background image
KORTIKOSTEROID
KELAINAN MATA
dr Tjahjo Nugroho
Bagian Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang
PENDAHULUAN
Sekitar tahun 1950 Kortikosteroid mulai dikenal oleh dunia
kedokteran. Preparat Kortikosteroid (K S) terus dikembang-
kan, banyak modifikasi dan sintesa baru dari preparat ini,
sehingga saat ini K S bukan merupakan obat baru lagi. Ma-
lah ada yang menganggap bahwa K S pada keadaan tertentu
merupakan
"a
life saving drug". Memang tidak perlu disang-
kal lagi, misalnya menghadapi suatu anaphylaktik shock,
serangan asma
yang berat dan sebagainya preparat K S ini
sangat berguna sekali.
Dalam dunia farmasi preparat K S dikenal sebagai tablet,
spray, suntikan,supositoria, salep dan obat tetes.
Pada korteks Adrenal disintesa tiga macam steroid yaitu :
( i ) Oestrogen steroid ( ii ) Androgen steroid ( iii )
Kortikosteroid. Yang terakhir ini mencakup :
(1)
Hydrocortison (cortisol) yang
berfungsi sebagai
glucocorticoid dan mempunyai peran dalam mengatur me-
tabolisme karbohidrat, protein dan lemak.
(2)
Aldosteron yang berfungsi sebagai mineralocorticoid
dan mempunyai peran dalam mengatur metabolisme air dan
garam-garam.
Kerja K S pada pemakaian topikal umumnya adalah sebagai
berikut :
· anti inflamasi.
· menghambat reaksi allergi.
· mengurangi/membatasi permeabilitas membran.
· menekan terjadinya jaringan granulasi dengan jalan
mencegah proliferasi sel.
· mengakibatkan vasokonstriksi, sehingga ektravasasi se-
rum dicegah dan mengurangi oedem serta rasa gatal.
Pada pengamatan telah diketahui bahwa efek K S topikal
akan menurun bila dipergunakan dalam jangka lama (beberapa
minggu). Tetapi efek ini akan segera muncul kembali bila
digunakan preparat K S yang lain atau bila aplikasi K S
dihentikan sementara untuk kemudian dipakai lagi. Gejala
toleransi yang muncul kembali ini disebut Tachyphylaxis.
Mengingat adanya gelaja tersebut maka K S topikal sebaiknya
digunakan secara periodik dari pada dipakai secara kontinyu.
Bagaimana tentang konsentrasi suatu preparat K S pada
pemakaian topikal ? Pada umumnya dianggap bahwa preparat
dengan konsentrasi tinggi akan bekerja lebih baik dan mempu-
nyai efek yang lebih kuat.
WARNER
dan
HANSEN
menggunakan preparatbetamethasone
valerate dalam konsentrasi 0, 1% dan 1% sebagai obat kulit,
ternyata
tidak ada perbedaan respons pada pengobatan
Discoid Lupus Erythematosus.
ALLAN KUPFERMAN
dan
HOWARD
M
LElBOWIIZ
dalam
penyelidikannya dengan prednisolone acetate 0,125% dan
1 % sebagai tetes mata. Hasilnya tidak ada perbedaan yang
bermakna dari konsentrasi kedua preparat tersebut pada
cornea maupun dalam cairan humor. Juga tidak ada perbedaan
yang bermakna mengenai kemampuan untuk menekan infla-
masi pada cornea.
Untuk mengetahui obat-obat mata yang berisi K S dibawah ini
tercantum beberapa nama salep mata atau tetes mata.
Salep mata :
Tetes mata :
Cetapred (Alcon)
Adremycin (Organon )
Cortamycin (Dupa)
Cendocorton ( cendo)
Cortimycin (Medial)
Cclestone (Schering U S A)
Dellamicos (Dupa)
Cendoxitrol (Cendo)
Enpicortin (Nicholas)
Decadron ( M S D)
Kaltetracort (Kalbe)
Neocortcf (Upjohn)
Kemicort (C Erba)
Sofradex ( Roussel)
Maxitrol (Alcon)
Sterofrin ( Alcon )
Scheroson F (Schering A G)
dan lain-lain.
Terracortil (Pfizer)
Ultralan (Schering A G)
Pemakaian K S secara sistemik umumnya dimulai dengan
dosis yang tinggi, kemudian secara bertahap dosis diturunkan
sampai mencapai dosis yang menetap dan optimal atau do-
sis diturunkan kemudian terapi dihentikan. Alasan ini meng-
ingat adanya efek-efek atau komplikasi-komplikasi yang tidak
menguntungkan. Bila terjadi keracunan K S keadaan ini dise-
but Hypercorticisme atau manifestasi Cushingoid
(KORST ).
