background image
ENGLISH SUMMARY
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
388
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
389
Hypertonic Saline
Bronchial Provocation
Test (BPT)
Bambang Supriyatno,
Nastiti N. Rahajoe
Dept. of Child Health, Faculty of Medicine,
University of Indonesia, Jakarta, Indonesia
Asthma is diagnosed based on history
and supporting examinations. Bronchial
provocation test (BPT) using histamine or
metacholine is the diagnostic standard for
asthma; but since histamine and meta-
choline are not easily available, another
agent is used as an alternative, such as
hypertonic saline (NaCl 4.5%).
The aim of this study is to measure the
sensitivity and specificity of this agent
compared with histamine.
BPT using histamine and hypertonic saline
(HS) were applied to asthma patients diag-
nosed according to National Consensus
of Child Asthma. Thirty patients under-
went HS BPT and 22 patients underwent
histamine BPT. The age mode was 9 years
old, male : female ratio was 3 : 1; 70%
were classified as infrequent episodic
asthma, 30% were frequent episodic
asthma. no persistent asthma was found.
Atopy history in family were found in 70%
patients, and 66.7% patients have atopy.
Among 30 patients who underwent HS
BPT, 53.3% gave positive results, and
among 22 histamine BPT patients, 68.2%
were positive.
Among infrequent episodic asthma
patients, 42.9% showed positive results
to HS, and 60% to histamine, compared
with 77.8% and 85.7% in the group of
frequent episodic asthma. The sensitivity
and specificity of HS as provocation agent
were 86.7% and 85.7% respectively;
the positive predictive value was 92.9%
and the negative predictive value was 75%.
HS can be used as an alternative to his-
tamine in BPT for diagnosing asthma with
86.7% sensitivity and and 85.7% specificity.
Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(7): 396-400
VO
2
.max Difference
between Students
who Regularly Play
Soccer Compared
with Students who
Don't Play Soccer in
Darul Hijrah
Pesantren, South
Kalimantan
Huldani
Dept. of Physiology, Faculty of Medicine,
Lambung Mangkurat University, Banjarbaru,
South Kalimantan, Indonesia
VO
2
max is a physiological parameter in
standard measurement of cardiorespira-
tive endurance as the most important
component in physical fitness. VO
2
max
is body
,
s ability to take, distribute and
use oxygen maximally.
Soccer can increase cardiorespirative en-
durance, because soccer consists of 4
important components of physical fitness:
heart endurance and blood circulation,
strength, muscle endurance and elasticity.
A method to measure VO
2
max is multi-
stage fitness test.
To find out VO
2
max difference between
student who practice soccer and those
who don
,
t, an analytical study was con-
ducted with cross sectional approach.
Sampling technique was purposive, ana-
lysed with t test. Every group contained
40 students. The result of research t test
= 6,423 and t table = 2,020 with signifi-
cance level of 0,05, There is significant
VO
2
max difference between students
who practice soccer and students who
do not.
Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(7): 394-395
PENDAHULUAN
Terapi inhalasi adalah cara pemberian obat dalam bentuk
partikel aerosol melalui saluran napas.
Sasaran terapi inhalasi yang utama adalah saluran napas atas
dan saluran napas bawah. Saluran napas atas dimulai dari
rongga hidung, dengan sinus di sekitarnya, laring dan farings,
proksimal trakea. Saluran napas bawah dimulai dari bronkus,
bronkioli sampai ke alveoli. Target sasaran ini termasuk mukosa
dan ujung reseptor neuron di dalamnya.
Terdapat berbagai macam bentuk obat atau cara pemberian
terapi inhalasi, seperti bentuk aerosol, yang biasanya dikemas
dalam bentuk Inhalasi Dosis Terukur dan biasa disebut Metered
Dose Inhaler [ MDI ], DPI atau Dry Powder Inhalation, yaitu obat
berbentuk bubuk kering yang dikemas dalam satu bentuk obat
jadi atau kapsul yang digunakan dengan alat bantu. Bentuk
lainnya adalah cairan yang dapat berupa solutio atau suspensi,
bentuk ini juga harus digunakan dengan alat bantu nebuliser.
