background image
Artikel
HASIL PENELITAN
Efek Analgesik Akupunktur pada
Periodontitis Apikalis Akuta
Shinta D. Sukandar*, ElisabethW.**
* SMF Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
** Puskesmas Tambora, Jakarta
PENDAHULUAN
Periodontitis Apikalis Akuta adalah peradangan akut ja-
ringan periodontium di daerah apikal gigi akibat iritasi melalui
saluran akar atau trauma pada gigi tersebut, dengan gejala
berupa nyeri gigi yang hebat
(1)
.
Dari laporan beberapa poliklinik gigi dinyatakan bahwa
penderita nyeri gigi terbanyak adalah kasus periodontitis; untuk
mengatasi nyeri tersebut biasanya diberikan analgesik
(1,2)
. Saat
ini banyak digunakan analgesik antiinflamasi non steroid (AINS),
yang tergolong analgesik ringan(3). Keberhasilan obat-obat anal-
gesik pada periodontitis akuta belum diketahui, sedangkan obat-
obat golongan AINS tersebut diketahui mempunyai efek sam-
ping antara lain gangguan traktus gastrointestinal, diskrasi darah
sampai anemia aplastik, sindrom Steven Johnson, gangguan
fungsi hati dan ginjal
(4-6)
.
Akupunktur dilaporkan efektif untuk menanggulangi nyeri
dan pelaksanaannya mudah, aman, ekonomis dan tidak menim-
bulkan reaksi yang tidak diharapkan
(7,8)
. Dari kepustakaan
dikatakan bahwa akupunktur analgesi untuk mengatasi nyeri gigi
cukup berhasil yaitu berkisar antara 50­90% dan keadaan bebas
nyeri dapat bertahan minimal l2 jam
(9,10)
. Dilaporkan efektifitas
untuk periodontitis 73%, gingivitis 60% dan pulpitis 44%
(11)
.
Berdasarkan hal-hal di atas, dilakukan penelitian ini dengan
tujuan:
1) Mengetahui efek akupunktur analgesik pada periodontitis
apikalis akuta.
2) Mengetahui derajat keberhasilan efek akupunktur analgesik
pada periodontitis apikalis akuta.
3) Mengetahui mulai timbul efek analgesi dan mulai meng-
hilangnya.
ABSTRAK
Peneiltian ini merupakan uji klinis kasus kontrol tentang efek analgesik akupunktur
pada 40 penderita Periodontitis Apikalis Akuta di UPF Gigi RSCM, Jakarta, dan dibagi
dalam 2 kelompok secara acak.
Kelompok kasus mendapat tindakan akupunktur yaitu penusukan pada titik 11,4 dan
New Point dan Michio Tany, sedang kelompok kontrol mendapat tindakan akupunktur
pada titik 1 mci samping radial os metakarpal I. Pada kelompok kasusjarum dihubungkan
dengan elektrostimulator type DZ-22 dan pada kedua kelompok tindakan dipertahankan
sampai 30 menit.
Evaluasi dilakukan setiap 5 menit sampai 30 menit, terhadap pengurangan rasa nyeri
dan efek-efek lain.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan bermakna efek analgesik aku-
punktur di kelompok kontrol pada menit ke 25, sedang di kelompok kasus efek analgesik
timbul pada menit ke 15. Efek analgesik tersebut dapat bertahan selama 24 jam pada
65% kasus, sedang pada kelompok kontrol 10%.
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
5
background image
4) Mengamati efek samping akupunktur pada periodontitis
apikalis akuta.
TINJAUAN PUSTAKA
Periodontitis apikalis akuta adalab suatu peradangan akut
jaringan periodontium di daerah apikal akibat iritasi melalui
saluran akar atau trauma pada gigi tersebut, dengan gejala nyeri
gigi yang hebat
(1,2)
. Etiologinya biasanya berupa iritasi mekanis
seperti trauma gigi, adanya benda asing di gigi dan tekanan
yang berlebihan dan alat-alat yang dipakai, juga karena iritasi
kimia dan iritasi bakteri
(1,2)
.
Gejalanya biasanya berupa
(1)
:
·
Rasa nyeri hebat pada gigi.
·
Nyeri lebih terasa bila penderita melakukan okiusi atau
artikulasi pada arab tertentu. Rasa nyeri bersifat terus menerus
terutama kalau tersentuh makanan, dan gigi terasa nyeri sekali
bila diperkusi.
