Artikel
Cakupan Imunisasi dan Morbiditas
Penyakit Campak
di Kabupaten Sukabumi dan Kuningan,
Jawa Barat
Imran Lubis, Djoko Yuwono
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit Campak (Measles), merupakan suatu penyakit
menular yang banyak menyerang golongan umur anak terutama
balita (bawah lima tahun). Dalam dekade terakhir ini insidens
penyakit campak tampak cenderung terus menurun. Incidence
rate campak pada balita menurut data dari Sub. Dit. Surveillance,
Dit. Jen. P2M&PLP pada tahun 1989 adalah 26,3/10.000 ke-
mudian menurun menjadi 17/10.000 pada tahun 1990. CFR
(Case Fatality Rate) penyakit campak pada tahun 1985 masih
sebesar 3,5% dan lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1990
menurun menjadi 2,12%. Sedangkan cakupan imunisasi campak
tahun 1989 adalah 64,2% dan tahun 1990 naik menjadi 68,4%.
Perubahan profil epidemiologi penyakit campak yang se-
makin menunjukkan penurunan tersebut di atas, menjadi suatu
pertanda agar program juga sudah mulai melakukan perubahan
alokasi kebutuhan pelayanan kesehatan dan perubahan kebu-
tuhan peningkatan kesehatan. Penurunan insidens campak, di
samping karena peningkatan cakupan imunisasi, disebabkan
juga karena terjadinya perubahan demografi, perubahan epide-
miologi, kecenderungan global di bidang sosial, peningkatan
ekonomi, industrialisasi, urbanisasi, perubahan perilaku/gaya
hidup yang menyebabkan risiko tertular penyakit menjadi tu-
run. Di samping keadaan yang menggembirakan tadi, kita ke-
tahui juga bahwa pembangunan kesehatan tidak akan dapat
secara merata dinikmati oleh seluruh wilayah di Indonesia,
terutama di daerah terpencil yang miskin akan infrastruktur ke-
sehatan. Daerah seperti ini, untuk beberapa lama akan masih
tetap mempunyai profit epidemiologi yang lama, yaitu masih
endemisnya penyakit campak dan penyakit menular lainnya.
Oleh karena itu, besarnya permasalahan epidemiologi penya-
kit campak dari waktu ke waktu di suatu daerah tertentu, perlu
dipantau oleh pemegang program agar dapat dilakukan evaluasi
program, menentukan cost-benefit program dan menentukan
prioritas tindakan pelaksanaan program di kemudian hari.
Penelitian ini merupakan salah satu hasil dari suatu peneli-
tian campak, yang akan mengungkapkan masalah cakupan
imunisasi dan morbiditas penyakit campak di Kabupaten Suka-
bumi dan Kuningan Jawa Barat, dilakukan oleh Kelompok
Peneliti Penyakit Menular Lainnya, Puslit Penyakit Menular,
Badan Litbangkes.
BAHAN DAN CARA
Bahan dan cara kerjapenelitian ini sama dan telah dijelaskan
pada laporan penelitian lain yang berjudul "Partisipasi Masya-
rakat terhadap Penyakit Campak di 2 Kabupaten di Jawa Barat".
Selain hal-hal yang tertulis sama, di sini jugadijelaskan mengenai
adanya perbedaan variabel yang diukur.
Jenis penelitian
Bentuk penelitian ini adalah cross sectional.
Tempat dan waktu penelitian
Waktu penelitian adalah tahun 19911992.
Tempat penelitian adalah di dua kabupaten di Jawa Barat
yang mempunyai perbedaan antara lain :
Cakupan imunisasi campak berbeda, walaupun di sekitar
80%.
Satu daerah perkotaan dan satunya lagi daerah pedesaan.
Keduanya belum pernah melaporkan KLB Campak dalam 3
tahun terakhir
Populasi sampel
Jumlah sampel untuk masing-masing daerah penelitian,
adalah 400 orang. Responden adalah orangtua anak yang ber-
tempat tinggal di daerah penelitian.
Cara memilih lokasi penelitian : sccara two stage cluster
sampling menurut WHO, dengan unit terkecil desa.
Koleksi Data
Cara koleksi data dengan menggunakan kuesioner khusus,
yang diisi pada waktu melakukan wawancara dengan orangtua
anak.
Variabel yang diukur adalah :
Umur
Pekerjaan
Jumlah anak
Cakupan vaksinasi campak
Angka Kesakitan campak menurut jumlah penghuni, kamar.
Gejala dan pengobatan penderita campak.
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer
IBM PC Compatible, dengan menggunakan program EPI INFO
versi 5.01.
