background image
Artikel
Perkembangan Masalah AIDS
Suriadi Gunawan
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan salah satu segi dari kualitas hidup
yang tercermin pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia
yang meliputi sandang, pangan, perumahan, kesehatan, ke-
sempatan memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang layak,
kebebasan dari rasa takut dan rasa tidak tentram, kebebasan
memeluk agama/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
kesempatan untuk mengembangkan daya cipta serta berkreasi,
yang sesungguhnya merupakan tujuan dan sasaran pokok
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Derajat kesehatan merupakan hasil interaksi dari empat
faktor: yakni faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan
dan keturunan.
Upaya kesehatan yang semula berupa upaya penyembuhan
penderita, secara berangsur-angsur berkembang ke arah
kesatuan upaya kesehatan yang mencakup upaya peningkatan
(promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan
pemulihan (rehabilitatif) yang terpadu dan berkesinambungan.
Upaya kesehatan dipengaruhi oleh faktor lingkungan,
social budaya, ekonomi dan biologik yang bersifat dinamis dan
kompleks.
Untuk menghadapi tanangan upaya kesehatan ini, perlu
disusun Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang merupakan
tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk
meningkatkan kemampuan mencapai derajat kesehatan yang
optimal, sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti
dimaksud dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945.
Dasar-dasar pembangunan kesehatan nasional menurut
SKN adalah:
1)
Semua warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan
yang optimal, agar dapat bekerja dan hidup layak sesuai dengan
martabat manusia.
2)
Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab dalam
memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan rakyat.
3)
Penyelenggara upaya kesehatan diatur oleh pemerintah dan
dilakukan secara serasi dan seimbang oleh pemerintah dan
masyarakat, serta dilaksanakan terutama melalui upaya
peningkatari dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu
dengan upaya penyembuhan dan pemulihan yang diperlukan.
4)
Setiap bentuk upaya kesehatan harus berasaskan peri-
kemanusiaan yang berdasarkan -Ketuhanan Yang Maha Esa,
dengan mengutamakan kepentingan nasional, rakyat banyak
dan bukan semata-mata kepentingan golongan atau perorangan.
5)
Sikap, suasana kekeluargaan, kegotong-royongan serta
semua potensi yang ada diarahkan dan dimanfaatkan sejauh
mungkin untuk pembangunan di bidang kesehatan.
6)
Sesuai- dengan asas adil dan merata, hasil-hasil yang
dicapai dalam pembangunan kesehatan harus dapat dinikmati
secara merata oleh seluruh penduduk.
7)
Semua warga negara sama kedudukannya dalam hukum
dan wajib menjunjung tinggi dan mentaati segala ketentuan
perundang-undangan dalam bidang kesehatan.
8)
Pembangunan kesehatan nasional berlandaskan pada ke-
percayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri, serta ber-
sendikan kepribadian bangsa.
POLA PENYAKIT DAN KECENDERUNGANNYA MEN-
JELANG TAHUN 2000
Menurut survai kesehatan rumah tangga 1980, sebab-
sebab kematian yang terpenting ialah radang saluran per-
nafasan, diare, tetanus, tuberkulosis dan penyakit kardio-
-
vaskuler
r
.
Kurang lebih separuh dari semua kematian di Indonesia
terjadi pada bayi dan anak di bawah lima tahun (balita).
Angka kematian bayi di Indonesia telah menurun. akan
tetapi masih cukup tinggi, kira-kira 90 per 1000 kelahiran
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 3
background image
hidup. Sedangkan angka kematian balita umur 1­4 tahun masih
kira-kira 20 per 1000.
Lebih dari 70% kematian bayi disebabkan radang saluran
nafas, diare dan tetanus yang sebenarnya dapat dihindar kan'
dengan usaha preventif yang lebih efektif, antara lain meliputi
imunisasi, perbaikan gizi dan penyehatan lingkungan.
Pelayanan kuratif/pengobatan dalam hal ini sangat ter-baths
peranannya. `
Usaha-usaha menurunkan angka kematian telah mulai
menunjukkan hasilnya dan hal ini antara lain dilihat dari
meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir yang kini
mencapai 55,5 tahun pada pria dan 57,2 tahun untuk wanita.
Faktor penting yang akan mempengaruhi kesehatan ialah
terjadinya perubahan pola kehidupan masyarakat yang makin
4
cepat. Listrik dan televisi sudah/akan masuk desa, transportasi
yang lebih baik akan mendekatkan desa dengan kota dan
kesempatan memperoleh pendidikan menimbulkan harapan-
harapan buru.
