TOKOH KITA
Prof. Satrio
Kata pengantar
Pada kesempatan ini Cermin Dunia Kedokteran telah memilih lagi se-
orang tokoh dalam bidang kesehatan yang patut dijadikan teladan bagi generasi
muda yang sudah atau akan terjun dalam cabangilmu ini, yaitu :
Prof. dr. Satrio
Salah satu alasan untuk memilih beliau ialah keutuhan kepribadiannya
atau integritasnya.
Sebagai guru besar dalam ilmu anatomi, beliau telah mengajar dan mendidik
sekian banyak mahasiswa yang diantaranya dewasa ini telah menjadi dokter dan
profesor.
Untuk beberapa waktu lamanya beliau juga pernah mengabdi negara sebagai
Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Sewaktu perjuangan fisik beliau telah menjalankan tugas kemanusiaan dengan
berbagai inovasi dan modifikasi untuk menghadapi keadaan yang serba kurang
dan sulit. Kini beliau masih menyumbangkan pengalaman dan pengetahuannya
di Palang Merah Indonesia.
Semoga hasil wawancara ini dapat menjadi inspirasi bagi ternan-teman sejawat
sekalian.
Apa tidak salah pilih ? Itulah kata-
kata pertama yang kami dengar dari
Prof Satrio ketika kami mengutarakan
maksud kedatangan kami. Beliau nampak
masih segar berwibawa dan bersifat ra-
mah. Profesor, kelahiran Banyuwangi
63 tahun yang lalu ini menyelesaikan
pendidikan kedokterannya di Jakarta pa-
da tahun 1942. Sebelumnya beliau men-
dapat pendidikan dasar di HIS Banyu-
wangi, Mulo di Ketabang -- Surabaya dan
AMS di Malang.
Semasa menjadi mahasiswa, demikian
beliau memulai, saya pernah menjadi
asisten mahasiswa dibagian Anatomi ber-
sama-sama dengan Prof Yo Kian Tyai
selama satu tahun. Pada waktu itu untuk
ujian kandidat saya memperoleh hasil
cumlaude. Setelah lulus dokter saya men-
jadi asisten di bagian Pediatri selama
satu tahun. Kegiatan ini terpaksa dihen-
tikan waktu tentara Jepang menyerang
dan menguasai Indonesia. Sewaktu pendu
dukan Jepang dan sekolah dibuka kemba-
li saya diberi tugas untuk memimpin
bagian Anatomi. Disinilah mulai periode
penting dimana kuliah-kuliah harus kita
berikan dalam bahasa Indonesia agar ti-
dak di "Jepangkan," karena pihak Jepang
mendatangkan Profesor-profesornya sendi
ri. Ini dilakukan secara sembunyi-sem-
bunyi, yaitu sebelum praktikum yang
memakan waktu dua jam, setengah jam
pertama kami pakai untuk memberi
kuliah dalam bahasa Indonesia.
Pada waktu itu jumlah mahasiswa cukup
besar yaitu kira-kira 180 orang karena
mahasiswa dari Surabaya dan
Jakarta
digabung menjadi satu dan yang membim-
bing hanya saya, Prof Radioputro dari
Yogya dan dr Djohar dari Malang. Kedua
dokter yang disebut terakhir membantu
memimpin praktikum pagi dan sore hari
dan ujian kadang-kadang dilakukan ma-
lam hari. Semua diktat, penuntun prak-
tikum dan preparat, kami usahakan da-
lam bahasa Indonesia. Pada saat itu Prof
Mahar Mardjono. Dr Iwan Santoso, dr
Sukaman, dr Suwardjono termasuk dian-
tara mahasiswa-mahasiswa yang kami bim
bing. Saya secara pribadi merasa bangga
akan hasil mereka.
Saat itu keadaan memang benar-benar
sulit, beras dijatah, hanya sebanyak 150
gr sehari sehingga harus dicampur dengan
singkong, jagung dan sebagainya. Tetapi
pendidikan dokter berjalan terus. Hal ini
berlangsung terus sampai tahun 1945
pada waktu itu saya diangkat menjadi
asisten Profesor.