Analisis Data
Penelitian ini akan melakukan metoda analisis deskriptif
untuk menghasilkan data berupa tabel frekuensi dari berbagai
macam variabel tentang imunisasi dan morbiditas penyakit
campak.
Keterbatasan Hasil Penelitian
Hanya menggambarkan keadaan dua kabupaten di Jawa
Barat dan kabupaten lain yang mempunyai persamaan, bukan
menggambarkan keadaan secara nasional.
HASIL DAN DISKUSI
Dipilih dua lokasi penelitian di Propinsi Jawa Barat yaitu :
1) Kabupaten Sukabumi yang mewakili suatu daerah perko-
taan, menurut kriteria Biro Pusat Statistik, belum pernah me-
laporkan KLB Campak, dan dengan cakupan imunisasi campak
(19881991) : 88,5%92,2%; dan
2) Kabupaten Kuningan, yang mewakili daerah pedesaan, yang
juga belum pernah melaporkan KLB Campak, cakupan imu-
nisasi campak (19881991) : 91,0%103,6%.
Jumlah kuesioner yang telah diisi adalah 1241 buah, yang
berarti telah melampaui target sampel sebesar 800. Jumlah
sampel untuk setiap variabel dapat berbeda, tergantung jumlah
responden yang mengisi masing-masing pertanyaan yang
diajukan.
Umur rata-rata seluruh responden adalah 2050 tahun
(96,5%). Jumlah anak pada masing-masing responden pada
kabupaten Sukabumi dan Kuningan tidak banyak berbeda. Di
Sukabumi maupun Kuningan, proporsi responden yang mem-
punyai anak satu orang dan dua orang adalah sama, yaitu 32,8%
dan 33,0% di Sukabumi dan 30,2% dan 28,7% di Kuningan.
Sedangkan responden yang mempunyai 3 anak di Sukabumi
adalah 18,9% dan di Kuningan adalah 22,9%. Masih ada respon-
den yang mempunyai anak lebih dari 3 orang walaupun sangat
sedikit, yaitu antara 0,5%9,0%. Dari segi pekerjaan responden,
pada umumnya mereka adalah tani (49,1%), buruh (35,3%)
sebagian kecil adalah pegawai (8,8%) dan dagang (6,9%). Pada
umumnya untuk kedua kabupaten yang diteliti, sebagian besar
pendidikan responden adalah Sekolah Dasar (tamat dan tidak
tamat) 81,9%, sedangkan SLTP maupun SLTA hampir sama
yaitu 8,0% dan 9,6%.
Sehubungan dengan permasalahan vane akan dibahas, perlu
diketahui jarak antara letak rumah responden dalam penelitian
ini, karena jarak rumah responden dengan tempat vaksinasi
dapat merupakan suatu faktor yang menghambat kepatuhan
masyarakatdalam mengikuti program imunisasi bagi anak mereka.
Pada Tabel 1 tampak bahwa responden yang mengikuti peneli-
tian ini terbagi rata di seluruh kota, yaitu sebagian rumah respon-
den terletak di pinggir kota (35,1%), di tengah kota (33,2%);
sebagian kecil mempunyai kebun yang luas (17,9%) dan dekat
dengan pasar (13,8%).
Tabel 1. Letak Rumah Responden di Kabupaten Sukabumi dan Ku-
ningan, Jawa Barat
Jumlah
Letak rumah
n %
Pinggir kota
Di tengah kota
Kebun-luas
Dekat pasar
397
376
202
156
35,1
33,2
17,9
13,8
Total 1131
100,0
Jumlah anak, yang mempunyai data tentang status imunisasi
campak adalah 1240 orang. Yang menjawab sudah divaksinasi
campak adalah 1047 (Tabe12), berarti cakupan imunisasi cam-
pak: 84,4%, dan yang belum pernah divaksinasi campak adalah:
193 (15,6%).
Distribusi status anak yang telah mendapat imunisasi cam-
pak menurut urutan anak tampak pada Tabel 2.
Tabel 2 Proporsi Status Imunisasi Campak menurut Urutan Anak di
Kabupaten Sukabumi dan Kuningan, Jawa Barat
Vaksinasi Campak +
Vaksinasi Campak
Total
Urutan Anak
n % n %
Kesatu
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Keenam
390
298
169
102
43
45
82,6
84,1
88,4
87,1
76,7
90,0
82
56
22
15
13
5
17,4
15,9
11,6
12,9
23,7
10,0
47
354
191
117
56
50
Total 1047
84,4 193 15,6
1240
Tampak bahwapada anak pertama cakupan imunisasi campak
sudah mencapai angka 82,6%. Angka ini makin meningkat pada
anak urutan berikutnya, kecuali pada anak kelima yang meng-
alami penurunan sebanyak 10%.
