background image
HERMAFRODITISME
Jenis kelamin seseorang ditentukan oleh
berbagai faktor :
1. genetik, yang mempunyai pengaruh
terhadap satu sel.
2. sex organizers, yang berpengaruh ter-
hadap sel dan sekitarnya.
3. kelenjar-kelenjar endokrin, termasuk
gonada, yang berpengaruh terhadap
seluruh tubuh.
Sekalipun demikian, agaknya tidak ada
seorang individu yang bersifat 100% laki-
laki atau 100% perempuan.
Setiap orang memiliki juga sifat-sifat dari
jenis kelamin yang berlawanan dalam ting-
kat rudimenter. Selama hal itu tidak
berlebihan, ia masih dapat disebut laki-
laki normal atau perempuan normal.
Kadang-kadang sifat-sifat jenis yang
berlawanan itu lebih menonjol dan dapat
menimbulkan keragu-raguan
mengenai
identitas orang tersebut. Kegemaran akan
rambut gondrong, mode unisex dan trans-
vestitismus membantu pula mengaburkan
batas-batas antar kelamin. Akan tetapi
dalam hal ini biasanya jenis kelamin
pelakunya masih jelas, sehingga belum
dapat disebut sebagai hermafroditismus.
Beberapa bentuk peralihan dapat disebut
sebagai:
interseksualitas laki-laki atau feminis-
mus
interseksualitas perempuan atau viril-
ismus
Jika kelainan-kelainan juga menyangkut
genitalia externa dan saluran-saluran kela-
min karena gangguan pertumbuhan, maka
disebut sebagai pseudohermafroditismus.
Hermafroditismus sejati, selain meliputi
genitalia externa dan saluran-saluran kela-
min, juga menampilkan jaringan gonada
dari kedua jenis kelamin dalam satu indi-
vidu, yaitu adanya oocyt-oocyt dan tubuli
seminiferi.
Faal pembentukan jenis kelam
in
Pembentukan jenis kelamin terjadi dalam
tiga tahapan:
1. tahapan genetik
2. tahapan organisasi
3. tahapan endokrin dan perkembangan
organ
Gunawan Koaasih
Bagian Anatomi F.K.U.I.
Tahapan genetik
Rangsang pembentukan jenis kelamin
ditimbulkan oleh faktor genetik, yaitu
khromosom Y atau masculinizing gene,
dan khromosom X atau feminizing gene.
Khromosom Y bersifat dominan terhadap
khromdsom X, sehingga kombinasi XY
menjadi laki-laki dan kombinasi XX men-
jelma sebagai perempuan.
Di bawah pengaruh khromosom Y plica
genitalis yang indifferen berkembang men-
jadi testis. Apabila tidak terdapat khro-
mosom Y, maka ternyata diperlukan kom-
binasi khromosom XX untuk merang-
sang plica genitalis supaya berkembang
menjadi ovarium. Satu khromosom X saja
tidak mampu melaksanakan hal ini, seba-
gaimana terlihat pada sindrom Turner
yang mempunyai susunan khromosom XO
yang dianggap sebagai kelainan. Dalam
hal ini terbentuk jaringan ovarium rudi-
menter tanpa ova, follikel-follikel dan faal
hormonal.
Kombinasi XXY yang juga merupakan
kelainan, menimbulkan gejala-gejala ter-
tentu yang telah diuraikan oleh Klinefelter
dan dikenal sebagai sindroma Klinefelter.
Sindroma ini antara lain meliputi gejala-
gejala atrofia testis, sterilitas, degenerasi
hyalin pada tubuli seminiferi dan sering
disertai gynaecomastia.
Takayasu (9) d.k.k. telah menguraikan
kasus seorang laki-laki Jepang dengan
testis, epididymis dan ductus deferens
bilateral, penis kecil dan sebuah vagina
pendek yang berhubungan dengan dinding
dorsal urethra, tapi tanpa uterus dan
tuba Fallopii.
Anehnya, dengan berbagai teknik me-
reka tidak dapat membuktikan adanya
khromosom Y pada darah tepi, epididy-
mis, kulit dan testis, sehingga mereka
menyebutnya laki-laki 46,XX. Kemung-
kinan adanya khromosom Y pada jaringan
lain belum dapat dikesampingkan, hanya
belum dapat dibuktikan.
