Humala Hutagalung
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara/Rumah Sakit Dr. Pirngadi, Medan
PENDAHULUAN
Penanganan penyakit keganasan melibatkan berbagai disiplin
ilmu dan pemeriksaan, pengobaran dan kontrol tidal lagi di-
tangani oleh seorang dokter.
Karakteristik dari kelompok yang khusus menangani pe-
nyakit keganasan ini ialah tidak ada lagi dasar pemikiran hie-
rarkis; pertukaran pikiran dan bebas mengeluaran pendapat un-
tuk membahas dari berbagai aspek serta memilih alternati
f
terbaik pola penanggulangan penyakit keganasan, merupakan
faktor penting untuk meningkatkan fungsi kelompok pena-
nganan
penyakit kanker. Pada tulisan ini dikemukakan berbagai
pola pemeriksaan tumor yang mendasar sebelum berlanjut
pada
tindakan pengobatan.
POLA
PEMERIKSAAN PENYAKIT KANKER
1)
Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan fisik merupakan cara yang klasik dan
penting dalam diagnosis tumor. Dengan cara ini dapat diketahui
letak dan diameter tumor serta hubungannya dengan jaringan
atau organ sekitarnya. Diameter ditentukan dengan mengukur
diameter terbesar tumor. Kecepatan membesar tumor dapat di
ukur dengan menentukan diameter. Sebenarnya kecepatan per-
tumbuhan tumor harus diukur menurut volume.
Hubungan tumor harus dinyatakan deskriptif : bebas bergerak,
atau melengket dengan jaringan sekitarnya. Konfigurasi kulit
yang menutup tumor juga penting dinyatakan. Misalnya pada
kanker payudara stadium lanjut sering terlihat konfigurasi kulit
seperti kulit jeruk, bisul dan tukak.
Palpasi kelenjar getah bening regional dilakukan cermat
dengan pola tertentu untuk mengetahui kemungkinan adanya
metastasis.
2)
Pemeriksaan sitologi/histopatologi
Tumor yang letaknya dalam, diusahakan diperiksa melalui
fine needle aspiration biopsy (bipsi aspirasi jarum halus), true-
cut needle biopsy, bone marrow punction ataupun biopsi insisi/
eksisi. Pemeriksaan jaringan dengan cara di atas perlu dilaku-
kan, selain untuk diagnostik kanker, juga untuk menentukan
subtipe tumor karena ada kaitannya dengan pola pengobatan.
3)
Pemeriksaan sifat kimiawi atau biologis
Reaksi hormon atau sitostatika terhadap sel tumor penting
diketahui untuk kepentingan terapi.
Kalau mungkin pada setiap jenis tumor di lokasi tertentu
dibuat saru skema pola penanggulangan mulai dari diagnosis
sampai pada terapi yang disebut protokol penanggulangan tu-
mor. Biasanya protokol ini merupakan kesepakatan dari ke-
lompok atau tim kanker berdasarkan pengalaman dan kutipan
dari berbagai kepustakaan. Hal ini penting sekali untuk men-
yatukan "bahasa" dari berbagai disiplin ilmu yang terkait.
Sebagai langkah permulaan cara penanggulangan tumor
adalah mengenal dan mengaplikasi sistem T.N.M. (T = Tumor,
N = metastasis pada node °atau kelenjar getah bening regionbal,
M = Metastasis pada organ jauh). Secara bertahap sistem YNM
pada setiap tumor ganas sudah harus dimanfaatkan. Sistem
TNM merupakan petunjuk stadium tumor semakin lanjut : T
(0, 1, 2, 3, 4), N (0, 1, 2, 3) dan M (0, 1).
POLA PENGOBATAN
Pola pengobatan yang baik adalah pola pengobatan yang
memberi penyembuhan komplit atau penyembuhan untuk
jangka waktu lama, komplikasi paling ringan dan mutilasi
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992 5
paling sedikit. Untuk itu perlu diketahui bentuk mutilasi yang
mungkin timbul, gangguan psikis karena operasi, kemungkinan
pemakaian alat-alat tehnik revalidasi (contoh : pemakaian
payudara palsu, hilang pita suara diganti suara perut).
Dari uraian di atas dapat dipahami pentingnya kelompok/tim
penanggulangan kanker dalam tukar menukar pikiran atau
informasi mengenai berbagai penyakit kanker dan mem-
bandingkannya dengan pengalaman kelompok lain untuk memilik
alternatif protokol yang paling baik.