Setelah proklamasi dicetuskan oleh
Bung Karno, kita dihadapkan pada per-
juangan kemerdekaan dan dr Radioputro
meneruskan pendidikan Anatomi kepada
mahasiswa di Klaten. Dokter Djohar
bertugas di Jawa Timur dan saya menda-
pat tugas di Palang Merah di daerah Ka-
rawang-Bekasi-Jakarta, sebagai pemimpin
barisan penolong korban pertempuran. Pa
da bulan Desember 1945 selaku dokter
tentara saya mendapat tugas ke daerah
Banten yang saat itu terkenal sebagai
daerah "trouble spot." Untuk mencapai
daerah tersebut sukar sekali karena ten-
tara Gurka sudah menduduki daerah
Pesing. Satu-satunya jalan ialah meminta
bantuan dr. Djaka yang saya anggap cu-
kup mengetahui keadaan disana dan da-
pat membantu gerakan kami. Dengan
mengikuti kompi TKR Tanggerang yang
mengawal Rapwi (suatu badan interna-
sional yang menolong orang-orang yang di
tawan Jepang) ke Bandung. Dengan me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
5
ngikuti rombongan tersebut kami dapat masuk daerah Banten.
Sampai disana secara berdikari kami berhasil memperoleh se-
buah truck kecil, obat-obatan dan alat-alat kesehatan yang
kami boyong dari RSUP. Maka dapatlah kami mulai bero-
perasi sehingga tidak ada kesulitan lagi yang kami jumpai.
Hal ini merupakan pengalaman yaitu pendekatan dengan cara
memberi apa yang ada pada kita kemudian baru menerima.
Kalau kita baru datang sudah minta ini dan itu pasti tidak
akan disenangi. Mungkin prinsip ini dapat dipakai sebagai po-
la bagi dokter-dokter Puskesmas yang bertugas di daerah.
Dengan pendekatan seperti yang tersebut diatas, daerah yang
tadinya dikwalifikasikan sebagai daerah gawat dan sukar
ternyata sama sekali tidak ada kesulitan.
Sampai tahun 1948 Belanda belum masuk juga ke daerah
Banten walaupun Siliwangi sudah hijrah. Banten saat itu
berdiri sendiri dan mencetak mata uang sendiri, uang Republik
Indonesia daerah Banten, karena hubungan dengan Yogyakarta
terputus. Bensin saat itu sulit sekali, sampai-sampai karet kami
olah menjadi bensin. Transportasi selain mobil, juga lori yang
dilengkapi dengan mesin dan dijalankan di atas rel kereta
api kami pergunakan. Gerbong-gerbong kereta api kami pakai
juga sebagai kamar operasi dan kami mendapat tenaga-tenaga
perawat dari sukarelawan-sukarelawan.
Pada akhir tahun 1948, bulan Desember ada serbuan Be-
landa, saat itu saya sudah menikah (tahun 1947, walaupun
hanya
"
nikah radio
"
saja). Pada saat itu istri saya dari Jawa
Timur menyusul ke daerah Banten dengan pesawat udara me-
lalui Jakarta dan oleh seorang kurir diselundupkan ke Serang.
Ini merupakan romantikanya perjuangan istri saya sendiri.
Pada waktu Belanda menyerbu, kami mengungsi ke daerah
Badui (Banten selatan) dengan persediaan obat-obatan, beras
dan lain sebagainya. Salvarsan yang saat itu merupakan obat
yang ampuh untuk Frambusia, emergency set amputasi, alat
destilasi air darurat juga kami bawa sebagai perlengkapan kami.
Kami berpindah-pindah terus selama sembilan bulan sambil
memberikan bantuan kepada tentara yang luka dan juga mem-
berikan bantuan kepada rakyat yang menderita sakit. De-
ngan mengobati penduduk kami tidak lagi tergantung selu-
ruhnya dari suplai induk pasukan karena sebagai imbalan pen-
duduk memberikan tiga liter beras untuk sekali suntikan
salvarsan. Sering juga kami melakukan operasi pada malam
hari untuk menolong anggauta tentara yang luka. Pernah kami
terpaksa melakukan amputasi tangan seorang yang terkena
pecahan granat karena sebagian tangannya sudah mengalami
nekrosis. Pada saat itu obat yang tersedia hanya penthotal
maka dengan satu ampul penthotal dan seorang suster yang
membantu, kami melakukan amputasi dan berhasil. Sampai
sekarang orang tersebut masih hidup.