Secara umum dapat dilihat bahwa Posyandu merupakan
tempat terbanyak untuk mendapatkan vaksinasi campak (65,2%);
tidak ada perbedaan antara anak pertama sampai anak ke lima.
Pilihan ke dua tempat vaksinasi adalah Puskesmas (32,2%)
kemudian Rumah Sakit (1,4%) dan Klinik dokter/mantri/bidan
(1,1%). Pertimbangan yang paling logis di sini adalah masalah
biaya yang paling murah adalah di Posyandu dan Puskesmas.
Vaksinator yang berjasa dalam memberikan imunisasi
campak tampak pada Tabel 4. Bidan dan Jurim (Juru Imunisasi)
paling banyak melakukan imunisasi campak, yaitu 50,0% dan
46,3%, dibandingkan dengan tenaga dokter (3,5%). Proporsi ini
tetap sama untuk anak pertama sampai anak ke lima.
Sebaliknya alasan bagi anak yang tidak divaksinasi campak
menurut orangtua mereka tampak pada Tabel 5. Secara umum
penyebabnya adalah Tidak Tahu (81,1%) kemudian Lupa (10,5%)
dan Jauh (5,5%) dan yang terkecil adalah Dilarang (1,6%) dan
Umur Kurang (0,02%). Proporsi penyebab ini cukup konstan
dari 1 minggu (42,9%) atau 1 minggu (37,4%).
Penyakit campak yang berlangsung lebih dari 1 minggu
mungkin disertai dengan infeksi sekunder (Tabel 7). Gejala
penyakit yang menyertai penyakit campak sebagian besar adalah
batuk pilek (36,8%) kemudian sesak nafas (22,4%) dan diare
(32,8%). Jarang dijumpai muntah berak (5,6%) dan gejala kejang
(2,4%).
Perilaku orangtua anak dalam mengobati penderita campak
Tabel 3. Proporsi Tempat Mendapat Imunisasi Campak dengan Urutan Anak di Kabupaten Sukabumi dan Kuningan,
Jawa Barat
Anak Pertama
Anak Kedua
Anak Ketiga
Anak Keempat
Anak Kelima
Total
Tempat
Vaksinasi Jumlah % Jumlah
% Jumlah
% Jumlah
% Jumlah % Jumlah
%
Posyandu
499 64,3 340 66,5 176 63,1 101 68,7 47 67,1 1163 65,2
Puskesmas
252 32,5 159 31,1 96 34,4 45 30,6 23 32,9 575 32,2
RS
13 1,7 6 1,2 5 1,8 1 0,7 0 25 1,4
Klinik
12 1,5 6 1,2 2 0,7 0 0 20 1,1
Total
776 100,0 511 100,0 279 100,0 147 100,0 70 100,0 1783 100,0
Tabel
4.
Proporsi
Vaksinator
Campak
dan
Urutan Anak di Kabupaten Sukabumi dan Kuningan, Jawa Barat
Tabel 5. Proporsi Sebab Tidak Divaksinasi Campak dengan Urutan Anak di Kabupaten Sukabumi dan Kuningan, Jawa
Barat
Anak Pertama
Anak Kedua
Anak Ketiga
Anak Keempat
Anak Kelima
Total
Sebab Tidak
Divaksinasi Jumlah % Jumlah
% Jumlah
% Jumlah
% Jumlah % Jumlah %
Tidak tahu
142 83,0 80 79,2 40 88,9 22 84,6 10 62,5 294 81,1
Lupa
14 8,2 13 12,9 4 8,9 3 11,5 4 25,0 38 10,5
Jauh
12 7,0 5 5,0 1 2,2 1 3,8 1 6,3 20 5,5
Dilarang
3 1,8 3 3,0 0 0 0 6 1,6
Umur kurang
0 0 0 0 1
6,3
1
0,02
Total
171 100,0 101 100,0 45 100,0 26 100,0 16 100,0 359 100,0
pada semua urutan anak.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hambatan di bidang
ekonomi yang menghambat orangtua tidak membawa anaknya
untuk divaksinasi campak, atau hambatan jarak maupun ham-
batan teknis lainnya seperti halnya rasa takut, adanya keper-
cayaan yang salah seperti menganggap bahwa penyakit campak
itu merupakan suatu penyakit "biasa" pada balita. Alasan ketidak
tahuan dan lupa, lebih banyak menunjukkan kurangnya upaya
aksesibilitas dan kontinuitas informasi imunisasi campak.