Saat ini telah banyak beredar macam-macam modifikasi
dari preparat K S yang tentunya dengan sifat-sifat farmakologis
yang berbeda-beda. Adapun perbedaan ini terutama ditekankan
pada efek anti-inflamasi dan efek retensi natrium. Untuk
mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari perbedaan efek
ini dikutipkan tabel dari preparat-preparat K S dibandingkan
dengan Hydrokortison (
PEARN).
Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978
5
background image
RELATIVE ANTI
RELATIVE SODIUM
PREPARAT
INFLAMATORY INDEX
RETAINING INDEX
Hydrocortison
1
1
Cortisone
0,8
0,8
Prednisone
4
0,8
Prednisolone
3,5
0,8
Methyl Prednisolone
5
0
Triamcinolone
5
0
Betamethasone
25
0
Dexamethasone
25
0
Fludrocortisone
15
125
Dibawah ini disusun beberapa macam tablet/injeksi K S yang ada dalam
pasaran
( 1 ) Prednisone 5 mg/Prednisolone 5 mg :
Prednison ( Soho )
Dellacorta ( Dupa )
Hostacortin ( Hoeschst )
Pehacort ( Phapros )
( 2)
Cortisone acetat 25 mg/ml : Cortone injeksi ( MSD )
( 3)
Betamethasone 0,5 mg : Celestone ( Schering USA)
( 4)
Triamcinolone4 mg : Drenacort ( Dupa )
Kenacort ( Squibb)
( 5 )
Fluocortolone : Ultralan ( Schering A G)
( 6) Dexamethasone 0,5 mg : Cetadexon ( Soho )
Corsona ( Phapros )
Cortoral ( Konimex )
Decadron ( MSD )
Decilon--C ( Westmont )
Deltafluorene ( Lepetit )
Dexanel ( Nelco )
Dexa--M ( Dexa )
Dexascheroson ( Schering A G )
Kalmethason ( Kalbe )
Oradexon ( Organon )
dan lain-lain.
KELAINAN MATA YANG MERUPAKAN KONTRA INDI
-
KASI PEMBERIAN KORTIKOSTEROID
q Trachoma.­Preparat K S akan mengakibatkan Trachoma
yang sudah tenang menjadi aktip kembali.
q
Herpes Corneae. ­Penyakit ini disebabkan oleh virus Herpes
Simplex dan K S merupakan kontra indikasi.
q
Semua kelainan cornea dimana Test Fluorescein hasilnya
positip.­ Ini berarti ada kerusakan epitel cornea. Karena K S
akan menghambat epitelisasi akibatnya kerusakan cornea akan
menjadi lebih parah.
q
Glaucoma.­ Pemberian K S pada kasus suspek glaucoma
simplex akan jelas menaikan tekanan intra okuler. Akibatnya
saraf optikus akan mengalami kerusakan dan penglihatan
menjadi kabur. Pada 92% kasus glaucoma simplex ternyata
sangat sensitip terhadap pemberian K S topikal ini.
JOHN
F
BIGGER
dkk memberikan K S topikal pada populasi
normal untuk beberapa minggu dan didapatkan perubahan-
perubahan tekanan intra okuler sebagai berikut :
· kenaikan minimal 58 %.
·kenaikan sedang 36 %.
· kenaikan maksimal 6 %.
KELAINAN MATA YANG MERUPAKAN INDIKASI PEM-
BERIAN KORTIKOSTEROID
q Juvenile Rheumatoid Arthritis.­ Penyakit ini sering mem-
berikan komplikasi Iridocyclitis/Uveitis. Efek K S pada ke-
adaan ini baik sekali.
q
Lues, Tbc, Lepra. ­ Manifestasi pada mata sebagai kerati-
tis profunda atau Uveitis. Pada keadaan ini K S dapat menekan
inflamasi, mengurangi oedem,menyembuhkan infiltrat cornea
dan mencegah terjadinya jaringan parut pada cornea.
q
Syndroma arteritiscranialis, syndroma arteritis temporalis,
Giant cell arteritis.­ Penyakit ini kebanyakan dijumpai pa-
da orang tua sekitar umur 50 tahun. Arteria temporalis me-
nebal, berbenjol-benjol dan tidak berdenyut.
