background image
PENGARUH USIA TUA TERHADAP EFFEK OBAT
Ibarat seorang yang
telah berjalan jauh
dan sedang dalam perjalanan kembali
mendekati
"rumahnya"
dengan tubuh
yang
letih
dan penuh bekas-bekas
"luka",
demikian keadaan tubuh orang yang su-
dah tua.
Enam puluh, tujuh puluh, delapan puluh
dan mungkin pula seratus tahun yang lalu
ia
meninggalkan
"rumahnya" dengan se-
kedar bekal alat-alat tubuh dan kecerdas-
an untuk pergi menempuh cita-cita yang
tidak diketahuinya
.
Berbagai jenis peng-
alaman seperti trauma, infeksi, beban
pikiran,
kurang makanan, hujan, panas,
kelembaban dan kekeringan serta segala
beban jasmani yang melelahkan telah
dilaluinya
dan segala-galanya telah me-
ninggalkan bekas yang menetap pada tu-
buhnya.
Beberapa alat tubuhnya yang memang
mungkin
"
baik
"
akan tetapi secara ke-
seluruhan tidak mampu lagi ia memikul
beban yang dahulu pernah dipikulnya.
Tubuhnya telah banyak berubah; per-
tumbuhan badan telah berhenti, kulit
telah keriput, rambut memutih, gigi geligi
telah banyak yang tan ggal,
alat kelamin
telah
mengalami involusi, alat indera ke-
hilangan ketajamannya. Bentuk tubuhnya
tidak tegap lagi, otot-ototnya melemah
dan koordinasi terganggu. Ia amat pelupa
dan pandangan hidupnya menjadi kon-
servatip dan kaku. Semua ini menunjuk-
kan bahwa telah terjadi berbagai perubah-
an fundamentil yang hebat.
Menurut SCHOCK (1) antara umur 30
dan
75 tahun terjadi perubahan-
perubahan seperti yang tampak pada ta-
bel I.
Tabel I. Perubahan nilai-nilai
fungsi fisiologik
dari
usia
30 tahun ke 75 tahun menurut
SCHOCK.
Fungsi jenis fisiologik
% penurunan
"Max
0
2
uptake" selama latihan
60
Volume ventilasi max. paru-paru
47
Kapasitas vital paru-paru
44
"Cazdiac output" (istirahat)
30
Aliran plasma ginjal
50
Kecepatan filtrasi glomerulus
31
Jumlah glomerulus
44
Aktivitas kel. adrenal dan kel. kelamin
menurun
Kecepatan metabolisme basal
16
"Body water content"
18
Kecepatan pemulihan keasaman
ke normal setelah latihan
83
Berat otak
10
Aliran darah ke otak
20
Jumlah "taste buds"
64
Jumlah serabut dalam saraf
37
"Nerve conduction velocity"
10
Dari nilai-nilai
fisiologik tersebut nyata
bahwa hampir semua proses reaksi di-
dalam sel berlangsung lebih lambat pada
usia lanjut.
Hal ini penting dan perlu
diketahui didalam klinik
karena penafsir-
an penyakit, nilai-nilai laboratorium dan
cara pengobatan harus disesuaikan dengan
umur penderita dan bukan hanya diban-
dingkan dengan nilai-nilai normal hasil
penyelidikan pada anak-anak muda.
Seperti diketahui besar efek suatu obat
tergantung pada beberaka faktor, antara
lain :
1)
konsentrasi obat bebas disekitar
reseptor dan
2)
kepekaan reseptor sendiri.
Disamping itu konsentrasi obat bebas
(bentuk obat yang aktif dan tak terikat
protein) ditentukan oleh berbagai faktor
yaitu : absorpsi, derajat pengikatan oleh
protein
plasma,
biotransformasi
dan
exkresi obat tersebut.
Masalah perubahan kepekaan
"
resep-
tor
"
obat pada usia lanjut masih belum
diselidiki
, sehingga belum dapat diuraikan
disini.