Diagnosis biasanya berdasar anamnesis, antara lain adanya
riwayat nyeri gigi yang disebabkan trauma dan pemeriksaan,
yaitu : test suhu panas/dingin, palpasi, perkusi, dan pemeriksaan
radiologis
(1,2)
.
Prognosis penyakit ini umumnya cukup baik, tergantung
pada penyebab dan derajat kelainannya.
Pada periodontitis apikalis akuta, gejala yang paling me-
nonjol adalah nyeri, hal ini disebabkan oleh radang jaringan
periodontium yang mengenai persarafan gigi.
Nyeri dan daerah hidung, gigi-geligi dan mata tidak selalu
dirasakan tepat pada sumber peradangan. Hal ini karena impuls
nyeri dicetuskan di daerah persarafan nervus trigeminus yang
merupakan wadah semua impuls protopatik yang datang dari
setiap daerah wajah dan rongga mulut.
BAHAN DAN CARA
Penelitian uji klinis kasus kontrol secara acak (randomized
controlled clinical trial) ini dilakukan di UPF Gigi RSUPN
Cipto Mangunkusumo Jakarta, selama 4 bulan. Subyek peneli-
tian ialah orang dewasa dengan umur 20­60 tahun yang di-
diagnosis menderita peniodontitis apikalis akuta oleh bagian
Gigi RSUPNCM, dan belum makan obat-obat anaigesik sehari
sebelumnya. Subyek yang hiperemosionil, hipersensitif, dalam
keadaan ansietas dan yang menolak di akupunktur tidak diikut-
sertakan pada penelitian ini.
Subyek yang diteliti berjumlah 40 orang, dibagi menjadi 2
kelompok berdasar daftar acak; kedua kelompok tidak men-
dapatkan obat.
Pada kelompok kasus dilakukan tindakan akupunktur pada
titik 11,4 dan New Point (special tooth extraction point dari
Michio Tany) (Gambar 1).
Sedang pada kelompok kontrol, akupunktur pada titik 1 inci
ke samping radial os metakarpal 1 ibu jari kanan dan kiri.
Tindakan akupunktur pada kelompok kasus dilakukan dengan
penusukan jarum baja tahan karat steril pada titik-titik terpilih
sampai tercapai sensasi penjaruman, kemudian jarum dihu-
bungkan dengan elektrode dan stimulator type D2­22. Frekuensi
perangsangan diatur mulai dari 50Hz, dinaikkan pelan-pelan
sampai mencapai 100 Hz, sedang intensitas diatur sesuai keta-
hanan penderita; keadaan ini dipertahankan selama 30 menit.
Evaluasi terhadap pengurangan rasa nyeri dan efek-efek lain
dilakukan setiap 5 menit sampai mencapai 30 menit.
Skala nyeri dibagi dalam 5 strata:
0 = Tidak ada nyeri gigi.
1 = Gigi nyeri bila diperkusi.
2 = Gigi nyeri bila ditekan dengan jari.
3 = Gigi nyeri bila penderita menggigit gigi sendiri.
4 = Gigi nyeri tanpa sentuhan.
Efek analgrsik akupunktur dianggap ada bila didapatkan
perbedaan bermakna antara kasus dan kontrol, dengan meng-
gunakan test kemaknaan untuk perbedaan dua mean dari sampel
yang independen, dengan rumus t = X1 ­ X2 / s = Xl ­ X2.
Dinyatakan bermakna bila p <0,05 dan tidak bermakna bila p >
0,05.
Kriteria keberhasilan dibagi dalam 3 strata:
­ Gagal : Tak ada perubahan derajat nyeri dalam waktu 30
menit.
­ Perbaikan : Ada penurunan derajat nyeri, tapi belum hilang.
­ Berhasil : Nyeri hilang sama sekali.
HASIL
Penelitian ini dilakukan pada 40 orang penderita periodon-
titis apikalis akuta yang memenuhi kriteria, terdiri 20 penderita
laki-laki dan 20 penderita wanita (Tabel 1).
Tabel 1. Distribusi penderita menurut umur dan jenis kelamin
Jenis Kelamin
Jumlah
Umur (tahun)
Laki-laki
% Wandta %
n
%
20 ­ 29
30 ­ 39
40 ­ 49
50 ­ 59
60 ­
6
6
5
3
­
30
30
25
15
­
14
2
4
­
­
70
10
20
­
­
20
8
9
3
­
50
20
22,5
7,5
­
Jumlah
20 100 20 100 40 100
Tidak dijumpai kasus berusia di atas 60 tahun.
