Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Dampak Mikotoksin terhadap Kesehatan
Iwan T. Budiarso
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Pada tahun 1977 dari pertemuan gabungan antara Food
Agriculture Organization (FAO), World Health Organization
(WHO) dan United Nation Development Program (UNDP) pada
Conference on Mycotoxins di Nairobi, Kenya, dilaporkan bahwa
masalah kesehatan akibat keracunan toksin asal kapang akan
menjadi salah satu golongan penyakit tidak menular yang rele-
an dan potensial di negara-negara berkembang di masa yang
akan datang.
Masalah mikotoksin dan mikotoksikosis sangat penting di
Indonesia mengingat negara kita ini terletak di daerah tropis yang
merupakan lingkungan ideal untuk tumbuh-kembang segala
jenis kapang. Namun demikian, tampaknya masih banyak pakar
kesehatan dan kedokteran yang belum tertarik atau menaruh
perhatian pada bidang ini.
Pada umumnya dalam keadaan normal, kapang-kapang itu
hidup secara saprofit. Akan tetapi jikalau keadaan lingkungan
sekitarnya berubah menjadi ideal, yakni suhu udara baik, ke-
lembaban cukup tinggi dan ada substrat yang cocok untuk di-
tumpangi, maka kapang tersebut akan tumbuh-kembang subur
dan memproduksi metabolit beracun. Bila bahan yang tercemar
itu termakan atau berkontak dengan kulit manusia atau hewan,
maka dapat menimbulkan keracunan.
Di bawah ini disajikan beberapa contoh penyakit, umpama-
nya keracunan aflatoksin dan islanditoksin dapat mengakibatkan
hepatitis dan kanker hail Zearalenon dan trichothecenes adalah
metabolit golongan Fusarium sp; yang pertama menyebabkan
hiperestrogenism dan kemandulan, sedangkan yang akhir meng-
akibatkan alimentary toxic aleukia. Ochratoxin A menyebabkan
porcin nephropathia dan Balkan nephropathia.
KEADAAN MIKOTOKSIN DAN MIKOTOKSIKOSIS DI
INDONESIA
Salah satu mikotoksin yang paling dikenal dan mendapat
perhatian cukup memadai di antara para pakar bidang kesehatan
dan kedokteran di Indonesia adalah baru dan kapang golongan
Aspergillus yang menghasilkan metabolit aflatoksin. Padahal
yang disebut mikotoksin itu bukan hanya aflatoksin saja, me-
lainkan masih banyak lagi yang tidak kalah berbahayanya;
umpamanya kapang jenis Penicillium dan Fusarium juga sering
meracuni berbagai jenis ternak hewan dan manusia (Tabel 1).
Kapang-kapang ini sering mencemari kacang tanah, bungkil,
jagung, beras, gandum, gaplek, ikan asin, makanan hasil pe-
ragian dan pengawetan, jamu dan hasil komoditi pertanian lain-
nya.
Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan, di Indonesia,
sampai sekarang mengenai laporan hasil penelitian mikotoksin
baru sebatas tentang aflatoksin saja. Peneliti pertama yang paling
persisten dan antusias melakukan pengamatan, penyidikan dan
penelitian mengenai mikotoksin di Indonesia adalah DR. Robert
T.L. Pang, seorang ahli hepatologi, pada Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia (FKUI)/Rumah Sakit Cipto Mangun-
kusumo (RSCM). Ia menaruh perhatian khusus pada keracunan
aflatoksin yang ada hubungan dengan kejadian kanker hati. Ia
telah menerbitkan berturut-turut pada tahun 1972, 1974 dan 1977
tiga makalah ilmiah yang membahas dan membuktikan korelasi
antara kejadian kanker hati dengan jumlah aflatoksin yang di-
konsumsi
(1,2,3)
.
Laporan lain yang menduga bahwa aflatoksin merupakan salah
satu faktor penyebab kanker hati adalah hasil pengamatan
epidemiologi dari Tambunan
(4)
. Ia melaporkan bahwa di
* Makalah ini dibacakan pada Kongres Nasional Perhimpunan Mikologi
Kedokteran Manusia dan Hewan Indonesia I dan Temu Ilmiah di Bogor
2124
Juli
1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
5
Tabel 1. Penyakit, Kapang dan Mikotoksin yang Menyebabkan Keracunan pada Ma-
nusia dan Hewan
Ditemukan pada
No. Nama
Penyakit
Manusia Hewan
Nama Kapang
Jenis Mikotoksin
1 Ergotisme
+
+ Claviceps purpurea Ergot alkaloid
2 Aflatoksircosis
+
+ Aspergillus,flavus
Aflatoxtins
3 Alimentary
toxic
+
+
A. parasiticus
Fusarium sporotri Trichothecenes
aleukia
(ATA)
choides F. poae
4 Urov/KashinBeck/
+
Fusarium sporotri Trichothecenes
To
Kutze/Liu
chiella
5
Kuangtzu
Drunken bread
+
Fusarium sp.
?
6
(Scabby grain
toxicosis)
Yellow Rice Disease
+
+
Penicillium
Islanditoxin
(Cardiac
beriberi)
islandicum
Luteoskyrin
7 Heptorenopati
+ Penicillium
?
