background image
Artikel
HASIL PENELITIAN
Efek Antikanker Isolat Flavonoid
dari Herba Benalu Mangga
(Dendrophtoe petandra)
Sukardlman, IGP Santa, Rahmadany
Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya
ABSTRAK
Telah dilakukan pengujian aktivitas antikanker dari isolat flavonoid dari herba
benalu mangga (Dendropthae petandra). Untuk bewan coba digunakan mencit betina
yang menderita kanker pada daerah interskapuler (tengkuk) dari hasil induksi dengan
benzopirena.
Isolasi flavonoid dilakukan dengan maserasi secam bertahap menggunakan pe-
larut : heksan, kloroform dan etanol. Dari eksirak etanol dilakukan fraksinasi dengan
kolom cepat dan digunakan pelarut diklorometan - etanol secara bertingkat.
Sediaan isolat flavonoid diberikan secara intraneoplasma selama 7 kali penyun-
tikan dengan interval 2 hari sekali. Untuk evaluasi antikanker digunakan parameter
volume kanker dan irisan anatomi histologi jaringan kanker.
Hasil penelitian menunjukkan pada dosis 2,44 mg/0,2 ml, isolat flavonoid herba
benalu mangga (Dendropthoe petandra) mampu menghambat pertumbuhan kanker
pada mencit (p < 0,05).
PENDAHULUAN
Salah satu metode yang digunakan dalam pengembangan
dan penemuan obat antikanker dari babas bioaktif tanaman
menggunakan hewan coba mencit yang dibuat kanker dengan
induksi benzopirena, N-metil-N-nitrosourea, 3-metilkolantrena;
evaluasi parameter antikanker dengan penghambatan pertum-
buhan kanker dan data anatomi-histologi
(1,2,3)
.
Pada penelitian ini dipilih isolat flavonoid dari herba benalu
mangga (Dendropthoe petandra), berdasarkan pada pengguna-
an secara tradisional sebagai obat kanker, sera adanya laporan
penelitian yang menyatakan bahwa Isolat flavonoid dari benalu
mangga (Dendropthoe petandra) dapat menghambat pertum-
buhan Artemia sauna Leach
(1)
. Anemia salina Leach adalah
hewan coba yang digunakan untuk praksrining aktivitas anti-
kanker di National Cancer Institute, Amerika Serikat
(2)
.
TUJUAN PENELITIAN
Menguji aktivitas antikanker isolat flavonoid benalu
mangga (Dendropthoe petandra) pada mencit yang menderita
kanker karena induksi dengan benzopirena.
BAHAN DAN METODE
Isolasi flavonoid
Isolasi flavonoid dilakukan dengan maserasi secara ber-
tahap menggunakan pelarut : heksan, kloroform dan etanol.
Dari ekstrak etanol dilakukan fraksinasi dengan kolom cepat
dan digunakan pelarut diklorometan - etanol dengan perban-
dingan secara bertingkat.
Hewan percobaan
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit
putih betina galur BALB-C, berusia sekitar dua bulan. Kanker
dibuat dengan menyuntikkan larutan benzopirena dalam oleum
olivarum secara subkutan pada daemh interskapuler (tengkuk)
dengan dosis 0,3 mg/0,l ml selama 10 kali dengan interval 2
hari sekali. Benjolan kanker pada mencit akan mulai tumbuh
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 5
background image
setelah dua bulan penyuntikan benzopirena.
Hewan coba dibagi dalam 4 kelompok yang masing-
masing terdiri dari lima ekor mencit :
1.
Kelompok kontrol (tanpa pemberian isolat flavonoid)
2.
Kelompok yang diberi flavonoid dengan dosis 0,56 mg/
0,2 ml
3.
Kelompok yang diberi flavonoid dengan dosis 1,12 mg/
0,2 ml
4.
Kelompok yang diberi flavonoid dengan dosis 2,24 mg/
0,2 ml
Pemberian Isolat dan pengakuran aktivitas antikanker
Hewan coba yang menderita kanker diberi isolat flavonoid
secara intraneoplasma dengan dosis di etas sebanyak 7 kali
penyuntikan dengan interval waktu 2 hari sekali.
Pengukuran volume kanker dilakukan dengan cara mem-
buat cetakan dari malam (wax) yang ditempelkan pada benjolan
kanker; kemudian malam diangkat dan diisi dengan air.
Banyaknya air yang diisikan pada bentukan malam tersebut
sebanding dengan volume kanker.
Irisan anatomi histologi jaringan kanker dilakukan pada
kelompok kontrol dan kelompok yang pada perhitungan
statistik diketahui memiliki efek antikanker secara bermakna.
