background image
BEBERAPA ASPEK PENYAKIT GONDOK
DI INDONESIA
Dr. R. Djokomoeljanto
Bagian Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
R.S. Dr. Kariadi
Semarang.
SUMMARY
The normal physiology of the thyroid gland is presented
to enable the reader to understand its role in the somatic as
well as the mental development of the whole individual from
conception to adulthood.
Two brain growth spurts (e g irreversible vulnerable perio-
des)can be identified ; one is during the 10 -- 18 weeks gesta-
tion and the other more important is 25 weeks onward conti-
nued until three to four years post natal. The myelinization
may continue until 18 years.
Early diagnosis and treatment of hypothyroidismboth , the
congenital as well as the juvenile type is imperative. The same
is true for endemic cretinism, type for which mass prophy-
laxis is the treatment of choice since the whole community
is at risk.
PENDAHULUAN
Kiranya tidak mungkin bagi kami mereview semua hal
tentang seluk beluk penyakit gondok dalam waktu sesing-
kat ini. Meski demikian akan dicoba menyoroti beberapa
hal yang kami anggap penting bagi dokter umum khususnya
yang bekerja di daerah, di Puskesmas. Meskipun dasar ilmiah
sangat penting, namun dalam pelaksanaannya pendekatan
klinik akan merupakan inti dari tulisan ini.
Untuk mencapai tujuan ini, maka berturut-turut akan
dibahas secara singkat :
· Fisiologi kelenjar gondok,
· Perkembangan kelenjar gondok fetus dan pengaruhnya
terhadap perkembangan somatik dan susunan saraf
pusat,
· Capita selecta penyakit gondok yang kami anggap
relevan, serta,
· Anjuran dan penutup.
FISIOLOGI KELENJAR GONDOK
Bahan utama bagi pembentukan hormon thyroid adalah
Iodine. Ini terdapat banyak dalam bahan yang berasal dari
laut (ikan laut, ganggang, dan sebagainya), atau terdapat
dalam alam masuk tubuh lewat minuman serta makanan.
Nasib unsur Iodine tersebut yang sudah berada dalam saluran
makanan adalah sebagai berikut
(CRYER
1976,
EVERED
1976,
MC
KENZIE
1976,
INGBAR
1974) :
Unsur Iodine diserap usus, masuk sirkulasi dan ditangkap
oleh bermacam-macam kelenjar, antara lain : choroid, ciliary
body, kelenjar susu, plasenta, kelenjar air ludah, mukosa lam-
bung serta intestinum tenue dan paling banyak oleh kelenjar
gondok. Hanya yang terakhir akan disinggung, sebab yang lain
tidak mempunyai arti fisiologik maupun klinik.
Prosesnya meliputi tujuh langkah :
(1). Penangkapan iodide ("iodide trapping
"
) oleh folikel,
yang merupakan proses aktif.
(2). Organifikasi, dalam mana terjadi oksidasi iodine menem-
pati valensi lebih tinggi yang diteruskan dengan iodi-
nasi oleh unsur ini terhadap residu tirosil molekul
thyroglobulin, untuk membentuk MIT (monoiodoty-
rosin) dan DIT (diiodotyrosin).
(3). Proses coupling, terjadi pembauran MIT dan DIT mem-
bentuk T3 (triodotyronin) dan dua DIT membentuk
T4
(thyro)dn). Keduanya masih dalam molekul thyro-
globulin (TG).
(4). Penyimpanan TG yang mengandung MIT, DIT, T3
dan
T4
ke dalam kolloid.
(5).
Proteolisis. Pelepasan ikatan TG dengan hormon di
atas. Pelepasan ini dipengaruhi protease enzim. Efek
TSH terutama ialah memindah TG--hormon tadi dari
kolloid ke sel folikel, dan baru disini
dicerna oleh
enzim proteolisis.
(6).
Deiodinasi. Sebetulnya merupakan usaha meningkatkan
efektivitas dan efisiensi unsur Iodine. Dari empat iodo-
tyrosin dan iodotyronin tadi hanya iodotyronin (T3,
T4)
yang secara biologik dan fisiologik aktif. Oleh
karenanya MIT dan DIT dipecah lagi menjadi unsur
Iodine dan gugusan tyrosil, yang kemudian kembali
lagi dalam siklus hormonogenesis.
(7).
Pelepasan hormon : baik
T4
maupun T3 dikeluarkan
dari kelenjar, tetapi sebagian besar adalah
T4.
Hormon yang berada dalam sirkulasi diangkut oleh protein,
yaitu : TBG (thyroid binding globulin), TBPA (binding preal-
bumin) dan albumin. Di samping yang bound ada juga yang
"
free
"
,
FT4
maupun FT3, yang merupakan hormon aktif
dan efektif, lagipula inilah yang efektif dalam mekanisma
umpan balik dengan hipofise maupun hipotalamus. Kira-
kira 0,04% thyroxin dan 0,4% triiodothyronin dalam keadaan
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
5
background image
bebas.
Sebagian besar
T4
(80%) dimetabolisir dengan cara de-
iodinasi diperifer dan kira-kira 50% membentuk T3. Berda-
sar hal ini dan sebab lainnya, thyroxin dianggap sebagai
"prohormon" sedangkan T3 sebagai active-hormonnya. Hal
ini dibuktikan dengan data yang memperlihatkan penderita
athyreotic yang dibuat euthyroid dengan
T4
sintetik, maka
dalam darahnya terdapat kadar T3 yang normal. Sebagian
kecil thyroxin tidak di-deiodinasikan, tetapi terkonjugasi
dan diekskresikan lewat empedu. Meskipun ada sirkulasi
enterohepatik, toh sebagian ada yang dikeluarkan di tinja
maupun di urine.
