Artikel
Review Hipertensi
di Indonesia, Tahun 1980 ke Atas
Kartari DS, MD, MBBS, MPH
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R..I. , Jakarta
PENDAHULUAN
Prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak diteliti di
beberapa rumah sakit dan di masyarakat yang menunjukkan
pada saat ini sudah betul-betul merupakan problem kesehatan
masyarakat dan memerlukan penanganan secara sungguh-
sungguh untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi langsung maupun tak langsung
l
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi,
antara lain :
a)
Faktor herediter didapat pada keluarga yang umumnya
hidup dalam lingkungan dan kebiasaan makan yang sama,
b)
Faktor usia berkorelasi positip antara umur dan tekanan
darah tinggi.
c)
Jenis kelamin : pria lebih tinggi daripada wanita, tetapi di
Indohesia terlihat pada beberapa penelitian lebih tinggi pada
wanita.
d)
Konsumsi garam : telah jelas ada hubungan, tetapi data pe-
nelitian pada daerah-daerah dimana konsumsi garam tinggi
tidak selalu mempunyai prevalensi tinggi
2
.
e)
Obesitas : telah diketahui adanya korelasi timbal balik
antara obesitas dan hipertensi
3
.
f)
Faktor geografis dan lingkungan : mempunyai peran dalam
hubungan dengan terjadinya hipertensi seperti penduduk di
pantai dan pedalaman pegunungan, daerah-daerah terisolir
rendah. Orang-orang yang telah bertransmigrasi, hipertensi
sangat berbeda dengan yang dari daerah asalnya.
g)
Faktor psikokultural . ada banyak hubungan antara psiko-
kultural dan hipertensi, tetapi belum dapat diambil kesimpulan.
Pekerjaan, pendidikan dan lain-lain tidak banyak pengaruh,
tetapi stres, psikososial akut menaikkan tekanan darah secara
tiba-tiba
3
.
ANGKA PREVALENSI HIPERTENSI DI INDONESIA
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah
banyak dikumpulkan dan menunjukkan, di daerah pedesaan
masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan
kesehatan. Baik dari segi case-finding maupun penatalaksanaan
pengobatannya jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian
besar penderita hipertensi tidak mempunyaikeluhan.
Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15%
.
tetapi angka-angka ekstrim rendah seperti di Ungaran, Jawa
Tengah 1,8%; Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian
Jaya 0,6%; dan Talang Sumatera Barat 17,8%. Nyata di sini,
dua angka yang dilaporkan oleh kelompok yang sama pada 2
daerah pedesaan di Sumatera Barat menunjukkan angka yang
tinggi. Hasil-hasil survai hipertensi di berbagai daerah
Indonesia dapat dilihat dalam lampiran 1. Oleh sebab itu perlu
diteliti lebih lanjut, demikian juga angka yang relatif sangat
rendah
4
.
Survai penyakit jantung padaorangusia lanjut yang dilaksa-
nakan Boedhi Darmojo, menemukan prevalensi hipertensi'
tanpa atau dengan tanda penyakit jantung hipertensif sebesar
33,3% (81 orang dari 243 orang tua 50 tahun ke atas). Wanita
mempunyai prevalensi lebih tinggi daripada pria (p0,05). Dari
kasus-kasus tadi, ternyata 68,4% termasuk hipertensi ringan
(diastolik 95104 mmHg), 28,1%) hipertensi sedang (diastolik
105129 mmHG) dan hanya 3,5% dengan hipertensi berat
(diastolik sama atau lebih besar dengan 130 mmHg). Hipertensi
pada penderita penyakit jantung iskemik ialah 16,1%, suatu
persentase yang rendah bila dibandingkan dengan prevalensi
seluruh populasi (33,3%), jadi merupakan faktor risiko yang
kurang penting. Juga kenaikan prevalensi dengan naiknya umur
tidak dijumpai
5
.
Dari pencatatan pelaporan Rumah Sakit di 27 propinsi
tahun 1985 oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, dari
semua penderita yang berobat jalan, 0,89% adalah penderita .
hipertensi.
Dari yang dirawat nginap di rumah sakit tahun yang sama,
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988 3
1.1% adalah penderita hipertensi
6
.
