Artikel
HASIL PENELITIAN
Analisis Hasil Test Hemaglutinasi
Penderita Demam Berdarah Dengue
di Jakarta, 1992
Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Siti Hutauruk, John Master Saragih
Pusat Penelitian Pen yakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai berjangkit
di Indonesia sejak tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta, sejak itu
penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemis di Indo-
nesia. Penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya gejala shock
(renjatan), perdarahan (gross bleeding), dan kematian.
Menurut data Ditjen P2M-PLP (1991) setiap tahun jumlah
penderita DBD meningkat yaitu dari 58 penderita pada tahun
1968 dengan angka kesakitan (IR) 0,14 per 1000 penduduk men-
jadi 10.362 penderita pada tahun 1989 dengan IR 6,09; sedang-
kan pada tahun 1990 dengan 22.807 penderita dengan IR 12,70
dan pada tahun 1991 jumlah penderitanya agak menurun sedikit
yaitu 21.120 penderita dengan IR 11,56 per 1000 penduduk.
Angka kematian (CFR) penyakit ini dapat ditekan yaitu dari
41,4% pada tahun 1968 menjadi 4,5%pada tahun 1989,dan pada
tahun 1990 turun lagi menjadi 3,6%, sedangkan data tahun 1991
menunjukkan hanya 2,74%.
Di DKI Jakarta jumlah penderita DBD juga cenderung me-
ningkat dari tahun ke tahun, yaitu 10.616 penderita pada tahun
1988 dengan CFR 1%, sedang pada tahun 1989 terdapat hanya
2309 penderita dengan CFR 1,6% dan IR 26,02; pada tahun 1990
terdapat peningkatan kasus yaitu 6364 dengan CFR 1,2% dengan
IR 77,40 dan data tahun 1991 menunjukkan adanya 3547 kasus
dengan CFR 1,3% dan IR 42,12 per 1000 penduduk.
Penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan yang
penting karena : dapat menyebabkan terjadinya wabah pada saat-
saat tertentu yang sulit diramalkan, patofisiologi renjatan masih
belum jelas, belum ditemukannya vaksin yang ampuh, masih
kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang
nyamuk (PSN).
Semua tipe virus Dengue (Dl, D2, D3, D4) sudah terdapat
di Indonesia dan semuanya dapat menyebabkan gejala ringan
maupun berat dengan tipe yang dominan adalah D3 disusul D2,
Dl dan terakhir D4
(4)
. Sedangkan Sumarmo pada awalnya me-
nemukan bahwa virus D3 merupakan penyebab terbanyak kasus
DBD dengan gejala berat tetapi mulai Februari 1985 ternyata
virus D2 yang lebih dominan (50%)
(5)
.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk memberi gambaran pe-
nyakit DBD yang terjadi di DKI Jakarta tahun 1992 berdasarkan
spesimen yang diperiksa oleh Puslit Penyakit Menular Badan
Litbangkes.
Tujuan khusus:
1) Mengetahui ketepatan diagnosis klinik DBD.
2) Mengetahui frekuensi penderita pria dan wanita.
3) Mengetahui distribusi umur terbanyak.
4) Mengetahui fluktuasi kasus per bulan.
METODOLOGI
Penelitian ini berbentuk deskriptif retrospektif dengan popu-
lasi seluruh spesimen penderita tersangka DBD yang diperiksa
oleh Puslit Penyakit Menular, mulai Januari s/d Desember 1992
dan berbagai rumah sakit/klinik di Jakarta. Sampel adalah se-
luruh spesimen penderita tersangka DBD; dengan demikian
tidak dilakukan sampling.
Pemeriksaan spesimen DBD dilakukan dengan metoda
Haemagglutination Inhibition (HI) Clark & Cassals dengan
modifikasi microtechnique terhadap antigen Dengue 2 (Perum
Biofarma). Sebelum dilakukan uji HI spesimen terlebih dahulu
mendapat kaolin treatment untuk menghilangkan non specific
inhibitor. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO
(3)
sebagai berikut :
·
Negatif: tidak ada kenaikan titer 4 kali pada serum kon-
valesen terhadap serum akut
·
Positif primer: titer serum akut < 20, sedangkan titer serum
konvalesen 4 kali atau lebih dari titer serum akut tetapi kurang
dari 640.