Pengaturan aktifitas kelenjar gondok dipengaruhi oleh
hormon TSH dari lobus anterior hipofisis, yang sebaliknya
ia masih diatur oleh hipotalamus (TRH thyroid releasing
hormone). Kenaikan free hormon T3 dan
T4
akan menurun-
kan, sebaliknya penurunan kadarnya akan menaikkan sekre-
si TSH sebagai umpan baliknya. Umpan balik ini terutama
lewat hipofisis, meskipun kemungkinan lewat hipotalamus
belum dikesampingkan. Dengan demikian semua keadaan yang
disertai kurangnya kadar hormon dalam sirkulasi akan me-
ningkatkan TSH (pada hipothyroidi, baik compensated mau-
pun decompensated hypothyroidism). Kenaikan TSH diikuti
hiperplasi dan hiperfungsi kelenjar gondok.
Di samping
pengaturan ini, masih ada
"
autoregulation
"
oleh kelenjar
sendiri, yang
berusaha
mengatur
Iodine intrathyroidal.
Sebagai contoh : apabila ada defisiensi Iodine ringan maka
reaksi tubuh pertama ialah meningkatnya uptake meskipun
TSH tetap.
Pada penyakit GRAVES, dulu dianggap sebab utamanya
ialah akibat stimulus TSH, namun hakekatnya tidak sede-
mikian mudah. Stimulator yang berperanan di sini ialah :
LATS. Sekarang ada bermacam-macam TSI ini (thyroid sti-
mulating immunoglobulins) di antaranya LATS -- p (protec-
tor), HTS (human thyroid stimulator) dan H -- TACS (human
thyroid adenylcyclase stimulator) (Mc KENZIE 1976, SALO
MON, KAREN dan KLEEMAN, 1976).
Sehubungan dengan tahap/step hormonogenesis di atas,
maka obat, zat yang berpengaruh dalam pembentukan hor-
mon ini dapat digolongkan menurut titik tangkap kerjanya,
yang semuanya memberikan kurangnya sekresi hormon.
Iodine
dalam kadar banyak (step 2, 3, 4, 5), thiocyanat,
perchlorat, perjodat, nitrat, goitrin dan progoitrin (step 1),
thiourea, PTU, MTU, methimazol, PAS, sulfonylurea, sulfo-
namide (step 2, 3).
Perlu diketahui zat yang dapat lewat atau tidak dapat
lewat plasenta. Yang dapat lewat, antara lain : unsur Iodine,
antithyroid drugs (PTU, MTU dan sebagainya), LATS, TRH.
Yang tidak dapat lewat : TSH. Mengenai T3 dan
T4
dapat
disimpulkan bahwa terdapat transfer ini tetapi jumlahnya sa-
ngat sedikit pada manusia, sedangkan pada domba malahan
hanya T3 yang lewat sedangkan
T4
tidak. (DUSSAULT et al
1972).
Apabila kadar Iodine intrathyroidal kurang (seperti pada
pengobatan dengan ATD, defisiensi Iodine, kerusakan karena
radiasi) maka kelenjar akan membuat lebih banyak T3 dari-
pada
T4,
demikian juga sekresinya. Di sini terdapat
"
preferen-
tial secretion
"
(PATEL 1973, DELANGE 1972). Tujuannya
kiranya jelas : lebih ekonomis dan efeknya lebih kuat.
PERKEMBANGAN KELENJAR GONDOK FETUS DAN
PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN
Perkembangan fetal thyroid dapat dibagi dalam tiga fase :
tahap prekolloid (hari 47 -- 72), tahap kolloid (73 -- 80)
dan follikuler. Dalam minggu 10 -- 12 kelenjar telah dapat
menampung radioiodine dan membuat iodoprotein. Pada
permulaan kehamilan hormon ini terikat pada TBPA yang
makin lama dioper oleh TBG. Kadar free
T4
naik terus se-
hingga mencapai kadar waktu lahir pada minggu ke 20. Kadar
T3 sangat rendah sebelum minggu ke 24 tetapi kemudian
naik juga. TSH sudah dapat ditemukan dalam hipofise maupun
serum pada minggu ke 12. Seperti disinggung di atas, T3
dan
T4
pada manusia dan binatang lain melewati plasenta
hanya dalam jumlah yang sangat kecil. Tetapi dikatakan juga
transfer T3 jauh lebih cepat dari pada transfer
T4.
Bagaimana-
pun juga perlu ada penelitian yang lebih banyak mengenai
soal ini. (COSTA 1972, TABUCHI et al 1974, CZERNICHOW
1975, FISHER 1975, GOSLINGS 1975).
Nampaknya perkembangan fetus sampai minggu ke 12
praktis dapat terjadi tanpa pengaruh hormon thyroid (ingat
bahwa ada beberapa laporan bayi lahir normal dari ibu yang
jelashipothyroid)meskipun patogenesanya belum jelas hingga
kini. Jelas bahwa sistem hipofise--thyroid sudah bekerja sejak
minggu ke 12. Sekarang bagaimana peranan hormon thyroid
ibu terhadap anak yang dikandungnya ? Adakah transfer
hormon yang berarti ? Meskipun TRH dapat lewat plasenta
namun kadarnya sedemikian kecil untuk memberikan efek
fisiologik pada fetus, lagipula TSH tak melewatinya. Mungkin
juga elemental iodine berpengaruh langsung terhadap pertum-
buhan (PHAROAH 1971).