Analisis data
Untuk mengetahui adanya pengaruh aktivitas isolat fla-
vonoid dari herba benalu mangga (Dendropthoe petandra)
terhadap kanker mencit dilakukan analisis statistik dengan
metode T-student.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolasi flavonoid dilakukan secara maserasi bertahap dan
dilanjutkan dengan kromatografi kolom cepat, karena senyawa
flavonoid lebih mudah tertarik pada pelamt etanol sedangkan
senyawa selain flavonoid yang bersifat nonpolar dan semipolar
akan tertarik pada pelarut heksan dan kloroform; Hal ini akan
mempermudah pemurnian terhadap flavonoid.
Pemilihan penggunaan benzopirena sebagai inducer kanker
pada mencit, didasarkan pada pengalaman peneliti yang cukup
baik; tidak terjadi infeksi atau memborok, waktu penyuntikan
sampai timbulnya kanker relatif cepat (kurang lebih dua bulan).
Tabel 1 memperlihatkan hasil pengukuran volume kanker
rata-rata pada kelompok kontrol mencit yang tidak diberi isolat
flavonoid pada hari pengamatan ke 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12 dan 14.
Dan volume kanker yang diperoleh kemudian ditentukan
persen pertumbuhan kumulatif yang nantinya akan digunakan
dalam perhitungan statistik T-student test.
Hasil analisis T-student test terhadap kelompok II dengan
perlakuan dosis 0,56 mg/0,2 ml dapat dilihat pada Tabel 2.
Perlakuan dengan dosis I sebesar 0,56 mg/0,2 ml pada peng-
amatan had ke 0 sampai ke 14 tidak menyebabkan perbedaan
bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok
perlakuan, pada derajat kepercayaan p < 0,05.
Hasil perlakuan dengan dosis II (1,12 mg/0,2 ml) terhadap
pertumbuhan kanker mencit dapat dilihat pada label 3. Dari
hasil tersebut terlihat bahwa dengan perlakuan dosis II masih
belum menunjukkan adanya hambatan terhadap pertumbuhan
Tabel 1. Hasil pengukuran volume kanker mencit pada kelompok kontrol
Hari
pengamatan
ke
Nilai rata-rata
volume kanker
(mm
3
)
Jumlah hewan
Persen
pertumbuhan
(kumulatif)
0
2
4
6
8
10
12
14
591,25
630
675
718,75
761,25
802,5
845
885
5
5
5
5
5
5
5
5
100
1067
114,3
121,8
129,0
136,0
143,3
150,1
Tabel 2. Hasil analisis T-student pada kelompok uji I (dosis 0,56 mg/0,2
ml)
Hari
ke
Volume
rata-rata
kanker
(mm
3
)
Persen
pertumbuhan
kumulatif
(Kel.I)
Persen
pertumbuhan
kumulatif
(Kel.kontrol)
Signifikasi
0
2
4
6
8
10
12
14
616,25
657,5
701,25
746,25
786,25
830
883,75
917,5
100
106,8
114
121,4
128,0
135
142
149,4
100
106,7
114,3
121,8
129
136
143
150
ts
ts
ts
ts
ts
ts
ts
ts
Keterangan : ts = tidal signnifikan
Tabel 3. Hasil analisis T-student pada kelompok uji II (dosis 1,12 mg/0,2
ml)
Hari
ke
Volume
rata-rata
kanker
(mm
3
)
Persen
pertumbuhan
kumulatif
(Kel.II)
Persen
pertumbuhan
kumulatif
(Kel.kontrol)
Signifikasi
0
2
4
6
8
10
12
14
631,25
671,5
711,25
753,75
795
836,25
881,25
927,5
100
106,6
113
119,8
126,0
133,3
140
148,1
100
106,7
114,3
121,8
129
136
143
150
ts
ts
ts
ts
ts
ts
ts
ts
Keterangan : ts = tidak signifikan
kanker dari mencit.
Pemberian dosis III 2,24 mg/0,2 ml mulai menunjukkan
perbedean antara kelompok kontrol dengan kelompok perlaku-
an, t hitung kelompok ini pada hari ke-4 sampai dengan hari
ke-141ebih besar dari t tabel; dengan demikian isolat flavonoid
pada dosis 2,24 mg/0,2 ml yang diberikan trap interval waktu
2 hari kali selama tujuh tali dapat menghambat pertumbuhan
kanker mencit yang diinduksi dengan benzopirena.
Dengan melihat hasil demikian, kemungkinan besar dosis
III sebesar 2,24 mg/0,2 ml baru merupakan dosis awal terapi
(pengobatan) yang seharusnya digunakan dalam penelitian.
Senyawa flavonoid dari benalu secara umum adalah se-
nyawa kuersetin (Hegnauer, R., 1966); yang ternyata bersifat
inhibitor terhadap enzim DNA topoisomerase sel kanker
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
6
background image
(Andreas, C., et. al. 1995). Enzim tersebut adalah enzim yang
berperan dalam proses replikasi, transkripsi dan rekombinasi
DNA dan juga proses proliferasi dan diferensiasi sel kanker;
enzim ini merupakan target baban bioaktif tanarnan yang me-
miliki aktivitas antikanker, karena dengan dihambatnya enzim
DNA topoisomerase maka proses dalam sel alum terhenti dan
akhirnya Akan terjadi kematian sel tersebut
(1,3)
.