Dapat menye-
babkan kebutaan yang permanen karena terjadinya thrombosis
arteria centralis retinae. Disini preparat K S perlu diberikan
segera untuk mencegah kebutaan.
q Neuritis Optica. ­ K S pada keadaan ini cepat mengembali-
kan visus yang menurun dengan jalan mengurangi oedema dan
menekan proses inflamasi pada nervus opticus.
q
Ocular Myasthenia. ­ Kasus ini sering sukar sembuh dengan
anti-cholinesterase. Dengan preparat K S gejala diplopia dapat
pelan-pelan hilang dan kadang-kadang parese/paralyse otot-otot
mata dapat disembuhkan.
(GIBBERD
dkk 1971,
FISCHER
SCHWARTZMAN
1974 ).
q
Pseudo tumor orbitae. ­ Suatu proses yang membutuhkan
ruangan di dalam orbita dan berakibat exophthalmus. Hal ini
tidak termasuk neoplasma, haematoma, granulasi spesifik
maupun banal dan endokrin exophthalmus. Banyak kasus-
kasus ini berhasil baik dengan terapi Prednison. Proptosis dapat
kembali, perbaikan pergerakan bola mata, kenaikan visus dan
perbaikan keadaan fundus mata (
JE L L IN E K
1969 ). Teta-
pi...................................pseudo tumor orbitae ini sukar didiagnosa.
Perlu difikirkan diferensial diagnosa yang luas antara lain :
thyreotoxicosis, reticulosis, tumor nasopharynx, tumor orbitae,
tumor cranium bagian depan.
KOMPLIKASI
MATA PADA PENGOBATAN DENGAN
KORTIKOSTEROID
q
Nephrotic Syndrome. ­ Pengobatan penyakit ini pada anak-
anak berhasil baik dengan K S. Tetapi dibalik keberhasilan ini
kerapkali timbul reaksi sampingan berupa posterior subcapsular
cataract. Terutama pada anak-anak dengan
manifestasi
Cushingoid.
BLACK
R L( 1960 ) meyakinkan adanya hubungan
yang pasti antara Posterior subcapsular cataract dengan K S.
LORETO
dkk mendapatkan 16 kasus cataract tersebut dari
48 penderita Nephrotic Syndrome yang mendapat pengobatan
dengan K S.
q
Pseudo tumor cerebri. ­ ( Meningkatnya tekanan intrakranial
yang benigna ). Dijumpai pada anak-anak dengan terapi K S
yang lama, kira-kira setahun dimana setelah itu terapi dihenti-
kan. Gejala yang timbul adalah : sakit kepala, penglihatan
kabur, bendungan papila N II dan kadang-kadang diplopia ka-
rena terjadi parase saraf Abducens.
q
Exophthalmus.­ Keadaan ini terjadi pada pemakaian K S
yang bertahun-tahun lamanya (
HENKES
1968 ).
q Alopecia areata.­ Kelainanini yang diobati dengan suntikan
suspensi K S intradermal setempat dapat menyebabkan ke-
butaan karena timbulnya emboli pada fundus mata. Dijumpai
tiga kasus wanita yang mendadak kabur penglihatannya
pada satu mata yang homolateral dengan tempat suntikan. Dua
wanita tadi akhirnya menderita kebutaan permanen, sedang
wanita lain visus perlahan-lahan dapat kembali lagi
(DEBRA
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 13 1978
background image
RICCIATTI ROBERT
S
LESTER ).
KESIMPULAN
Jelas sudah bahwa K S merupakan obat yang tidak boleh
diabaikan. Tetapi betapapun baiknya efek K S bagi sesuatu
penyakit, masih perlu juga diperhatikan adanya kontra indikasi
pada saat K S mutlak diperlukan. Karena yang dihadap bukan
saja satu organ tertentu, tetapi manusia secara keseluruhan.
Misalnya untuk mengobati penyakit mata dengan K S perlu
diteliti lebih dahulu apakah penderita menderita hypertensi,
diabetes mellitus, ulcus ventrikuli, tuberculosis, radang ginjal
yang berat, infeksi virus yang akut, gangguan psyche, epilepsi,
osteoporosis dan sebagainya............ dan sebagainya. Akhirnya
pada penggunaan K S perlu diusahakan :
·jangka pengobatan yang pendek.
·dosis terapi yang rendah.
·frekwensi terapi yang jarang.
·mengingat kontra indikasi.
KEPUSTAKAAN
1.
BIGGER et al : Correlation responsc with primary open angle
glaucoma and ocular corticostcroid scnsitivity.
Am J Oph 79
(
1 ), Jarr 1975.
2.
COST
W
S: Toepassing en complicaties van corticosteroid
therapie.