Hal yang serupa juga dikemukakan oleh
Barclay (2) dan Boczkowsky (3).
Tahapan organisasl
Setelah gonada terbentuk, ia akan mem-
pengaruhi pertumbuhan saluran-saluran
kelamin. Jost (7) mengemukakan hipotesa
bahwa testis agaknya mengeluarkan faktor
induktor yang bukan androgen. Di bawah
pengaruh faktor induktor inilah saluran-
saluran Wolff tumbuh membentuk epidi-
dymis dan ductus deferens, dan saluran-
saluran Muller akan mengalami regressi
dan menghilang hampir seluruhnya. Sisa-
sisa saluran Muller pada jenis laki-laki
hanyalah appendix testis dan utriculus
prostaticus.
Apabila terbentuk ovarium, maka fak-
tor induktor ini tidak ada. Akibatnya
ialah bahwa saluran-saluran Wolff menga-
lami regressi dan menghilang untuk seba-
gian besar. Saluran-saluran Muller sebalik-
nya tidak terhambat dan tumbuh mem-
bentuk tuba Fallopii, uterus dan 2/3 ba-
gian kranial vagina. Sisa-sisa saluran Wolff
pada jenis perempuan adalah epoophoron,
paroophoron, saluran-saluran Gartner dan
1/3 bagian kaudal vagina.
Sifat faktor induktor ini masih meru-
pakan teka-tekl. Apakah ia terdiri atas satu
zat, atau dua: satu untuk merangsang
pertumbuhan saluran-saluran Wolff, dan
satu untuk menghambat saluran-saluran
Muller. Yang jelas ialah bahwa pengaruh-
nya tidak bersifat umum, melainkan uni-
lateral. Buktinya ialah bahwa pada herma-
froditismus sejati varietas unilateralis da-
pat ditemukan testis, epididymis dan duc-
tus deferens di satu sisi
,
dan ovarium
dengan tuba Fallopii, uterus dan vagina di
sisi yang lain.
Tahapan endokr
in
Hormon-hormon androgen yang dike-
luarkan oleh testis mempunyai pengaruh
tertentu terhadap daerah di sekitar sinus
urogenitalis.
Pada tingkatan indifferen di daerah itu
nampak :
tuberculum genitale di sebelah ventral
sinus urogenitalis
plicae urethrales di sebelah kanan dan
kiri sinus urogenitalis
torus genitalis di sebelah lateral plicae
urethrales masing-masing.
Telah diajukan dalam Kursus Penyegar dan Penambah llmu Kedokteran ke Vlll di Jakarta, Agustus 1974
7
background image
Steroid-steroid androgen dari testis
mempertumbuhkan tuberculum genitale
menjadi phallus. Plicae urethrales menca-
kup sinus urogenitalis di antaranya dan
tumbuh bersatu membentuk urethra pars
cavernosa, pars membranacea dan pars
prostatica caudalis. Kedua torus genitatis
tumbuh bersatu menghasilkan scrotum.
Jika tidak terbentuk testis tetapi ova-
rium, maka tidak terdapat pengaruh ste-
roid androgen. Dalam hal ini tuberculum
genitale berkembang menjadi clitoris, sinus
urogenitalis menjadi vestibulum, plicae
urethrales membentuk labia minora dan
torus genitalis menjadi labia majora.
Sebab-sebab terjad
inya hermafroditismus
lnterseksualitas dan hermafroditismus
terjadi karena adanya ,gangguan dalam
pertumbuhan jenis kelamin, misalnya :
1. lemahnya rangsang pembentukan jenis
kelamin (faktor genetik)
2. perubahan reaksi organ-organ terhadap
rangsang pembentukan jenis kelamin
3. perubahan-perubahan dalam keadaan
biologik sekelilingnya.
Hal-hal ini dapat mengakibatkan differen-
siasi yang tidak sempurna dari tingkat
yang ringan hingga yang berat.