Sehubungan dengan ini baiklah ditinjau perkembangan
susunan saraf manusia. Penelitian pada manusia memang
masih sangat terbatas, sebab sukar sekali mendapat material
dan apalagi membuat keadaan yang murni, maka itu banyak
pengetahuan kita berdasarkan atas extra-polasi data binatang.
Tentu saja harus diingat hendaknya konklusi yang dibuat ha-
rus cukup hati-hati. Berdasarkan pemeriksaan kimiawi, enzi-
matik, anatomik perbandingan, maka dapatlah diambil kesim-
pulan sebagai berikut (DOBBING
1975,
DOBBING
and
SANDS 1973, COSTA 1972, BALAZS 1975) :
(a). Ada dua growth -- spurt yang dialami s s p manusia,
dimana nampaknya growth kedua lebih penting arti-
nya dari yang pertama :
· Antara minggu ke 10 -- 18, terutama multiplikasi
neuron (neurogenesis dikatakan melulu terjadi dalam
fase ini terutama, meskipun masih diteruskan postna-
tal di beberapa bagian lain khususnya cerebellum).
Ini disebut
"
pre-growth-spurt".
· Growth-spurt yang terjadi pada minggu ke 25 dan
seterusnya sampai tiga sampai empat tahun post
natal. Perkembangan ini lebih ke sel glia.
(b). Proses mielinisasi berjalan bersamaan dengan kedua
growth spurt di atas, malahan berjalan lebih lama lagi.
6
Cermin Dunia Kedokteran No.
14, 1979
background image
(c).
Pembentukan dendrit dan cabangnya akan membentuk
hubungan sinaps. Ini dianggap sebagai jaminan untuk
"higher mental function" anak tersebut.
(d). Otak lebih plastis selama masa pembentukan yang se-
sungguhnya jika dibandingkan dengan masa-masa sesu-
dahnya, dan mempunyai sifat "once-only-periods of op-
ortunity to grow well". Dengan demikian masa ini se-
suai dengan perioda vulnerabel, dan malahan sebagai
"irreversible
vulnerability".
All-or-none
phenomen.
Suatu contoh yang jelas adalah terjadinya microcephali di
Jepang sekitar daerah bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
Apabila ditelusur maka bayi tersebut dikandung dalam kan-
dungan 18 minggu atau kurang. Khusus mengenai synaptoge-
nesis dan arborisasi dendrit, dikatakan bahwa pada bina-
tang, kekurangan thyroid menyebabkan seluruh bagian otak
depresi. Kalau masing-masing sel otak cerebellum mempu-
nyai "
hari jadi "
sendiri-sendiri, maka bisa dibayangkan akibat
yang terjadi karena gangguan luar dipengaruhi oleh jumlah
yang terkena, waktu lama hambatan dan kelompok sel yang
terganggu.
Yang thyroxin hormone dependant ialah pertumbuhan
mielin (perpanjangan rantai asam lemak), sintesa protein,
arborisasi dan interkoneksi (DUNN 1972, MENKES 1975).
Kelainan mental endokrin pada usia dewasa biasanya re-
versibel, tak demikian halnya dengan akibat gangguan hormon
pada masa periode perkembangan tertentu
(BALAZS
1972).
Baik gangguan hormonal maupun nutrisi dapat memberikan
gangguan permanen.
Efek defisiensi thyroid dan nutrisi terhadap perkembangan
s.s.p.
Th
yroid
Undernutrition
De
ficiency
Berat otak
kurang
kurang
Jumlah sel akhir
t e t a p
kurang
Poriode pembentukan sel postnatal
diperpanjang
t e t a p
(cerebellum)
Bcsar sel
mengecil
t e t a p
Neuron
a. pembentukan dendrit
kurang
normal
b. hubungan sinaps
terlambat
normal
Glia
a. Jumlah mielin
kurang
kurang
b. struktur mielin
t e t a p
berubah
E n z i m (GDC,
A. Ch. Est,
Succ.
DH)
kurang
tak ubah
Behaviour (innate atau adaptive)
terganggu
terganggu
Disadur dari : Balazs,
1972.
Apabila pertumbuhan ssp ini dihubungkan dengan pertum-
buhan telinga, maka dari analisa data embrio manusia dapat
disimpulkan bahwa pada minggu ke enam mulai timbul telinga
dalam dan luar, sedangkan sejak minggu ke sepuluh organa
Corti mulai berdiferensiasi yang selesai pada minggu ke 20
(GOSLINGS et al 1975). Hal ini diperkuat oleh data
BARGMAN dan GARDNER (1967) yang menunjukkan bahwa
ada kelainan
spesifik yang konsisten
pada cilia dan
sel ganglion spiralis pada embrio ayam yang berumur sepuluh
hari yang disuntik PTU dan dapat dicegah dengan memberi-
kan thyroxin bersama PTU.
Yang terpenting dari semuanya di atas ialah kenyataan
bahwa sintesa protein di otak, mielinisasi, interkoneksi ter-
gantung atas hormon tiroid yang cukup. Mengenai jumlah
minimum yang dibutuhkan perkembangan normal jaringan
ini tak seorangpun dapat menjawab hingga kini (QUERIDO
1975).
Meskipun defisiensi thyroid menghambat pertumbuhan
skelet, namun paling penting ialah maturasinya. Kerjasama
dengan GH sangat penting dalam pertumbuhan somatik ini.
Terhambatnya osifikasi epifisis merupakan gambaran khas
dari defisiensi hormon ini (KRANE 1972).
CAPITA SELECTA PENYAKIT GONDOK
Gondok pada anak.
Sebelum usia remaja biasanya gondok
kurang diperhatikan oleh pasien maupun keluarganya. Keada-
an ini pada umumnya disebabkan oleh rangsangan dari TSH
atau reaksi terhadap produksi hormon yang "
kurang
"
.
