Frekuensi Mikobakteria Atipik
di Padang, Semarang, Surabaya,
1984/1985
Misnadiarly, Cyrus H. Simanjuntak
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
ABSTRAK
Di Indonesia penyakit tbc merupakan masalah kesehatan masyarakat, dan untuk
penanggulangannya selain pengobatan dengan anti tuberkulosis dilakukan pula vak-
sinasi BCG. Laporan WHO tentang vaksinasi terhadap tuberkulosis menyebutkan
bahwa adanya infeksi mikobakteria atipik dapat mengurangi efikasi BCG terhadap
tuberkulosis. Di India BCG tidak memberi perlindungan karena tingginya infeksi
mikobakteria atipik di sana.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui frekuensi mikobakteria atipik di tiga
daerah, yaitu Padang, Semarang dan Surabaya dengan cara meneliti sputum dari 590
penderita tersangka tbc. BTA dalam sputum pemeriksaan secara mikroskopis dan
pembenihan memakai media Lowenstein Jensen dan Kudoh serta identifikasi Biokimia
dari kuman yang tumbuh.
Dari 162 spesimen yang diperiksa di Padang diketemukan 13 (8%) mikobakteria
atipik, sedangkan dari Semarang diketemukan 30 (24%); dari 125 spesimen yang di-
periksa dari Surabaya diketemukan 36 (11,5%) mikobakteria atipik dari 303 spesimen.
Spesies yang ditemukan ialah: M. simiae 34,18%, M. kansasii 11,39%, M. gastrii 8,86%,
M scrofulaceum 5,06%, M. smegmatis 2,53%, M. fortuitum 17,72%, M. phlei 10,13%,
M. chelonei 6,33%, M avium 2,53%, M flavescens 1,27%.
Sesuai dengan klasifikasi Runyon dari Semarang dan Surabaya ditemukan grup I,
II, III, IV masing-masing 43,33%, 6,67%, 6,67%, 43,33% dan 50,00%, 8,33%, 19,44%,
22,22%. Sedangkan dari Padang hanya diketemukan grup I 38,46% dan grup IV
61,53%.
Frekuensi mikobakteria atipik yang berbeda distribusi golongannya untuk tiap
daerah geografi diduga dapat merupakan salah satu penyebab perbedaan prevalensi
(angka kesakitan) tbc serta kegagalan pengobatan tuberkulosis; untuk ini perlu pen-
elitian lebih lanjut.
PENDAHULUAN
Di Indonesia, penyakit tbc merupakan masalahkesehatan
masyarakat, terutama pada penduduk dengan tingkat sosio
ekonomi rendah. Penanggulangan penyakit ini selain dengan
cara pengobatan penderita dilakukan pula pencegahan dengan
cara vaksinasi BCG terutama pada anak-anak Balita.
Putrali dkk
1
telah melakukan penelitian retrospektif pada
anak-anak Balita yang menderita tbc di Jakarta. Ia menemukan
bahwa daya lindung BCG terhadap tbc berat (tbc meningen,
tbc tulang dan miliaris) adalah 66% tetapi daya lindung ter-
hadap semua jenis tbc anak hanya 37%. Ini berarti BCG
agaknya tidak dapat melindungi anak terhadap tbc paru anak
ringan. Laporan WHO tentang vaksinasi terhadap tbc tahun
1980
2
menyebutkan bahwa adanya infeksi mikobakteria
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 7
non-tuberkulosis (mikobakteria atipik) akan dapat mengurangi
efikasi BCG terhadap M tuberculosis. Laporan dari India me-
nyatakan bahwa, BCG tidak memberi perlindungan karena
tingginya infeksi mikobakteria atipik di situ. Beberapa infor-
masi kepustakaan menyebuiKan bahwa frekuensi atipik,
berikut distribusi golongan kuman dan juga efektifitas BCG
berbeda-beda untuk tiap daerah. Oleh karena itu dilakukan
penelitian untuk mengetahui frekuensi Mi. pada penderita
tersangka tuberkulosis.
Penelitian ini dilakukan di Padang, Semarang dan Surabaya
untuk mengetahui frekuensi mikobakteria atipik di tiga
daerah tersebut sebagai penelitian tahap kedua setelah pe-
nelitian frekuensi atipik pada penderita tersangka tbc di
RS. Persahabatan dan di Klinik PPTI di Jakarta, dan bila
ada kesempatan dan biaya perlu dilanjutkan pada propinsi-
propinsi lainnya di Indonesia. Hal ini panting karena ada per-
bedaan frekuensi atipik mungkin ada kaitannya dengan
angka prevalensi (angka kesakitan) tbc serta merupakan
salah satu penyebab kegagalan pengobatan the yang ber-
beda-beda pada tiap daerah.