8 Fotosensitisasi
+
viridicatum
P. viridicatum
?
9 Anemia
+ P. viridicatum
?
10
Hipoplastik
Sindrom Reye
+
Aspergillus,flavus
Aflatoxins
Stachybotryo
+
+
Stachybotryc atra
Satratoxin
toxicosis
trichthecene
12 Nefropati
+
+ Penicillium
Ochratoxin
13 Facial
eczema
+
viridicatum
Aspergillus
ochraceus
Pythomyces
A. citrinin
Sporidesmins
14 Slobbering
+
chartarum
Rhizortomia
Slaframin
15 Hiperestrogenisme
?
+
leguminicola
Fusarium
Zearalenone
16
Refusal and emetic
+
graminearum
Fusarium
Deoxynivalenol
17 Dendrochiotoxicosis
+
graminearum
Nyrothecium
Roridin A,
18 Moldy
feed
+
roridum
Penicillium
Verrucarin A
Cyclopiazonic
syndrome
cyclopium
acid, Penitrem A,
Rubrotoxins
Viomellien
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada tahun 1968
1969 insiden kanker hati primer menduduki tempat paling men-
colok di antara penyakit kanker 1ainnya
(4)
. Demikian juga hasil
pengamatan yang sama di Semarang. Mereka menduga bahwa
salah satu faktor penyebabnya adalah aflatoksin
(5)
. Sedangkan
Adenan dkk melaporkan bahwa kadar aflatoksin B1 dalam
serum darah penderita hepatoma dibandingkan kadar afla-
toksin Bi dan individu normal di daerah Yogyakarta tidak
berbeda bermakna
(6)
. Selanjutnya makalah lain yang pernah
diterbitkan di Indonesia tentang hubungan keracunan aflatoksin
dengan kejadian kanker hati hanya merupakan tinjauan ke-
pustakaan saja
(7,8)
.
Keracunan spontan aflatoksin pada bebek Alabio pernah
terjadi di Bogor
(9)
, dengan gejala lesu, anoreksia, kurus, anemia,
kerdil dan akhirnya mati dengan ciri khas kerusakan pada hati.
Ginting melaporkan pengaruh aflatoksin pada ternak ayam;
makin tinggi kadar pencemaran aflatoksin dalam pakan makin
nyata efeknya terhadap laju pertumbuhan dan kinerjanya
(10)
.
Efek keracunan aflatoksin pada itik Karawang umur sehari
sama pekanya seperti keracunan aflatoksin pada itik Peking
yang umurnya sama; dengan demikian bio-essai aflatoksin
tidak perlu harus menggunakan bebek Peking yang sulit di-
dapat di Indonesia
(11)
.
Makalah-makalah aflatoksin lain yang pernah diterbitkan di
Indonesia adalah mengenai hasil analisis kadar aflatoksin dalam
berbagai macam contoh bahan makanan yang berasal dari Bogor,
Bandung dan kota lain (Tabel 2,3 dan 4). Hasil analisis tersebut
menggambarkan bahwa ada bahan makanan yang telah tercemar
aflatoksin dan beberapa contoh di antaranya melampaui batas
ambang keamanan (safety margin). Batas ambang keamanan
aflatoksin di Indonesia secara resmi belum ada, tetapi di luar
negeri, terutama di Amerika dan Eropa ditetapkan berkisar antara
520 part per billion (ppb).
Survei tahun 1992 yang dilakukan oleh Tim Unit Gizi
Diponegoro, Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular (PTM),
Badan Litbangkes, Depkes, mengenai pencemaran aflatoksin
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
6
Tabel 2. Kandungan Aflatoksin pada Berbagai Komodit
(8)
Banyaknya
sampeVanalisis
Kandungan
aflatoxin (ppb)
Komoditi
a Bi
G1
Kacang tanah (dari pengecer)
20
180
353
Bungkil kacang
20
126
174
Minyak kacang tanah
20
61
82
Oncom 39
67
120
Oncom goreng
16
41
83
Uteng-uteng gepuk
2
170
83
Sambal pecel/sate
5
83
49
Keju kacang tanah
3
13
...
Beras 2
0
0
Gaplek (kondisi baik)
3
0
0
Gaplek (berjamur)
3
303
283
Bawang merah
2
0
0
Beras yang dibiarkan berjamur
di laboratorium
1
1000
16
Kacang tanah (fisiknya balk)
6
0
0
Tabel 3. Jumlah rata-rata AFB dalam beberapa makanan Indonesia
(6)
Jenis makanan
Kadar AFB,
(ppb)
Jumlah sampel
% Sampel
positif
Ketela 46.2
12
42
Kacang tanah
48.7
10
70
Jagung 18.3
10
50
Kopi 12.6
5
60
Buncis merah
0.02
3
33
Buncis hijau
0
5
0
Buncis hitam
0
5
0
Bir 0.03
2
50
Berto 0.028
10
10
Tabel 4. Jenis Komoditi yang sering dicemari dan Kadar AFB yang
dikandung
(10)
Komoditi
Kadar AFB
1
(ppb)
Komoditi
Kadar AFB
1
(ppb)
Kacang tanah
40-4100
Bihun
67
Keju
40
Jamu
500 1200
Minyak kacang tanah
380- 760
Tembakau
Tempe 30
Dalam
Negeri
10-8000
Kecap 61
Luar
Negeri
10-8000
Kemiri 416
Rokok
putih:
Oncom hitam
85 - 1370
Dalam Negeri
170-3330
Gaplek
90- 115
Luar Negeri
40 - 1333
Kentang rusak
160
Rokok lisong
1300 - 1366
Beras rusak
1000
Cerutu
40- 105
Bumbu masak
66- 100
Kutik
85-4000
dalam air susu ibu (ASI), air susu sapi (ASSAP), hati dan bahan
pokok makanan asal dan 5 wilayah DKI Jakarta menunjukkan
adanya kandungan aflatoksin yang bervariasi dari 070 ppb
(12)
(Tabel 5).