Misalnya: apabila rangsang maskulinisasi
lemah, elemen-elemen dalam cortex gona-
da yang membentuk tali-tali benih Pfluger
tidak terhambat, sehingga kita menjumpai
jaringan ovarium berdampingan dengan
jaringan testis. Saluran-saluran Muller juga
tidak terhambat seluruhnya, sehingga
sempat membentuk tuba Fallopii, uterus
dan vagina, sekalipun rudimenter. Differ-
ensiasi di sekitar sinus urogenitalis tidak
sempurna pula, sehingga pembentukan
genitalia externa terganggu. Misalnya ter-
bentuk penis rudimenter dengan hypos-
padia dan scrotum bifidum. Mungkin
terdapat pula sifat-sifat kewanitaan yang
lain seperti pertumbuhan payu dara, suara
tinggi, dsb.
Ternyata pada manusia jenis kelamin
laki-laki memiliki derajat evolusi yang
lebih tinggi dan bersifat dominan terhadap
jenis perempuan. Apabila dilakukan kas-
trasi pada seorang laki-laki, akan terjadi
feminismus. Akan tetapi kastrasi pada
seorang perempuan tidak menghasilkan
virilismus, melainkan infantilismus.
Ditinjau dari sebab-sebabnya dapat kita
bedakan :
1. interseksualitas konstitusionil
2. interseksualitas endokrin
lnterseksualitas konstitusionil biasanya
terjadi pada tingkatan yang muda sekali:
tahapan genetik dan organisasi, dan dise-
babkan karena :
gangguan pada rangsang penentuan
jenis kelamin oleh khromosom Y atau
X
gangguan pada tahapan organisasi
(perkembangan saluran-saluran kela-
min)
gangguan reaksi sel-sel dan jaringan
mudigah terhadap rangsang penentuan
jenis kelamin dan organisasi
Biasanya disertai kelainan-kelainan di luar
bidang genital dan sukar diobati secara
hormonal.
Interseksualitas endokrin terjadi pada
tingkatan yang agak lebih lanjut, pada
tahapan endokrin (perkembangan genita-
lia externa). Disebabkan karena:
lemahnya rangsang endokrin
reaksi abnormal sel-sel dan jaringan
jaringan tubuh terhadap rangsang endo-
krin
Kelainan ini memberikan respons yang
lebih baik terhadap pengobatan hormonal.
Jenis-jenis hermafrod
itismus
Pendapat mengenai klasifikasi jenis-
jenis interseksualitas dan hermafroditismus
dapat berbeda. Akan tetapi pada umum-
nya pembagian jenis-jenis dilakukan atas
dasar susunan khromosom kelamin, sifat
jaringan gonada, bentuk genitalia dan
habitus pada umumnya.
Oleh karena itu dalam garis besarnya
dapat kita bedakan :
1. interseksualitas dan pseudohermafrodi-
tismus laki-laki
2. interseksualitas dan pseudohermafrodi-
tismus perempuan
3. hermafroditismus sejati
4. kelainan-kelainan susunan khromosom,
seperti sindroma Turner, sindroma
Klinefelter
lnterseksualitas laki-laki atau fem
inismus
Tingkatan yang paling ringan dengan
perubahan-perubahan morfologik dan psi-
kologik. Juga disebut: androgynoidismus
morpho-psychologicus.
Mungkin bersifat :
konstitusionil
endokrin
Biasanya dijumpai :
gonada jelas testis
genitalia externa tidak jelas laki-laki
karena rangsang virilisasi lemah
saluran-saluran kelamin laki-laki, namun
mungkin terdapat sisa-sisa rudimenter
saluran Muller
Akan tetapi :
wajahnya mempunyai ekspressi sebagai
perempuan
distantia intertrochanterica lebar di-
bandingkan dengan distantia interacro-
mialis
mungkin terdapat pertumbuhan payu
dara (gynaecomastia)
penimbunan dan pembagian lemak se-
perti pada perempuan, yaitu lebih ba-
nyak di sekitar pinggul
pertumbuhan otot-otot kurang sempur-
na
jalannya seperti perempuan
suaranya mungkin tinggi
pada umumnya proporsi tubuhnya nor-
mal
mungkin terdapat transvestitismus
perkembangan libido terhenti pada
tingkatan narsistik (aseksuil) atau ambi-
valen. Oleh karena itu terdapat homo-
seksualitas passif.