Dari Tabel 2 tampak bahwa pada kelompok kasus, rata-rata
derajat nyeri pada keadaan awal (sebelum diakupunktur) 3,25,
sedang pada kelompok kontrol, rata-rata derajat nyeri 2,95.
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
6
background image
Dengan T test dengan confidence limit = 95% (p = 0,05) di-
dapatkan t = 0,2862; df = 38; p>0,05. Jadi keadaan derajat nyeri
awal pada kelompok kasus dan kontrol tidak berbeda bermakna.
Tabel 2. Perbandingan derajat nyeri sebelum diakupunktur pada ke
lompok
kasus
dan
kontrol
Kasus
No.
Derajat nyeri
No.
Kontrol
Derajat nyeri
1 3 1 3
2 4 2 3
3 4 3 3
4 3 4 3
5 4 5 4
6 1 6 3
7 2 7 4
8 4 8 4
9 4 9 2
10 4 10 4
11 4 11 3
12 2 12 2
13 3 13 1
14 3 14 2
15 4 15 4
16 3 16 3
17 4 17 I
18 4 18 4
19 4 19 3
20 1 20 3
Jumlah 65 Jumlah 59
Mean 3,25
Mean 2,95
Tabel 3. Gambaran derajat nyeri pada kelompok kasus selama di-
akupunktur
Derajat
nyeri
Derajat nyeri setelah diakupunktur selama
No.
Awal 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit
1 3 3 3 2 2 1 1
2 4 3 3 2 2 1 1
3 4 3 3 2 2 1 1
4 3 3 3 2 2 1 1
5 4 4 4 4 4 4 4
6 1 1 1 1 1 0 0
7 2 2 2 1 1 0
0
8 4 4 3 3 3 2 2
9 4 4 3 3 3 2 2
10
4 4 4 3 3 3 2
11 4 3 2 2 I 0 0
12
2 2 2 1 1 0 0
13
3 3 3 3 3 3 3
14
3 3 2 2 1 1
0
5 4 4 4 4 4 3 3
16
3 3 3 3 3 2 2
17
4 4 3 3 2 2 1
18
4 4 2 2 1 1 0
19
4 4 4 4 3 3 3
20
1 1 1 1 0 0 0
Jumlah
65 62 55 48 42 30 25
Mean 3,25 3,1 2,75 2,4 2,1 1,5 1,25
Dari Tabel 3 tampak bahwa setelah diakupunktur selama 30
menit, nyeri hilang sama sekali pada 8 kasus (40%); sedang
penurunan derajat nyeri tetapi belum hilang sama sekali di-
dapatkan pada 10 kasus (50%); pada 2 kasus (10%) tidak di-
dapatkan adanya perubahan derajat nyeri.
Uji statistik untuk penurunan derajat nyeri kelompok kasus
setelah diakupunktur selama 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20
menit, 25 menit,dan 30 menit dibandingkan dengan awal memakai
T test dengan confidence limit = 95% adalah sebagai berikut:
­ setelah 5 menit penusukan : t = 0,4993; df = 38; p > 0,5
­ setelah 10 menit penusukan : t = 1,7163; df = 38; p > 0,5
­ setelah 15 menit penusukan : t = 2,7896; df = 38; p < 0,05
­ setelah 20 menit penusukan : t = 4,1126; df = 38; p < 0,05
­ setelah 25 menit penusukan : t = 5,057 ; df = 38; p < 0,05
­ setelah 30 menit penusukan : t = 5,6132; df = 38; p < 0,05
Ternyata nyeri berkurang secara bermakna setelah diakupunktur
selama 15 menit : (p < 0,05).
Tabel 4. Gambaran derajat nyeri pada kelompok kontrol sebelum dan
sesudah
dilakukan
tindakan
Derajat
nyeri
Derajat nyeri setelah tindakan
No.
