Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Biologi Molekuler Hepatitis C
dan Aplikasi Diagnostiknya
Dr. Suwarso PhD
Laboratorium Patologi Klinik, Seksi Virologi-immunologi,
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
PENDAHULUAN
Sejak tersedianya test diagnostik (1975) untuk hepatitis
virus A (HVA) dan hepatitis virus B (HVB), maka menjadi jelas
bahwa mayoritas kasus hepatitis post-transfusi (HPT) tidak di-
sebabkan oleh virus hepatitis A (VHA) ataupun B (VHB), juga
tidak disebabkan oleh virus-virus hepatotropik lain seperti virus
Cytomegalo (CMV) dan Epstein-Barr (EBV)
(1)
. Meskipun waktu
itu nama virus hepatitis C (VHC) telah diusulkan untuk meng-
gantikan nama HPT (HNANB = Hepatitis Non-A, Non-B)
(2,3,4)
,
namun karena metode serologi konvensional yang digunakan
(pada waktu itu merupakan satu-satunya metode yang diandal-
kan) tidak mampu mendeteksi adanya antigen atau antibodi virus
penyebab, maka nama VHC usulan Choo et al. yang dapat di-
terima setelah mereka pada tahun 1989 secara rekombinan pada
Bakteriofage gt 11 berhasil mengisolasi sebagian genom virus
penyebab HPT dan regio NS4 yang mengkode pengsintesaan
protein antigen 5.1.1 dan plasma penderita HNANB kronik
(5)
.
Kini seluruh genom dan protein antigen yang dikodenya
telah berhasil diisolasi dan disintesis secara rekombinan pada
vektor Bakteriofage atau Plasmid. Analisis serologik memper-
lihatkan bahwa antigen-antigen tersebut bereaksi dengan serum
penderita HNANB dan sejak itu pula diketahui bahwa VHC me-
rupakan penyebab pokok Karsinoma Hepatoseluler (KHS) di
negara-negara maju seperti Amerika, Eropa, Jepang dan meru-
pakan penyebab pokok untuk kasus-kasus Hepatitis Kriptogenik
di Itali
(5)
.
Teknik rekombinan ini diawali dengan pengisolasian mRNA
(sumber gen yang mengkode protein antigen VHC) yang ada
dalam pelet dan plasma Chimpanzee yang bertiter infeksius
tinggi ( 10
8
CID/ml). Oleh enzim Reverse Transcriptase,
dari setiap isolat mRNA niaterial infeksius akan dibentuk atau
dikopi satu single strand DNA homolog atau DNA komple-
menternya (ss-cDNA). Seterusnya olekenzim DNA-Polimerase
akan diproduksi banyak ss-cDNA yang secara spontan akan
membentuk double-heliksnya (ds-cDNA). Kode-kode genetik
pengsintesaan antigen VHC yang sekarang ada di ds-cDNA,
selanjutnya direkonstruksi atau direkombinasi dengan fragmen
DNA yang dapat bereplikasi dengan cepat yakni DNA dari
vektor plasmid atau bakteriofage (? 1). Akhirnya dengan
memasukkan vektor-vektor ini ke dalam jamur (Saccharomyces
cerevisiae) atau bakteri inangnya (E. coli) akan dihasilkan klon-
klon yang memproduksi protein antigen VHC dalam jumlah
yang berlebihan (Gambar 1).
Gambar 1. Isolasi mRNA Virus Hepatitis C dan Pemproduksian KIT EIA/
RIBA-Anti-VHC
secara
Rekombinan
Dipresentasikan pada simposium sehari tentang "Deteksi Awal & Penanggu-
langan Hepatitis B dan C dalam Peningkatan Sumber Daya Manusia". Solo
(PAPDI). 18 Juni 1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
5
Protein Antigen hasil rekayasa genetik (rekombinan) ini
akhirnya digunakan sebagai alat untuk mendeteksi antibodi
yang ada dalam sirkulasi darah penderita HVC, dapat secara
ELISA (Enzynze linked immunoassay) atau RIBA (Recombinant
immunoblotassay) (Gambar 1).