·
Positif sekunder: titer akut 20 atau lebih dari titer konvalesen
4 kali serum akut atau lebih.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
5
·
Presumptif: tidak ada kenaikan 4 kali antara serum kon-
valesen dan akut tetapi titer keduanya 1280 atau lebih.
HASIL DAN DISKUSI
Selama periode Januari s/d Desember 1992 telah diperiksa
931 spesimen oleh Puslit Penyakit Menular dan 22 rumah sakit/
klinik di Jakarta, sebagian besar berasal dari RSCM (>50%).
Spesimen yang diperiksa di laboratorium lainnya tidak masuk
dalam studi ini, sehingga interpretasi data terbatas pada populasi
tersebut; perlu dipertimbangkan bahwa sebagian besar spesimen
DBD masih dikirim ke Puslit Penyakit Menular, dengan de-
mikian cakupan populasi per tahun dianggap tidak terlalu ber-
variasi dan dari data ini masih dapat dilakukan suatu analisis
deskriptif yang akan memberikan suatu gambaran situasi pe-
nyakit pada masa tersebut.
Dari 931 spesimen ternyata sebanyak 146 (15,68%) meru-
pakan spesimen tunggal yaitu hanya terdiri dari spesimen akut
atau konvalesen saja, sehingga hasilnya tidak dapat diinterpretasi
dan dikeluarkan dari studi ini, meskipun demikian dari 146
spesimen tunggal ini ada 3 yang dapat disebut positif karena
titernya 1280. Pengambilan spesimen DBD harus diusahakan
berupa spesimen ganda yang terdiri dari spesimen akut (hari
pertama penderita dirawat) dan spesimen konvalesen (57 hari
setelah pengambilan spesimen akut atau pada waktu penderita
akan pulang apabila kurang dari 5 hari) sehingga hasilnya akan
memperkecil bias yang ada.
Sisanya sebanyak 785 (84,32%) berupa spesimen ganda
yang hasil interpretasinya sebagai berikut : 475(60,51%) negatif
dan 310(39,49%) positif, karena infeksi DBD (Tabel 1). Persen-
tasi positif tersebut menunjukkan bahwa diagnosis klinik ter-
sangka DBD mempunyai ketepatan diagnosis 39,49%, sisanya
mungkin disebabkan oleh penyakit lain yang mempunyai gejala
klinik menyerupai DBD. Ketepatan diagnosis ini lebih rendah
dan tahun-tahun sebelumnya yaitu tahun 1991 sebesar 43,54%,
tahun 1990 sebesar 50,41%, tahun 1988 sebesar 50,7%, bahkan
pada tahun 19861987 mencapai ketepatan diagnosis 70,13%,
hal ini memenlukan penelitian lebih lanjut mengapa justru ke-
tepatan diagnosis lebih rendah; apakah mungkin keahlian men-
diagnosis menurun, atau bertambahnya penyakit yang mem-
punyai gejala mirip DBD, atau mungkin kesalahan di laborato-
rium.
Tabel 1. Jumlah spesimen penderita DBD yang diperiksa di Puslit Penya-
kit
Menular
Jakarta,
tahun
1992
Positif Persen
Kriteria spesimen
Frekuensi
n %
Sspesimen ganda
785
310
39,49
Spesimen tunggal
146
3
2,05
Total 93
1
313
33,62
Ketepatan diagnosis klinik sangat penting karena akan
mempengaruhi pengelolaan penderita dalam perawatan. Hasil
serologi HI baru dapat diketahui setelah 7 hari pengambilan
spesimen akut, sehingga tidak banyak mempengaruhi pola pe-
rawatan penderita. Melihat hal ini maka penlu diupayakan pe-
ningkatan ketepatan diagnosis klinik.
Pada Grafik 1 terlihat jumlah spesimen ganda yang diperiksa
dan hasilnya berdasarkan umur penderita, jumlah penderita ter-
sangka DBD terbanyak pada golongan umur 1520 tahun yaitu
158 orang (20,13%) dari jumlah penderita dengan spesimen
ganda dengan jumlah tes HI positif 63 orang (20,32%) dari
seluruh tes HI positif, sedang pada golongan umur 1015 tahun
terdapat 65 orang positif tes HI (20,97%) atau terbanyak di-
banding golongan umur lainnya.