Di samping aflatoksin, di Indonesia yang pernah juga di-
laporkan pencemaran jagung di Jawa Tengah oleh Fusarium
graminearum yang menghasilkan estrogen nabati yang disebut
zearalenon
(13)
. Menurut pengamatan, penduduk yang makan
jagung tercemar itu menunjukkan angka kelahiran. yang rendah
dengan angka rata-rata 2 anak setiap keluarga. Tim Unit Gizi
Diponegoro, Puslit PTM, Badan Litbangkes
(12)
yang pernah
menganalisis 386 sampel bahan terdiri dari air susu ibu (ASI), air
susu sapi (ASSAP), hati sapi, beras, jagung, kacang tanah,
oncom, dan tempe yang dibeli dari 5 wilayah Jakarta tidak
menemukan kandungan zearalenon (Tabel 5).
Para peneliti yang ingin mengetahui latar belakang berbagai
penyakit akibat keracunan mikotoksin, dapat membaca hasil
penelitian Forgac dan Car1l
(14)
, Hesse1tine
(15)
, Wilson
(16)
, Wright
(17)
,
Ciegler dan Li1lehoj
(18)
, dan Joffe
(19)
.
KEADAAN MIKOTOKSIN DAN MIKOTOKSIKOSIS DI
MANCA NEGARA
Lain halnya di manca negara, penelitian mengenai miko-
toksin dan mikotoksikosis sangat mendapat perhatian yang
istimewa, apalagi setelah terjadinya Turky X disease yang me-
matikan tidak kurang dari 100.000 ekor ayam kalkun di Inggris
sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
Setelah diteliti secara intensif, akhirnya dalam waktu yang relatif
singkat diketahui bahwa penyebab penyakit Turky X adalah
keracunan berasal dari pencemaran bungkil campuran pakan
oleh kapang Aspergillus flavus
(20)
. Toksin yang diisolasi dari
kapang tersebut dinamai aflatoksin dan terdiri dari 4 bentuk
metabolit, yakni aflatoksin Bl, B2, Gi dan G2; aflatoksin B
(Blue) memancarkan warna biru dan aflatoksin G (Green)
memberikan warna hijau jikalau disinari ultraviolet. Dari empat
bentuk in aflatoksin B1 adalah yang paling poten, bersifat
hepatotoksik dan hepatokarsinogenik. Hampir semua jenis hewan
percobaan seperti ayam, burung, bebek, mencit, tikus, anjing,
kera dan bahkan ikan pun sangat peka terhadap keracunan afla-
toksin. Semua hewan yang keracunan biasanya mati akibat
hepatitis, sirosis atau kanker hati.
Sebetulnya, sebelum mikotoksikosis menjadi terkenal akibat
kejadian aflatoksikosis pada tahun 1960-an, orang Eropa 1000
tahun yang lalu sudah mengenal toksin dan Claviceps purpurea
yang menyebabkan ergotism pada orang dan hewan
(21,22)
. Orang
Rusia tahu bahwa Alimentary Toxic Aleukia (ATA) adalah kera-
cunan trichothecens asal Fusariumpoae dan F. sporotrichioides
pada manusia akibat makan over wintered mil1et
(23)
. Orang Korea
dan Cina mengenal chondroosteodystrophia yang menyerang
anak-anak pra-sekolah dan sekolah yang masing-masing me-
nyebutkan penyakitnya dengan nama To Kut-Ze dan Liu Kuang-
Tzu, sedangkan di Rusia penyakit ini dikenal dengan nama
penyakit Urov atau Kashin-Beck
(24)
. Pada tahun 1960-an para
peneliti tidak banyak yang tahu mengenai penyakit-penyakit
akibat mikotoksin ini; hal ini bisa terjadi karena ada kesenjangan
komunikasi, sebab sebagian besar laporan kejadian kasus dan pe-
nelitian tentang mikotoksin dan mikotoksikosis yang terjadi di
negara-negara Eropa Timur, Jepang dan Korea diterbitkan dalam
bahasa mereka masing-masing, sehingga tidak banyak pakar di
dunia mengetahui hal ini Sebaliknya aflatoksin yang baru
ditemukan 50 tahun belakangan lebih terkenal dan lebih men-
dapat perhatian di seluruh dunia karena hampir semua hasil
laporan ditulis dalam bahasa Inggnis yang lebih komunikatif.