Awal 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit
1 3 3 3 3 3 3 3
2 3 3 3 3 3 3 3
3 3 3 3 3 2 2 2
4 3 3 3 3 3 3 3
5 4 4 4 4 4 2 2
6 3 3 2 2 2 2 2
7 4 4 4 4 4 4 4
8
4
4
4
4
3
3
3
9 2 2 2 2 2 2 2
10 4 4 4 4 4 3 3
11 3 3 2 2 2 2 2
12 2 2 2 2 2 2 2
13 I 1 1 1 1 1 0
14 2 2 I 1 1 1 1
15 4 4 4 4 4 4 4
16 3 3 3 3 3 3 3
17 1 1 1 1 1 1 1
18
4
4
4
4 4
4
4
19 3 3 3 3 3 3 3
20 3 3 3 3 3 3 3
Jumlah
59 59 56 56 54 52 50
Mean
2
95
2,95
2,8 2,8 2,7 2,6 2
5
Dari Tabel 4 tampak bahwa 30 menit setelah tindakan nyeri
hilang sama sekali pada 1 kasus (5%), penurunan derajat nyeri
pada 7 kasus (35%) dan pada 12 kasus (60%) tidak didapatkan
perubahan derajat nyeri.
Uji statistik penurunan derajat nyeri kelompok kontrol 5
menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, dan 30 menit se-
telah tindakan dibandingkan dengan awal adalah sebagai berikut:
­ 5 menit setelah tindakan : t = 0; df = 38; p > 0,5
­ l0 menit setelah tindakan : t = 0,4740; df = 38; p > 0,5
­ 15 menit setelah tindakan : t = 0,4740; df = 38; p > 0,5
­ 20 menit setelah tindakan : t = 0,7891; df = 38; p > 0,5
­ 25 menit setelah tindakan : t = 1,1709; df = 38; p > 0,5
­ 30 menit setelah tindakan : t = 1,4204; df = 38; p > 0,5
Ternyata nyeri tidak berkurang secara bermakna (p > 0,5).
Dari Tabel 3 dan Tabel 4, tampak perbandingan kelompok
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
7
background image
kasus dan kelompok kontrol setelah diakupunktur setelah waktu
5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit dan 30 menit,
memakai T test dengan confidence limit 95% (p = 0,05), dida-
patkan sebagai berikut:
­ setelah 5 menit penusukan : t = 0,4947; df = 38; p > 0,5
­ setelah 10 menit penusukan : t = 0,16 10; df= 38; p > 0,5
­ setelah 15 menit penusukan : t = 1,2376; df = 38; p > 0,2
­ setelah 20 menit penusukan : t = 1,7947; df = 38; p > 0,05
­ setelah 25 menit penusukan : t = 3,1691; df = 38; p < 0,05
Ternyata dari Tabel 3 dan 4 terlihat perbedaan bermakna (p <
0,05) pengurangan derajat nyeri pada menit ke 25.
Tabel 5. Derajat keberhasilan (%) efek analgesik akupunktur pada pen-
derita
periodontitis
apikalis
akuta
pada
derajat
IV
Waktu setelah diakupunktur
Derajat
5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit
n % n % n % n % % n %
IV-IV 8 72,7 4 364 3 271 2 18.2 1 9
1 1 9,1
IV-111 3 27,3 5 45,5 4 36.4 4 36,4 3 27,3
2
18,2
IV-11 ­ ­ 2
18I
4
36,3
3
27,3
3
27,3
3
27,3
IV-1 ­ ­ ­ ­ ­ ­ 2 181 4
27,2
2 18,2
IV-0 ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ 1 9,1 3 27,2
Jumlah I1 100 II 100 11 100 11 100 11 100 11
100
Dari Tabel 5 tampak bahwa derajat keberhasilan efek anal-
gesik akupunktur terhadap periodontitis apikalis akuta pada de-
rajat IV 30 menit setelah diakupunktur adalah sebagai berikut:
­ gagal (IV­IV) I kasus (9, 1%)
­ perbaikan (IV­III, IV­II, IV­I) : 7 kasus (53,7%)
­ berhasil (IV­0) : 3 kasus (27,2%).
Tabel 6. Derajat keberhasilan (%) efek analgesik akupunktur pada pen-
derita
periodontitis
apikalis
akuta
pada
derajat
III
Waktu setelah diakupunktur
Derajat 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit
n % n % n % n % n % n %
III­III 5
100
4 80 2
100 2 40 1 20 1 20
III­II ­ ­ 1 20 3 60 2 40 1 20 1 20
III­I ­ ­ ­ ­ ­ ­ 1 20 1 60 2 40
III­0 ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ 1 20
Jumlah 5 100 5 100 5 100 5 100 5 100 5 100
Dari Tabel 6 tampak bahwa keberhasilan efek analgesik
akupunktur terhadap periodontitis apikalis akuta derajat III se-
telah diakupunktur 30 menit adalah sebagai berikut:
­ gagal (III­III) : I kasus (20%)
­ perbaikan (III­II, II : 3 kasus (60%)
­ berhasil (III­0) : I kasus (20%).