Pulau Jawa dalam tahun 2000 akan menyerupai Island
City. Ditambah dengan pusat-pusat urbanisasi di luar Jawa,
Indonesia akan mengalami pengaruh urbanisasi. Perubahan
gaya hidup yang terjadi akibat urbanisasi dan meningkatnya
umur harapan hidup waktu lahir akan merubah polapenyakit.
Penyakit menular secara relatif akan berkurang, tetapi penyakit
tidak menular antara lain penyakit kardiovaskuler, kw-ricer,
diabetes, kecelakaan, keracunan, penyakit jiwa, penyakit -
sendi, degeneratif cenderung untuk meningkat.
Menurut survai kesehatan rumah tangga, dalam kurun
waktu tersebut telah terjadi kenaikan yang nyata dari penyakit
tidak menular (tabel 1 dan 2).
Tabel 1. Pola sebab kematian penduduk menurut survai Kesehatan
Ramah
Tangga
tahun
1972
dan
1980.
No.
DIAGNOSA
1972 (%)
1980 (%)
1. Radang akut saluran pernapasan bagian
bawah
12,0
19,9
. 2. Penyakit diare
16,9
18,8
3. Penyakit
kardiovaskuler
5,1
9,9
4. Tuberkulosis
6,0
8,4
5. Tetanus
4,6
6,5
6. Penyakit susunan saraf
5,1
5,0
7. Kelainan
hati
­
4,2
8. Cedcra dan kecelakaan
2,1
3,5
9. Neoplasma/kanker
1,3
3,4
10. Tifus
perut
2,1
3,3
11. Penyakit tnfeksi dan parasit lain
­
3,0
12. Komplikasi kehamilan dan persalinan
2,2
2,5
11. Penyakit
neonatal
2,4
14. Lain-lain
40,0
6,8
15. Tidak
jelas
­
4,8
Jumlah
100,0
100,0
· Penyakit kardiovaskuler,. menyebabkan 9,9% dari semua
kematian, dan prevalensinya 5,9 per 1000 penduduk. Tahun
Tabel 2. Perbandingan pola penyakit yang prevalen menurut Survai
Kesehatan
Ruttish
Tangga
dalam
Tahun
1972
dan
1980.
1972 1980
No.
Penyakit
Jumlah
Pende-
rita
per
100
Jumlah
Pende-
rita
Per
100
1. Radang saluran pernafasan
bagian atas
980
0,9
3.796
3,1
2. Penyakit
kulit
721 0,6 1.013
0,8
3. Radang saluran pernafasan
bagian
bawah
422 0,4 1.041 0,9
4. Penyakit
diare
297 0,3
947
0,8
5. Tuberkulosis
577 0,5
732
0,6
6. Radang
mata
244 0,2
451
0,4
7. Penyakit
kardiovaskuler
120 0,1
717
.0,6
8. Penyakit susunan otot rangka
dan jaringan ikat lain
26
0,0
442
0,4
9. Malaria
279 0,2
219
0,2
10. Anemia 182
0,2
250
0,2
11. Penyakit susunan saraf
74
0,1
254
0,2
12. Penyakit rematik
94
0,1
321
0,3
13. Penyakit gigi dan jaringan
penyangga
70 0,1 293
0,2
14. Penyakit infeksi dan parasit
170
0,1
268
0,2
15. Kecelakaan 55
0,1
248
0,2
16. Lain-lain 1.319
1,2
2.937
2,4
Jumlah
5.547 13.929
1980 diperkirakan terdapat 855.000 penderita penyakit
kardiovaskuler dan 177.000 kematian. Sejak tahun 1970 terjadi
perubahan pola penyakit kardiovaskuler, di mana penyakit
jantung iskemik menggeser penyakit jantung rematik pada
tempat pertama. Di suatu desa di Jawa Tengah, prevalensi
penyakit jantung 1,8% dari penduduk; 46,4% penyakit jantung
iskemik; 17,9% penyakit jantung rematik; 14,3% penyakit
jantung hipertensi; 10,7% Penyakit jantung bawaan dan 7,1%
penyakit jantung pulmonik .