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
7
Tabel 5. Hasil Pemeriksaan kadar Aflatoksin dan Zearalenon di dalam Beberapa Macam Sampel Diambil dari
Wilayah
DKI
Jakarta
(12)
Aflatoksin (ppb)
No.
B
1
B
2
G
1
G
2
M
1
M
2
Zaeralenon
1 Air Susu Ibu (ASI) (50)
TD
2 Air Susu Sapi (ASSAP) (11)
0.005
+ TD
3 Hati Sapi Potong (300)
(0.0)005
0.020.05
TD
Bahan Makanan Pokok (25
Beras (5)
TD
Jagung (5)
2 10
0.1 8
TD
Kacang tanah (5)
525
0.510
0.051.2
TD
Oncom hitam (5)
5070
10 30
5 25
TD
Tempe
(5)
TD
Keterangan:
= tidak ada
+ = ada (flouresensinya sangat lemah)
TD = tidak terdeteksi
CONTOH MIKOTOKSIN DAN MIKOTOKSIKOSIS
YANG RELEVAN UNTUK INDONESIA
Aflatoksin dan aflatoksikosis
Keracunan akut aflatoksin pernah terjadi di India bagian
barat pada tahun 1974 pada manusia dan anjing akibat makan
jagung yang tercemar Aspergillusflavus, yang ternyata mengan-
dung aflatoksin antara 6,25 sampai 15,60 mg per kilo jagung
(26)
.
Gejala klinis pada manusia ialah anoreksia, muntah-muntah, dan
ikterus. Hidrops asites timbul antara minggu ke 2 dan ke 3 disertai
edema kedua tungkai. Hati dan limpa membesar. Pada stadium
akhir sebelum meninggal, biasanya penderita mengalami perda-
rahan hebat saluran cerna. Secara mikroskopis, hati menunjuk-
kan proliferasi epitel saluran empedu yang hebat disertai fibrosis
periduktuli, kholestasis dan megalo-hepatositosis. Sedangkan
pada anjing yang makan sisa makanan jagung tampak ikterik dan
hidrops asites. Hewan akan mati dalam waktu 23 minggu.
Aflatoksin selain dihasilkan oleh Aspergillus flavus, juga
dapat diproduksi oleh A. oryzea, A. ochraceus, A. niger, A.
parasiticus, Penicillium puberum, dan beberapa Rhizopus sp.
Negara-negara di Asia-Afrika, yang penduduknya banyak
bergizi kurang, frekuensi penderita karsinoma hati primer cukup
tinggi karena diduga makanan mereka sehari-hari banyak yang
tercemar afiatoksin. Hal ini ditunjang oleh penemuan-penemuan
di Swasiland
(24)
,Uganda
(25)
,Mozambik
(26)
,dan Thailand
(27,28)
, yang
semuanya menunjukkan bahwa jumlah aflatoksin yang termakan
berkorelasi positifdengan kejadian kanker hati. Di Uganda, dari
480 contoh makanan rakyat yang dianalisis, ditemukan 30%
positif tercemar aflatoksin dan 4% di antaranya kadarnya sudah
melampaui 1 part per million (ppm). Safety margin aflatoksin
adalah 520 ppb (part per billion). Hasil penelitian mereka
menunjukkan bahwa distribusi kejadian kanker hati di antara
penduduk adalah berbanding lurus dengan derajat pencemaran
aflatoksin di dalam makanan sehari-hari (Tabel 6).
Aflatoksin dan Sindrom Reye
Sampai sekarang masih banyak silang pendapat mengenai
penyebab sindrom Reye (encephalopathy andfatty degeneration
Tabel 6. Banyaknya atlatoksin yang termakan dan insidens hepatoma
(Sherlock,
1981)
Negara Kota
Aflatoksin yang
termakan
(mg/kg/hari)
Banyaknya
hepatoma
(per 10
5
/th)
Kenya High
altitude 3.5
1.2
Thailand Songkhla
5.0
2.0
Swaziland High
veld
5.1
2.2
Kenya
Mid-altitude 5.9 2.5
Swaziland Mid-veld
8.9
3.8
Kenya Low
altitude 10.0
4.0
Swaziland Lebombo
15.4
4.3
Thailand Ratburi
45.6
6.0
Swaziland Low
veld
43.1
9.2
Mozambique Inhambane
222.4
13.0
of viscera). Ada yang menyatakan disebabkan oleh virus dan ada
pula menyangka akibat keracunan acidum salicylicum. Akhir-
akhir ini diduga keras juga oleh keracunan aflatoksin berdasar-
kan bukti-bukti kuat penemuan antara gejala klinis, lesi patologis
dengan kadar aflatoksin yang ditemukan dalam makanan mereka.
Penyakit ini ditandai oleh edema otak, degenerasi lemak hati dan
ginjal. Di Thailand, 22 anak dari jumlah 23 kasus yang meninggal
dengan gejala tersebut di atas, pada pemeriksaan dari jaringan
hati, isi lambung dan tinja ditemukan kandungan aflatoksin B1
masing-masing 0,039, 0,127 dan 0,123 mg per kilogram berat
badan
(27,28)
. Perubahan patologis anatomis yang sama seperti
pada sindrom Reye dapat diduplikatkan pada kera yang diberi
dosis tunggal 13,5 mg aflatoksin B 1 per kg berat badan
(29)
.