Karena langsung pada target sasaran, dosis yang digunakan
dalam terapi inhalasi sangat kecil, penyerapan sistemik juga
sedikit sehingga efek samping obat jarang terjadi.
Terapi inhalasi pertamakali memang ditujukan untuk target
sasaran di saluran napas, tetapi dalam beberapa penelitian
obat inhalasi mulai digunakan untuk penggunaan sistemik
yang memerlukan dosis kecil dan waktu yang cepat seperti
dalam penggunaan insulin.
MEKANISME KERJA
Obat dalam bentuk partikel aerosol yang dapat dibentuk dari
cairan ( pada nebulizer ) atau partikel aerosol yang dimampat-
kan dengan gas sebagai zat pembawa ( MDI = Meterred Doze
Inhaler ) atau aerosol yang berasal dari bubuk kering ( Dry
Powder Inhalation = DPI ), akan mencapai sasaran di saluran
napas bersama proses respirasi sesuai dengan ukuran partikel
yang terbentuk dengan mekanisme hukum Brown yaitu
impaksi, sedimentasi dan difusi. Impaksi adalah membentur
dan menempelnya partikel obat pada mukosa bronkus yang
terjadi karena pergerakan udara melalui inspirasi dan ekspirasi,
sedangkan sedimentasi adalah sampainya partikel sampai pada
mukosa bronkus karena mengikuti efek dari gravitasi.
Ukuran partikel berkisar antara 100 mikron sampai 0,01 mikron.
Penyebaran partikel obat akan tergantung kepada besaran
mikronnya; partikel dengan ukuran 5-10 mikron akan menem-
pel pada orofaring, 2-5 mikron pada trakeobronkial sedangkan
partikel <1 mikron akan keluar dari saluran napas bersama
proses ekspirasi (Gb.1).
Gb.1. Besar Partikel dan Penetrasinya ke Saluran Napas
Dikutip dari Chrystin, Workshop Aerosol Medicine ERS, 2005
BENTUK OBAT DAN ALAT BANTU
Sebagai obat berbentuk partikel dengan target sasaran di
saluran napas, terapi inhalasi obat dapat berupa:
- Metered Dose Inhaler ( MDI ) atau dapat disebut Inhalasi
Dosis Terukur ( IDT )
- Dry Powder Inhalation ( DPI ), yang dapat berbentuk
Turbuhaler, Handihaler atau Diskus
- Cairan yang dapat berbentuk solutio atau suspensi.
Untuk dapat menjadi partikel, bentuk cairan ini harus
menggunakan
alat
bantu
nebuliser
Metered Dose Inhaler
MDI berbentuk tabung kecil yang digunakan dengan cara di-
semprotkan. Diperlukan koordinasi antara semprot dan sedot
bagi penggunanya. Sulit dilakukan oleh anak-anak atau lanjut
usia, atau mereka yang mengalami gangguan neurologi. Dapat
digunakan dengan alat bantu berupa nebuhaler atau spacer;
dengan alat bantu ini obat dapat dihirup dengan lebih perlahan,
sehingga lebih disukai pasien PPOK lanjut usia. Pada pasien yang
menggunakan ventilasi mekanik dapat digunakan dengan konektor
pada pipa inspirasi ( tergantung dengan jenis/merk ventilator ).
Terapi Inhalasi
Pradjnaparamita
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
Hypothesis from available data
Particle size
(microns)
> 5
Mouth /
oesophageal
region
Upper / Central
airways
Clinical
effect
Subsequent
absorption
from lung
Peripheral
airways / alveoli
Some local
clinical effect
High
systemic
absorption
No clinical
effect
Absorption
from GI tract
if swallowed
2 - 5
< 2
Regional
deposition
Efficacy
Safety