Mengingat bahwa VHC merupakan virus hepatitis yang
pertama yang dapat dideteksi dengan cara molekuler biologi,
maka dalam artikel ini akan diterangkan molekuler biologi VHC
dan aplikasi diagnosisnya.
STRUKTUR VIRION DAN SIFAT-SIFATNYA
VHC merupakan virus yang berenvelope, yang menginfeksi
sel hati dengan perubahan-perubahan tubuler sitoplasma. Dari
studi filtrasi diketahui bahwa virion atau virus utuh yang meng-
induksi perubahan tubuler sitoplasma memiliki diameter < 80
nm
(6)
atau antara 3060 nm
(7)
, dan dengan elektron mikroskop
3662 nm
(8)
. Buoyant density virion yang diukur dengan gradien
densitas sukrosa adalah 1,141,18 g/cm3
(8)
, dan 1,301,36 g/cm3
dengan CsCl
(6)
. Dari dan hasil analisis sedimentasi disimpulkan
bahwa koefisien sedimentasi VHC <200S
(8)
.
VHC merupakan virus yang berenvelope karenanya infek-
tivitasnya dapat ditiadakan dengan pelarut-pelarut lemak seperti
kloroform dan beta-Propiolakton atau dengan pemanasan 60°C
selama 30 menit
(6)
.
STRUKTUR DAN FUNGSI GENOM VIRUS
Seperti terlihat pada gambar 2, VHC merupakan virus-virus
single strand RNA (ss-RNA). Genomnya bertipe positive-
strand RNA dengan panjang kurang lebih 9400 nukleotida (nt).
Genom terbagi dalam tiga bagian: dua bagian berupa regio
yang tidak ditranslasi (UTR = untranslation regio) yakni 5'-UTR
di ujung 5, 3-UTR di ujung 3, dan satu bagian merupakan regio
yang ditranslasi yang disebut open reading frame (ORF). Regio-
regio yang tidak ditranslasi terletak pada kec ujung genom
VHC, dengan demikian kedua UTR tersebut mengapit regio
yang ditranslasi (ORF).
ORF memiliki panjang 90309099 nt (membentang mulai
dan nt 342). Di dalam ORF inilah disimpan kode-kode genetik
untuk pengsintesaan 79 protein antigen virus, berturut-turut
adalah protein antigen struktural core dan struktural envelope-I,
masing-masing disimpan di ORF di regio C dan El; protein
antigen non-struktural-1 atau envelope-2 (NS1/E2), non-struk-
tural-2, -3, -4 (4a, 4b) dan -5 (5a, 5b), masing-masing disimpan
di regio NS1/E2, NS2, NS3, NS4 (NS4a, NS4b) dan NS5 (NS5a,
NS5b)
(9,10)
.Keseluruhan protein antigen yang dikode oleh ORF
ini tersusun dan 30103011 aa.
Gambar 2. Susunan Genom Virus Hepatitis C dan Produk Antigennya
5-UTR merupakan bagian, genom VHC tempat proses pem-
bacaan (translasi) kode-kode genetik dimulai. Dia memiliki
panjang 341 nt dan merupakan rantai yang sangat conserved,
artinya berbagai jenis genom VHC di berbagai negara (USA,
Australia, Italia, Jepang, Argentina, Afrika Selatan dan Taiwan)
memiliki rantai 5-UTR yang identik
(11)
. Lokasi 5-UTR tepat
upstream (di depan) ORF, dan memiliki peranan yang sangat
penting dalam proses replikasi atau pengsintesaan protein anti-
gen virus. Di dalam replikasi atau pengsintesaan protein virus, 5-
UTR berperan sebagai regulator (pengatur replikasi virus), hal
ini didukung dengan sifat-sifatnya sangat conserved, letaknya
yang direk upstream dan ORF, memiliki kodon-kodon initiator
AUG (kode-kode genetik untuk mengawali atau menginisiasi
replikasi atau pengsintesaan protein antigen virus) dan memiliki
kode-kode genetik untuk IRES (internal ribosome entry site)
yakni kode-kode genetik yang memungkinkan mRNA virus
berikatan dengan ribosom pembuat protein-protein (polipeptida)
antigen virus di sel hati.