Faktor risiko penting untuk penyakit jantung iskemik ialah
merokok, hipertensi, hiperkolesterolemi, obesitas, diabetes dan
ketegangan jiwa/stres. Faktor-faktor tersebut di atas cenderung
meningkat dhnasa yang akan datang. Hipertensi cukup luas
terdapat di Indonesia, di man berbagai survai menghasilkan
prevalensi yang berkisar antara 6 ­ 15%. Prevalensi tersebut
meningkat dengan umur, sehingga pada golongan usia di atas
50 tahun mencapai lebih dari 20%. Diabetes mellitus juga
menjadi faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung. Survai
Universitas Diponegoro menunjukkan, 1,46% dari penduduk di
atas 14 tahun di Semarang menderita diabetes
3
. Penyakit
jantung pulmonik masih sering dijumpai dan faktor
pen3iebabnya ialah penyakit paru-paru menahun, merokok dan
polusi udara. Penyakit jantung bawaan diperkirakan
mempunyai insidensi sebesar 0,8% dari jumlah kelahiran.
Diperkirakan setiap tahun lahir sekitar 45.000 bayi dengan
kelainan jantung bawaan.
· Penyakit kanker, mempunyai insidensi minimal 50 per
100.000 penduduk. Insidensi yang lebih realistik untuk
Indonesia diperkirakan 100 per 100.000 penduduk
4
. Di-
perkirakan akan terjadi 10.000 kasus kanker baru dalam tahun
1985. Jumlah kasus seluruhnya diperkirakan sekitar
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
4
background image
400.000 orang. Dalam survai kesehatan rumah tangga tahun
1972, ditemukan 1,4% dari kematian disebabkan kanker,
sedangkan dalam tahun 1980 angka tersebut mencapai 3,9%.
Lokasi kanker yang paling sering ditemukan ialah: leher rahim,
payudara, kulit, nasofaring, hati, kelenjar getah bening, paru-
paru, indung telur, usus besar/rektum dan kelenjar gondok.
Dengan perkembangan sisio-ekonomi dan peningkatan umur
harapan hidup, pola penyakit 1 anker akan berubah. Secara
relatif kanker paru, payudara, indung telur, badan rahim, usus
besar, pankreas dan prostat akan bertambah. Sebaliknya kanker
hati, leher rahim, mulut dan kulit akan berkurang. Di Rumah
Sakit Soetomo Surabaya penderita kanker merupakan 2,3%
dari semua penderita yang dirawat dan dalam tahun 1974 ­
1978 terjadi kenaikan rata-rata 20% pertahun. Sebagian besar
penderita datang dalam stadium lanjut, dan
.
yang datang
stadium dini (stadium II ke bawah) hanya 17,4% untuk kanker
payudara dan 23,3% untuk kanker leher rahim
s
.
· Kecelakaan/cedera, prevalensinya diperkirakan 2 per
1000 penduduk, sedangkan kematian akibat kecelakaan/ cedera
merupakan 3,5% dari semua kematian
l
. Kecelakaan lalu lintas
terus bertambah setiap tahun antara 9,1% sampai 13,8% (1970­
.
1980). Dalam tahun 1980 terjadi 51.387 kecelakaan lalu lintas
yang mengakibatkan 11.456 kematian dan 59.771 luka-luka
6
.
Penderita kecelakaan/cedera yang dirawat di Rumah Sakit
merupakan 10% dari semua pen
:
derita yang dirawat dalam
tahun 1980 dan 4% dari morbiditas di Lombok dan 7% di
Yogjakarta disebabkan kecelakaan.
Penderita yang dirawat di bagian bedah rumah-sakit
Karyadi Semarang akibat kecelakaan lalu lintas adalah : cedera
otak 60%, patah lengan atas 9%, patah tulang tengkorak/
punggung/dada 7,5% dan cedera bagian dada/perut/pinggul
2%
7
. Penelitian di 11 rumah sakit di Jakarta dalam tahun 1972
menemukan 437 kasus keracunan dengan case fatality rate
4,2%. Sebab-sebab keracunan terpenting yang ditemukan ialah
jenf,kol, minyak tanah, barbiturat, singkong, salisilat dan
pestisida .
·
Psikosis, diperkirakan prevalensinya 1­3 per 1000 pen-
duduk dan Neurosis 40­60 per 1000 penduduk
9
. Penelitian di
Kecamatan Tambora, Jakarta menunjukkan sekitar 20% dari
pengunjung Puskesmas menderita gangguan mental emosi-
onal.
·
Karies dentis, sangat tinggi prevalensinya, 57% pada
penduduk berumur 8 tahun (DMFT rata-rata 1,23) dan
meningkat menjadi 83% pada penduduk usia 35­44 tahun
(DMFT rata-rata 5,27)
9
.