Grafik 1 Distribusi penderita dengan spesimen ganda berdasarkan hasil
uji III dan golongan umur, Jakarta 1992.
Perbandingan spesimen ganda dan positif berdasarkan umur
Umur penderita dengan HI positif termuda didapat pada bayi
laki-laki berumur 19 bulan pada bulan Juni 1992, sedang pen-
derita tertua dengan tes HI positif didapat pada wanita dengan
golongan umur 5055 tahun pada bulan Juli 1992. Adanya
pergeseran umur ke golongan yang lebih dewasa (> 20 tahun)
telah tampak pada penelitian tahun 1986-1987
(2)
dan setelah itu
selalu terdapat kasus DBD pada usia dewasa; berdasarkan asumsi
bahwa tingkat endemisitas virus dengue selama ini di masyarakat
masih tetap tinggi maka timbulnya pendenita pada golongan
umur dewasa menyebabkan keraguan akan efektifitas kekebalan
pasif terhadap virus dengue yang selama ini dianggap long life;
tetapi apabila keadaan ini karena perubahan strain virus dengue,
maka dapat diduga bahwa semua golongan umur akan terkena
DBD.
Di sini juga dikelompokkan penderita yang tidak disertai
identitas umur (unknown) yang jumlahnya 122 orang dari seluruh
penderita dengan spesimen ganda (15,54%) dengan jumlah tes
HI positif 35 (11,29%) dan seluruh tes HI positif; kelompok ini
tidak dimasukkan dalam grafik golongan umur tetapi masuk
dalam grafik penderita per bulan sehingga akan ada perbedaan
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
6
jumlah penderita tes HI positif antara keduanya.
Pada Grafik 2 terlihat penderita mulai meningkat pada
bulan April (56 orang) dengan tiga puncak yaitu bulan Mei (129
orang), bulan Juni (125 orang) dan bulan Juli (133 orang). Hal ini
agak berbeda dan tahun sebelumnya (1991)
(2)
yang hanya
mempunyai dua puncak yaitu hulan Mei (65 orang) dan Juni (45
orang), pada penelitian tahun 1990
(2)
puncak tertinggi pada bulan
September (97 orang), pada penelitian tahun 1988 jumlah pende-
rita terbanyak pada bulan April (307 orang) dan Mei (189 orang).
Grafik 2. Distribusi penderita dengan spesimen ganda berdasarkan hasil
uji
HI
per
bulan,
Jakarta
1992.
Perbandingan spesimen ganda dan positif berdasarkan bulan
Dengan adanya beberapa variasi puncak jumlah penderita
tersangka DBD per bulan setiap tahunnya, agak sulit bagi peng-
ambil keputusan untuk melakukan antisipasi menjelang me-
ningkatnya jumlah penderita, satu-satunya jalan yaitu agar di-
lakukan tindakan represif yang terus menerus dengan mengikut-
sertakan masyarakat dalam Program Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN).
Ketepatan diagnosis tertinggi pada bulan Februari dan
November yaitu 60,0% dan terendah pada bulan Januari yaitu
16,13%, kalau melihat hal ini dugaan bahwa kalau penderita
banyak dokter cenderung lebih teliti dalam memeriksa dibanding
apabila penderita hanya sedikit sehingga banyak diagnosis me-
leset (overdiagnosis) agaknya tidak tepat, karena bila dilihat
pada bulan Februari penderita hanya sedikit tetapi ketepatan
diagnosisnya tinggi dibanding bulan Januari yang penderitanya
lebih banyak tetapi ketepatan diagnosisnya lebih rendah, sedang
untuk bulan-bulan lainnya berkisar antara 30-50%
(1)
.