Letak IRES pada 5' UTR ini membentang dari nt 101332,
sedang codon initiatornya (AUG) pada posisi nt 76 (AUG-76), 87
(AUG-87), 206 (AUG-206), 333 (AUG-333). Dari empat kodon
initiator yang dimiliki oleh VHC, ternyata kodon yang ke-IV,
yang digunakan oleh VHC untuk mengawali replikasi atau
pengintesaan proteinnya. Hal ini dimungkinkan, sebab rantai
5'- dan 3'-UTR yang mengapit ORF mengandung berturut-turut
struktur `Cap" dan `Poly-A", yang merupakan petunjuk bagi
ribosom untuk memilih kodon AUG yang dapat digunakan se-
bagai start-codon, agar diperoleh pengsintesaan protein antigen
virus yang efisien
(12)
.
Selanjutnya atas dasar kemiripan susunan regio struktural
(C, El) dan non-struktural (NS2-NSS), memperlihatkan bahwa
genom VHC mirip dengan genom virus dan famili Plavi- atau
Pesti-virus (Gambar 3). Hanya saja gp48 pada Pestivirus dan
Protein M (Matriks) pada Plavivirus menghilangkan pada VHC.
Dengan demikian masuk akal bahwa genom regmo struktural
VHC adalah lebih pendek daripada genom regio struktural Pesti-
dan Plavivirus. Sedang regio NS2-NS5 dari ketiga virus relatif
memiliki panjang yang identik.
Gambar 3. Struktur genom VHC dibanding dengan Plavi- dan Pestivirus.
gp = Glikoprotein, P = Protein, C = Core, M = Matriks, E =
Envelope,NS=Non-struktural, aa= Asam amino, nt =Nukletida,
5' & 3' = untranslasi regio (UTR) (Modifikasi dari Choo. et.al.
1990).
PROTEIN ANTIGEN VIRUS DAN ANTIBODINYA
Protein (polipeptid) antigen virus yang dikode oleh ORF
genom VHC kini secara rekombinan telah dapat dipurifikasi dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
6
ditentukan masing-masing arti klinisnya. Protein antigen core
yang berhasil dipurifikasi adalah GOR, CP9, JCC, Po dan C22-
3. Aspek klinis antibodi yang ditujukan pada antigen-antigen ini
merupakan petanda (marker) infeksius. Kecuali antibodi ter-
hadap antigen GOR, antibodi-antibodi terhadap antigen-antigen
core lainnya hampir 90% dapat terdeteksi dalam sirkulasi darah
penderita HVC kronis, dan dengan metode Polymerase Chain
Reaction (PCR) umumnya dapat diketahui bahwa serum-serum
mereka memiliki RNA-VHC (Gambar 4). Peran antibodi ter-
hadap antigen-antigen core ini adalah membantu diagnosis VHC
pada kasus-kasus anti-C 100-3 (Ab terhadap antigen NS3-NS4)
negatip, yang pendeteksian RNA-VHC belum dikerjakan. Ke-
cuali antigen GOR, pengsintesaan antigen CP9, JCC, Po dan
C22-3 ada di bawah pengaruh kode-kode genetik yang ada di
dalam regio C dan ORF genom VHC. Antigen GOR merupakan
auto-antigen sintetik yang dikode oleh rantai genom sel hospes
dan tampaknya dia merupakan antigen nuklear sel hospes.