Dari 928 anak yang pernah divaksinasi campak ternyata 123
(13,3%) masih dapat sakit campak. Hal ini menunjukkan efikasi
vaksinasi campak sebesar 805/928 = 86,7%.
. Lama sakit campak menurut keterangan dart orangtua (re-
call) tampak pada Tabel 6; sebagian besar berlangsung kurang
Tabel 6. Lama Sakit Campak pada 147 Anak di Kabupaten Sukabumi
dan
Kuningan,
Jawa
Barat
Jumlah
Lama Sakit
n %
< 1 minggu
63
42,9
1 minggu
55
37,4
2 minggu
13
8,8
3 minggu
3
2,0
> 3 minggu
13
8,8
Total 147
100,0
dapat dilihat pada Tabel 8. Tampak bahwa lebih dari separuh
(52,4%) membawa anak mereka berobat ke mantri, 15,2%
Anak Pertama
Anak Kedua
Anak Ketiga
Anak Keempat
Anak Kelima
Total
Vaksinator
Jumlah % Jumlah
% Jumlah
% Jumlah
% Jumlah % Jumlah
%
Bidan
Jurim
Dokter
396
349
27
51,3
45,2
3,5
245
244
19
48,2
48,0
3,7
130
134
13
46,9
48,4
4,7
72
70
3
49,7
48,3
2,1
44
24
1
63,8
34,8
1,4
887
821
63
50,0
46,3
3,5
Total
772 100,0 508 100,0 277 100,0 145 100,0 69 100,0 1771 100,0
Tabel 7. Gejala Penyakit Campak pada 125 Anak di Kabupaten Suka-
bumi
dan
Kuningan,
Jawa
Barat
Jumlah
Gejala
n %
Batuk pilek
46
36,8
Sesak nafas
28
22,4
Diare 41
32,8
Muntah berak
7
5,6
Kejang 3
2,4
Total 125
100,0
memberi jamu-jamuan untuk penurun panas dan menggosok
kulit anak dengan ramuan untuk mempercepat timbulnya rash.
Tabel 8. Cara Pengobatan 145 Penderita Campak di Kabupaten Suka-
bumi
dan
Kuningan,
Jawa
Barat
Jumlah
Pengobatan
n %
Obat mantri
Jamu
Obat dokter
Obat modem
Obat traditional
Tidak diberi obat
76
22
20
13
12
2
52,4
15,2
13,8
9,0
8,3
1,4
Total 145
100,0
Sebagian orangtua membawa ke dokter (13,8%), membeli
obat-obatan di warung (9,8%), obat tradisional (8,3%) dan yang
tidak memberi pengobatan sama sekali sebesar 1,4%.
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit yang penye-
barannya dipengaruhi oleh faktor kepadatan penduduk; hal ini
dapat terlihat pada Tabel 9. Tampak bahwa proporsi sakit cam-
pak dengan tidak sakit campak akan terus meningkat sebanding
dengan jumlah orang dewasa dalam satu rumah itu. Bila orang
dewasa berjumlah antara 0-2 orang maka proporsi yang sakit
campak adalah 5,9%, untuk 2-4 orang dewasa menjadi 12,0%
dan 4-6 orang dewasa 12,4% dan lebih dari enam orang dewasa
men jadi 15,2%.
Tabel 9. Hubungan Antara Jumlah Orang Dewasa dalam Rumah dan
Kasus Campak pada Anak, Jawa Barat
Sakit Campak
Jumlah
Orang Dewasa
Tidak Ya
Total
0
16
94,1%
1
5,9%
17
1,4%
2
579
88,0%
79
12,0%
658
53,5%
4
326
87,6%
46
12,4%
372
30,2%
> 6
117
84,8%
21
15,2%
138
11,2%
Total 1038
147
1185
KESIMPULAN
Penyakit campak dilaporkan oleh seluruh 27 propinsi di
Indonesia.lncidence rate penyakit campak per 10.000 penduduk
di Indonesia pada tahun 1990 menunjukkan angka terendah
(4,75 - 8,02) di lima propinsi yaitu : Bali, SulSel, DI Aceh, DI
Yogyakarta dan Sultra, sedangkan untuk angka tertinggi
(36,30 57,89) terdapat di propinsi Maluku, Irja, DKI Jakarta,
Sulut dan TimTim.
BerdaSarkan basil penelitian di dua kabupaten Jawa Barat
ini, dapat disimpulkan bahwa upaya pemerintah Dit. Jen.