Kemudian di daerah Banten terjadi wabah cacar, saya ha-
nya mempunyai beberapa ampul vaksen. Setelah mengetahui
bahwa di daerah pantai selatan ada seorang mantri cacar ma-
ka dengan berjalan kaki selama empat hari saya sampai di Ma-
lingping dan berhasil bertemu dengan mantri cacar tersebut.
Ternyata dia hanya memiliki 25 ampul vaksen yang untuk
pencacaran masal tidak akan cukup. Setelah mengetahui bah-
wa mantri tersebut pernah bekerja di Laboratorium Pastur di
Bandung, maka kami memutuskan untuk membuat vaksen
sendiri. Secara gotong royong kami memperoleh seekor ker-
bau yang dapat kami pakai untuk membuat vaksen. Dengan
kerbau, glycerin (yang kami peroleh dari pos yang sudah di-
duduki Belanda) dan gilingan kopi (yang kami peroleh dari
penduduk) masalah vaksen dapat kami atasi. Setelah vaksen
kami peroleh, kami mulai mencacar penduduk dari satu desa
ke desa yang lain. Bila di suatu desa vaksen tersebut habis,
kami mencari kerbau lagi untuk dibuat vaksen.
Kami melakukan semua ini dengan berjalan kaki dan area
yang
dijelajahi kira-kira berradius 150 km2, dari Malingping
ke Labuan, Ujung Kulon, daerah Badui sampai di sebelah uta-
ra Bogor. Berminggu-minggu kami berjalan naik turun gunung,
sambil menghindari mata-mata musuh. Saya merasa gembira
sekali karena mendapat jalan keluar dari kesukaran-kesukaran
yang saya harus hadapi waktu itu. Biasanya, masalah apapun
yang kita hadapi, kalau kita mau melakukannya dengan kemau
an yang cukup kuat, pasti akan ada jalan keluarnya. Suatu hal
yang membuat keadaan menjadi lebih sulit waktu itu ialah :
saya mendapat titipan seorang bekas komandan kompi yang
menderita schizophrenia.
Waktu saya bertugas selama itu, istri saya tetap tinggal di
Pandegelang, sedang hamil lima bulan. Anak pertama saya
kemudian lahir ditolong dengan forceps oleh
Prof
Dradjat (bekas Dir Jen Dep Kes) yang saat itu bertugas di Se-
rang. Bila tidak mempunyai istri yang mau dan rela tinggal
seperti itu mungkin tugas perjuangan saya tidak akan bisa ter-
laksana dengan baik.
Ini juga mungkin merupakan prinsip bahwa ketahanan keluar-
ga sangat penting untuk suksesnya suatu mission. Jadi dokter
yang dikirim ke daerah bila keluarganya mogok maka akan
terjadi banyak kesulitan yang dapat merusak tugas.
q Kesan-kesan sebagai Menteri Kesehatan. Pada saat menjabat
Menteri Kesehatan tahun 1959, anggaran waktu itu hanya
600 juta rupiah (sekarang 60 milyard). Beberapa hal telah
dapat dicapai waktu itu seperti : di sahkannya undang-undang
pokok kesehatan, yang selama bertahun-tahun sebelumnya ti-
dak juga berhasil dikeluarkan. Proyek lain yang juga menda-
tangkan manfaat adalah pemberantasan Malaria di Jawa dan
Bali. Tapi karena aksi pemboikotan kita dan keluarnya kita da-
ri PBB maka proyek pemberantasan malaria tersebut terhenti.
Beberapa azas politik bebas dan aktif sesudah itu membawa
manfaat bagi dunia kesehatan di negara kita. Selain bantuan
susu untuk BKIA dari Amerika
kita juga mendapatkan
bantuan lain berupa kunjungan kapal "HOPE" yang mem-
bantu pelayanan kesehatan. Juga kerja sama dengan Rusia
dalam membangun Rumah sakit Persahabatan di Rawa-
mangun.
Pada waktu itu saya memberi kesempatan yang sama kepa-
da rumah-rumah sakit swasta untuk berkembang bersama-sama
dengan rumah sakit pemerintah.