Pada penelitian ini belum ditentukan jenis senyawa fla-
vonoid dari hasil isolasinya; hanya digunakan reaksi penetapan
kualitatif dengan reaksi warna dan Kromatografi Lapis Tipis
(KLT) yang menunjukkan bahwa Slat tersebut adalah senyawa
flavonoid. Tidak adanya kuersetin bukan berarti tidak ada
aktivitas antikanker, karena ada laporan lain yang menyatakan
bahwa senyawa flavonoid jenis lain seperti metiltrisetin mampu
menghambat aktivitas enzim DNA topoisomerase sel kanker
(4)
.
Tabel 4. Hasil analisis T-student pada
kelompok uji III dosis
2,24 mg/0,2 ml
Tabel 4. Hasil analisis T-student pada kelompok uji III (dosis 2,24 mg/0,2
ml)
Hari
ke
Volume
rata-rata
kanker
(mm
3
)
Persen
pertumbuhan
kumulatif
(Kel.III)
Persen
pertumbuhan
kumulatif
(Kel.kontrol)
Signifikan
0
2
4
6
8
10
12
14
655
691.25
717.5
740
765
786,25
850
921.25
100
105,6
109.7
113
116,9
120.4
130.2
141,2
100
106,7
114,3
121,8
129
136
143
150
ts
ts
p < 0,05
p<0,05
p <0,05
p <0,05
p<0,05
p<0,05
Keterangan : ts
=
tidak
signifikan
p<0,05 =
signifikan
(bermakna)
Untuk melihat efek antikanker dari isolat flavonoid dapat
digunakan grafik pertdmngan persentase pertumbuhan kumu-
latif sel kanker dari kelompok kontrol dan kelompok perlakuan
dosis I, II, III terhadap hari pengamatan (Gambar 1).
Terlihat bahwa dosis I dan II pada kelompok perlakuan
dibanding dengan kelompok kontrol sudah mulai menyebabkan
perbedaan; volume kanker rata-rata kedua dosis tersebut di
bawah volume kanker rata-rata kelompok kontrol, namun ter-
nyata secara statistik dengan uji T-student tidak berbeda ber-
makna Sedang untuk perlakuan dosis III (2,24 mg/0,2 ml)
terlihat sangat nyata adanya perbedaan pertumbuhan kanker
kumulatif dari kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan
dosis III yang mulai hari ke 4 sampai hari ke 14 pengamatan
pertumbuhan kankernya semua di bawah kurva kelompok
kontrol. Hal ini juga ditunjang dengan analisis statistik yang
menunjukkan perbedaan bermakna pada p < 0,05.
Analisis histologi jaringan kanker, khususnya pada kanker
dad kelompok perlakuan dosis III (2,24 mg/0,2 ml dapat dilihat
pada Gambar 2; terlihat adanya sel nekrosis dan fuse adanya
sel inti yang mulai mengecil dan memadat.
Dengan demikian diperoleh korelasi positif antara uji
aktivitas antikanker dengan metode pengukenan volume kanker
dengan metode anatomi dan histologi jaringan kanker.
Keterangan: K = Kelompok kontrol
I
=
Kelompok
1
(dosis
0,56
mg/0,2
ml)
II
=
Kelompok
II
(dosis
1,12
mg/0,2
ml)
III
=
Kelompok
III(dosis
2,24mg/0,2
ml)
Gambar
.
1. Grafik persen pertumbuhan kanker terhadap waktu (hari).
Keterangan : 1. Sel nekrosis
2.
inti
sel
memadat
dan
mengecil
Gambar 2.Irisan anatomi jaringan kanker yang diberi isolat Flavonoid pada
dosis
III
(2,24
mg/0,2
ml)
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dosis 2,24 mg/
0,2 ml, isolat flavonoid dari herba benalu mangga (Dendropthoe
petandra) mampu menghambat pertumbuhan kanker pada
mencit yang diinduksi (Ragan benzopirena (p < 0,05).
Perlu dilakukan identifikasi dan karakterisasi dari isolat
flavonoid dengan spektra : UV, IR, MS dan NMR.
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 7
background image
KEPUSTAKAAN
1. Nararto. Uji praskrining isolat flavonoid dari herba benalu mangga
(Dendropthoe petandra). Skripsi Farmasi Unair,1996.
2. Meyer BN. Brine Shrimp : A Convenient General Bioassay for Active Plant
Constituents, J. Medicinal Plant Res 1982; 45.
3. Andreas C et al. Flavonoid as DNA Topoisomerese Antagonist and Poison:
Strcture-Activity Reletionship,J. Natural Product 1995; 58: 2.
4. Abdellatif Zahir et al. DNA Topoisomerase I Inhibitors : Cytotoxic flavones
from Lethedon tannensis,J. Natural Product. 1996; 59.
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
8