P2M&PLP, dalam menanggulangi campak sudah berjalan
dengan baik. Angka cakupan imunisasi campak 84,4%, efikasi
imunisasi 86,7%; tempat untuk vaksinasi yang dipilih adalah
Posyandu 65,2% dan Puskesmas 32,2%. Pelaksana program
imunisasi terbanyak Bidan 50,0%, Jurim 46,3% dan pengobatan
bagi penderita campak yang diberikan oleh mantri 52,4%.
Masalah yang masih menonjol adalah bahwa di antara
masyarakat yang tidak membawa anaknya untuk diimunisasi
campak (15,6%) masih banyak yang disebabkan karena faktor
tidak tabu (81,1%) ataupun lupa (10,5%) tentang kegunaan
imunisasi campak. Keadaan ini dapat disebabkan karena penye-
baran dan kontinuitas informasi mengenai imunisasi campak
tidak lancar atau tidak mengenai sasarannya. Penduduk dengan
sejumlah anak yang masih belum mendapat imunisasi campak
ini akan menjadi suatu daerah kantong KLB campak. Intensi-
fikasi penyuluhan campak melalui berbagai macam media yang
masuk terutama ke daerah pedesaan masih tetap perlu
ditingkatkan.
Dengan melihat data incidence rate penyakit campak di
Indonesia tersebut di atas, maka untuk masa mendatang masalah
penanggulangan campak akan berpindah dari daerah di Jawa,
Bali dan Sumatera ke daerah terutama dengan endemisitas tinggi
lain misalnya propinsi Maluku, Irja, Sulut dan TimTim. Daerah
sasaran berikut ini diketahui sangat sulit karena mempunyai
hambatan di bidang geografis, kabupaten dan desa yang sulit
dicapai, infrastruktur kesehatan yang masih miskin, keadaan
gizi dan lain-lain. Semua faktor tersebut, akan menyebabkan
rendahnya cakupan imunisasi campak, makin beratnya gejala
penyakitcampak, tingginya angka kematian campak. Sedangkan
daerah seperti DKI Jakarta akan terus menghadapi peningkatan
urbanisasi yang menyebabkan kepadatan penduduk di daerah
kumuh main meningkat, kepadatan penduduk dalam satu rumah
juga makin meningkat; sehingga risiko tertular campak meningkat.
Untuk mengatasi pergeseran masalah campak ke daerah di luar
Jawa, Bali dan Sumatera, perlu lebih ditingkatkan kerjasama
lintas sektoral, pemerataan penempatan dan peningkatan kuali-
tas tenaga kesehatan, dan peningkatan penyuluhan kesehatan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kakanwil Dep. Kes. Propinsi
Jawa Barat, Dinas P2M&PLP Propinsi Jawa Barat, Dokabu Sukabumi dan
Dokabu Kuningan dan para staf, Kapuslit Penyakil Menu/or, serta staf Ke-
lompok Peneliti Penyakil Menular Lainnya, Puslit Penynkit Menular, Badan
Litbangkes, sehingga penelitian ini dapat selesai dengan baik.
KEPUSTAKAAN
1. SEAMIC Health Statistics, International Medical Foundation of Japan, 1990.
2. Profil Kesehatan Indonesia 1991, Pusat Data Kesehatan, Departemen Ke-
sehatan.
3. Data Surveilans Direktorat Epidemiologi dan Imunisasi, Dir. Jen. P2M & PLP,
Departemen Kesehatan, 1990.
4. Mosley WH, Bobadilla JL, Jamison DT. Health Sector Priorities Review.
Pop. Health Nutr. Div. World Bank, Washington DC.
5. Imran Lubis, Djoko Y. Partisipasi masyarakat terhadap penyakit Campak di
2 kabupaten di Jaws Barat, (unpublished)
6. Wibisono H. Penyakit Campak setelah pencapaian UCI. Seminar Sehari
Masalah Campak di Perkotaan ditinjau dariberbagai Aspek. Kelompok Studi
Kesehatan Perkotaan Univ. Atmajaya, Jakarta 25 Maret 1991.
7. Imran Lubis. Virologi Campak. Seminar Sehari Masalah Campak di Per-
kotaan ditinjau dari berbagai Aspek. Kelompok Studi Kesehatan Perkotaan
Univ. Atmajaya, Jakarta 25 Maret 1991.
8. Imran Lubis, Marjanis S, Mulyono W. Etiologi Infeksi Pemapasan Akut
(ISPA) dan Faktor Lingkungan, Bul Penelit Kes 1990; 18(2): 2633.
9. Sub. Dit. Imunisasi. Strategi Umum Peningkatan Cakupan Campak untuk
Pencapaian UCI pada Akhir tahun 1990, Berita POKJA Campak, ed VII, Juli
1990, p 13.