ALERGI
Beberapa Aspek Medik
dr. Soedarmadi
Bagian Penyakit Kulit Kelamin
Fakultas Kedokteran U. G.M - Yogvakarta.
PRAKATA - Pembicaraan mengenai alergi tak dapat terlepas
dari imunologi, alergi merupakan pedang bermata dua . Iba-
ratnya membicarakan hutan rimba yang belum banyak
dija-
mah tangan manusia dan belum banyak potensi yan
g diman-
faatkan , atau seperti membicarakan masalah banjir di ibukota
Jakarta khususnya dan di Jawa umumnya, yang dirasakan
cuma akibatnya/kerugiannya. Ringkasnya masalahnya sangat
kompleks, dan kebanyakan hanya dirasakan pahitnya. Akan te-
tapi kemudian ternyata bahwa alergi, yang mula-mula terbatas
pada reaksi yang merugikan, dengan segera berkembang
meli-
puti hampir semua bidang kedokteran. Peranannya dalam tera-
pi
dan profilaksis semakin banyak mendapat perhatian.
Didalam jaman "banjir antibiotika" baik dikalangan medik
maupun ditoko-toko sampai dikaki lima seperti sekarang ini,
selayaknya kita menanggapi/merenungkan apa yang dikemuka-
kan oleh
COOMBS, SCHLESS
dan
HARELL,
yang kurang
lebih sebagai berikut
:
"
Tak diragukan lagi dengan meningkat-
nya resistensi kuman-kuman patogen terhadap antibiotika,
manfaat paling besar dari reaksi alergis bagi manusia ialah
dalam terjadinya imunit
as terhadap sejumlah besar mikro-
organisme yang menyebabkan penyakit, orang harus berani
bertaruh tanpa reserve, bahwa "imunoprofilaksis" adalah
satu-satunya cabang ilmu kedokteran yang maha penting, apa-
bila menyelamatkan hidup adalah tujuan utama. "
Oleh karena itu reaksi alergi yang merupakan pedang bermata
dua harus dikuasai oleh setiap dokter, dan mengundang
keharusan akan pendidikan yang lebih mendalam dan mema-
sukkannya dalam kurikulum kedokteran.
Alergi seakan-akan merupakan penyakit baru, tetapi sebetul-
nya jauh lebih tua; peradaban modern yang kompleks, produk-
produk baru dan beban hidup yang semakin berat menambah
insidensnya.
HERODOTUS
memakai istilah
hav-fever
meski-
pun tak ada hubungannya dengan jerami (hay) dan tak
terdapat demam. Dalam abad 17 apa yang disebut
rose fever
dan
seasonal coryza
adalah istilah-istilah alergi yang ada
hubungannya dengan tepung sari dan musim bunga, yang
sebenarnya telah dirintis oleh
LEONARDO BOTALLO
sejak
tahun 1565. Pada tahun I808,
ROBERT WILLAN,
bapak
dari dermatologi modern membicarakan angio-neurotic ede-
ma, dan menyatakan bahwa biduren (hives) bisa disebabkan
oleh ikan, buah amandel (almond) dan jamur (mushroom),
75 th sebelum
HEINRICH QUICKE
membicarakannya dan
menekankan sifat herediternya. Perkembangan alergi semakin
pesat oleh peranan dokter-dokter yang mengalami sendiri reak-
si alergi.
FISIOLOGI . -
Orang-orang yang alergi mendapat kesulitan
dalam mempertahankan homeostasis. Akibatnya terjadi jawa-
ban/reaksi yang berlebihan terhadap perubahan-perubahan.
Badan berusaha menghalau alergen dengan jalan bersin-bersin
(melalui hidung), epifora (melalui mata), kemerahan dan pem-
bengkakan (lewat kulit),
dan mendorongnya juga melalui
usus dan paru-paru. Hal ini terjadi akibat terlepasnya histamin,
asetilkolin dan 5-hidroksi triptamin, yang punya efek vasodila-
tasi, menaikkan permeabilitas kapiler, kontraksi otot polos,
dan lain-lain jawaban yang berlebihan terhadap stres-stres fisik
maupun psikik.
Adanya hubungan antara reaksi alergi dan hormon kelamin
wanita terlihat pada fluktuasi dari reaksi alergi dengan
menarche, siklus menstruasi, kehamilan dan menopause. Bebe-
rapa ahli menganggap adanya hubungan antara alergi dengan
thymus, yang membesar pada beberapa penderita asma dan
penderita-penderita
yang mati mendadak akibat efek obat-
obat tertentu.