ASPEK BEDAH MENGURANGI RESIDIF
Berkaitan sifat biologis dari sel kanker, perlu diperhari-
kan berbagai aspek bedah untuk mengurangi residif lokal atau
penyebaran kanker waktu operasi.
1)
Mencegah anestesi lokal
Sel ganas yang terlepas sangat mudah masuk ke dalam
pembuluh darah yang diinfiltrasi cairan anastesi, karena tusukan
jarum atau perubahan tekanan dalam jaringan.
2)
Massa tumor tidak boleh ditekan-tekan
Pada waktu tumor ditekan, sel tumor gampang terlepas dan
masuk ke dalam pembuluh limfe atau pembuluh darah atau
melalui cerah jaringan masuk ke permukaan tumor dan invasi ke
jaringan sekitarnya.
3)
Jaringan tidak boleh ditarik
Pada waktu operasi, jaringan tidak boleh ditarik-tarik karena
daya regang massa tumor terbatas dan mudah terkoyak. Melalui
jaringan rusak ini sel ganas mudah terlepas dan menyebar se-
hingga dapat terjadi kontaminasi di permukaan luka operasi. Juga
tumor sebaiknya dikeluarkan in toto atau dengan jaringan
pembungkus setebal 2 cm dan tidak terpotong-potong. Diseksi
tumor tidak boleh dilakukan secara tumpul dan harus secara
tajam. Jaringan yang seolah-olah batas tumor tidak boleh di-
percayai.
4)
Pengangkatan
kelenjar getah bening
Jaringan tumor beserta kelenjar getah bening bila mungkin
diangkat bersama-sama dan dianggap sebagai tumor. Luka bekas
eksisi percobaan juga harus ikut, hams dianggap dan ditanggu-
langi sebagai tumor.
5)
Permukaan berupa tukak
Permukaan tumor berupa tukak dan luka operasi
harus
ditutup secara hermetis dan bila tak mungkin harus dibakar
dengan koagulasi, sehingga jaringan vital tidak terkontaminasi
sel tumor.
6)
Reseksi
usus
Usus yang direseksi karena tumor ganas, sebaiknya dibilas
dengan cairan anti sel kanker seperti sublimat, cairan hipochlorit
dengan konsentrasi tertentu; pemakaian cairan ini harus hati-hati
karena sifatnya sangat beracun; demikian juga luka operasi, dan
instrumen harus dicuci dengan cairan anti sel kanker sebelum
ditutup.
7)
Radiasi
Dengan indikasi khusus dapat dilakukan radiasi sebelum
dan sesudah operasi untuk memperkecil kemungkinan residif
lokal. Penyinaran sebelum operasi dilakukan dalam hal tertentu
bertujuan mengantipasi kesalahan yang mungkin terjadi atau
sudah terjadi sebelum tumor ditanggulangi, misalnya biopsi
yang dilakukan dengan anestesi infiltratif, operasi terdahulu
yang dilakukan tidak radikal. Penyinaran preoperatif sebagai
fase pertama penanggulangan karsinoma rektum dan karsino-
ma esofagus tidak termasuk dalam kategori ini.
Penyinaran sesudah operasi terutama dilakukan apabila
selama operasi ada kontaminasi atau pada spesimen ada darah.
KEPUSTAKAAN
1. del Regato JA, Sputj HJ. Dalam : aekerman and Regato;s Cancer Diagnosis,
Treatment and Prognosis. 5th Ed. St. Louis : CV Mosby Co 1977 : 820-76.
2. Linsk JA, Franzen S. The Breast : Diagnosis and management. Fine Needle
Aspiration biopsy for Clinieian. Lippineou Co 1986.
3. Orel SR, Sterret GF, Walters MI, Whitaker D. Manual and Atlas of fine-
Needle Aspiration Cytology. Churehill Livingstone, 1986.
4. Tambunan
G. Penuntun Biopsi Aspirasi Janrm Halus. Aspek Klinik dan
Sitologi Neoplasma. Jakarta : Hipokrates, 1990.
5. Tjindrambumi D. Penangan Kanker Payudara Dini dan Lanjut. Naskah
Simposium Tumor Ganas pada Wanita. Bagian Patologi Anatomik, Fakultas
Kedokteran UI.
6
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992