Gondok
yang non-toksik ini terdapat dalam keadaan sebagai berikut
(HA LL et al. 1974) :
· Deasiensi Iodine.
· Defek kongenital enzim yang
dipergunakan dalam
hormonogenesis.
· Defek yang didapat karena supresi oleh zat goitrogen
(obat ataupun zat dari alam).
· Thyroiditis auto immune
·Thyroiditis Riedel.
Di daerah dimana gondok bukan endemik dan bukan Iodine
sebagai sebab gondok maka terutama pada anak menjelang
dewasa (adolescents) banyak mengidap ini karena Chronic
lymphocytic thyroiditis (HUNG, 1970). Gondok tersebut da-
pat sebagai akibat hiperplasi, tumor (benigna, maligna),
kista, thyroiditis (CRYER 1976). Gondok yang halus mem-
besar, difus baik hipo atau euthyroid mengarahkan pada
suatu defek sintesa hormon (apabila bukan daerah endemik).
Gondok noduler pada anak perlu diberikan perhatian besar
sebab ini tidak biasa, kecuali karena stimulus lama dari de-
fisiensi lodine. Pembesaran yang cepat, keras, sakit, perlu
pertimbangkan tindakan bedah, mungkin suatu keganasan.
Apabila dengan scanning 1
131
didapati cold nodule, jangan
buru-buru bertindak tetapi periksa lagi dengan scanning
99m
TC
sebab zat ini memberikan gambaran jelas juga pada early trap-
ping phase yang tak terlihat pada
I
131
scanning. Sepuluh hing-
ga 20% cold nodule biasanya maligna.
Sesudah memeriksa besarnya gondok, dicatat dan sebagai-
nya, maka kita harus memperhatikan apakah kasus ini hiper,
normo, atau hipothyroid (periksalah catatan selanjutnya).
Bagi yang bukan tersangka ganas, tidak hyperthyroidi dan
sebagainya (non toksik) dan bukan kekurangan hormon,
pengobatan secara rasionil adalah memberi hormonthyroid
(pulvus, desiccated atau thyroxin) sebagai supresi TSH. Berikan
mulai sedikit demi sedikit ditingkatkan dan dievaluasi kemu-
dian.
Cermin Dunia Kedokteran No.
14,
1979
7
background image
Antithyroid drug termasuk Iodine (yang sering ada dalam
obat batuk) perlu dipikirkan (apalagi kalau anak asthmatic
hingga sering minum obat batuk), juga pada seorang anak
dengan struma non toksik.
Sebaliknya kita harus memikirkan kemungkinan tidak
adanya kelenjar gondok di leher, mungkin memang athyreotic,
atau rudimenter atau pindah tempat di daerah ductus thyroglos
sus. Klinis dilihat sebagai struma lingualis.
q
Problema hipothyroidi pada anak. Hipothyroidi dapat terjadi
postnatal, intra uterine dan sebagainya. Sebab-sebab terjadinya
kegagalan kelenjar tiroid yaitu (EVERED 1976, HALL et al
1974) :
(a).
Spontan
: · thyroiditis autoimmune
· subacute thyroiditis
· Riedel s thyroiditis
· Defisiensi Iodine
· Dyshormogenesis
· Dysgenesis (athyreosis, maldevelopment).
(b).
Induced
:· Operasi ) biasanya dalam rangka peng-
· Iradiasi ) obatan thyrotoxicosis.
· Goitrogen.
Hipothyroidi didefinisikansebagai keadaan dimana badan men
dapatkan hormonthyroid yang tidak cukup produksinya.
Meskipun demikian terdapat juga keadaan dimana bukan ke-
lenjar thyroid
yang salah melainkan jaringan perifer resisten
terhadap aksi hormon (REFETOFF et al 1 967).Hipothyroidi
disebut primer apabila sebab utama kerusakan kelenjar sendiri,
sekunder apabila hipofise tak cukup membuat TSH dan
tertier apabila kerusakan primernya dihipotalamus, dan tidak
dibuat TRH. Cara memisahkan secara klinis demikian :
semuanya dengan kadar T
4
rendah, pada hipofise maka tak
disertai kenaikan TSH sedangkan pada primer dengan kenaikan
TSH. Dengan suntikan TRH maka akan didapat kenaikan TSH
pada kelainan tertier dan tidak naik TSH-nya pada kelainan
sekunder. (EVERED 1976).
Mengenai istilah dalam buku,
"
cretinism " dimaksudkan
kegagalanthyroidsecara sempurna sejak lahir, yang sekarang
diusulkan disebut "congenital hypothyroidism" sedangkan
"cretinism
"
dalam istilah baru dimaksudkan endemic cre-
tinism ". Sedangkan
"
juvenile hypothyroidism " dimaksudkan
keadaan sama pada anak dan dewasa (adolescent) (MAZ AFE-
R
I
1974,
STANBURY
1972).
Tidak adanya hormon (H.T.) cukup selama perkembangan
mengakibatkan kelainan saraf/mental dan skelet. Adapun
tanda yang sering terlihat adalah sebagai berikut (HA MILTON
1972, EVERED 1976, MAllAFERI 1974) : respirasi berat
dan bunyi (karena lidah " besar"), tangis kasar, konstipasi,
letargi, kesukaran makan, kulit kering dan kasar, hipotermi,
bradycardi, muka sembab, garis rambut rendah letaknya,
kulit agak kekuningan, leher tebal dan hidung pesek dan
hiperbilirubinemia
yang
diperpanjang.