Keadaan ini dapat berlangsung seumur
hidup.
Pseudohermafrod
itismus laki-laki
Tingkatan yang lebih berat dari pada
interseksualitas, yang disertai kelainan
kelainan pada genitalia externa dan salur-
an-saluran kelamin. Juga disebut :
androgynoidismus genitalis
Sifatnya selalu konstitusionil, tidak dise-
babkan oleh gangguan endokrin.
habitusnya merupakan campuran anta-
ra sifat laki-laki dan perempuan. Ka-
dang-kadang sifat laki-laki lebih menon-
jol, sehingga ia menyerupai laki-laki.
Kadang-kadang sifat perempuan lebih
tampil ke muka, sehingga ia lebih mi-
rip perempuan.
gonada: jelas testis tanpa jaringan ova-
rium, tapi kurang sempurna karena
rangsang feminisasi. Sering terdapat
ectopia testis.
genitalia. externa biasanya memperlihat-
kan hypospadia perinealis. Penisnya
menyerupai clitoris yang besar. Urethra
terbuka pada bagian bawah corpus
penis dan tidak mengikuti seluruh
penis. Kedua lipatan urethra yang tidak
menutup mirip pada labia minora.
Kadang-kadang urethra bermuara di
perineum dan sama sekali tidak berhu-
bungan dengan penis, sehingga mirip
urethra perempuan.
scrotum mungkin terbelah dua: scro-
tum bifidum, karena kedua torus geni-
talis gagal tumbuh bersatu. Keadaan
ini menyerupai labia majora. Mungkin
tidak terdapat testis di dalam scrotum
(ectopia testis)
8
background image
saluran-saluran kelamin: di samping
epididymis dan ductus deferens mung-
kin terdapat sisa-sisa saluran Muller
dalam berbagai tingkatan perkembang-
an.
tidak terdapat haid karena tidak ada
jaringan ovarium
Semua kelainan ini terdapat dalam berba-
gai kombinasi, juga dengan sifat-sifat ek-
stragenital yang berbeda-beda. Misalnya
pertumbuhan payu dara sempurna atau
hanya rudimenter.
Pada pseudohermafrodit Iaki-laki potensi
biasanya subnormal. Libidonya bermacam-
macam. Kadang-kadang tidak ada, tapi
kadang-kadang jelas seperti laki-laki hete-
roseksuil. Fertilitas biasanya tidak ada
(mandul). Kadang-kadang pada androgy-
noidismus genitalis yang disertai crypto-
rchismus, terjadi descensus testiculorum
spontan. Setelah testis memasuki scrotum
hormon-hormon androgen dapat lebih ter-
jamin pembuatannya.
Boczkowsky (3,4), Barclay (2) dan ahli-
ahli lain telah menyelidiki suatu bentuk
pseudohermafroditismus laki-laki yang di-
sebut :
Testicular Feminization Syndrome(TFS)
Habitusnya sering cantik seperti perem-
puan dengan payu dara sempurna, genita-
lia externa yang menyerupai alat-alat kela-
min perempuan. Di samping itu pertum-
buhan rambut di ketiak dan mons pubis
amat tipis atau tidak ada sama sekali.
Kelainan ini ternyata bersifat herediter
dan familier, dan diturunkan sebagai auto-
somal sex-modified dominant atau X-link-
ed recessive. Boczkowsky (3) berpendapat
bahwa jenis ini lebih condong ke jenis
perempuan berdasarkan penyelidikan-pe-
nyelidikan psikologik. Oleh karena itu ia
mengemukakan kemungkinan perubahan
jenis kelamin penderita-penderita ini men-
jadi orang perempuan, yang dapat menga-
lami kebahagiaan dlm. pernikahan, sekali-
pun tidak dapat memperoleh keturunan.
Perubahan jenis kelamin menjadi perem-
puan menurut Boczkowsky (6) lebih ber-
alasan pula karena pengobatan dengan
androgen tidak berhasil pada TSF (andro-
gen irresponsiveness).