METODOLOGI
Spesimen berupa dahak (sputum) penderita tersangka
tbc yang berumur lebih dari 15 tahun dikumpulkan petugas
daerah di Puskesmas dan BP4 kemudian dikirim ke Jakarta.
Sputum diteliti secara mikroskopis dengan pewarnaan
BTA, pembiakan, dan untuk identiflkasi dilakukan tes Bio-
kimia. Untuk identifikasi kuman, masing-masing sputum di-
olah dengan menggunakan NaOH 4% dan Trisodium fosfat
(TSP) 10%, kemudian ditanam dengan menggunakan media
Kudoh dan Lowenstein Jensen ( L J), dan diinkubasikan
pada suhu 30°C dan 37°C, sehingga didapatkan enam macam
perlakuan untuk masing-masing sputum yaitu :
1)NaOH, Kudoh, 30°C
2)NaOH, L J, 30°C
3)NaOH, L J, 37°C
4)T S P, Kudoh, 37°C
5)TSP,L J,30°C
6)TSP,L J,37°C
Pengamatan dilakukan setiap tiga hari, selama tiga bulan.
Setiap yang tumbuh, dicatat warna, struktur koloni dan lain-
lain. Dilakukan pemeriksaan BTA terhadap koloni tersangka
yang tumbuh.
Pemeriksaan BTA sputum langsung maupun koloni biakan
sputum dilakukan dengan metoda pewarnaan Ziehl Neelsen
dan Tan Thiam Hok (TTH). Identifikasi dilakukan sampai
spesies, dan untuk mikobakteria atipik dikelompokkan sesuai
dengan klasifikasi Runyon
3,4
Rangkaian kegiatan penelitian laboratorium yang meliputi
pemeriksaan mikroskopis, pembiakan sputum, identifikasi
spesies mikobakteria dilakukan di Laboratorium Bakteriologi
Puslit Penyakit Menular Badan Litbangkes Depkes RI Jakarta.
HASIL DAN DISKUSI
Dari 590 spesimen yang diterima dari tiga daerah peneliti-
an, 126 spesimen berhasil tumbuh, dan ditemukan frekuensi
mikobakteria atipik untuk daerah Padang, Semarang, dan
Surabaya adalah masing-masing 8,0%, 24% dan 11,5%. Spesies
dari atipik yang diketemukan berikut penyebaran/distribusi-
nya terlihat pada tabel 2.
Tabel 1. Spesimen dari penderita tersangka tbc yang diterima dart tiga
daerah penelitian.
Jumlah
spesimen
Lokasi Jumlah
spesimen
diterima
Yang
tumbuh
the (+)
atipik (+)
Frekuensi
(%)
Padang
Semarang
Surabaya
162
125
303
21
49
56
8
19
20
13
30
36
13/162 (8,0)
30/125 (24)
36/303 (11,5)
Jumlah
590
126 47 79
Tabel 2. Spesies kuman atipik yang ditemukan dari spesimen biakan
BTA +, dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi Runyon.
Jumlah spesimen + atipik
Grup Runyon
Spesies
Padang Semarang Surabaya
Fotokromogen 1.
M. simiae
3
10
14
2. M. kansasii
2
3
4
3. M. ulcerans
II
Skotokromogen
1. M. scrofulaceum
_
2
2
2. M. szulgai --
3. M. gordonae
_
4. M. aquae
_
5. M. flavescens
1
IIi
Non-
1. M. avium
_
2
fotokromogen
2. M. gastri
2
5
3. M. intracellulare
_
4. M. xenopi
S. M. errae
IV
Rapid growers
1. M. chelonei
_
3
2
2. M. phlei 2 2
4
3. M. fortuitum 4 8
2
4. M. smegmatis 2
5. M. vaccae
_
6. M. rhodochrous
7. M. marinum
_
Jumlah
13 30 36
Grup I dan III diketemukan berturut-turut sebesar 43,33%
dan 6,67% dari Semarang dan 50,00% dan 19,44% dari Sura-
baya, sedangkan dari Padang ditemukan grup I sebesar 38,46%.
Grup IV diketemukan di Padang, Semarang, Surabaya masing-
masing 61,53%, 43,33%, 22,22%. Grup I dan III dapat me-
nyebabkan radang paru-paru yang tak dapat dibedakan dengan
tuberkulosis, sedangkan grup IV sering diketemukan pada
sputum penderita radang paru-paru, yang prosesnya me-
nyerupai tuberkulosis
4
.
