Aspek Medik
Kegiatan Olahraga Dirgantara
dr Sukarto
Federasi Aero Sport Indonesia
Jakarta
PENDAHULUAN :
Kegiatan olahraga dirgantara meliputi kegiatan terjun pa-
yung, aerogliding, pesawat bermotor dan aeromodelling.
Masing-masing cabang kegiatan olahraga dirgantara ini akan
mempunyai bahaya dan resiko-resikonya sendiri. Tidak kalah
pentingnya adalah cara-cara pencegahannya.
Sebab seperti olahraga lainnya diperlukan persyaratan fisik
tertentu untuk mendapat prestasi yang optimal.
Untuk dapat memberikan gambaran yang jelas akan kegiatan
tersebut diatas, maka kami mencoba membahas aspek medik
kegiatan olahraga dirgantara ini.
Perlu diketahui bahwa, empat cabang olahraga dirgantara ini
bernaung dalam satu Federasi yang disebut Federasi Aero
Sport Indonesia (FASI).
PARACHUTING
Olahraga terjun payung sudah mulai dikenal oleh para
remaja kita dengan dipelopori oleh kakak-kakaknya para
anggota ABRI. Hanya bedanya dengan ABRI bahwa pada
olahraga terjun ini dikembangkan dengan olahraga terjun
bebas. Olahraga terjun bebas ialah olahraga terjun dari pesawat
terbang dengan ketinggian tertentu tanpa mengembangkan
payungnya, baru pada ketinggian tertentu pula payung di
kembangkan dan mendarat lagi di bumi.
Terjun bebas ini mempunyai tiga kelas yang dipertandingkan
yakni:
· Ketepatan mendarat (accuracy).
· Kerjasama di udara (relative work).
· Estafet di udara.
Ketiga macam kelas ini memerlukan latihan, ketekunan dan
keberanian para olahragawan terjun payung. Karena setiap
kesalahan akan berakibat fatal, altemative lain tidak ada.
Bahaya-bahaya yang dihadapi oleh penerjun bebas adalah :
Pada waktu sebelum mendarat
· Hypoxia
· Ekspose pada suhu dingin.
· Decompresi.
· Parachute opening shock.
· Tumbling.
Pada waktu pendaratan
· Macam-macam fractur bisa terjadi, yang sering adalah :
fractur extrimitas bawah, fractur kompresi tulang pung-
gung.
· Commotio cerebri.
Khusus mengenai parachute opening shock ini sangat kami
tekankan kepada para olahragawan untuk diketahui bahaya-
nya. Parachute opening shock adalah hentakan pada waktu
payung terbuka. Besarnya hentakan ini tergantung kepada :
q
Tingginya kita meloncat. Makin tinggi makin besar, karena
hal tersebut dipengaruhi oleh terminal velocity dari suatu
ketinggian. Pada ketinggian 40.000 kaki terminal velocity
adalah 243 mph, 30.000 kaki terminal velocity adalah 196
mph, 10.000 kaki terminal velocity adalah 140 mph, dan
permukaan laut terminal velocity adalah 120 mph.
q
Waktu pembukaan payung (opening time). Makin pendek
opening time-nya makin besar hentakannya. Kecepatan me-
nurun badan pada terjun bebas adalah 243 mph pada keting-
gian 40.000 ft. Bila payung terbuka pada ketinggian ini ia akan
dihentak sebesar 30 G, ini akan meremukkan tulang belulang
kita terutama tempat-tempat tali (harnes) pengikat pada
tubuh kita . Oleh karenanya dipergunakan tehnik terjun
bebas (free fall) sampai pada ketinggian 2000 -- 4000 ft,
dimana di tempat tersebut hentakannya kira-kira 2 -- 3 G
yang bisa diatasi oleh tubuh kita.
Bahayanya tumbling diudarapun sangat kami tekankan kepada
penerjun bebas. Latihan-latihan keseimbangan badan sangat
diperlukan, sebab pada waktu terjun bebas, keseimbangan
tulang sangat sukar
untuk direcover dari posisi tumbling.
Apabila titik pusat perputaran jatuh pada jantung dan ia
berputar 100 x per menit selama 10 detik akan memberikan
perdarahan conjunctival. Berputar secara mendatar dengan
perputaran 200 x permenit, selama 50 detik seseorang akan
mati.