Zearalenon dan Hiperestrogenism
Kapang genus Fusarium mudah ditemukan di mana-mana
dan sering mencemari biji-bijian, terutama jagung. Ia meng-
hasilkan beberapa metabolit beracun, di antaranya yang ter-
kenal dan poten sekali adalah Zearalenon dan Trichothecenes
(Tabel 1).
Zearalenon adalah estrogen nabati dan dihasilkan oleh
kapang Fusarium graminearum (Gibberella zea = F. roseum).
Jikalau jagung yang tercemar kapang ini diberikan kepada hewan
ternak, umpamanya babi, maka akan menimbulkan gejala hiper-
estrogenism: vulva tampak bengkak dan mengejar-ngejar yang
jantan serta menaiki punggungnya terus-menerus. Bilamana
yang keracunan adalah yang jantan, hewan itu akan cepat menjadi
gemuk, lamban, buah sakarnya mengecil, kelenjar mammae dan
prepusium membengkak dan membesar. Hewan demikian, baik
yang betina maupun yang jantan, biasanya menjadi mandul bila
makanan yang tercemar tidak disingkirkan.
Contoh fusariotoksin lain yang sangat poten dan merupakan
penyakit endemik di Uni Soviet, baik yang menyerang hewan
dan manusia adalah trichothecenes. Pada hewan, khususnya
kuda, disebut stachybotryotoxicosis dan pada manusia dinama-
kan Alimentary Toxic Aleukia (ATA). Gejala klinis pada stakibo-
tritoksikosis dibagi menjadi 2 bentuk, yakni spesifik dan non-
spesifik. Pada yang pertama yang mencolok adalah bibir dan
lapisan mukosa pipi kuda tampak kemerahan dan bengkak ka-
rena edema. Selanjutnya mukosa mulut nampak nekrotik dan
ulseratif. Rinitis dan konjuntivitis sering juga menyertainya.
Darah menunjukkan gambaran leukopeni, trombositopeni dan
agranulositosis. Bila hewan tetap makan makanan yang terce-
mar, maka seluruh lapisan mukosa saluran cernajuga ikut mem-
bengkak dan berdarah serta akhirnya mati karena tidak bisa
makan dan kehilangan darah
(31)
.
Alimentary Toxic Aleukia (ATA) menyerang segala umur,
akan tetapi pada anak-anak gejalanya lebih hebat; demikian juga
pada keadaan gizi yang jelek. Gejalanya diawali dengan perasaan
panas seperti terbakar di dalam rongga mulut, lidah, tenggorokan,
esofagus dari lambung. Kemudian lidah tampak membengkak,
merah dan kaku. Selanjutnya merasa mual, muntah-muntah dan
mencret. Jikalau tetap makan makanan yang tercemar, maka
gejalanya makin muskil dan disertai sakit perut, hipersalivasi,
sakit kepala, pusing dan kelemahan umum. Perubahan gambaran
darah sama seperti pada kuda dan sumsum tulangnya aus. Ka-
dang-kadang disertai perdarahan di kulit dan mukosa saluran
cerna atau juga nekrosa dan ulserosa pada bibir, gusi, kerong-
kongan dan tenggorokan
(19)
.
Ochratoxin A dan Nephropathia
Ochratoxin A adalah toksik metabolit berasal dari Aspergil-
lus ochraceus dan sering mencemari berbagai macam biji-bijian,
palawija, kjeju dan sebagainya. Semula dikira, toksin ini hanya
dihasilkan oleh A. ochraceus saja, tetapi kemudian diketahui
bahwa jenis kapang lain juga memprodusir toksin yang sama
seperti umpamanya A. melieus, A. sulpherus, A. alliaceus dan
Penicillium viridicatum.
Di Denmark, ochratoxin A yang mencemari makanan ternak
babi sering mengakibatkan porcine nephropathy. Gejalanya gizi
nampak jelek dan lamban pertumbuhannya. Pada otopsi, ginjal
berwarna coklat kelabu dan pada bidang sayatan tampak bercak-
bercak tanda parut di bagian korteks. Pada pemeriksaan mikro-
skopis, bagian tubuli proksimalis mengalami degenerasi dan
proliferasi jaringan ikat di daerah interstisial tubuli, sehingga
banyak tubuli yang mengalami atrofi dan bahkan juga meng-
hilang. Pada kasus yang kronis dan muskil, membrana basalis
glomeruli tampak menebal dan glomeruli skierotis. Tidakjarang
di bagian korteks ditemukan gelembung-gelembung kista.
Demikian pula pada manusia yang sering makan makanan yang
berjamur, umpamanya keju, sering mengalami gangguan ginjal
dan dinamakan Balkan Nephropathia
(32)
.