PSIKOL
OGI -
Tak terhingga banyaknya contoh dimana faktor
psikologik mencetuskan serangan-serangan asma, eksema atau
biduren. Sering kita mendapat keluhan penderita-penderita
eksema kumat penyakitnya setelah melayat orang mati atau
menengok bayi. Contoh yang menyolok ialah penderita asma
yang alergi terhadap bunga bisa kumat asmanya melihat
bunga imitasi/plastik. Para ahli anak-anak mengenal apa yang
disebut
therapeutic orphanage ,
dimana seorang anak asmatis
berat, tak mendapat serangan 1 bulan sesudah masuk rumah
sakit dan sesudah dirawat 18 bulan sama sekali sehat. Begitu
dipulangkan dan berkumpul dengan orang tuanya yang selalu
bertengkar kembali masuk rumah sakit dengan episode yang
paling mengerikan dalam hidupnya.
Para ahli sependapat
bahwa pemisahan dari keluarga adalah lebih baik efeknya
dari pada perubahan cuaca. Pada umumnya anak-anak asmatis
terdapat pada ibu yang sering memanjakan. tapi pada saat-saat
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
7
tertentu menunjukkan sifat bencinya. Yang menimbulkan
konflik antara keinginan untuk selalu dekat dan takut terha-
dap tindasan (love and hate).
SALTER
melihat scorang anak
laki-laki yang selalu menghindari hukuman ayahnya dengan
berteriak
:
"
Jangan pukul sa
ya , nanti kumat asma saya !".
Sedang
ARMAND TROUSSEAU
menceritakan pernah men-
dapat serangan asma yang berat waktu dia mendakwa tukang
keretanya mencuri gandum.
Sekarang diketahui bahwa histamin, asetilkolin dan 5-hidrok-
si triptamin yang dilepaskan sebagai reaksi terhadap bahan-
bahan kimia, juga dilepaskan pada saat stres-stres psikis.
Kebanyakan manifestasi alergi terjadi melalui sistem parasim-
patis. Kecemasan, depresi, tekanan seksuil dan terutama den-
dam kesumat sering merupakan faktor yang mencetuskan se-
rangan.
MEKANISME. -
Untuk mendapatkan gambaran hubungan anta-
ra reaksi alergi dan sakit kita harus menghargai
CLEMENS
VON PIRQUET,
bapak dari alergi modern yang pertama-
tama memasukkan istilah alergi dalam kamus kedokteran dan
ilmu pengetahuan. Alergenisasi dan pembentukan zat-anti
dapat dirangsang dengan jalan :
- inhalasi bahan organik.
- absorbsi bahan-bahan yang tak tercerna secara sempur-
na dari dalam usus.
- menembusnya bahan-bahan genetis lain lewat plasenta.
- kontak dengan bahan-bahan tertentu secara berulang-
ulang baik disadari maupun tidak.
- dan last but not least melalui pengobatan (dokter)
dalam segala bentuk, termasuk transplantasi jaringan/
organ.
- masih harus ditambahkan reaksi terhadap auto-antigen.
Antigen dapat dibedakan atas antigen lengkap, yaitu berupa
molekul besar, dimana badan bersikap intoleran dalam arti
imunologik, yaitu dengan langsung merangsang terbentuknya
zat-anti, dan antigen tak lengkap atau yang oleh LANSTEI-
LANSTEINER
NER disebut
hapten, yaitu molekul-molekul kecil/bahan kimia
sederhana yang mendapat sifat antigenik setelah bergabung
dengan protein badan. Alergi ialah perobahan spesifik yang
diperoleh dalam kemampuan bereaksi terhadap alergen atas
dasar interaksi antigen-antibodi. Alergen ialah istilah untuk
antigen yang terlibat dalam reaksi alergi.
Reaksi/jawaban alergik melibatkan sel-sel tertentu dalam
sistim limforetikuler dengan akibat multiplikasi sel-sel yang
menjadi alergik (allergised cells). Sel-sel ini dalam kerja sama
dengan sel-sel lain menghasilkan zat-anti/imuno-imunoglobu-
lin (Ig.), dengan jenis-jenisnya : IgG, IgM, IgA dan IgE,
mungkin juga Ig-D. Sekali terjadi reaksi alergi, orang akan
bereaksi terhadap alergen, walaupun jumlahnya sangat sedikit,
yang sifatnya sangat individuil.