Setiap dokter harus menjadi dokter Inpres, ini merupakan
realisasi dari undang-undang pokok kesehatan tadi. Di Indo-
nesia dokter merupakan sarjana yang paling rata tersebar di-
seluruh pelosok Indonesia dibanding sarjana-sarjana lain dan
banyak membantu masyarakat. Rupa-rupanya sejak tahun
1908 sampai saat ini dokter masih merupakan pelopor.
q
Pengambil alihan RSPAD. Hal lain yang merupakan penga-
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
laman yang cukup berkesan bagi saya adalah waktu sebelum
menjabat sebagai Menteri Kesehatan ialah sewaktu saya di-
tugaskan untuk mengambil
alih Rumah Sakit
Ten-
tara (RSPAD), suatu rumah sakit terbesar di Indonesia saat
itu. Dengan 1000 tempat tidur, 60 dokter spesialis dan nonspe-
sialis, perawat dan 400 pegawai lainnya. Saat itu sampai dua
minggu lamanya saya tidur di Rumah Sakit untuk mengetahui
seluk beluk rumah sakit tersebut.
Dengan tiga orang dokter dan 12 perawat kami memulai tu-
gas kami. Dalam hal ini kami mendapat bantuan dari RSUP
seperti Prof. Johanes, ahli radiologi; Prof. Djuwari, ahli kulit;
dr. Sujudi, ahli kebidanan; dr. Marsetio, ahli mata; dr. Sen-
duk, ahli bedah dan beberapa ahli lainnya.
Dengan seorang perawat Indonesia yang pemah mendapat
pendidikan di negeri Belanda kami menghadapi para perawat
dan mengadakan pendekatan. Karena saya anggap perawat
merupakan tulang punggungnya rumah sakit, oleh karena
kalau mereka mogok bisa kacau.
Dalam program KB sebenarnya kami di dalam Puskes
ABRI sudah memulai programnya secara sembunyi-sembunyi
sebab pada waktu itu tidak disetujui oleh Bung Karno. Dan
ketika seorang deputy dari Bapenas menanyakan kepada kami
tentang program KB, maka kami anjurkan untuk melaksana-
kannya melalui sarana kesehatan sebab sarana ini merupakan
satu-satunya sarana yang paling akseptabel oleh masyarakat.
Dengan dibentuknya LKB-ABRI dan diketuai oleh dr. Suwar-
djono maka selanjutnya dengan bantuan World Bank dapat
berkembang dengan baik menjadi BKKBN.
q
Palang Merah Indonesia dan aktivitasnya.
PMI bersifat suka-
rela, tetapi walaupun demikian tergantung inisiatip juga. Pada
tahun 1970 genap sudah 25 tahun kemerdekaan Indonesia, de-
mikian pula PMI sudah berusia 25 tahun. Saya saat itu terpi-
lih menjadi ketua umum PMI. Untuk membangkitkan sema-
ngat nasionalisme kembali maka tokoh-tokoh yang pernah ber-
jasa seperti Bung Hatta, Pak Bander Johan kami beri penghar-
gaan. Agar kenangan nasionalisme mulai hangat kembali.
Hal baru kami cetuskan untuk melayani masyarakat adalah
"
ambulans jalan raya
"
yang beroperasi antara Jakarta -- Ban-
dung, secara kebetulan Bogor dengan rumah sakit PMI ada
ditengah-tengahnya. Ternyata ambulans jalan raya ini cukup
populer dewasa ini.
.
Mengenai transfusi darah. -- Dulu banyak sekali calo-calo da-
rah, untuk mengatasi hal ini berbagai cara kami kerjakan an-
tara lain dengan klinik transfusi darah keliling, membuka unit-
unit PMI di rumah-rumah sakit dan lain sebagainya. Sehingga
saat ini darah sudah mudah didapat. Ini merupakan pelayanan
kemanusiaan yang nyata.
.