"
Anak manis, tidak
rewel, tidak banyak berak" demikian kata seorang ibu dengan
bangganya.
Bukti bahwa terjadinya hipothyroidi selama kehamilan dapat
dilihat pada foto tulang. Pada usia kehamilan 36 minggu
terjadi osifikasi epifisis femur bawah; 38 minggu epifisis tibia
atas; 40 minggu, epifisis cuboid kaki. Malahan ada yang
mengatakan seorang lahir dengan berat tiga kilo gram dan
tanpa epifisis tersebut di atas dapat didiagnosa sebagai
hipothyroid.Dysgenesis epifisis terdapat pula pada cretin
(HAMILTON 1972, MAllAFERI 1974, DJOKOMOELJANTO
1974).
Pada tipe juvenil maka di samping bervariasi antara cretinism
dan gejala pada dewasa, yang sangat menyolok ialah terhambat-
nya pertumbuhan linear, gangguan maturasi gonadal dan
kadang-kadang ada gangguan mental. Terhambatnya pertum-
buhan linear dan epifisis merupakan tanda dini bagi grup ini.
Pengobatan segera (berarti diagnosa sedini mungkin merupa-
kan conditio-sine-qua-non) merupakan sikap yang harus kita
anut. Keterlambatan memberikan obat dapat berakibat gang-
guan perkembangan mental yang berat, perkembangan fisik-
Urutan gejala kretin dibandingkan dengan bayi normal
G e j a
1
a
49
kretin
100 bayi
normal
Letargi
96%
0%
Konstipasi
92%
2%
Kesulitan memberi makan/BB tak naik
83%
5%
Kesulitan pernapasan
76%
6%
Kulit kering
76%
1%
Lidah tebal
67%
0%
Suara tangis/serak
67%
0%
Hernia umbilicalis
67%
8%
Ikterus neonatorum memanjang
12%
0%
Lowrey, G.H. et al.
(1958)
:"Early diagnostic criteria
of
congenital
hypothyroidism, comprehensive study
of 49
cretins". Amer. J. Dis.
Child.
96 :
131.
pun terganggu. Makin dini diberikan pengobatan substitusi
makin tertolong I.Q. anak tersebut, khususnya sebelum usia
tiga sampai empat tahun. Ingatlah bahwa proses ini merupakan
proses irreversibel (SMITH et al 1957, CRYER 1976, Di
CAGNO et al 1974, EVERED 1976, HAMILTON 1972).
Memang kerusakan somatik sedikit banyak dapat diperbaiki,
namun kerusakan cerebral ini irreversibel.
Bagi kasus congenital dan juvenile/adolescent hypothyroi-
dism maka pengobatan harus dilaksanakan seumur hidup.
Istilah myxedema ialah istilah yang dipakai untuk menun-
jukkan kasus berat dimana terlihat oedema di muka, dorsum
manus dan pedis, kulit kering dan sebagainya dan non-pitting
sifatnya.
Bagi dokter diperifer dimana sebagian besar laboratorium
belum memadai maka kiranya tepat sekali dipakai index di-
agnostik hipothyroidi BILLEWICZ.
Pengalaman kami dengan memeriksa nadi waktu tidur sangat
membantu diagnosa baik untuk hipo
maupun hiperthy-
roidi (sleeping-pulse). Cara terakhir tanpa tes yang menda-
lam adalah dengan metoda trial, yaitu ex juvantibus, dengan
memberikan pengobatan, maka terlihat perubahan membaik.
Indeks BILLEWICZ tadi dianggap positip hipothyroid bila
nilai lebih dari + 19dan jelas euthyroid bila kurang dari -24,
8
Cermin Dunia Kedokteran
No.
14, 1979
background image
Relative importance of Signs and Symptoms
in Hypothyroidism
Symptoms of recent
Score
Score
onset or increased
Pre- Ab-
S i g n
s
Pre- Ab-
in severity
sent sent
sent sent
Diminished sweat-
Slow
move-
ing
+6
-2
ments
+11
-3
Dry skin
+3
-6
Coarse skin
+7
-7
Cold intolerance
+4
-5
Cold skin
+3
-2
Weight increase
+1
-1
Periorbital
puffiness
+4
-6
Constipation
+2
-1
Pulse rate
+4
-4
Hoarseness
+
4
-6
Ankle jerk
+15
-6
Paraesthesia
+5
-
4
Deafness
+2
0
Billewicz
et al.
(1969)
: "Statistical methods applied to the diagnosis
of hypothyroidism", Quarterly J. Med.
38 : 255.
sedangkan nilai di antaranya merupakan doubtful cases.
Group ini perlu diperiksa dengan laboratorium lebih lanjut
atau mendapatkan ex juvantibus trial.
Dosis permulaan harus sedikit sebab dapat memprovosir
terjadinya gangguan jantung, dekompensasi dan sebagainya.
Bagi congenital hypothyroidism menurut SMITH et al. 1957,
dosis hingga dua tahun adalah 60 mg sehari, antara dua sam-
pai enam tahun adalah 60 -- 180 mg dan enam sampai tujuh
tahun lebih dari 180 mg sehari desiccated thyroid (Thyranon),
sedangkan meinurut SINGH et al. rata-rata 136 mg sehari.
(1972).
q
Cretinism (
"
kretin endemik
").
Kalau kita dipancing untuk
memberikan diagnosahipothyroidi karena adanya gangguan
pertumbuhan, cebol, pada kasus congenital ataupun juvenil
hypothyroidism, tidak demikian dengan endemik kretin.