Dari hasil penelitian ini grup II dan III diketemukan dari
spesimen yang dikirim dari Semarang sebesar 6,67% dan
6,67% sedangkan dari spesimen Surabaya sebesar 8,33% dan
19,44%; spesimen dari Padang tidak ditemukan ke dua grup
ini (grup II dan III). Grup II dan III ini dapat menimbulkan
reaksi nonspesifik terhadap tuberkulin, oleh karena ini timbul
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
8
argumentasi mengenai pengaruh prevalensi atipik terhadap
vaksinasi BCG
5
,
Atipik yang ditemukan pada penelitian ini adalah M. simiae,
M. kansasii (grup I), M. scrofulaceum, M. flavescens (grup II),
M. gastri, M. intracellulare (grup III) dan M, chelonei, M. phlei,
M. fortuitum (grup IV). Yang sering terdapat pada paru-paru
adalah dari spesies M. kansasii, M. scrofulaceum, dan M. avium.
Berdasarkan persentasenya dapat dilaporkan sebagai berikut:
M. simiae 34,7%, M. kansasii 11,3%, M gastri 8.86%,M. scro-
fulaceum 5,06%, M. smegmatis 2,54%, M. fortuitum 7,2%,
M. phlei 10,12%, M. chelonei 6,33%, M. avium 2,54% dan
M. flavescens 1,25%.
Kesimpulannya ada perbedaan frekuensi maupun distribusi
golongan mikobakteria atipik untuk tiap daerah geografi yang
berbeda. Hal ini dapat merupakan salah satu penyebab per-
bedaan prevalensi (angka kesakitan) tbc serta kegagalan
pengobatan tuberkulosis. Untuk itu perlu penelitian lebih
lanjut.
KEPUSTAKAAN
1.
Putrali J, Bambang Sutrisno, Nunung Rahayu, Gunardi AS, Guno-
wiseso. Penelitian efektifitas vaksinasi BCG pada anak-anak di 8
Rumah Sakit di Jakarta. Medika 1982; 10 : 10.
2.
Report of ICMR/WHO Scientific group vaccination against tuber-
culosis. Techn Rep Ser 1980; 651.
3.
Runyon EJ, Karison AG, Kubika GP, Wayne LC. Mycobacterium.
Dalam: Manual of Clinical Microbiology. EDAM Soc. Microb.
Washington DC : 1974; haL 148-73.
4.
Tarshis MS. The mycrobacteria. Dalam: Gradwohl's clinical labora-
tory methods and diagnosis. 7 Ed. CV Mosby Co. 1970; ha1 1233
68.
5.
Van Taost CNF, Manten A. Bebwnkes H, Blieker MA, Coster JF
Ooteskaan UN, Tolah MF. The occurence on infections caused by
atypicalmycobacteria in the Netherlands.
6.
Ten Dam HG, Toman K, Fitze KL, Gold J. Present knowledge of
immunization against tuberculosis. Bull WHO 1946; 54.
Tabel 3. Grup yang ditemukan clan tip daerah penelitian.
Padang (%)
Semarang (%)
Surabaya (%)
Grup I
5/13
(38,46) 13/30
(44,33) 18/36
(50,00)
Grup II
2/30
(6,67)
3/36
(8,33)
Grup III
2/30
(6,67)
7/36
(19,44)
Grup IV
8/13
(61,53) 13/30
(43,33) 8/36
(22,22)
Tabel 4. Persentase spesies mikobakteria atipik yang ditemukan.
Jenis/spesies atipik
Jumlah
Persentase (%)
1. M. simiae
27
34,18
2. M. fortuitum
14 17,72
3. M. kansasii
9
11,39
4. M. phlei
8
10,13
5. M. gastri
7 8,86
6. M. chelonei
5
6,33
7. M. scrofulaceum
4
5,06
8. M. avium
2
2,5 3
9, M. smegmatis
2 2,53
10. M. flavescens
1
1,27
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada Kepala Kanwil Kesehatan
Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur atas izin dan bantuan-
nya hingga penelitian ini dapat berjalan lancar. Kepada semua pihak
yang telah ikut membantu dan berpartisipasi atas penelitian ini kami
haturkan terima kasih. Khusus kepada Ibu. Dra. Haryani yang turut
membantu penulisan laporan akhir penelitian, hingga menjadi naskah
(art&el) ini, tidak lupa kami menyampaikan terima kasih.