Dari Tabel 7 tampak keberhasilan efek analgesik akupunk-
tur terhadap periodontitis apikalis akuta pada derajat II setelah
diakupunktur 30 menit adalah sebagai berikut:
­ gagal (11­H) : 0 kasus (0%)
­ perbaikan (II­I) : 0 kasus (0%)
­ berhasil (11­0) : 2 kasus (100%).
Dari Tabel 8 tampak bahwa derajat keberhasilan efek anal-
gesik akupunktur terhadap periodontitis apikalis akuta derajat I
Tabel 7. Derajat keberhasilan (%) efek analgesik akupunktur pada pen-
derita
periodontitis
apikalis
akuta
pada
derajat
II
Waktu setelah diakupunktur
Derajat 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit
n % n % n % n % n % n %
II­II 2 100 2 100 ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
II­I
­ ­ ­ ­ 2 100 2 100 ­ ­ ­ ­
II­0 ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ 2 100 2 100
Jumlah 2 100 2 100 2 100 2 100 2 100 2 100
Tabel 8. Derajat keberhasilan (%) efek analgesik akupunktur pada pen-
derita
periodontitis
apikalis
akuta
pada
derajat
I
Waktu setelah diakupunktur
Derajat 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 merit 30 menit
n % n % n % n % n % n %
I­I
2 100 2 100 2 100 1 50 ­ ­ ­ ­
I­0
­ ­ ­ ­ ­ ­ 1 50 2 100 2 100
Jumlah 2 100 2 100 2 100 2 100 2 100 2 100
setelah diakupunktur 30 menit adalah sebagai berikut:
­ gagal (I­I) : 0 kasus (0%)
­ berhasil (I­0) : 2 kasus (100%).
Tabel 9. Gambaran kasus berhasil pada derajat nyeri yang berbeda
setelah
diakupunktur
selama
30
menit
30 menit
Derajat nyeri
Jumlah %
IV -0
3
15
III-0 1
5
II-0 2
10
I-0 2
10
Jumlah 8
40
Dari Tabel 9 tampak bahwa kasus yang berhasil dengan
derajat nyeri yang berbeda dijumpai pada 8 kasus. Pada kelom-
p0k derajat nyeri IV yang berhasil berjumlah 3 kasus (15%).
Sedangkan pada kelompok denajat nyeri III dijumpai 1 kasus
(5%), dan pada derajat nyeri II dan derajat nyeri I masing-masing
berjumlah 2 kasus (10%).
Dari Tabel 10 terlihat bahwa efek analgesik dapat bertahan
sampai 24 jam pada 13 kasus (65%) yang diakupunktun.
Dari Tabel 11 terlihat bahwa efek analgesik dapat bertahan
sampai 24 jam pada 2 kasus (10%) kontrol.
PEMBICARAAN
Peniodontitis apikalis akuta merupakan penadangan akut
jaringan peniodontium pada daerah apikal yang memberikan
gejala nyeri yang hebat, merupakan penyakit tenbanyak yang
dijumpai di poliklinik gigi dan mempengaruhi pnoduktivitas
penderita. Pengobatan biasanya ditujukan pada kausanya dan
untuk penanggulangan nyeninya biasa dipakai analgetik.
Telah Iama diketahui bahwa akupunktur dapat menanggu-
langi nyeri gigi. Dari berbagai penelitian yang dilaporkan, cara
pemilihan titik maupun teknik penusukan sangat bervariasi
(9,18,25)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
8
background image
Tabel 10. Gambaran lamanya efek analgesik akupunktur bertahan pada
kelompok kasus
Jumlah kasus
Keterangan :
garis
: Tidak
nyeri
garis
: Tidak
nyeri
Tabel 11. Gambaran lamanya efek analgesik bertahan pada kelompok
kontrol
Jumlah kasus
Keterangan :
garis
: Tidak
nyeri
garis
: Tidak
nyeri
Tabel 12. Efek samping yang terjadi pada kelompok kasus dan kontrol
setelah
diakupunktur
Efek samping
Kasus
%
Kelola
%
Sakit bekas tusukan
Perasaan segar
Sakit kepala/gelisah
Tak ada keluhan
Lain-lain
2
4
8
6
­
10
20
40
30
0
­
­
10
5
5
0
0
50
25
25
Jumlah 20
100
20
100
Penelitian ini berupa uji klinis memakai kelompok kasus dan
kontrol secara acak. Kombinasi titik-titik akupunktur yang di-
pakai adalah:
·
Titik Heku (II,4), terletak antara os metakarpal I dan II,
yang diperdarahi oleh cabang dan arteri radialis dan dipersarafi
oleh n. medianus
(26)
.