Islanditoxin dan Cardiac Ben-ben
Sesudah perang Dunia Kedua, Jepang menerima banyak
bantuan beras dari luar negeri. Sebagian besar berasnya berwarna
kuning, oleh karena itu disebut Yellow Rice Disease. Beras
demikian bila dimakan sering mengakibatkan gejala penyakit
cardiac beri-beri. Tsunoda pada tahun 1948 berhasil mengiso-
lasi kapang pencemarnya, yakni Penicillium islandicum. Jikalau
beras kuning ini diberikan pada tikus percobaan, maka dalam
satu bulan sebagian besar hewan mengalami radang hati. Dalam
waktu 2 bulan sebagian lagi terjadi sirosis hati. Bila diteruskan
sampai 4 bulan, maka sebagian besar tikus akan mengidap kanker
hati
(33,34)
.
Di samping menghasilkan islanditoksin, P. islandicum juga
mengeluarkan metabolit luteoskynin. Kedua mikotoksin ini ber-
sifat hepatotoksik dan hepatokarsinogenik. Islanditoksin kira-
kira 10 kali lebih poten dan pada luteoskyrin dan kekuatan daya
racun islanditoksin setara dengan aflatoksin B1.
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
Rekomendasi hasil konferensi gabungan antara FAO, WHO
dan UNDP menekankan bahwa negara-negara berkembang,
terutama yang terletak di daerah tropis, supaya menaruh lebih
banyak perhatian terutama pada 7 macam mikotoksin yang di-
anggap sangat relevan dan potensial serta perlu ditangani secepat
mungkin. Ke-7 mikotoksin itu adalah 1. Aflatoksin, 2. Zearale-
non, 3. Ochratoxin A, 4. Citninin, 5. Trichotecenes, 6. Patulin dan
7. Penicillic acid. Di Indonesia penlu segera dimulai dengan
penelitian dan pencegahan terhadap tiga macam mikotoksin
yang pertama karena ketiga mikotoksin ini mungkin merupakan
faktor-faktor yang berperan penting dalam beberapa kejadian
penyakit yang akhir-akhir ini terus meningkat, umpamanya:
1) Aflatoksin sudah dibuktikan dapat mengakibatkan radang
hati, sirosis dan kanker hati baik pada hewan maupun pada
manusia. Zearalenon adalah metabolit asal Fusarium gra-
minearum dan bersifat estrogenik serta sering mencemari bahan
makanan ternak, terutama jagung. Keracunan toksin ini akan
mengakibatkan hiperestrogenism pada yang betina dan femi-
nism pada yang jantan. Sekarang jikalau umpamanya daging,
susu, telor atau bahan makanan olah lain yang mengandung
residu zearalenon termakan oleh orang sejak bayi sampai dewasa
mungkin secara kumulatif mengakibatkan kelainan gangguan
tumbuh kembang seperti yang terlihat pada hewan ternak.
Pengamatan sehari-hari di masyarakat memberikan kesan bahwa
sebagian anak-anak dan remaja terutama golongan kelas me-
nengah ke atas yang tinggal di kota-kota besar, umpamanya di
Jakarta, yang gemar mengkonsumsi makanan fastfood ala Barat
bukan saja secara fisik tampak over weight/obesitas, tetapi juga
membenikan kesan berperilaku tomboy pada yang wanita dan
gay pada yang laki-laki. Kasus ginekomastia pada anak laki-laki
sekarang lebih sering terlihat pada yang obesitas dibandingkan
dua dekade yang lalu
(35)
. Ochratoxin A. Kejadian gangguan
dan gagal ginjal akhir-akhir ini sering dikatakan makin mening-
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
9
kat; oleh para pakar biasanya dikaitkan dengan penyakit kardio-
vaskuler, konsumsi garam yang berlebihan, perilaku hidup
modern, perubahan pola makanan dan sebagainya. Akan tetapi
belum ada pakar yang mengaitkan gangguan dari gagal ginjal
dengan keracunan ochratoxin A. Toksin ini terutama berasal dari
metabolit Aspergillus ochraceus, akan tetapi juga dapat oleh
kapang lain antara lain Penicillium viricadtum. Contoh yang
konkrit di Eropa yang disebut Porcine nephropathy pada ternak
babi dan Balkan nephropathy pada manusia sudah dibuktikan
ada kaitan erat dengan makanan yang tercemar ochratoxin A
(32)
.
Oleh sebab itu perlu dipertanyakan apakah kasus gangguan dan
gagal ginjal ada hubungannya dengan pencemaran makanan oleh
kapang yang menghasilkan ochratoxin A.
Dari tiga contoh mikotoksikosis tersebut kiranya sudah
saatnya para pakar kesehatan dan pemerintah menaruh perhatian
yang lebih serius dan mengambil langkah-langkah yang lebih
konkrit, karenahal ini dalam jangka panjang akan mengakibatkan
turunnya kualitas dan produktifitas sumberdaya manusia (SDM).
Seperti diketahui ke tiga penyakit itu biasanya timbul pada
golongan usia 3045 tahun yang merupakan golongan SDM
yang potensial, produktif dan berpengalaman serta yang sangat
dibutuhkan tenaga dan pikirannya oleh negara yang sedang
membangun seperti Indonesia.