Interseksualitas perempuan atau virilismus
gynandroidismus gen
italis
Dalam prinsipnya sama dengan andro-
gynoidismus genitalis. Bedanya karena
adanya gangguan endokrin, terutama oleh
cortex glandulae suprarenalis.
Walker (10) dan Money telah mengu-
raikan persamaan dan perbedaan pengaruh
hormon eksogen pada pengobatan wanita
hamil dengan progestin sintetik dan hor-
mon endogen pada syndroma adrenoge-
nitalis. Persamaannya ialah pengaruh viri-
lisasi pada janin perempuan di dalam
kandungan, yang dapat menyebabkan
perubahan-perubahan pada genitalia ex-
terna dari tingkat ringan hingga yang
berat. Misalnya pembesaran clitoris dan
penyatuan labia majora menyerupai scro-
tum.
Hal ini menurut Wilkins (11, 12) mung-
kin tergantung pada permeabilitas placen-
ta terhadap hormon-hormon ini dan keren-
tanan janin.
Selain itu dapat terjadi perubahan-
perubahan tingkah laku menyerupai anak
laki-laki, percepatan pertumbuhan tulang
dan kadang-kadang peninggian lntelligence
Quotient.
Perbedaannya ialah bahwa pengaruh
hormon eksogen terbatas pada masa ter-
tentu selama dalam kandungan. Sebaliknya
hormon endogen pada sindroma adreno-
genitalis akan berpengaruh terus setelah
anak lahir.
Oleh karena ltu, maka koreksi pembe-
dahan pada sindroma adrenogenitalis ha-
rus disertai pengobatan dengan cortisone.
Hermafrodit
ismus sejati
Juga disebut: androgynoidismus gonadalis
atau gynandroidismus gonadalis.
Tingkatan kelainan yang paling berat de-
ngan adanya feminisasi kuat, kelainan-
kelainan pada jiwa, genitalia externa dan
saluran-saluran kelamin, disertai adanya
gonada yang rangkap, mengandung jaring-
an testis dan ovarium. Pada keadaan ini
secara anatomis semata-mata tidak dapat
ditetapkan jenis kelamin genetiknya. Harus
pula dilakukan pemeriksaan khromosom
kelaminnya serta ada/tidaknya khromatin
sex, agar dapat ditentukan apakah ini
seorang laki-laki yang telah mengalami
feminisasi yang kuat sehingga terdapat
jaringan ovarium di samping jaringan tes-
tis. Ataukah sebaliknya seorang perempu-
an yang telah mengalami maskulinasi yang
kuat.
Gambaran klinik pada umumnya sama
dengan androgynoidismus genitalis. Perbe-
daan terletak pada gonadanya. Pada ben-
tuk yang satu terdapat jaringan ovarium
rudimenter di samping testis yang baik.
Pada bentuk yang lain ovarium dan testis
sama-sama berkembang dan berfaal baik.
Pada bentuk yang lain pula baik ovarium
maupun testis terhambat perkembangan-
nya karena pengaruh yang satu terhadap
yang lain. Haruslah ditekankan di sini
bahwa untuk identifikasi jaringan gonada,
mutlak diperlukan adanya oocyt-oocyt
dan tubuli seminiferi. Jaringan stroma
ovarium dan adanya sel-sel Leydig belum
merupakan bukti yang cukup mengenai
adanya ovarium dan testis yang benar-
benar berfaal baik.
Adakalanya pada sisi badan yang satu
terdapat testis, epididymis dan ductus
deferens, dan pada sisi yang lain,ovarium,
tuba Fallopii, uterus dan vagina. Hal ini
disebut:
androgynoidismus gonadalis unilateralis
atau:
gynandroidismus gonadalis unilateralis.
Oleh karena adanya ovarium dan uterus,
maka mungkin terdapat haid.
Libido dan potensi adalah seperti pada
pseudohermafroditismus.
Genitalia externa biasanya ambivalen.
Mammae kecil seperti pada laki-laki.
Habitus pada keseluruhannya mungkin
lebih condong ke jenis laki-laki, mungkin
pula lebih condong ke jenis perempuan.
Demikian pula jiwanya.