·
Special tooth extraction point dan Michio Tany, terletak
tepat di pertengahan sisi radial os metakarpal III dan dipersarafi
oleh n. medianus
(27)
.
Alasan pemakaian titik-titik tersebut karena titik Heku (II,4)
telah banyak dilaporkan mempunyai efek yang kuat dalam pe-
lepasan endorfin ke darah
(25)
, dan efektif menghilangkan gang-
guan-gangguan mulut bagian dalam dan nasal. "F titik ekstraksi
gigi" dan Michio Tany mempunyai efek analgesik pada ekstraksi
gigi. Kombinasi dua titik tersebut akan memberikan efek analge-
sik pada gigi yang kuat, karena efek sinergis
(27,28)
. F juga Heku
merupakan titik Yen pada meridian usus besar yang memang
pada perjalanannya berhubungan dengan gigi geligi
(25,28)
.
Menurutpenelitian di Cina, efek analgesik akupunktur pada
penderita periodontitis apikalis akuta dapat bertahan selama 12
jam dengan hasil yang memuaskan 73%. Sedangkan pada pene-
litian ini diperoleh efek analgesik akupunktur dapat bertahan
selama 24 jam pada 13 kasus (65%), hal ini tidak dapat diuji
secara statistik karena penderita setelah pulang tidak dapat
mengevaluasi derajat nyerinya. Perbedaan hasil tersebut karena
adanya perbedaan jumlah penderita, cara pemilihan titik, teknik
penusukan maupun lamanya pene1itian
(16)
.
Dari penelitian ini jumlah kasus pada gigi bawah 16 kasus,
gigi atas 4 kasus, baik pada kelompok kasus maupun kelompok
kontrol. Dari 8 kasus yang berhasil baik, 7 kasus gigi bawah;
hal ini dapat diterangkan secara meridian, karena meridian usus
besar terutama berhubungan dengan gigi geligi bagian
bawah
(7,28)
.
Hasil penelitian ini menunjukkan akupunktur memang ber-
manfaat terhadap periodontitis apikalis akuta, dengan timbulnya
efek analgesik pada menit ke 15; hal ini sesuai seperti yang di-
laporkan dalam kepustakaan, bahwa efek analgesik akupunktur
umumnya timbul pada menit ke 10­20. Hal ini dapat diterangkan
dengan teori endorfin, karena stimulasi listrik pada titik aku-
punktur merangsang pelepasan endorfin ke dalam darah dan
keadaan ini memerlukan waktu
(18)
.
Diperoleh hasil baik pada 8 kasus (40%), perbaikan 10
kasus (50%), gagal 2 kasus (10%); tampaknya akupunktur
memberi efek analgesik yang baik pada periodontitis apikalis
akuta. Kegagalan pada 2 kasus (10%), mungkin karena
penilaian nyeri sangat subyektif dan juga dipengaruhi oleh
beberapa faktor pada individu sendiri.
KESIMPULAN
1) Akupunktur pada titik He Ku (II,4) dan New Point (special
tooth extraction point dar Michio Tany) ternyata dapat me-
nimbulkan efek analgesik secara bermakna pada penderita perio-
dontitis apikalis akuta, pada menit ke 25 penusukan (p <0,05).
2) Efek analgesik akupunktur pada penderita periodontitis
apikalis akuta yang berhasil : pada derajat nyeri IV (IV­0) ber-
jumlah 3 kasus (15%), pada derajat nyeri III (III­0) berjumlah 1
kasus (5%), pada derajat nyeri II (II­0) berjumlah 2 kasus (10%),
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
9
background image
dan pada derajat nyeri 1(1­0) berjumlah 2 kasus (10%).
11. Ciao KS. Cen Ciu Ling Cuan Cm Yen i Yao. 1st ed. Peking: Medical &
Health Publ Co, 1979; 3 15­17.