Hal lain yang menjadikan penyakit keracunan mikotoksin
sangat relevan di Indonesia adalah karena negara kita ini ter-
masuk beriklim tropis dengan kelembaban dari suhu lingkungan
sangat mendukung bagi tumbuh kembangnya kapang. Faktor-
faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa cara pe-
nanganan, pengelolaan dan penyimpanan hasil komoditi per-
tanian pasca panen dari berbagai jenis bahan makanan masih
sering secara tradisional, sembarangan dan kurang higienis. Bila
para peneliti bidang kesehatan dan kedokteran mau mencurah-
kan waktu dan tenaga untuk meneliti beberapa mikotoksin,
niscaya beberapa penyakit yang dahulunya tidak diketahui
etiologinya, baik pada manusia maupun hewan, mungkin sekali
disebabkan oleh mikotoksin, apalagi kalau penyakit-penyakit itu
tidak memberikan respon sama sekali, baik terhadap vaksinasi
(vaccinefailure) maupun segala bentuk pengobatan (drugfailure).
Di samping itu ciri-ciri khas lain adalah tidak infeksius dan
kontagius, menyerang semua golongan umur dan jenis kelamin.
Semua penyakit akibat keracunan mikotoksin tidak menimbul-
kan kekebalan dan hanya dapat disembuhkan bila makanan yang
tercemar dapat disingkirkan.
KEPUSTAKAAN
1. Pang RTL, Poerwokoesoemo SH, Karyadi D. Aflatoxin and primary
cancer of liver in man. A study on 9 cases. Paper presented at the 4th
Asian Pacific Congress of Gastroenterology. 512 February, 1972.
2. Pang RTL, Karyadi D. Aflatoxin and primary hepatic cancer in Indonesia.
Paper presented at the V World Congress of Gastroenterology. Mexico 13
19 October, 1974.
3. Pang RTL. Aflatoksin dalam epidemiologi karsinoma hati primer. Kertas
kerja yang disajikan pada Simposium Nasional Kanker Saluran Makanan,
Jakarta, 2426 Nopember 1977.
4. Tambunan W. Tumor di bagian Ilmu Bedan Fakultas Kedokteran Univer
sitas Indonesia. Madjalah Kedokteran Indonesia 1970; 4: 144.
5. Saleh M, Heyder. Laporan pendahuluan. Penderita carcinoma hati primer.
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang,
1970.
6. Adenan H, Tsuboi S, Kawamura K, Cruz ML, Soeliadi, Hw., H. Suhaito.
Peranan aflatoksin 81 pada KHS (Karsinoma hepatoseluler). Makalah
dipresentasikan pada Kongres Nasional PPHI, PGI, PEGI, Palembang, 13
Agustus 1985.
7. Karyadi, Muhilal D, Prawiranegara D. Hubungan antara Aflatoxin dengan
PrimazyCarcinomaHati, KumpulanTjeramah KOPAPDI-1. 1971 ;298
8. Muhilal. Hubungan aflatoxin dengan carcinoma hati. Cermin Dunia Ke
dokt 1979; 15: 1620.
9. Hardjosworo P. Personal Communication, 1977.
10. Ginting N. Sumber dan pengaruh aflatoksin terhadap pertumbuhan dan
performa lain broiler. Disertasi Universitas Padjadjaran. Bandung, 1988.
11. Budiarso IT, Pang RTL, Husaini. Uji kepekaan Bebek Karawang sebagai
hewan percobaan untuk bioessai Aflatoksin. Cermin Dunia Kedokt 1991;
68: 2932.
12. Tim Unit Gizi Diponegoro, Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan,
Jakarta.: Deteksi Residu Aflatoxin dan Zearalenone dalam Air Susu Ibu,
Air Susu Sapi, Hati Dewan Potong dan Bahan Makanan Pokok di Jakarta.
(unpublished data, 1992).
13. Stortz D. Personal communication, 1987.
14. Forgac J, Call WT. Mycotoxicoses, Adv. Vet. Sci. 1962; 7: 273382.
15. Hesseltine CW. A millennium of fungi, food, and fermentation. Mycologia
1965; 57: 14997.
16. Wilson BJ. Fungal toxins. Nat. Acad. Scj. 1966; 126145.
17. Wright DE. Toxins produced by fungi. Ann. Rev. Microbiol. 1968; 22:
26982.
18. Ciegler A, Lillehoj EB. Mycotoxins. Adv. in AppI. Microbiol. 1968; 10:
155218.
19. Joffee AZ. Toxicity of Fusarium poae and F. Sporotrichiodies and its
relation to alimentary toxic aleukia. Pada buku Mycotoxins. Ed. 1.F.H.
Purchase. Elsevier Sci. Pub. Co., New York, 1974. hal. 22962.
20. Nesbitt BF, L'kelly J, Sargeant K, Sheridan A. Toxic metabolistes of
Aspergillus flavus. Nature 1962; 195: 1063.
21. Burfening PJ. Ergotism. JAMA 1973; 263: 12881290.
22. Litner LD. Diagnosis of mold poisoning in food producing animals in
Missouri. Proc. Symposium on Mycotoxins and Mycotoxicosis. 1972;
9799.
23. Joffee AZ. Fusarium Species : their biology and toxicology. New York:
John Wiley. 1986.