Agaknya
"
Hermafroditismus
"
dapat
terjadi di bidang mental.
Abramson (1) telah menguraikan kasus
seorang pemuda, jelas laki-laki heterosek-
suil dengan gonada dan genitalia normal,
yang mempunyai kecenderungan berting-
kah-laku seperti perempuan, tetapi di
samping itu ingin mempertahankan status-
nya sebagai orang laki-laki. Suatu ambiva-
lensi mental atau
"
hermafroditismus psy-
cho-dynamicus
"
. Secara morfologik ia se-
benarnya laki-laki sejati, bukan hermafro-
dit atau pseudohermafrodit.
Secara psikologik sindroma ini mungkin
dapat menjelaskan berbagai cetusan an-
xiety dan frustrasi. Misalnya: keinginan
yang tidak sadar untuk menyamai perem-
puan, terutama dalam hal kemampuan
mengandung dan melahirkan anak, ke-
inginan akan rambut gondrong, transvest-
itismus, narkotika, tingkah laku seperti
perempuan, pada saat lain keinginan akan
kekerasan dan sadisme tanpa kemauan
untuk bertanggung jawab, penolakan dinas
wajib militer dsb.
Pada berbagai kasus dysgenesis gonada-
lis yang menyertai interseksualitas dan
pseudohermafroditismus, kerapkali dite-
mukan pertumbuhan gonadoblastoma.
Biasanya penderita-penderita ini bersifat
khromatin sex negatif. Tetapi jarang seka-
li dilaporkan adanya gonadoblastoma pada
hermafrodit sejati.
Park (8) dan kawan-kawan beranggapan
9
background image
bahwa hal ini mungkin disebabkan karena
hermafrodit-hermafrodit sejati pada um-
umnya
memiliki susunan khromosom
46,XX sedangkan gonadoblastoma hampir
selalu mempunyai sangkut paut dengan
adanya khromosom Y.
Kemungkinan adanya mozaicisme khro-
mosom dengan adanya khromosom Y
yang belum dapat dibuktikan, belum dapat
dikesampingkan pada hermafrodit-herma-
frodit yang dilukiskan sebagai 46,XX.
Park
d.k.k. telah
menguraikan suatu
gonadoblastoma yang mereka jumpai pada
seorang hermafrodit sejati dengan karyo-
type 46,XY dan khromatin sex negatif.
Kelainan-kelainan susunan khromosom
Agaknya kelainan-kelainan ini disebab-
kan tidak melepasnya khromosom-khro-
mosom sex pada meiosis. Seharusnya su-
sunan XX pecah menjadi 2X yang masing-
masing memasuki sebuah oocyt. Dan su-
sunan XY pecah menjadi X dan Y yang
masing-masing menempati sebuah sperma-
tocyt. Apabila
XX
gagal berpisah, akan
terbentuklah satu oocyt dengan susunan
XX dan satu oocyt dengan susunan O
(tidak mengandung khromosom X).
Apabila XY gagal berpisah, akan terben-
tuklah satu spermatocyt dengan susunan
XY dan satu spermatocyt dengan susunan
0.
Sekiranya oocyt dengan susunan XX di-
buahi oleh spermatocyt X, akan terben-
tuklah zygote dengan susunan XXX. Jika
oocyt dengan susunan O dibuahi oleh
spermatocyt X, hasilnya adalah zygote
dengan susunan XO (sindroma Turner).
Demikian dapatlah terbentuk kombinasi
kombinasi
XO,
YO, XXY (sindroma
Klinefelter) dan YYX.
Sindroma Turner
Dijumpai
pada
orang
perempuan
dengan habitus perempuan sejati, namun
gangguan utamanya ialah tidak terbentuk-
nyaovarium (dysgenesis gonadalis). Untuk
terbentuknya ovarium diperlukan susun-
an XX. Biasanya terdapat gangguan per-
tumbuhan jiwa dan badannya, dan oedema
pada anggota-anggota badan. Kadang-ka-
dang cubitus valgus.