Pada Grafik 3 terlihat pada sejumlah golongan umur pen-
derita laki-laki lebih banyak daripada penderita perempuan,
tetapi pada sebagian golongan umur lainnya sebaliknya, se-
hingga tidak tampak perbedaan bermakna dalam jumlah pen-
derita berdasarkan jenis kelamin walaupun jumlah penderita
laki-laki Iebih banyak daripada penderita perempuan, hal ini
Tabel 2. Jumlah penderita tersangka DBD dengan serologi HI positif per
bulan,
Jakarta
1992
Positif
Bulan Total
n %
Januari 31 5
16,13
Februari 15 9
60,0
Maret 33
13
39,39
April 56
30
53,57
Mei 129
47
36,43
Juni 125
42
33,66
Juli 133
65
48,87
Agustus 69 25
36,23
September 44 13
29,55
Oktober 44 10
22,73
November 50 30
60,0
Desember 56 21
37,5
Jumlah 785
310
39,49
agak berbeda dan tahun-tahun sebelumnya di mana penderita
perempuan lebih banyak dari laki-laki (lihat pula Tabel 3).
Grafik 3: Distribusi penderita dengan serologi HI positif berdasarkan
umur
dan
jenis
kelamin,
Jakarta
1992.
Perbandingan pria wanita pada positif berdasarkan umur
Tabel 3. Distribusi penderita DBD dengan serologi HI positif berdasar-
kan seks dan golongan umur, Jakarta 1992
Golongan umur
Laki-laki
Perempuan
Total
0
4
8
12
5
18
23
41
10 29
36
65
15
39
24 63
20 30
20
50
25
5
16 21
30 5
1
6
35 7
3
10
40 4
1
5
45 1
0
1
50
0
1
1
Unknown
18 17 35
Total 160
150
310
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
7
Secara keseluruhan sebagian besar penderita DBD berada
pada golongan umur < 30 tahun, hal ini sama dengan penelitian
tahun 1991 sedang pada tahun 1990 sebagian besar pada golong-
an umur < 25 tahun, pada penelitian tahun 1988 sebagian besar
penderita < 35 tahun tetapi pada penelitian tahun 19861987
sebagian besar penderita masih berada < 10 tahun, tentu hal ini
perlu perhatian lebih serius karena sebagian besar yang terserang
adalah golongan produktif yang apabila diabaikan akan mem-
pengaruhi potensi negara secara keseluruhan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Imran Lubis CPH, Drh.
Suharyono W.MPH., para dokterdan staf rumah sakit/poliklinik masing-masing,
serta Staf P2ML Puslit Penyakit Menular Badan Litbangkes, sehingga terlak-
sananya penelitian ini dengan baik.
KEPUSTAKAAN
1. Lubis 1. Analisa hasil pemeriksaan spesimen DBD di Jakarta tahun 1988.
Bul Penelit Kes 1989; 17(3).
KESIMPULAN
Telah dilakukan penelitian terhadap 931 spesimen tersangka
DBD yang dirawat di 22 rumah sakit/poliklinik, sebagian besar
berasal dari RSCM, selama tahun 1992, dengan ketepatan
diagnosis 38,35%; ini paling rendah dan tahun-tahun sebelum-
nya. Gambaran fluktuasi kasus per bulan tidak menunjukkan ka-
rakteristik musim yang konsisten, kasus DBD tertinggi terjadi
pada bulan Mei, Juni, dan Juli. Penderita tertua terdapat pada
golongan umur 5055 tahun seperti pada tahun sebelumnya juga
sebagian besar penderita berusia < 30 tahun.
2. Muchlastriningsih E. Gambaran serologi uji HI pada penderita DBD di
beberapa RS dan Laboratorium Kesehatan wilayah Jakarta tahun 1990. Bul
Penelit Kes 1993; 21(2).
3.
WHO. Guide for Diagnosis, treatment and control of Dengue
Haemorrhagic Fever, Second ed. 1980.
4. Suharyono. Aspek virologi dan penyakit DHF, Seminar Demam Berdarah
dan penanggulangannya di masyarakat, IDI Jakarta Timur, 1985 2533.
5. Sumarmo. Perkembangan mutakhir DBD. Simposium DBD di Jakarta, 26
Juli 1986; 117.
6. Virology Department Biomedical Research Centre (1978); Serology Pro to
7. Departemen Kesehatan. Profil Kesehatan Indonesia 1991. Jakarta. 1992.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
8