24. Keen PP, Martin P. Is aflatoxin carcinogenic in man? The evidence in
Swalizand. Trop Geog. Med. 1971; 23: 4453.
25. Alpert NF, Hutt MSR, Wogan BN, Davidson US. Association between
aflatoxin content of food and hepatoma frequency in Uganda, Cancer 1971;
28: 25360.
26. Van Resburg SJ, Van Der Watt JJ, Purchase IFH, Pereira Countinho L,
Markam R. Primary liver cancer rate and aflatoxin intake in a high cancer
area. South Afr. Med. J. 1974; 48: 2508a2508d.
27. Shank RC, Bhamarapravati N, Gordon JE, Wogan ON. Dietary aflatoxin
and hu'man liver cancer. IV. Incidence primary liver cancer in two munica
pal populations of Thailand. Food. Cosmet. Toxicol. 1972; 10: 17 1179.
28. Shank RC, Bourgeois CH, Keschamras N, Chadavimol P. Aflatoxin in
autopsy specimens from Thai children with an acute disease of unknown
aetiology. Food. Cosmet. Toxicol. 1971; 9: 50107.
29. Bourgeois CH, Shank RC, Grosman RA, Johnson DO, Woodhng WL,
Chamdovimol P. Acute aflatoxin B 1 toxicity in the macaque and its
similarity to Reye's syndrome. Lab. Invest 1971; 24: 206215.
30. ForgacJ. Stachybotrytoxicosis, padabuku Microbial Toxins, Vol. VIII. Ed.
S. Kadis, A. Ciegler, and J. Aji. New York: Academic Press 1972, hal.
95128.
31. Rodrieks JV, Eppley RM. Stachybotrys and stachybotrytoxicosis. In
Mycotoxins. Purchase IFH. (ad). Amsterdam: Elsevier 1974; pp. 18198.
32. Elling F, Moller T. Mycotoxic nephropathy in pigs. Bull. WHO 1973; 49:
41118.
33. Miyake M, Saito M. Liver injury and liver tumors induced by toxins of
Penicillium islandicium Sopp. growing on yellowed rice. Hal. 133146,
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
10
pada buku Mycotoxins in foodsuffs. Ed. G.N. Wogan. The MIT Press,
1965.
34. Uraguchi K. Introduction in toxicology, biochemistry and pathology of
mycotoxins. (Uraguchi, K. Yamasaki, M. Ed.) New York: John Wiley
1978; PP. 38.
35. Sutan Assin. Personal communication.
36. Krishnamachari KAVR, Bhat RV, Nagarajauh V, Tilak TBG. Hepatitis
due to aflatoxicosis. Lancet 1975; 1: 106163.
37. Higginson J. Hepatopathies of nutritional origin, cirrhosis and primary
carcinoma of the liver on a geographical basis. Sa 11111970. p. 46.
38. Joint FAO, WHO, UNDP Conf. on Mycot Kenyatta Conf. Center, Nairobi,
Kenya, 1927 September, 1977.
English Summary
(Sambungan dari hal 4)
sequently will have their effects
on the Se content of the soil and
plants and may cause subacute
or chronic selenosis In caffle and
humans. The uptake of Se, its
biochemistry, pharmacology,
clinical aspects and the histo
pathology of Se intoxication are
discussed.
Cermin Dunia Kedokt. 1995, 103: 22-6
Ssz
METHOD TO DETERMINE LEAD
RIVER POLLUTION LEVEL
Suharmiati*, D. Mutiatikum**
* Health Service Research and Develop-
ment Centre, Department of Health,
Surabaya.
Indonesia
** Pharmacies Research and Develop-
ment Centre. Department of Health.
Surabaya.
Indonesia
This article describes the tech
nique of heavy metal lead (Pb)
pollution measurement in river
water; there are five activities
to be done: to determine the
sampling area, to choose the
sampling technique,the pretreat-
ment and the measurement
method and to evaluate the level
of Pb pollution according to the
Kep-2/Men KLH/l/1988 on envi-
ronmental pollution standard.
Cermin Dunia Kedokt. 1995; 103: 35-8
S, Dm
ESTIMATION OF TRITIUM (HTO)
CONTRIBUTION ON THE WHOLE
BODY DOSE OF WORKERS IN
REACTOR ROOM
Abdul Wa'id,Bunawas,Bambang
Priwanto
National Atomic Energy Board. Jakarta.
Indonesia
Radiation workers working near
nuclear reactor with primary
cooling system of poolwater
type have probility to be inter-
nally contaminated by tritium
through lung and skin following
release of tritiated water vapour
(HTO). Internal contamination
level of tritium depends on body
height and weight. Based on the
model of tritium metabolism in-
side the body, it can be shown
that the estimatsd equivalent
dose committed to soft tissues of
PRSG workers are about 0.56 -
0.73mSv/yr for WR (quality factor
of radiation for tritium) = 1 and
1.12 - 1.46 mSv/yr for WR = 2 and
tritium concentration in air of
11751 Bq/m
3
.
Cermin Dunia Kedokt. 1995; 103: 426
Aw, B ,Bp
Conversation enriches the understanding, but solitude is the school of genius
(Gibbon)
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995 11