Protein Envelope-i merupakan protein yang terglikosilasi
(Glikoprotein =gp)dengan beratmolekul 33 Kilo Dalton (gp33),
dikode oleh regio El. Protein ini merupakan selubung terluar
VHC dan dinominasikan merupakan antigen yang dapat meng-
induksi antibodi yang dapat menetralkan virus. Dengan demi
kian merupakan novel antigen untuk mengembangkan vaksin.
Protein E2/NSI juga merupakan protein yang terglikosilasi
dengan berat molekul 72 Kilo Dalton (gp72), dikode oleh regio
E2/NS 1 dan genom VHC. Protein ini merupakan selubung kedua
seperti pestivirus, atau protein npn-struktural- 1 terluar seperti
Plavivirus. Adanya regio yang hypervariable pada regio E2/NS1,
ini menandakan bahwa protein atau antigen yang dikodenya
merupakan protein atau antigen yang dapat menginduksi anti-
bodi yang dapat menetralkan virus. Tapi nyatanya antibodi
terhadap antigen-E2 (Anti-E2) ini, lebih dan 50% terdeteksi pada
penderita-penderita HVC kronik, dan menghilang pada pende-
rita-penderita HVC yang berespon terhadap terapi interferon
(Yokosuka et al. 1993). Dengan demikian antibodi-E2 me-
rupakan marker replikasi VHC.
Protein NS2, NS3, NS4 dan NS5 merupakan protein non-
struktural dengan berat molekul berturut-turut 23kd (p23), 60kd
(p60), 52kd (p52) dan 1 l6kd (p116), dikode berturut-turut oleh
regio NS2, NS3, NS4 dan NS5 genom VHC. p23 dan p52 me-
miliki fungsi membran binding, p60 merupakan enzim protease/
helikase yang digunakan untuk sintesa protein virus, sedang
p116 merupakan enzim polimerase/reflikase yang berfungsi di
dalam reflikasi genom VHC (Gambar 2). Sebagai alat diagnos-
tik, produk antigen-antigen yang dikode oleh regio ini telah
tersedia secara komersial, dan dan Kit-diagnostik generasi lama
ke generasi yang lebih baru sensitivitas dan spesifisitasnya selalu
ditingkatkan dengan cara mengkombi nasikan antigen-antigen
ini. Pada EIA-Anti-HCV generasi-I, yakni EIA untuk mendeteksi
adanyaanti-HCV-Cl00-3 digunakan kombinasi protein antigen
yang berhasil diisolasi oleh Choo et al. yakni Ag 5.1.1 (Ag yang
dikode oleh regio NS4) dengan protein antigen yang dikode oleh
sebagian regio NS3; Pada EIA generasi-II yakni EIA untuk
mendeteksi antibodi-HCV-C200, protein antigen yang dikom-
binasikan pada Ag 5.1.1 tidak hanya protein Ag yang dikode oleh
sebagian regio NS3, tapi sudah dengan protein Ag yang dikode
oleh seluruh regio NS3 dan akhirnya pada EIA generasi terbaru/
generasi-III (mendeteksi adanya anti-HCV-C825) protein Ag
yang dikode oleh regio NS5 ditambahkan (Gambar 4).
Gambar 4. Susunan Genom Virus Hepatitis C dan Produk Antigen Ko-
mersialnya
Antibodi-antibodi terhadap protein-protein antigen ini
merupakan marker infeksius, sebab banyak terdapat pada pende-
rita-penderita HVC kronik (Gambar 5).
Gambar 5. Positive rate epitope HCV dengan test konfirmasi Polymerase
Chain Reaction (PCR). Modifikasi dari Yatsuhashi et .al.(1993).