Menurut laporan Puskesmas tahun 1984, penderita dengan
penyakit darah tinggi adalah 0,9% dari seluruh pengunjung
7
.
Di Pulau Batam tahun 1981 telah dilakukan suatu survai,
pada sampel populasi sebesar 1025 jiwa golongan 15 tahun ke
atas didapati 14,4% yang menderita hipertensi
8
.
Pada tiga survai rumah tangga yang telah dilakukan oleh
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, tahun 1972,
1980 dan 1986, ada tendensi kenaikan prevalensi tekanan darah
tinggi dan hampir mereta meliputi semua daerah yang disurvai.
Pada survai tahun 1972 tercatat penderita dengan penyakit
kardiovaskuler 2,5% dengan urutan ke 2. Pada tahun 1980,
kejadian kardiovaskuler naik menjadi 5,2% dan menduduki
urutan ke 6, dan didapat kejadian hipertensi 3,3% dari yang
sakit. Pada tahun 1986 kardiovaskuler tercatat 9,84% dan
hipertensi 5,09% dari yang sakit
9
.
Menurut hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980,
persentase golongan orang yang usia lanjut telah bertambah,
disebabkan perbaikan dalam kegiatan pencegahan kesehatan
masyarakat dan peningkatan angka harapan hidup serta umur
rata-rata sewaktu meninggal yang bertambah pula
10
Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang
membangun di segala bidang perlu memperhatikan tindakan
mendidik untuk mencegah timbulnya penyakit seperti
hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif dan lain-lain,
sehingga potensi bangsa dapat lebih dimanfaatkan untuk proses
pembangunan. Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan
tindakan atau program pencegahan yang terarah.
Tujuan program penanggulangan penyakit kardiovaskuler
adalah mencegah peningkatan jumlah penderita risiko penyakit
kardiovaskuler dalam masyarakat dengan menghindari faktor
penyebab seperti hipertensi, diabetes, hiperlipidemia, merokok,
stres dan lain-lain. Di samping itu perlu diusahakan :
·
Peningkatan kegiatan olah raga pada masyarakat
·
Penerangan kepada masyarakat tentang penyakit jantung.
Pendekatan ini, primary prevention disebut primordial pre-
vention dan memerlukan mobilitas sumber-sumber masyarakat
melalui program-program nasional maupun internasional
11
Organisasi yang baik dan koordinasi dengan satu sistem
informasi yang sempurna pada tiap tingkat pelayanan kesehat-
an adalah salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah pe-
nyakit jantung.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menanggu-
langi hipertensi di masyarakat dengan beberapa program inter-
vensi, antara lain pengurangan faktor-faktor risiko dengan
perubahan cara hidup, pencegahan melalui integrasi program di
Puskesmas, pendidikan pada tenaga kesehatari cara-cara me-
lakukan case finding dan pendidikan kesehatan kepada masya-
rakat.
RINGKASAN
Hipertensi pada dewasa ini masih merupakan masalah yang
perlu ditangani secara sungguh-sungguh. Banyak, penelitian
telah dilakukan di rumah sakit-rumah sakit dan di masyarakat
dan prevalensi penyakit hipertensi menunjukkan tendensi me-
ningkat. Tiga kali survai rumah tangga juga menunjukkan ke-
naikan terus dari penyakit jantung, demikian pula di Pulau
Batam hasilnya sama saja. Oleh karena itu perlu penanganan
secara sempurna dengan satu sistem informasi dan pendekatan
LAMPIRAN
Tabel . Prevalensi Hipertensi di Indonesia*
(Community prevalence of Hypertension in Indonesia)
No.