Patogenesa terjadinya endemik kretin tak akan dibahas
di sini tetapi dapat dibedakan dua macam kretin endemik,
tipe nervosa dan tipe myxoedematosa. Definisi kretin endemik
kami adalah sebagai berikut : seorang yang lahir di daerah
gondok endemik, menunjukkan dua atau lebih unsur di bawah
ini : gangguan mental, gangguan pendengaran (terutama pada
frekwensi tinggi dan bilateral, dan atau kelainan neuromotorik
(gangguan bicara, mata juling, gangguan jalan, refleks meninggi
dan sebagainya). Keadaan ini dapat atau tidak disertai dengan
hipothyroidi. (DJOKOMOELJANT01974, GOSLINGS et al.
1975).
Kombinasi simptom pada
41
kasus kretin endemik
Kombinasi
n
%
A+ B+ C
26
63.4
A + B
10
24.4
A
+ C
2
4.9
B + C
3
7.3
A =
gangguan pendengaran
Djokomoeljanto,
1974.
B =
retardasi mental
C = kelainan neuromuskuler
Dari analisa data kami, dapat diambil kesimpulan bahwa
tes pendengaran dapat dipakai sebagai alat membuat diagnosa
kretin endemik type nervosa, sebab hal ini terdapat pada 92%
kasus kretinsedangkan pada non kretin hanya 2%(GOSLINGS
et al 1975).
Bahwasanya retardasi mental terdapat pada kasus kretin,
telah banyak dilaporkan dari fokus gondok endemik,seluruh
dunia (lihat monograph : Endemic Goiter, Pan American
Health Organization Publication No. 193, tahun 1969). Meski-
pun demikian belum ada hingga tahun 1974 yang melaporkan
gangguan yang ada pada segmen bukan kretin di daerah
endemik berat. Hasil studi kami mengenai ini dapat disimpul-
kan secara ringkas sebagai berikut :
· Terdapat 35% dari kretin hipothyroid tetapi pada penduduk
normal-pun terdapat 13% hipothyroidi.
· Seperti dikatakan di atas, gangguan pendengaran mengenai
hanya kretin endemik dan bukan pada segmen penduduk
normal.
· Dibandingkan dengan daerah kontrol, maka kemampuan
mental penduduk bukan kretin, lebih rendah secara ber-
makna.
· Terlihat bahwa nampaknya ada preferential secretion T
3
pada kasus-kasus berat kami.
· Bahwa penduduk
"normal
"
di daerah dengan gondok
endemik berat ternyata
"
tidak normal ".
Dengan kenyataan di atas kita sangat prihatin bahwa anak-anak
yang tidak mendapat pengobatan akan mengalami keterlam-
batan perkembangan, sebab dikatakan perkembangan mielin
masih diteruskan, juga cerebellum. Untunglah bahwa pengo-
batan dengan garam beriodine ataupun suntikan lipiodol dapat
mencegah semua tadi. Dalam beberapa hal, seperti kasus kami,
dapat terjadi perubahan dalam besarnya gondok, hilangnya
tanda hipothyroidi pada semuakasus baik kretin maupun non
kretin, metabolisme Iodine pun normal kembali. (DJOKO-
MOELJANTO dan QUERIDO, 1978, GOSLINGS etal.1975,
DJOKOMOELJANTO, akan dipublisir). Efek suntikan lipiodol
pada intelligence quotient belum selesai kami adakan, mungkin
baru tahun 1981, tetapi di luar negeri telah dilihat hasilnya
dan nampaknya ada titik terang (FIERRO-BENITEZ et al
1972 : studi preliminer dimana ditunjukkan bahwa suntikan
sesudah bulan kehamilan ke lima tidak bermanfaat, dan
suntikan pada permulaan kehamilan berefek memperbaiki I.Q.).
Studi lapangan PH
A
R
O A
H di Papua Nugini (1971) menunjuk-
kan bahwa suntikan lipiodol sebelum kehamilan mencegah
100% terjadinya kelahiran kretin endemik di sana.
Dari data di atas, jelaslah bahwa sebagai dokter
kita
tidak boleh lengah untuk membiarkan lahirnya dan tumbuh-
nya bayi/anak abnormal, sebab bagaimanapun juga ia merupa-
kan beban masyarakat.
Pada masa kini pemerintah meiodir garam dengan kadar
40 ppm. Ini dianjurkan bagi semua penduduk dan semua
produsen garam, termasuk pengusaha garam rakyat.
q
Hiperthyroidi.
Pada
anak sangatlah jarang. Biasa-
nya terjadi sesudah usia dewasa. Kami baru melihat satu kasus
yang mulai pada usia 12 tahun dan waktu ini penderitanya
sedang dioperasi. Pada usia muda biasanya tidak sulit membuat
diagnosa sebab hampir sama dengan di textbook gejala-gejala-
nya. Sebagai prinsip perlu diberitahukan bahwa mulai dengan
Cermin Dunia Kedokteran No.
14, 1979
9
background image
antithyroid drug dahulu, dipertahankan selama dua tahun
atau lebih dan kemudian dihentikan pengobatannya, apabila
relaps maka dapat dipikirkan tindakan operasi dan jangan
radioactive iodine.
Neonatal hyperthyroidism dapat terjadi pada anak yang
lahir dari ibu yang menderita Basedow (Graves) yang masih
aktif. Sebenarnya yang lewat plasenta di sini ialah LATS.
Gambaran kliniknya : keringat , exophthalmus, tachycardi,
gelisah, vasodilatasi kulit, serta gondok berbising. Tindakan
segera perlu, yaitu pemberian Iodine tetes (Lugol), PTU atau
neomercazol. Umumnya ini self-limiting.