TIPE, SUB-TIPE DAN DISTRIBUSI VIRUS
Sejak genom VHC berhasil dianalisis
(5)
. Kini minimal di
dunia secara genotipeada 7 tipe pokok VHC, yakni VHC I-VII
(Tabel 1). Masing-masing tipe berdasarkan pada persamaan
(homolog) nukleotida yang menyusun regio genomnya (ho-
molog nt <72% signifikan berbeda) kemudian dapat dibagi lagi
ke dalam 23 subtipe (ac). Prevalensi sub-tipe tampak ber-
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
7
Aspek klinis lain dengan adanya subtipe adalah timbulnya
infeksi multipel, yakni satu individu mengalami infeksi berulang
oleh VHC. Jadi adanya infeksi multipel pada seseorang perlu
mendapat perhatian yang serius, sebab mayoritas (>50%) indi-
vidu yang terinfeksi oleh VHC dengan beda tipe, penyakitnya
akan berjalan kronis dan umumnya di dalam tubuh penderita ini
akan terdeteksi lebih dari satu tipe VHC.
variasi antara daerah geografik yang berbeda. VHC-I (subtipe
1a) yang berhasil diisolasi dan chimpanzee yang diinfeksi oleh
faktor VIII konsentrat yang menyebabkan HNANB pada resi-
piennya (penderita hemofilia) banyak terdapat di USA, Australia
dan negara-negara Eropa Barat. VHC-I (Ia) ini umumnya me-
rupakan VHC yang ditemukan pada penderita-penderita hemo-
dialisis. VHC- 1a tidak diketemukan pada 52 penderita hepatitis
kronik dan sirosis hati, tapi sebaliknya umum pada penderita-
penderita yang dihemodialisis
(9)
. Di Yogyakarta kami menemu-
kan bahwa VHC-subtipe-1a merupakan VHC yang mayoritas ter-
dapat pada pasien-pasien hemodiaIisis
(10)
. VHC-II (1b) banyak
terdapat di Jepang, Korea, Taiwan, China, dan di Indonesia
merupakan subtipe yang paling umum ditemukan (48%) pada
penderita-penderita penyakit hati kronis dan umumnya meru-
pakan subtipe yang berespon jelek terhadap terapi interferon.
Sub-tipe Ic (HC-G9, Td-6?), sejauh ini merupakan subtipe yang
spesifik ada di Indonesia; Subtipe ini lebih banyak ditemukan
pada penderita-penderita sirosis hati dan pada hepatitis kronis
(34% vs 20%). VHC-III (2a) dan IV (2b) merupakan VHC yang
berespon baik terhadap Interferon. Tipe 2a banyak terdapat di
Jepang dan di Indonesia tercatat >20% sebaliknya tipe 2b ter-
dapat di Jepang dan tidak ditemukan di Indonesia. VHC-V (3a)
di Thailand, Inggris, Brazil dan sejauh ini tidak ada di Indonesia,
VHC-VI (3b) di Thailand dan Jepang, VHC-VII (4a) di Afrika
Selatan
(9)
.
Mengingat bahwa awal timbulnya kasus dan terdeteksinya
VHC adalah dan pemakaian darah dan produk-produknya se-
perti faktor-faktor pembekuan yang biasa digunakan pada kasus-
kasus hemophilia, immunoglobulin yang diberikan untuk kasus-
kasus immunisasi pasif, dan bahkan vaksin-vaksin yang berasal
dari donor plasma, pemakaian bahan-bahan ini perlu lebih se-
lektif.
KEPUSTAKAAN
1. Feinstone SM, Kapikian AZ, Purcell RH, AlterHJ, Holand PV. Transfusion
associated hepatitis not due to viral hepatitis type A or B. N. Engl. J. Med.
1975; 292: 76770.
2. Prince AM, Brotman B, Grady GF et al. Long incubation posttransfusion
without serological evidence of exposure to hepatitis B virus. Lancet 1974;
2: 241246.
3. Shirachi R, Tateda A, Shiraishi H, Kikuchi K, Ishida N. "Hepatitis C"
antigen in NANB-postransfusion hepatitis. Lancet 1978; 2: 853856.