Pada dasarnya : secara kwalitatif obat
yang diberikan pada orang tua mengalami
nasib yang sama dengan obat yang di-
berikan pada orang muda; akan tetapi
secara
kwantitatif
mungkin sekali ter-
dapat perbedaan. Perbedaan ini dapat
terjadi karena penurunan kemampuan tu-
buh orang tua dalam absorpsi, pengikatan
dengan protein plasma, metabolisme dan
exkresi obat yang mungkin telah terjadi
baik karena pengaruh usia sendiri maupun
karena pengaruh penyakit yang pernah
dialami.
asam lambung.
gg
g
Frekwensi ulcus pepticum pada orang
tua memang cukup tinggi; menurut suatu
penyelidikan dirumah sakit di Amerika
Serikat, 15% penderita ulcus pepticum
yang dirawat dirumah sakit berumur lebih
dari 60 tahun (2). Akan tetapi hal ini
mungkin berhubungan dengan semakin
luasnya pemakaian obat yang potensiil
dapat
menyebabkan timbulnya tukak
lambung seperti aspirin, reserpin, indo-
methacin, phenylbutazone dan preparat
corticosterois.
Perlu pula dinyatakan disini bahwa
ulcus pepticum pada usia diatas 65 tahun
biasanya lebih sukar disembuhkan. Ini
tentu sehubungan dengan penurunan
daya regerasi jaringan, gangguan vas-
kularisasi,
nutrient
dan
mungkin pula
disertai
degenerasi
maligne.
Penderita-
penderita itu sudah tentu sering memper-
oleh pengobatan antasida untuk keluhan-
keluhan lambungnya.
Perubahan keasaman lambung oleh obat-
obat antasida pasti mempengaruhi ab-
sorpsi obat lain. Selain itu beberapa jenis
obat misalnya antibiotika golongan tetra-
cyclin telah terbukti dapat membentuk
kompleks dengan ion-ion divalent dan
trivalent seperti
Ca++, Mg++ dan Al++
yang sukar diserap. Ion-ion ini sering
terdapat didalam obat antasida, sehingga
kadar terapeutik antibiotika
dalam darah
baru tercapai dengan pemberian dosis
yang lebih tinggi (3).
Kemampuan fungsionil usus halus
yang berubah pada orang tua. Ini terbukti
pada pengurangan absorpsi vit. B
1
,
vit.
B
12
,
vit.
A, carotene dan asam folat;
sedangkan absorpsi vit. C tidak terganggu
(2).
Absorpsi lemak juga berkurang pada
orang tua. Lemak yang tidak diserap itu
dapat membentuk kompleks dengan Cal-
cium yang tak larut dan sukar diserap,
sehingga dapat menghambat pula absorpsi
Ca.
Absorpsi zat-zat lain yang larut dalam
lemak juga ikut terganggu (4).
Biotransformasi Hepar
Dalam tubuh obat mengalami biotrans-
formasi melalui berbagai proses misalnya
reduksi, oksidasi, hidrolisa dan konjugasi.
Proses
biotransformasi ini terjadi ter-
utama didalam hepar dan sebagian juga
didalam ginjal, plasma dan jaringan lain.
Kini
dianggap
bahwa proses biotrans-
formasi pada orang tua berlangsung lebih
lambat. Ini ternyata antara lain pada
metabolisme Digoxin yang menghasilkan
kadar dalam plasma lebih tinggi dan lebih
lama pada orang tua (3). Masalah ini
mudah dipahami bila kita perhatikan ke-
nyataan adanya penurunan nilai-nilai fi-
siologik pada orang tua (lihat
tabel I).
Baru-baru ini O
MALLEY dkk. (5)
membuktikan bahwa proses metabolisme
antipyrine
dan
phenylbutazone
pada
orang tua (umur 70--100 tahun) berlang-
sung lebih lambat dari pada golongan
Tractus digestivus
Umumnya aktivitas motorik lambung
pada orang tua tidak berubah secara
nyata, sedangkan baik volume maupun
kepekaan asam lambung berkurang (2).
Hal ini tentu akan mempengaruhi ab-
sorpsi obat. Proses ionisasi obat (perubah-
an dari bentuk non-poler menjadi bentuk
poler) oleh asam lambung terhambat. Ini
terutama terjadi dengan obat yang ber-
sifat alkalis, dan mengakibatkan pening-
gian absorpsi obat tersebut dalam lam-
bung. Sedangkan terhadap obat yang ber-
sifat asam mungkin pengaruh proses ter-
sebut tidak begitu besar. Absorpsi F
e
dan
8
background image
umur yang lebih muda (umur 20 -- 50
tahun), seperti ternyata pada waktu pa-
ruh (half life) plasma obat-obat tersebut.