3) Efek analgesik akupunkturpadaperiodontitis apikalis akuta
12. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat,
1978; 81­94.
pada kelompok kasus mulai timbul pada menit ke 15 (p <0,05).
4) Lamanya efek analgesik akupunktur dapat bertahan sampai
13. Satyanegara. Teori dan terapi nyeri. Jakarta: PT Panca Simpati, 1978;
9­30.
24 jam pada kelompok kasus berjumlah 13 kasus (65%),
sedang pada kelompok kelola berjumlah 2 kasus (10%).
14. Sidharta P. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Jakarta: PT Dian
Rakyat, 1979; 80.
5) Efek samping pada kelompok kasus ialah sakit bekas
tusukan 2 kasus (10%), perasaan segar 4 kasus (20%), sakit
kepala dan gelisah 8 kasus (40%); sedang pada kelompok
kelola didapatkan sakit kepala/gelisah berjumlah 10 kasus
(50%), dan lain-lain 5 kasus (25%).
15. Anonim. The treatment of 100 common diseases by new acupuncture.
16. Nang Kung Traditional Medical School. Acupuncture and Moxibution.
Shang Hai: PubI House, 1980; 241.
17. Thamrin HR. Akupunktur analgesi pada mini laparatomi. Jakarta: Unit
Akupunktur RSCM 1982; 36­49.
18. Tirgoviste Cl. Theory of mechanism of action in acupuncture. Am J
Acupunc 1973; 1: 193­199.
19. Kendall DE. A Scientific model for acupuncture ­ part I. Am J Acupunc
1989; 17(3): 251­65.
KEPUSTAKAAN
20. Kendall DE. A Scientific model for acupuncture ­ part ii. Am J Acupunc
1989; 17(4): 343­59.
1. Kumpulan Kuliah FKG Trisakti, Jakarta, 1985.
2. Ingle JI, Revendger EE. Endodontics. 2nd. ed, Philadelphia: Lea &
Febiger, 1976; 508­11.
21. Richardson PH, Vincent CA. Acupuncture for the treatment of pain ­ a
review of evaluative research. Pain 1986; 24: 15­40.
3. Saputra Ratu. Tinjauan obatanalgesik. SimposiumAnalgesik Baru. Jakarta,
9 Agustus 1986.
22. Schneideman 1. Medical Acupuncture. 1st ed. Hongkong: Mayfair Med.
Supplies Ltd, 1988; 153­98.
4. Setiabudy R. Beberapa masalah obat yang hangat dewasa in Dalam KPPIK
X, FKUI, Jakarta, 1979; 322­24.
23. Han Jisheng. Central Neurotransmitters and Acupuncture analgesia. In:
Pomeranz B, Gabriel S (ed). Scientific Basis of Acupuncture, Isted. Berlin:
Springer Verlag, 1989; 7­33.
5. Gan S. Farmakologi dan Terapi. edisi II, Jakarta: Bagian Farmakologi,
1980; 161­74.
24. Pomeranz B. Acupuncture research related to pain, drug addiction and
nerve regeneration. In: Pomeranz B, Gabried S. Scientific Basis of Acu-
puncture, 1st ed. Berlin: Springer-Verlag, 1989; 35­52.
6. Sidharta P. Neuromuskoloskeletal. ed 1. Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1984;
320­26.
7. Tse CS, Wangsa S, Wiran S, Budi H. Ilmu Akupunktur. ed II, Jakarta:
Bagian Akupunktur RSCM, 1985; 1­98.
25. Anonim. Acupuncture Anaesthese. Hong Kong: Published & printed,
1983; 160­161.
8. Thamrin HR. Penanggulangan nyeri dengan akupunktur. Cermin Dunia
Kedokt. 1982; 26: 22­5.
26. O Acupuncture a Comprehensive Text. Chicago: East hand press, 1981;
232­234, 691­692.
9. Anggraini N. Penjajagan hipalgesiaakupunkturpadaekstraksi gigi. KPPIK
IX FKUI, Jakarta, 1976; 378­89.
27. Kusuma A, Kiswojo. Teori & Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT
Gramedia, 1981; 244­271.
10. Brandiwein A, Corcos J. Acupuncture analgesic in dental practice. Am J
Acupunc 1975: 3 241­47.
28. Tany Metal. Acupuncture Analgesia and its Application in Dental Practice.
Am J Acupunc 1974, 2; 288.
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
10