UPAYA PEMBERANTASAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
Salah satu pokok upaya kesehatan menurut SKN ialah pen-
cogahan dan pemberantasan penyakit yang bertujuan untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mencegah
akibat buruk lebih
.
lanjut dari penyakit
10
. Dalam menentukan
penyakit mana yang diberantas dipertimbangkan halhal sebagai
berikut :
a.
Angka kesakitan atau angka kematian yang tinggi
b.
Yang dapat menimbulkan wabah
c.
Yang terutama menyerang anak-anak, ibu dan angkatan
kerja
d.
Yang terutama menyerang daerah-daerah pembangunan
sosial ekonomi
e.
Adanya metode dan teknologi efektif
f.
Adanya ikatan internasional.
Tujuan dan sasaran upaya pemberantasan penyakit tidak me-
nular dalam Repelita IV ialah
ll
1)
Mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat penyakit
kardiovaskuler, kanker, kecelakaan dan penyakit tidak menular
lainnya.
2)
Meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat
untuk hidup sehat dan menolong dirinya sendiri dalam bidang
kesehatan.
3)
Peningkatan sarana kesehatan untuk mengatasi penyakit
tidak menular.
4)
Perbaikan mutu lingkungan hidup yang menjamin kesehat-
an/mencegah penyakit.
Kebijaksanaan yang perlu ditempuh ialah sebagai berikut:
1)
Upaya didasarkan pada preventif dan promotif.
2)
Kegiatan pelayanan kuratif dan rehabilitatif diutamakan
pada pengobatan jalan.
3)
Upaya kesehatan dilakukan dengan menggunakan hasil
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat
guna, dan biayanya dapat dipikul oleh masyarakat dan negara.
4)
Pelayanan kesehatan diutamakan untuk golongan masya-
rakat yang berpenghasilan rendah dengan peran serta aktif dari
masyarakat.
5)
Upaya dilaksanakan dalam kerjasama lintas sektoral dengan
semua bidang yang berkaitan dengan kesehatan/masalah pe-
nyakit tidak menular.
Langkah-langkah yang perlu diambil meliputi :
1)
Pengumpulan data dan penelitian tentang masalah penyakit
tidak menular.
2)
Menyiapkan wadah dalam struktur Departemen Kesehatan
untuk menanggulangi masalah penyakit tidak menular.
3)
Pengaturan dan koordinasi berbagai kegiatan penyuluhan
untuk memberantas penyakit tidak menular, antara lain usaha
untuk mengurangi kebiasaan merokok, mengurangi kecelakaan
dan sebagainya.
4)
Peningkatan sarana untuk menanggulangi penyakit tidak
menular.
5)
Mengadakanpilot project screeningselektif untuk menemu-
kan golongan risiko tinggi antara lain untuk hipertensi, kanker
tertentu, diabetes dan penyakit lainnya pada Puskesmas di
daerah tertentu.
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Upaya penelitian dan pengembangan kesehatan bertujuan
untuk memberikan sarana cipta ilmiah dan teknologi yang di-
perlukan dalam pembangunan kesehatan dan diharapkan
mampu memberi masukan berupa :
1)
Pengertian yang lebih baik mengenai masalah-masalah ke-
sehatan di negara kita.
2)
Saran mengenai kebijaksanaan untuk mengatasi masalah-
masalah kesehatan yang ada atau yang mungkin timbul.
3)
Teknologi yang lebih efisien dan efektif dari pada yang
dipakai sekarang.
4)
Pemikiran yang inovatif di bidang pemberian pelayanan
kesehatan supaya lebih merata dan terjangkau oleh masyarakat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 5
background image
5) Informasi mengenai segala sesuatu yang akan menghambat
atau dapat mempercepat pencapaian tujuan dan sarana pem-
bangunan kesehatan.
Upaya litbang kesehatan juga merupakan salah satu
komponen sistem ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.
Semua langkah yang diambil harus searah dengan kebijaksana-
an Menteri Negara Riset dan teknologi dalam mengembangkan
kemampuan nasional di bidang riset dan teknologi dalam
rangka menunjang transformasi masyarakat agraris menuju
industrialisasit 2
Masalah penelitian yang perlu ditangani dapat dikelom-
pokkan dalam permasalahan yang menyangkut derajat ke-
sehatan, upaya kesehatan- serta manajemen upaya kesehatan
dan partisipasi masyarakat, yang meliputi antara lain :
1)1Conseptualisasi dan pengertian kualitas hidup dalam
konteks pembangunan kesehatan.
2)
Monitoring derajat kesehatan untuk mengetahui kecen-
derungannya.