4. Villarejos VM, Provos PJ, Ittensohn OL, McLean AA, Hilleman MR.
Seroepidemiologic investigations of human hepatitis caused by A, B and a
posible third virus. Proc. Soc. Exp. Biol. Med. 1976; 152: 524528.
Tabel 1. Tipe dan Subtipe VHC
Tipe Subtipe Genotipe
Isolat
Keterangan
1
2
3
4
A
B
C
A
B
A
B
I
II
III
IV
V
VI
VII
USA
Eropa
Australia
Indonesia
Jepang
Korea
Taiwan
China
Indonesia
Indonesia
Jepang
Indonesia
Jepang
Thailand
Inggris
Brazil
Thailand
Jepang
Afrika Selatan
Hemodialisis
Hepatitis kronis
Kebal interferon
Sirosis hati
Peka interferon
Peka interferon
5. Choo QL, Kuo G, Weiner AJ, Overby LR, Bradley DW, Houghton M.
Isolation of a cDNA clone derived from a blood-borne NANB-viral
hepatitis genome. Science. 1989; 244: 35962.
6. BradleyDW, McCaustland KA, Cook EH, SchableCA, EbertiW, Maynard
JE. Posttransfusion NANBH in Chimpanzees: Physicochemical evidence
that the tubule-forming agent is small, enveloped virus. Gastroenterol.
1985; 88: 77379.
7. He LF, Ailing D, Popkin T, Shapiro M, Alter HJ, Purcel RH. Determining
the size of non-A, non-B hepatitis virus by filtration. J. Infect. Dis. 1978;
156: 63640.
8. Hollinger FB. Non-A, non-B hepatitis viruses. In: Field BN, Knipe DM.
Eds. Virology, second ed. Vol. 2. New York: Raven Press 1990; 2:
22392273.
9. Hotta H., Handajani R, Lusida MI, Widawati, Doi H, Miyajima H, Homma
M. Subtype analysis of hepatitis C virus in Indonesia on the basis of NS5b
region sequences. 2nd Nat Congr Indonesian Society for Clinical Patho-
logy (PDS PATKLIN), Surabayn Januari, 293 12, 1994.
10. Hotta H, Doi H, Hayashi T, Mariyam, Lusida INI, Widawati, Homma M.
Sequence analysis of hepatitis C virus obtained from Indonesia patients
and identification of novel sequence variants. Viral Hepatitis and Liver
Disease. 1994 (in press).
11. Hari JH, Shyamala V, Richman KH et al. Characterization of the terminal
regions of hepatitis C virus RNA: identification of conserved sequences in
the 5' untranslated region and poly (A) tails at the 3' end. Proc. Natl. Acad.
Sci. USA 1991; 88: 171115.
Telah diketahui bahwa virus-virus RNA mudah sekali untuk
mutasi secara spontan
(13)
. Karenanya masuk akal jika perbedaan
tipe dan virulensi ini muncul pada VHC. Adanya perbedaan tipe
ini karena di antara VHC yang berhasil diisolasi memiliki per-
bedaan panjang atau adanya substitusi pada jumlah nukleotida
yang menyusun rantai genomnya (tapi dan kebanyakan isolat
yang ada, hanya regio Core dan NS3 yang konservasi). Selan-
jutnya perbedaan subtipe ini memegang peran pula dalam berat
ringannya hepatitis dan respon terhadap terapi interferon.
12. Kohara KT, lizuka N, Kohara M, Nomoto A. Internal ribosome entry site
within hepatitis C virus RNA. J. Virol. 1992; 66: 14761483.
13. Domingo E, Martinez-Salas E et al. The Quasispecies (extremely hetero-
gene) nature of viral RNA genome populations: Biological relevance-a
review. Gene 1985; 40: 18.
14. Yatsuhashi H, Inokuchi K, lnoue 0 et al. The clinical significance of
reactivity to individual epitopes of the hepatitis C viral genome. Gastro-
enterol. Jpn. 1993; 28. (Suppl. 5): 61l.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
8