PMI dalam prinsipnya harus berdiri sendiri, netral tetapi
dengan situasi di Indonesia ini sedikit banyak pemerintah tidak
bisa tidak membantu. Jadi sedikit banyak pemerintah mem-
bantu juga. Tapi sebagian besar kami berusaha sendiri. Sebagai
contoh misalnya untuk dinas transfusi darah Dep-Kes mem-
berikan botol yang jumlahnya
relatif masih sangat
kurang dibanding kebutuhan kami. Darah diberikan dengan cu-
ma-cuma dan pemakai hanya dibebankan ongkos pelayanan sa-
ja. Bantuan pemerintah pada tahun 1970 berjumlah Rp. 15
juta, sekarang Rp 60 juta sedangkan biaya untuk markas be-
sar saja berjumlah Rp 200 juta setahun. Biasanya kekurang-
annya kami tutup dengan hasil bulan dana PMI dan dari
penyumbang sukarela lainnya.
Di negara lain andil pemerintah ada yang 10% bahkan dibe-
berapa negara sampai 90%.
Setiap kali ada bencana alam kami harus mengumpulkan ba-
rang untuk dikirimkan ketempat bencana. Hal ini kami rasa-
kan merepotkan. Pada akhirnya kami membuka depot-depot
yang sekarang berjumlah 20 buah sehingga bila terjadi suatu
bencana kami langsung dapat menginstruksikan depot-depot
tersebut untuk mengadakan dropping barang-barang yang di-
perlukan.
Seperti yang terjadi baru-baru ini di Lombok,
Larantuka dan sebagainya. Pada depot-depot tersebut sudah
tersedia tenda poliklinik yang dapat melayani 10.000 orang,
dapur lapangan, persediaan pakaian, mesin jahit dan uang un-
tuk beli beras dan lain sebagainya. Pokoknya semuanya dapat
dimobilisir dalam waktu singkat untuk menolong masyarakat.
Keadaan yang tersebut di atas merupakan hal-hal yang biasa.
Untuk hal-hal yang tidak biasa seperti halnya Timor Timur;
begitu ada berita adanya pengungsi dari Timor Portugis mema-
suki Timor Indonesia maka kami langsung mengirim petugas
untuk mengadakan diagnosa keadaan. Selanjutnya kami lang-
sung membentuk task force yang terdiri dari tim dokter, su-
karelawan, perawat disertai obat-obatan, makanan, susu dan
sebagainya untuk diberangkatkan kesana. Rumah sakit yang
kosong kami aktifkan kembali, total pada saat itu selama dua
tahun kami telah menghabiskan seluruhnya 600 juta rupiah.
Kami bisa menolong banyak orang dengan dana sebesar itu.
Situasi sekarang ini dan generasi muda.
Karena perubahan
zaman dan juga sebagian karena kesalahan generasi tua sendiri
maka generasi muda yang sudah belajar di luar negeri, sudah
sering keluar negeri, menginginkan juga kebutuhan yang sama
dengan yang diperoleh diluar negeri setelah mereka kembali
ke tanah air. Ini memerlukan penerangan tentang patrio-
tisme. Walaupun bekerja diluar negeri akan mendapat gaji yang
lebih besar tapi bekerja di tanah airkan kita bekerja untuk ke-
luarga sendiri!
Dengan adanya hal-hal
yang sophisticated, obat-obat baru,
maka penilaiannya lain lagi. Dulu resep harus ditulis dengan
berpikir, sekarang karena banyaknya obat paten yang beredar
serta banyaknya detailer yang memperkenalkan obat-obat ter-
sebut dokter tak perlu banyak pikir lagi. Tapi masyarakat ke-
uangannya masih belum sampai, oleh karena itu pemerintah-
lah berkewajiban untuk menanganinya. Sebagai contoh untuk
masuk RS Cikini atau Carolus bila kelas I mungkin dapat sam-
pai Rp. 50.000,-- sehari dengan biaya obat-obatan, dokter
dan pemeriksaan laboratorium. Ini tidak akan mungkin ter-
jangkau oleh sebagian besar masyarakat kita, ini merupakan
problem kita.
Jadi antara undang-undang dengan realitas masih banyak per-
soalan yang memerlukan kerja sama yang baik antara dokter
dengan masyarakat. Ini merupakan tanggung jawab yang me-
merlukan perasaan yang mendalam berdasar perikemanusiaan.
Menurut saya soalnya merupakan soal pembinaan. Dokter-
dokter muda sebenamya cukup responsip tapi godaannya be-
sar. Kadang-kadang pasiennya sendiri yang meminta obat-
bersambung ke h
alaman 38
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
7