background image
Sambutan Menteri Kesehatan RI
Hadirin yang berbahagia,
Saudara-Saudara peserta simposium yang saya hormati,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa bahwa kita dapat
berkumpul di sini untuk menghadiri simposium yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada.
Simposium ini saya anggap amat penting dan tepat pula karena justru pemerintah sedang berusaha
meluaskan pelayanan kesehatan khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di
kota maupun di pedesaan.
Yang akan dibahas dalam simposium ini adalah masalah penyakit parasit dalam program pelayanan
kesehatan. Seperti diketahui justru masyarakat yang tergolong sosial-ekonomis rendah seringkali
mendapatkan penyakit yang ditularkan melalui parasit.
Status sosial yang rendah menyebabkan masyarakat tidak menyadari bahwa kesehatan lingkungan
yang tidak terpelihara dengan baik memungkinkan penularan penyakit.
Perilaku masyarakat yang belum faham tentang masalah lingkungan bahkan dapat memperbesar
kemungkinan tersebut karena memperluas "man made breeding places" sedangkan masalah eko-
nomi keluarga jelas merupakan faktor pula karena kurangnya kemampuan keluarga memiliki
tempat tinggal yang bersih dan sehat.
Di samping itu kemampuan ekonomi yang tidak sepadan dengan persyaratan hidup sehat terkait-
kan pula dengan masalah gizi.
Sudah jelas bagi kita semua bahwa keadaan gizi yang kurang sempurna menyebabkan daya tahan
fisik merendah pula dan dengan demikian mengundang berbagai macam penyakit, karena itu
masalah penyakit yang disebabkan oleh parasit seringkali ikut menentukan ciri-ciri serta jenis
penyakit yang terdapat di negara-negara yang sedang berkembang.
Meskipun pemerintah telah berhasil meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia,
meningkatkan tingkat kehidupan sosial masyarakat yang lebih tinggi, namun berbagai penyakit
yang diderita masyarakat masih merupakan tantangan besar bagi rakyat Indonesia.
Marilah kita memberikan perhatian selayang pandang terhadap beberapa fakta yang masih me-
rupakan masalah yang masih harus kita tanggulangi.
Diperkirakan 30% dari anak balita menderita gangguan gizi, sekitar 7% dari ibu hamil dan 3%
dari ibu yang menyusui menderita pula kurang gizi. Gangguan gizi tersebut dapat berbentuk
Kurang Kalori Protein, Avitaminosis A, Anemia karena kekurangan zat besi, dan penyakit gondok
karena kekurangan yodium.
Faktor lain yang masih mempengaruhi keadaan gizi adalah hambatan dalam bidang non-medis
yakni misalnya bidang pengadaan distribusi pangan, daya beli rakyat yang rendah, sikap acuh tak
acuh masyarakat dan sebab-sebab lain.
Berkaitan dengan masalah parasit menurut informasi yang saya peroleh ialah bahwa jumlah rakyat
yang menderita penyakit menular masih cukup tinggi. Penyakit menular yang disebabkan parasit
antara lain ialah malaria, filariasis, schistosomiasis, penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah
dan lain-lain.
Meskipun usaha pemerintah dan rakyat Indonesia telah berhasil menurunkan penderita malaria
di Jawa Bali sampai sekitar 1 per seribu penduduk dari angka semula 4 per seribu penduduk
namun penyakit malaria ini masih merupakan ancaman bagi rakyat Indonesia yang kadang-kadang
merenggut jiwanya.
Salah satu masalah lain ialah meskipun penyakit malaria di Jawa Bali dibeberapa tempat khusus-
nya di perkotaan merupakan kasus yang jarang ditemukan, namun dibeberapa tempat lainnya
masih merupakan penyakit utama.
Tanah air kita luas sekali;di daerah-daerah luar Jawa Bali penyakit-penyakit yang saya sebut tadi
masih cukup besar, untuk daerah-daerah yang masih rawan kasus-kasus malaria masih didapatkan
rata-rata 150 per 1000 penduduk.
Filariasis masih terdapat dalam jumlah yang cukup memprihatinkan.
viii
viii
background image
Schistosomiasis masih didapatkan di danau Lindu di Sulawesi Tengah, Penyakit cacing yang
ditularkan melalui tanah seperti cacing gelang, dan cacing tanah prevalensinya masih berkisar
antara 60 - 90% dibeberapa daerah di Indonesia ini.
Para peserta simposium yang saya hormati,
Masalah lingkungan fisik dan biologis yang erat hubungannya dengan masih tingginya angka
kesakitan penyakit yang disebabkan oleh parasit, disebabkan pula oleh iklim tropis yang me-
mungkinkan berkembang biaknya parasit-parasit tersebut, tempat-tempat pembiakan alamiah dan
lingkungan yang diciptakan oleh masyarakat akibat kebiasaan dan tindakan-tindakan penduduk
yang memungkinkan terjadinya tempat pembiakan lainnya.
Saudara-Saudara peserta simposium,
Mengingat luasnya masalah yang berkaitan dengan masalah parasit maka kiranya dapat diharapkan
dari simposium ini untuk membicarakan secara matang hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan
usaha-usaha sebagai berikut :
1. pencegahan
2. diagnosis
3. klinik dan pengobatan
4. pemberantasan
5. gangguan gizi karena parasit
6. i munologi
7. epidemiologi
Di samping itu tugas dari Fakultas Kedokteran ialah meningkatkan ilmiah dalam bidang Parasito-
logi Kedokteran.
Diharapkan bahwa kegiatan-kegiatan ilmiah ini akan dapat menunjang program-program operasio-
nal yang telah saya sebutkan terlebih dahulu yakni pencegahan, diagnosis, klinik dan pengobatan,
pemberantasan, gangguan gizi karena parasit, imunologi, epidemiologi. Disamping kita mening-
katkan program operasional kita harus berusaha meningkatkan daya guna pendekatan kita.
Dalam rangka membantu usaha pemerintah yang cukup luas ini diharapkan Fakultas Kedokteran
juga dapat memberikan saran-saran yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat pada umum-
nya dan pemberantasan penyakit menular khususnya. Salah satu aspek yang amat penting ialah
pengelolaan program penyakit menular, Direktorat Jenderal Pencegahan Pemberantasan Penyakit
Menular telah mengembangkan sistem informasi berupa sistem surveillance, namun demikian saya
harapkan simposium ini dapat membahas sistem informasi yang makin berkembang sesuai dengan
kebutuhan.
Berdasarkan harapan-harapan itulah saya menaruh harapan besar atas hasil dari simposium ini.
Akhirnya saya sampaikan selamat bekerja dalam simposium ini.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
MENTERI KESEHATAN,
dr. Suwardjono Surjaningrat
ix