3)
Perkiraan masalah dan gangguan kesehatan pada waktu ini
dan masa yang akan datang dan perumusan strategi pe-
nanggulangannya.
4)
Pengembangan berbagai teknologi atau metode untuk
menanggulangi masalah kesehatan yang menyangkut rakyat
banyak.
5)
Pengkajian cara-cara tradisional mengenai penggunaan obat
dan pengobatan untuk dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern guna mempercepat tercapainya sasaran
pembanguhan kesehatan.
6)
Pengkajian mengenai kondisi sosial budaya dan potensi
swadaya masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatannya
sendiri.
7)
Penelitian untuk memperoleh pengertian tentang proses
pengambilan keputusan di berbagai tingkat pemerintahan
maupun masyarakat.
8)
Penelitian mengenai sistem pelayanan kesehatan serta
pembiayaannya.
9)
Telaah mengenai peranan hukum di bidang kesehatan yang
meliputi hak, kewajiban dan keadilan yang menyangkut
kesehatan.
10)
Pengembangan usaha preventif/promotif dan cara-cara
hidup sehat yang dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat
l3
.
PENELITIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
Penelitian penyakit tidak menular diarahkan untuk me-
ngetahui besarnya masalah dan mengembangkan metodologi
penanggulangannya yang dilaksanakan dengan mengutamakan
pertibahan perilaku masyarakat, perbaikan lingkungan hidup
dan periggunaan teknologi secara tepat guna.
Langkah-langkah yang perlu diambil meli puti antara lain:
1)
Mengembangkan standardisasi, klasifikasi dan registrasi
penyakit.
2)
Melaksanakan studi epidemiologi (deskriptif dan analitik).
3)
Mengembangkan studi intervensi misalnya dalam bentuk
proyek panduan.
4)
Mengembangkan studi evaluatif program dan kegiatan yang
dilaksanakan.
Beberapa kelompok penyakit yang perlu mendapat per-
hatian ialah :
1.
Penyakit kanker.
2.
Penyakit kardiovaskuler.
3.
Penyakit endokrin dan metabolik antara lain diabetes
dan penyakit kelenjar tiroid.
4.
Penyakit gigidan mulut.
5.
Kecelakaan dan penyakit akibat pekerjaan.
6.
Penyakit jiwa dan syaraf.
7.
Penyakit alatpancaindera.
8.
Penyakit respiratorik kronik.
9.
Penyakit sendi dan rernatik.
10.
Penyakit bawaan & keturunan.
11.
Penyakit akibat radiasi.
12.
Lain-lain penyakit dan gangguan kesehatan kronik.
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular (PPPTM) di-
bentuk dengan SK Menteri Kesehatan No. 558/Menkes/SK/
1984 tanggal 31 Oktober 1984 sebagai lanjutan dari Pusat
Penelitian Kanker dan Pengembangan Radiologi.
PPPTM bertugas melaksanakan penelitian penyakit tidak
menular berdasarkan kebijaksanaan
.
teknis Kepala Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dan peraturan per-
undang-undangan yang bt:rlaku. Pada saat ini PPPTM mem-
punyai lima puluh orang pegawai yang setengahnya adalah
tenaga teknis (sarjana dan sarja muda) tetapi baru tiga orang
yang berstatus fungsional peneliti.
Anggaran rutin PPPTM tahun 1985/1986 berjumlah Rp.
81,8 juta dan Rp. 58,8 juta di antaranya ialah untuk belanja
pegawai.
Anggaran pembangunan (proyek penelitian penyakit tidak
menular) tahun 1985/1986 berjumlah Rp. 45.887.000,00 dan
ini merupakan 5% dari DIP Badan Litbang Kesehatan sebesar
Rp. 841.275.000,00.
Untuk meningkatkan kegiatan penelitian penyakit tidak
menular perlu dikembangkan suatu jaringan kerjasama antara
Departemen Kesehatan, Universitas/Konsorsium Ilmu Kesehat-
an, dan badan-badan lain, baik pemerintah maupun swasta.
Lampiran
Proyek Penelitian 1982­1985
Pusat Penelitian penyakit Tidak Menular
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
1.
Penelitian epidemiologi kecelakaan lalu lintas di Jakarta.
2.
Penelitian 131­I uptake dan scanning normal kelenjar gondok di
Sukabumi.
3.
Survai penyakit periodontal pada penduduk usia produktif di
Jawa Barat.
4.
Penelitian registrasi kanker Population Based di Yogjakarta.