S
indroma Klinefelter
Hanya terdapat pada laki-laki. Gejala-
gejala kliniknya meliputi antara lain :
sterilitas
.
atrofia testis
deg
nhjmnhjenerasi hyalin pada tubuli semini-
feri
--
dapat terjadi gynaecomastie
Pengobatan interseksualitas dan herma-
froditismus
Apabila seorang bayi dilahirkan dengan
genitalia externa yang ambivalen, sebaik-
nya segera dilakukan pemeriksaan khro-
mosom dan khromatin sex padanya untuk
memperoleh pegangan
mengenai jenis
kelaminnya yang sebenarnya. Di samping
itu perlu dilakukan pemeriksaan secara
menyeluruh oleh ahli-ahli lain, dan diper-
ti mbangkan
kemungkinan-kemungkinan
mengenai penentuan jenis kelaminnya
yang akhir.
Pemeriksaan dan pengobatan sedini-
dininya ini penting untuk menghindari
kesulitan-kesulitan psikologik dan sosial
yanga
kan timbul apabila individu tersebut
dibiarkan tumbuh antara dua alam (laki-
laki dan perempuan) yang berlainan
si-
fatnya. Khususnya pada pseudoherma-
froditismus perempuan karena sindroma
adrenogenitalis, pembedahan sedini-dini-
nya harus disertai pula pengobatan dengan
cortisone. Penderita tersebut hendaknya
diperiksa kembali setelah mencapai pu-
bertas.
Kerja sama yang erat antara ahli-ahli
genetika, anatomi, patologi, pediatri, psi-
kologi, bedah dan kebidanan dapat mem-
berikan pertolongan yang sebaik-baiknya
kepada penderita-penderita interseksuali-
tas dan hermafroditismus ini.
Kepustakaan :
1 Abramson, Harold A.
"
Psychodynamic Hermaphroditism
and its relationship to Problems in
the Youth Culture"
J. Asthma Res. 9:135-138 March 1972
2 Barclay, D.L. and W.H. Sternberg
"
A Classification of lntersexes. Gy-
necologic Considerations"
Southern Med. J. 59:1383-1392 1966
3 Boczkowsky, K.
"
Genetic and Clinical Studies in
Male Hermaphroditism"
Pol.Med.Sci,Hist,Bull. 12:5-12
1969
4 Boczkowsky, K.
" "Classification of lntersexuality"
Pol.Med.Sci,Hist.Bull. 12:173-175,
Okt. 1969
5 Boczkowsky, K.
"Describing lntersexuality"
Lancet 1 : 952
1967
6 Boczkowsky, K.
"Response to Androgen in Male
Hermaphrodites"
Am. J.Obst.Gynecol. 41:419-426
1973
7 Jost. A.
"Problems of Fetal Endocrinology.
The
Gonadal
and Hypophyseal
Hormones"
Recent Progr. Hormone Res. 8: 379
1953
8 Park, I.J.; J.C. Pyeatte; Howard W.
Jones Jr. and J.D. Woodruff
"
Gonadoblastoma in a True Herma-
phrodite with 46,XY Genotype"
Am. J.Obst.Gynecol.40:466-472 1972
9 Takayasu, H.; K. Kinoshita; K. lsurugi;
Y. Matsumoto; K. Komine, and A.
Tonomura
"Male Hermaphrodite with 46,XX
Chromosome Constitution"
Acta Endocrinol. 73:396-406
1973
10 Walker, P.A., and J. Money
"Prenatal Androgenization of Fe-
males. A Review"
Hormones 3 : 119 - 128
1972
11 Wilkins, L.; H. Jones; G. Holman and
R. Stempel
"Masculinization
of the Female
Fetus associated with Administra-
tion of Oral and lntramuscular
Progestins during Gestation: Non-
adrenal Female Hermaphrodism
"
J.Clin.Endocrin. Metab. 18:559-585
1958
12 Wilkins, L.
"
Masculinization of Female Fetus
due to use of Orally given Progestins"
J.A.M.A. 172 : 1028 - 1032
1960
Jawaban-jawaban
Ruang Penyegar dan
Penambah llmu Kedokteran
1.
(B)
6. (E)
2.
(B)
7. (C)
3.
(A)
8. (A)
4.
(C)
9. (B)
5. ( D)
10. (D)
10