(HA L L
et al. 1974,
ROBARDS
et al.1973,
EVERED
1976) Sleeping pulse penting
sekali untuk mengikuti hasil pengobatan.
RINGKASAN DAN ANJURAN
Fisiologi kelenjar gondok serta perkembangan kelenjar fetal
dibahas agak mendalam guna mengerti akibat yang akan terjadi
apabila terjadi gangguan intrinsik, gangguan dari luar pada
pembentukan kelenjar itu sendiri ataupun pembentukan hor-
mon. Dari perkembangan susunan saraf pusat yang ternyata
thyroid hormone dependent ini, dapat diambil kesimpulan
bahwa hormon thyroid harus cukup selama bayi dikandung.
Adanya kekurangan hormon, terutama pada masa vulnerabel
memberikan gangguan perkembangan mental,neurologik atau
somatik tergantung pada fase mana sel ssp yang paling ter-
hambat waktu itu. Irreversibilitas keterlambatan ssp ini meng
haruskan kami membuat diagnosa dan memberi pengobatan
secepatnya dan setepatnya.
Klinik perlu diketahui tanda-tanda
hipothyroidi, baik
congenital, juvenile atau adolescent. Demikian juga kretin
endemik. Perbedaannya pada kretin endemik ini merupakan
fakta irreversibel dan hanya dapat dicegah dengan program
menyeluruh.
Usia tiga tahun merupakan usia kritik dimana sesudah ini,
kasus hipothyroidi tidak mempunyai lagi kesempatan untuk
lebih baik mental performance-nya atau kelainan sarafnya.
Bagikasushipothyroidi(bukan karena defisiensi Iodine) apapun
sebabnya harus diberikan hormon substitusi selama hidup, se-
dangkan kasus karena defisiensi Iodine diberi Iodine.
KEPUSTAKAAN
1. BALAZS R :
Effects of hormones and Nutrition on Brain
Development.
Human Development and The Thyroid Gland,
Relation to Endemic Cretinism. Ed. JB Stanbury, RL Kroc.
Plenum Press 1972.
2. BARGMAN GJ, GARDNER LI : Experimental production of
otic lesion with antithyroid drugs. ibid. 305.
3. BALAZS R : Post natal development of rat brain : effect of
thyroid state. Brain Development and Thyroid Deficiency.
Simpo-
siumAmsterdam,
1975. North Holland Pub. Co.
4. COSTA A :
Embryogenesis of the ear and its central projection.
Human Development and The Thyroid Gland. Its relation to
Endemic Cretin. Ed. JB Stanbury, RL Kroc. Plenum Press 1972.
5. CRYER PE :
Diagnostic endocrinology.
Oxford University Press.
London, 1976.
6. CZERNICHOW P : Development of Thyroid function and regulation
in human fetus Brain Development and Thyroid Deficiency.
Simposium. Amsterdam.
1975. North Holland Pub. Co.
7. DELANGE F, CAMUS M, ERMANS AM.
J
Clin Endocrinol Met
34 : 891, 1972.
8. DICAGNO L, RAVETTO F, COLUMNA F : Fattori condizionanti
il destino pischico dell atiroidismo congenito,
Min Ped
1974 : 709.
9. DJOKOMOELJANTO R : The effect of severe iodine deficiency, a
study on a population in Central Java Indonesia.
Thesis.
Diponegoro
University, Semarang, Indonesia. 1974.
10.DJOKOMOELJANTO R, BOEDHI-DARMOJO, GOSLINGS BM,
VAN HARDEVELDT C, HENNEMANN G, QUERIDO A, SMEENK
D : The effect of decompensated iodine deficiency to a populati-
on in Central Java, Indonesia.
European Soc Clin Investigation,
Proceedings,
1974.
11.DJOKOMOELJANTO R and QUERIDO A : Severe iodine defi-
ciency : its consequences for health.
6
th Asia and Oceania
Congress of Endocrinology,
Singapore 1978.
12.DJOKOMOELJANTO R and QUERIDO A. : Prophylaxis with
lipiodol injection : an experience from Central Java, Indonesia.
ibid.
no. 200.
13.Dobbing J : Normal brain development. Brain Development and
Thyroid Deficiency.
Simposium A msterdam
1975.
14. Dobbing J and SANDS J : The later development and brain and its
vulnerability.
15.DOBBING J and SANDS J : Vulnerability of developing brain. IX.
The effects of nutritional growth retardation on the timing of the
brain growth spurt.
Biol Neonate
19 : 363, 1971.
16. DUNN JT :
The effect of thyroid hormones on
the protein
synthesis in the central nervous system of
developing mammals.
Human Development and the Thyroid Gland. Relation to Endemic
Cretin. Ed. JB Stanbury, RL Kroc, Plenum Press. 1972.
17.DUSSAULT JH, HOBEL CJ, DI STEFANO III, JJ ERENBERG, A
FISHER A : Triiodothyronine turnover in maternal and fetal sheep.
Endocrinology
90 : 1301,1972.
18.EVERED DC :
Disease of the thyroid gland.,
Pitman Medical, 1976.
19.FIERRO BENITEZ R, RAMIREZ I, SUAREZ J : Effect of lodine
Correction in early fetal life on intelligence quotient. A preliminary
report. Human Development and the Thyroid Gland. Relation to
Endemic Cretinism. Ed. JB Stanbury, RL Kroc. Plenum Press, 1972.
20.FISHER DA :
Thyroid function in the fetus.
Perinatal thyroid
Physiology and Disease. Ed. DA FISHER and GN BURROW,
Raven Press New York, 1975.
21.GOSLINGS BM : Placental transfer of thyroid hormones. Brain
Development and thyroid deficiency.