5.
Survai beberapa· faktor risiko dari penyakit jantung koroner di
Jakarta.
6.
Penelitian kalibrasi output pesawat radioterapi.
7.
Penelitian kesehatan pegawai negeri yang menduduki jabatan
eselon I, II dan III di Jakarta.
8.
Survai kesehatan kerja pada industri kecil dan petani di wilayah Jabotabek.
9.
Penelitian frekuensi dan jenis gangguan mental emosional pada
pengunjung Puskesmas Tambora, Jakarta.
10.
Penelitian pola penyakit pada penduduk di daerah slum Jakarta.
11.
Penelitian gangguan metabolisme pada pasien retardasi mental
di Jakarta.
12.
Survai kesehatan gigi pada anak SD UKGS dan Non UKGS di
Jawa Tengah dan di DKI Jakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
6
background image
13.
Survai penyakit jantung pada masyarakat pedesaan di Ungaran Jawa
Tengah.
14.
Penelitian pengobatan otitis media akutadengan H
2
O
2
di Surabaya.
15.
Penelitian prevalensi hipertensi di Depok.
16.
Penelitian pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga mengenai
kanker di Cimanggis, Jawa Barat.
17.
Penelitian eksplorasi terhadap sebab-sebab terjadinya kebiasaan
merokok pada masyarakat Surakarta.
18.
Penelitian registrasi kanker Hospital Based di Bandung, Jogjakarta
dan Surabaya.
19.
Penelitian registrasi kanker di 17 laboratorium patologi.
20.
Penelitian pengaruh erobik terhadap derajat kesehatan jasmani
pada beberapa kelompok masyarakat di Surakarta.
21.
Penelitian penyakit jantung koroner pada dokter RSCM/FKUI.
KEPUSTAKAAN
1.
Rencana pokok Program Pembangunan Jangka Panjang Bidang
Kesehatan 1983/1984 ­ 1988/1989: Departemen Kesehatan RI
Jakarta, 1983.
2.
Rencana Pembangunan 5 tahun ke empat 1984/1985 ­ 1988/
1989. Buku III khususnya Bab. 22 (Ilmu Pengetahuan, teknologi
dan penelitian) dan Bab. 23 (kesehatan). Departemen Penerangan
RI, Jakarta 1984.
3.
Kebijaksanaan dan rencana Jangka Panjang Pengembangan Penelitian
bidang Kesehatan, Konsorsium Ilmu Kedokteran. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan RI Jakarta, 1982.
4.
Pola Dasar Pengembangan Kemampuan Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta
1985.
5.
Loedin AA. Pendekatan baru dalam penelitian kesehatan badan
Litbangkes. Jakarta, 1981.
6.
Ratna P Budiarso click. Laporan Survai Kesehatan Rumah Tangga
1980. Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan,
Jakarta, 1981.
7.
Djokomoeljanto R et al. A Community study of diabetes mellitus
in an urban population in Semarang, Indonesia Second Symposium of
Diabetes in Asia, Japan, 1975.
8.
Boedhi Darmojo R. Penyakit Kardiovaskuler di Indonesia Makalah
Seminar. Penyakit Kardiovaskuler, Badan
Litbang Kesehatan, Jakarta,
28 ­ 29 September 1981.
9.
Suriadi Gunawan; Laporan Hasil Penelitian Bidang Penyakit Tidak
Menular dan Radiologi 1975 ­ 1983. Pusat Penelitian Kanker dan
Pengembangan Radiologi Badan Litbang Kesehatan, Jakarta,
1983.
10.
Sistem Kesehatan Nasional. Departemen Kesehatan R.I. Jakarta,
1982.
11.
Suriadi Gunawan. Program Penelitian Penyakit Tidak Menular. Makalah
Penataran Tenaga Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Badan
Litbang Kesehatan, 10 Februari ­ 1 Maret 1986.
12.
Munir R dkk. Morbiditas dan Mortalitas di Indonsia; Suatu penelitian pada
6 desa di Yogjakarta dan Lombok, 1980. Lembaga Demografi FEUI,
Jakarta.
13.
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran : Penelitian sebab sebab
kematian di masyarakat, Kotamadya Bandung. Laporan
Penelitian Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi Universitas
Padjadjaran 1981/1982, Bandung.
14.
Sukarja IDG. Masalah Kanker di Rumah Sakit Dr. Sutomo, Surabaya.
Naskah Seminar Kanker Badan Litbangkes., tanggal 28­29
Agustus 1980, Jakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 7