(lihat
tabel 2).
Table 2. Metabolisme obat pada orang tua
"plasma half life"(jam)
Golongan
Antipyrine Phenylbutazone
Kontrol
12,0 3,5
5I,2 19,4
Umur 20 -- 50 th.
Geriatrik
Umur 70 -- 100 th 17,4 6,8 I04,6 49,7
Berkurangnya volume ventilasi maximal,
kapasitas vital, "cardiac output" dan "ba-
sal metabolic rate
"
sebenarnya telah
cu-
kup menggambarkan bahwa kemampuan
biotransformasi tubuh menurun. Hal ini
terbukti aktivitas obat akan bertambah
lebih lama dan kemungkinan terjadinya
"
accumulation
"
serta
intoksikasi
oleh
pemberian dosis yang berulang, diper-
besar.
Tentang perubahan derajat pengikatan
protein yang terjadi pada orang tua belum
diketahui; akan tetapi hal ini jelas tergan-
tung pada kemampuan sintesa protein
yang berkurang pada golongan usia lanjut
tersebut. Semakin rendah kadar protein
plasma semakin kurang jumlah obat yang
terikat oleh protein dan semakin banyak
obat bebas yang aktip dalam darah, se-
hingga
kemungkinan tumbulnya efek
sampingan dan intoksikasipun semakin
besar.
Ginjal dan fungsi exkresi
Telah diuraikan diatas bahwa pada
orang tua terjadi pengurangan
"
kidney
plasma flow
"
,
"
glomerular filtration rate"
dan jumlah glomerulus secara nyata. Ini
berarti bahwa kecepatan exkresi obat
melalui ginjal akan ikut berkurang. Telah
dibuktikan bahwa "penicillin half life"
pada orang tua nyata lebih panjang dari
pada pada orang muda.
Seperti diketahui penicillin adalah suatu
obat yang 90% exkresinya dilakukan
oleh tubuli renalis. Kenyataan diatas cu-
kup membuktikan bahwa pada orang tua
fungsi exkresi tubuli renalis telah ber-
kurang (6,7).
Dari semua peristiwa yang mungkin
dialami oleh obat mulai dari absorpsi,
metabolisme dan exkresinya akibat ber-
bagai perubahan yang telah diuraikan
diatas, dapatlah disimpulkan bahwa :
1. Pada usia lanjut telah terjadi berbagai
perubahan degeneratif yang fundamen-
til (enzymatik seluler) yang meng-
akibatkan menurunnya kemampuan
semua fungsi alat tubuh.
2. Penyakit-penyakit yang pernah dide-
rita dapat memperburuk keadaan fung-
si alat tubuh o rang tua.
3. Kemungkinan intoksikasi obat pada
orang tua lebih besar daripada pada
orang muda, sehingga perlu pertim-
bangan dan perhitungan yang jauh
lebih teliti dalam memilih jenis dan
menentukan dosis obat yang akan di-
berikan pada orang tua.
Kepustakaan :
1. The Aging Patient. Harrison s Principles of
Internal Medicine, 6th. Ed. pp. 40 -- 42,
I971, Wintrobe et aL (Eds), Mc. Graw Hill.
2. BERMAN, P.M. and KIRSNER, J.B., Tha
Aging Gut. Geriatrics, 27 : 84--90, I972
3. HARTSHORN, E.A., Handbook of Drug
Interactions. Part I, pp. 37, 1970, Donald E.
Francke, Cincinnati
4. REIFENSTEIN, E.C., Harrison s Principles
of Internal Medicine, 2nd. Ed. 1953, Mc.
Graw Hill, New York
5. O MALLEY, K., et aL, The Effects of age
and sex on human drug metabolism, Brit.
Med. J., 3; 607, 1971
6. WEINSTEIN, L, The Penicillins in the
Pharmacological Basis of Therapy, Good-
man, L.S. and Gilman, A. (Eds.) 4th. Ed.,
pp. 1216, 1970, The Mac. Millan Co.
Toronto
7. KAMPMANN, J. et aL, Factors influencing
penicillin half-life, Clin. PharmacoL and
Therap., 13 : 516--519, 1972
9