Telah dicoba pada chimpanze bahwa tumbling dengan per-
cepatan (epicyclic accelerasi), pada putaran 20 x permenit
selama 3 detik maka terjadi perdarahan (hemorrhagie) yang
fatal.
Accident Rate
Yang sempat kami catat kejadian fatal pada FASI adalah
dua kali, dan luka berat adalah empat kali. Kedua kasus fatal
ini disebabkan kurangnya persiapan fisik/mental maupun
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
1 3
tehnis dari penerjun bebas.
Accident Rate ini dapat ditekan dengan memberikan bim-
bingan tehnis yang baik dan air discipline yang ketat.
TERBANG LAYANG (Aero gliding)
Seperti kita ketahui terbang layang sudah populair dan
merupakan cabang olahraga yang dipertandingkan pada
PON yang lalu. Olahraga ini terdapat di kota-kota Jakarta,
Bandung, Yogya, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Ujung Pan-
dang, Palembang dan Medan.
Macam kegiatan yang dipertandingkan adalah :
· Sport Landing (ketepatan mendarat).
· Duration flight (lamanya penerbangan).
· Distance flight (jauhnya penerbangan).
· Triangle flight (kecepatan penerbangan).
· High altitute flight (ketinggian penerbangan).
Kecelakaan yang diakibatkan oleh penerbangan ini adalah :
hypoxia, vertigo, yang bila tidak tertolong akan crash dan
fatal, serta disorientasi, panik dan terjadi pendaratan darurat
yang berhasil maupun tidak.
Cedera-cedera yang diakibatkan oleh penerbangan gliding
adalah: commotio cerebri, fractura, luka-luka terbuka pada
extremitas terutama extremitas bawah.
Pencegahannya :
(1). Memberikan indoktrinasi yang baik mengenai :
· flying safety.
· air disiplin.
(2). Latihan yang baik dan terus menerus (Endurance train-
ing).
Dapat dibayangkan bahwa duration flight prestasi dicapai
setelah 52 jam terbang, ini berarti terbang selama
2½
hari
terus menerus, di Indonesia hal ini baru dicapai oleh Abet
Malau dari Medan.
Duduk dalam cockpit pesawat selama 52 jam terus menerus
akan memberikan kelelahan fisik maupun mental .
(3). Merokok tidak dianjurkan kepada penerbang olahraga,
disebabkan carbon monoxide akan mengurangi ke-
mampuan terbang tinggi.
(4).
Indoktrinasi penggunaan oxygen equipment secara
baik dan benar.
(
5
). Menjaga kesemaptaan badan dengan menggunakan Aero-
bic sebagai sarananya.
PESAWAT BERMOTOR.
Pada cabang kegiatan olahraga dirgantara pesawat ber-
motor mendapat
pasarannya terutama
pemuda-pemuda
putus sekolah maupun yang masih duduk di S M A. Umumnya
mereka terjun ke dunia ini sebagai jenjang cariemya menuju
profesional pilot maupun sebagai olahragawan.
Umumnya yang menggunakan sebagai sarana olahraga adalah
mereka yang termasuk catagori the have. Memang olahraga ini
mahal, satu jam terbang rata-rata memerlukan biaya 15.000
sampai 20.000 rupiah.
Ragam yang dipertandingkan adalah :
q
High altitude flight.
q
Non stop distance flight.
q
Aerobatic flight.
q
Race flight.
q
Performance flight.
q
Spot landing.
Berhubung pesawat tersebut lama terbangnya ditentukan
oleh jumlah bahan bakar yang dibawa, maka lama penerbang-
annya akan terbatas dibandingkan dengan penerbangan glider.
Demikian pula cockpit pesawat lebih convenient (enak)
dibandingkan pesawat glider yang tanpa mesin itu, yang
jelas suhu udara di cockpit bisa diatur, oxygen equipmentnya
lebih sempurna dan alat-alat navigasinya lebih lengkap. Se-
hingga stress fisik yang dialami oleh penerbang lebih ringan.
Hanya pada aerobatic flight stress fsik ini akan lebih nyata
berhubung penerbang akan expose pada G force (positip mau-
pun negatip) dengan segala akibatnya terhadap penerbang.
Kecelakaan dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain :
(i)Kurangnya air discipline,(ii) Perencanaan (preflight planning)
yang kurang masak, (iii) Vertigo yang disebabkan oleh bad
weather maupun kurangnya pengalaman dalam instrument
flying, (iv) Pendaratan yang tidak berhasil karena kepanikan
dan poor judgment.