Simposium Amsterdam
1975,
a North Holland Publ. Co.
22. GOSLINGS BM, DJOKOMOELJANTO R, HOEDIJONO H, SOEPAR
DJO, QUERIDO A : Studies on the hearing loss in a community
with endemic cretinism in central Java, Indonesia.
Acta Endocrino-
logica 78 :
705, 1975.
23.HALL R, ANDERSON JA, SMART GA, BESSER M :
Fundamentals
of Clinical Endocrinology.
ELBS Pitman Medical, 1974.
24. HUNG W :
Goiters in euthyroid adolescents. .
Adolescent Endocrino
logy. Ed. FP Heald and W HUNG, Butterworths London, 1970.
25. HAMILTON W :
Clinical pediatric endocrinology..
Butterworth Co.
1972.
26.KRANE SM :
Skeletal system.
The Thyroid. 3rd ed. Ed. SC
Werner and SH Ingbar. Medical Dept. Harper and Row pub. 1971.
27.MAllAFERI EL :
Endocrinology.
a review of clinical endocrino-
logy. Hans Huber Publ. Bern Stuttgart Vienna, 1974.
28. MACKENZIE JM : A reconsideration of a thyroid stimulating
immunoglobulins as the cause of hyperthyroidism in Graves
Disease.
J Clin Endocrinol Met
42 : 778, 1976.
·29. PATEL JC,PHAROAH P OD ,HARNABROOK R W, HETZEL B S
:
10
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
background image
Serum triiodothyronine Thyroxin and TSH in Endemic Coiter : a
comparison of Goitrous and non goitrous subjects in New Guinea.
J. Clin Endocrinol Met 37 : 783, 1973.
30. PHAROAH P 0 D, BUTTFIELD I H, HETZEL B S: Neurological
dainage to the fetus resulting from severe iodine deficiency during
pregnancy. Lancet I: 308, 1971.
31.RE
F
ETOFF S, DEWIND LT, DEGROOT LJ : Familial Syndrome
Combining Deaf Mutism, Stippled Epiphyses, Goiter and Abnor-
mality High PBI : Possible Target Organ Refractoriness to Thyroid
Hormone. J Clin Endocrinol Met 27 : 279,1967.
32.SALOMON DH, KAREN E, KLEEMAN BA : Concepts
of
Pathogenesis of Graves Disease. Advances in Internal Medicine,
vol. 22 Ed. GH. Stollerman, Year Book Med Publ Chicago 1976.
33.SINGH SANT P, FELDMAN EB, CARTER AC: Desiccated
thyroid and levothyroxin in hypothyroidism -- comparison
in
replacement therapy.New YState JMed 1975 : 1045.
34.SMITH DW, BLIZZARD RM, WILKINS L : The mental
prognosis
in hypothyroidism of infants and childhood, Pediatrics, 19
1011,
1957.
35.TABUCHI, MIZUNO M, TSUYUGUCHI M, SAKAMOTO M:
Development of Thyroid and its response to TRH in the human
fetus. Proceedings 6th Asian
Obstetrics and Gynegology,
Kuala
lumpur, 1974.
INTRODUCTION
When one thinks of cancer, one thinks of a highly malig-
nant tumor, that ordinarily kills the patient within a few years.
However, cancer of the thyroid gland generally does not con
firm to the pattem of carcinoma elsewhere and may run an ex
traordinarily course over a period of 20 or 30 years, without
causing serious symptoms.
Moreover the close relationship of benign tumors, grossly
and histologically, to low grade malignant tumors and tho dif-
ficulty experienced by clinicians and pathologists alike in dis
tinguishing adenoma from a carcinoma, has resulted in con-
fusion as to what constitute a cancer of the thyroid.
The litterature has mentioned such terms as lateral aberrant
thyroid and benign metastasizing goiter, to describe the low
grade carcinomas, which are so small or so benign in appearan-
ce that the primary tumor is not recognized. Nevertheless,
those tumors are metastasizing carcinoms and because they
may cause death, if not properly treated, they should deserve
serious consideration (Soetomo Tjokronegoro, 1934).
There are also thyroid tumors described as a typicaladeno-
rna or hyperplastic adenomas, wlth out showing any tendency to
invade bloodvessel or the surrounding tissue. These tumors
may recur locally if not completely removed and ultimately li-
ke other benign tumors possibly may become rnalignant. In
this study, those tumors are not included as malignant tumors
Only tumors showing invasion of bloodvessel or the usual ma-
nifestationa of malignancy are conaidared to be cancer (Warren
Meissner, 1953).
MATERIALS AND METHODS
Data are obtained by retrospective study of all thyroid di
seases, recoived by the Dept of Pathology, during a five year
period. All are re-exmined
and
reclassified
histologically,
according the International
Histological Classification of
Thyroid Tumors (Hedinger Sobin; WHO -1974 ).
The yoars 1972 - 1976 (inclusive) have been forselected
for this study, because after July 1977 a decentralisation of
the pathology servlces occur, due to the fact that several
hos-
pitals in the city of Semarang have their own pathology ser-
vices.
The thyroid speciments came from several parts of the pro-
vince of Central Java,especially from the Northern coastal area
and also frofi the Central part of Central Java. A small part,
Dibawakan pada Seminar Nasional 1 Gondok dan Kretin Endemik.
Semarang, 18 ­ 20 Desember 1978.
CANCER
OF
THE THYROID
dr Tirtosugondo and dr
Indrawijaya
Departmen of Pathological Anatomy
Diponegoro University Medical Faculty/
Kariadi Teaching Hospita
l
Semarang
Cermin Dunia
Kedokteran No. 14, 1879 l1