat golongan umur 314 bulan, pada tahun 1978
1979. Suatu kerja sama antara : Dit.Jen P3M Din.Kes. Jawa Barat; PN Bio
Farma Departemen Kesehatan RI, Sept 1981.
6. Pedoman Immunisasi di Indonesia. Hasil Simposium Immunisasi yang
diadakan oleh Departemen Kesehatan, IDAI, kerja sama dengan WHO
UNICEF USAID dan Perum Bio Farma. Jakarta, 27 Nov 1 Des 1979.