Kecelakaan-kecelakaan ini menimbulkan cedera dari yang
ringan sampai berat seperti :
· Commotio cerebri yang terjadi akibat benturan kepala
dengan instrument panel yang berada didepannya
mau-pundengan alat-alat lain.
· Luka bakar segala stadium, berhubung dengan ter-
bakarnya bahan bakar pesawat.
· Fractur terbuka maupun tertutup dari extrernitas
bawah/atas dan collumna vertebrae.
· Pecahnya membrana tympani oleh karena dive yang
tajam dengan hidung yang buntu karena pilek.
· Aero otitis, aero sinusitis, aerodontalgia sebagai late
symptom.
· Subconjunctival haemorrhagie oleh karena G force
pada waktu aerobatic flight.
Pencegahan
Untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi, bebe-
rapa hal perlu mendapat perhatian yaitu :
q
Air discipline dan prosedure yang baik .
q
Kesemaptaan tubuh harus optimal .
q
Tidak merokok .
q
Jangan terlalu gemuk, untuk menghindari aero em-
bolism .
q
Latihan terbang untuk mendapatkan kemahiran tehnis
yang optimal.
q
Aero medical check up seperti yang ditentukan dalam
validity dari licence-nya.
Accident Rate
Selama FASI dibentuk sampai sekarang belum terjadi
kecelakaan pesawat yang fatal, hanya beberapa incident kecil
yang tidak memberikan cedera pada penerbangnya.
AERO MODELING
Dibanding ketiga macam kegiatan diatas .ini, maka aero
14
Cermin Dunia Kedokteran No. 1 2, 1978
modeling adalah olahraga yang paling sedikit resikonya dan
paling banyak penggemarnya terutama para remaja.
Hal tersebut diatas disebabkan oleh biaya yang relatip tidak
mahal, tidak memerlukan cara-cara yang khusus dan resikonya
kecil.
Aeromodelling sebenarnya merupakan kegiatan yang ter-
letak diperbatasan antara hobby dan olahraga. Aspek hobby
ialah pesawat model dibuat sendiri sebagai kesenangan dan
pengisi waktu senggang, sedang aspek olahraganya ialah
pembuat pesawat model tersebut harus menerbangkan sendiri
pesawat ciptaannya ditengah lapangan terbuka dan bila perlu
lari mengikuti jejak pesawatnya sewaktu terbang.
Mungkin tidak banyak yang mengetahui apa aeromodelling
tersebut. Kegiatan ini tak lain ialah pembuatan pesawat ter-
bang dalam bentuk diperkecil dan diterbangkan seperti pesa-
wat sebenarnya dengan persyaratan tehnis yang sama.
Berhubung dengan murahnya kegiatan ini maka cabang ini
akan dimasukkan dalam acara PON mendatang.
Macam kegiatan yang dipertandingkan ialah :
q
Glider.
q Free Flight.
q
Combat.
q
Team Race.
q
Speed.
q
Stunt (acrobatic).
q
Radio controle.
Accident Rate.
Praktis tidak ada sejauh yang menyangkut faktor manusia,
sebab si pembuat tidak ikut terbang dalam pesawat tersebut.
Paling-paling pesawat tersebut dapat menjatuhi penonton
yang melihat, rumah maupun kendaraan.
Cedera
Praktis tidak ada, kalau toh ada hal tersebut disebabkan
oleh kecerobohan pada waktu menjalankan mesinnya dan
dalam waktu persiapan (preflight check). Sering terjadi luka-
luka pada jari karena terpukul propeller (baling-baling waktu
engine run) dan irritasi pada mata, sebab bahan bakar yang
terpercik pada waktu engine refueling maupun start.
lt is ositively provecl that
PROCOLD is absorbed
faster,
and higher concentrations
in the blood level are
reached and maintained.
Composition :
Each tablet contains
Paracetamol..................................... 500 mg.
Trimethylxanthine........................... 30 mg.
Phenylpropanolamine HCI............... 25 mg.
Chlorpheniramine Maleate..............
2 mg.
As yet PROCOLD has the best dissolution among well known
COLD preparations
Cermin Dunia Kedokteran
No. 12, 1978
Prescribe
PROCOLD
for QUICK RELIEF of COLD symptoms.
PROCOLD
makes your patients feel better, FAST !!!
15