Tergantung pada situasi, reaksi alergi ini bisa menguntungkan,
menghasilkan imunitas, atau merugikan, terjadi alergi, keru-
sakan jaringan maupun menjadi sakit. Dalam kedua peristiwa
ini, terjadi reaksi seluler maupun molekuler yang sama.
Apakah orang mengatakan reaksi kekebalan (imunitas) atau-
kah kerentanan (alergi) sama sekali tergantung dari konse-
kwensi klinik belaka.
Rcaksi alergi dapat dibagi dua, reaksi cepat (immediate type)
dan reaksi lambat (delayed type). Reaksi cepat berdasarkan
atas imunitas humoral dan reaksi lambat adalah imunitas
seluler. Hal ini membawa konsekwensi dalam pemindahan imu-
nitas secara pasip, reaksi cepat dapat dipindahkan secara
pasip dengan serum. Contoh dari reaksi cepat : anafilaksis,
urticaria, Arthus fenomen dll. Sedang contoh dari reaksi
lambat : reaksi tuberkulin, kontak dermatitis yang alergik dll.
Auto-antigen ialah antigen yang berasal dari badan sendiri.
Bertahun-tahun terdapat konsep yang menganggap bahwa
seseorang tak dapat membentuk zat-anti dari antigen yang
berasal dari jaringan tubuhnya sendiri, konsep ini disebut
horror-autotoxicus ,tetapi percobaan-percobaan dengan golo-
ngan-golongan darah yang berbeda dan kejadian-kejadian
dalam beberapa penyakit yang disebut
"
penyakit-penyakit
auto alergik
"
(auto-allergic diseases) membatalkan konsep
tsb. Penyakit-penyakit auto-alergik dibagi dua :
yang
bersifat
organ spesifik, misalnya : Tiroiditis Hashimoto, Gastritis Kro-
nika atrofika dsb. Dan yang bersifat non-organik misalnya :
arthritis reumatika, dan penyakit-penyakit kolagen lain, ter-
masuk Systemic Lupus Erythematosus. Tetapi ada penyakit-
penyakit yang tak dapat digolongkan kedalam keduanya misal-
nya trombositopenia idiopatika dan auto-imune hemolytic
anemia .
PENGGUNAAN LOBULIN DALAM PROFILAKSIS DAN
TERAPI PENYAKIT--PENYAKIT INFEKSI.-
Tahun 1888
NUT-
TALL, dan sebelum abad 19
VON BEHRING
dan
KITASANO
telah mengemukakan anti-toksin untuk Diphteri.
globulin
diisolasi dari protein serum oleh
TISELIUS
pada tahun 1936
dan tahun
1938 dibuktikan bahwa zat-anti terdapat dalam
Gamma-globulin. Tahun 1944
COHN
dkk. secara efektip
menggunakannya dalam terapi. Dan tahun 1962
BARANDUM
dkk. dan
SC H U L T Z E
dkk. berhasil memperkecil molekul --
globulin dengan mengolahnya dengan pepsin dan plasmin un-
tuk mendapatkan bentuk yang lebih sesuai dalam penggunaan
intra-vena.
-globulin dipergunakan dalam klinik untuk (1) profilaksis pe-
nyakit-penyakit virus : hepatitis, variola, polio dsb, (2) untuk
profilaksis infeksi bakteri dalam bentuk Antibody Deficiency
Syndromes
(JENEWAY
dkk.), dan (3) Untuk profilaksis
terhadap tetanus. q
KEPUSTAKAAN
1. COOMES, RRA : The basic type of allergic reactivity producing
discascs.
Triangle 9 :
43 - 47.
2. GLYN L : Enigma of allcrgy, Physiologic puzzle,
MD Pac,
Jan :
55 - 60,
1974
3. SCHLESS AP HARELL GS : The place of thc Human Gamma
globuline in modern therapeutic,
Triangle 9 :
74 -
78,
1969
4. RAHARI)JO NITISAPOETRO :
Peranan alergi pada penyakit kulit
modern.
Pidato Pengukuhan Guru Bcsar,
1970.
5. SURIA DJUANDA
(1974) :
Dasar-dasar imuno alergi.
MDVI
2 :
36 -
48,
3 : 45 - 64.
6. WHALEY KMB et al : Clinical Aspects of Auto-immunity,
Triangle
9 :
61 -
73,
1969
8
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.