Lokasi Survei
(Location of Survey)
Tahun
(Year)
Pulau
(Island)
Angka Prevalensi
Pria Wanita
Male Female
(%)
Total
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
Semarang (kota)
Semarang Fair (kota)
Randublatung (desa)
Kalirejo-Ungaran
(desa)
Kandangserang(desa)
Sumberpucung(desa)
Pulau Karimunjawa
(desa)
Arun-Aceh (desa)
Padang (kota)
Silungkang (desa)
Bungus-petani (desa)
Bungus-nelayan
(desa)
Pekanbaru (desa)
Bondo-Jepara (desa)
Suku Bangsa berlainan:
- Batak (kota/desa)
- Sunda (kota/desa)
- Jawa (kota/desa)
- Dgyak (kota/desa)
Jakarta (kota)
Sulawesi Utara
(pantai)
Sulawesi Utara
(pedalaman)
Talang-Sumbar
(desa)
Kedisan (desa)
Lae-lae pulau (desa)
Bontomanai (desa)
Lembah Balim (desa)
U. Pandang &
Sekitarnya
- daerah industri
- nelayan
- petani
- perumnas
Sekayu (desa)
Bandungan (desa)
Pegunungan
Ambarawa)
Mororejo
(desa pantai)
Perumnas Depok
Jaya (desa)
1975
1975
1975
1976
1978
1.978
1976
1978
1977
1977
1977
1977
1977
1977
1976
1976
1982
1982
1981
1981
1981
1981
1981
1984
1984
1985
1985
1986
Jawa
Jawa
Jawa
Jawa
Jawa
Jawa
-
Sumatera
Sumatera
Sumatera
Sumatera
Sumatera
Sumatera
Jawa
Sumatera
Jawa
Jawa
Kaliman-
tan
Jawa
Sulawesi
Sulawesi
Samatera
Bali
Sulawesi
Sulawesi
Irian
Jaya
Sulawesi
Sumatera
Jawa
Jawa
Jawa
7.5 10.9
7.6 10.0
6.0 11.6
0.9 2.7
6.0 7.4
9.6 12.2
11.2 12.2
4.3 6.3
6.2 0.0
24.2 17.4
7.5 5.0
7.0 10.2
10.5 8.8
8.4 13.4
8.5 4.9
5.0 10.9
7.5 15.0
6.6 5.5
14.6 13.6
8.8 14.4
6.1 5.1
18.6 17.4
13.2 10.2
9.1 9.7
5.4 8.3
0.7 0.6
10.8 11.7
9.5 9.8
5.4 8.3
7.9 8.3
5.6 7.7
2.1 6.0
5.9 6.2
18.4 12.7
9.3
8.2
8.6
1.8
6.8
11.1
11.8
5.3
7.3
19.4
6.3
8.3
9.5
11.2
6.6
8.6
11.4
6.1
14.2
11.8
5.6
17.8
11.6
9.5
7.0
0.6
11.3
9.5
7.3
8.1
6.7
4.2
6.1
15.4
* Hasil survei hipertensi dalam masyarakat (Kota = urban; desa =
rural village; pantai = coastal; pedalaman = inland area)
yang disebut primordial prevention, baik di tingkat desa mau-
pun kota, dengan program pencegahan yang terarah.
KEPUSTAKAAN
1.
WHO Tech Rep Ser 231 Arterial hipertension and Ischaemic Heart
Disease (Preventive aspects) Geneva, 1962.
2.
Imam Parsoedi, Abdulrachman. Epidemiologi hipertensi, Bagian
Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
Simposium hipertensi, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
4
Mada, Yogyakarta, 6 Maret 1982.
3.
Imam Parsoedi A. Obesitas dan hipertensi, Simposium obesitas
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang 1981.
4.
R. Boedhi Darmojo. Epidemiologi hipertensi, Seminar hipertensi.
Persatuan Ahli Penyakit Dalam, Semarang, 28 Mei 1983.
5.
R. Boedhi Darmojo et.al. Survai penyakit jantung pada orang usia
lanjut, Kopapdi V, Semarang, 1620 Juni 1981.
6.
Pencatatan Pelaporan Rumah Sakit Pelayanan Medik, 1985.
7.
Pencatatan Pelaporan Puskesmas, Bimbingan Kesehatan Masyara
kat, 1984.
8.
Laporan hasil survai Kesehatan Masyarakat, P. Batam 1126
Januari 1981.
9.
Ratna P. Budiarso House Hold survey 1976, 1980 dan 1986,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
10.
B.P.S. Census Penduduk 1980.
11.
WHO Community control of
WHO
meeting, Copenhagen/Geneva,
816 November 1972 (WHO/CVD/1972).
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988 5