Ned T V G.
No :
39 1508,
1977.
3.
FORMAN et al : Reversibility of corticosteroid associated
cataract in children with the nephrotic syndrome.
Am JOph 84
( 1):75,1977.
4.
Indonesia Index of Medical Specialties. 5 ( 3 ) : 97 - 188, 191,
Oct
1976.
5.
KORST J K : De toepassing van corticostcroiden in de
rheumatologie.
Ned T V G.
40 : 1554, Okt 1977,
6.
KUPFERMAN et al : Biological cquivalence of
ophthalmic
prednisolone acetate suspensions.
Am J Oph 82 ( 1) :
109,
July 1976.
7.
PEARN J H: Use of corticosteroids in chlidhood discase.
Med Progr 3
(11) :
23,
Nov 1976.
8.
RICCIATTI et al : Topical corticosteroid therapy.
Mod Med of A.
14 ( 1 ) : 11, Jan
1978.
9.
SNEDDON I B : Clinical use of topical corticostcroids.
Med Progr 3 ( 9 ) : 39,
Sept
1976.
10.
STAAL A : Corticosteroiden in de neuralogie.
Ned T V G
18 :
786,
Mei 1976.
Sambungan dari halaman .................. 46
kin dilakukan.
Banyak lagi topik-topik menarik yang dibicarakan selama
dua hari symposium tersebut. Sebagian besar membahas seca-
ra umum keadaan darurat yang perlu diketahui oleh dokter-
dokter umum dalam tugasnya sehari-hari.
Nampaknya Panitia cukup berhasil dalam penyelenggaraan,
hal ini terbukti dari hasil questionair yang berhasil dikumpul-
kan serta langsung disajikan pada seluruh peserta waktu pe-
nutupan symposium. Dikatakan
oleh
Panitia kemung-
kinan dalam waktu dekat akan diadakan symposium serupa
yang akan membahas topik-topik kedaruratan, berhubung
luasnya bidang dan besarnya minat. q
SYMPOSIUM TUBERKULOSA MASA KINI
Pada 23 September 1978 di Surabaya telah berlang-
sung symposium Tuberkulosa Masa Kini. Symposium yang di-
selenggarakan oleh Ikatan Dokter Ahli Paru Indonesia Cabang
Surabaya ini diikuti oleh kurang lebih 150 peserta terutama
datang dari kota kota sekitar Surabaya, serta beberapa peserta
dari Jakarta.
Pada Symposium tersebut dibahas 19 naskah kerja yang di-
bawakan oleh pembicara dari Surabaya, Yogyakarta, Jakarta
dan seorang pembicara dari Perancis. Masalah yang dibahas
seluruhnya berkaitan dengan Tuberkulosis. Mulai dari Program
pemberantasan tuberkulosis di Jawa Timur, Reaksi Tuberkulin,
Isolasi kuman tbc, Aspek pathologik anatomik, Pengelolaan
penderita, Pengalaman penggunaan berbagai jenis tuberkulos-
tatika, serta berbagai aspek dari beberapa cabang ilmu kedok-
teran yang mempunyai kaitan dengan tuberkulosa.
Hal yang cukup menarik yang dibawakan oleh seorang pem-
bicara dari Jakarta adalah, antara lain dikatakan bahwa peme-
riksaan bakteriologik lebih sensitif dari
pada radiologik.
Dimana pemeriksaan bakteriologik merupakan sarana penting
dalam pengobatan tuberkulosis paru, bukan saja lebih murah
dibanding pemeriksaan radiologik tetapi juga lebih bersifat
informatif dalam segi diagnostik ; penentuan prognosa serta
penentuan gagal atau kambuhnya penyakit. Selanjutnya dika-
takan oleh pembicara bahwa evaluasi radiologi dapat me-
nyesatkan pengobatan, sehingga pengobatan yang berlebihan
atau salah pengobatan dapat terjadi. q
DOKTER BARU FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PAJAJARAN
Pada tanggal 11 Juli 1978, Fakultas Kedokteran
Universitas Pajajaran Bandung telah melantik 12 dok-
ter baru lulusan periode 1I-1978. Kedua belas dokter
baru tersebut adalah :
dr Diding Sjamsudin
dr Chusnan Dasuki
dr Kriswandi Kaswanda
dr Subagdja Nata atmadja
dr Suparman Gagan
dr Abdul Bachruman Sjukur
dr Maria Ulfah Asmuni
dr Ny Lyna Soertidewi N K
dr Ny Mathilda Ivonne I K
dr Agustine Poernomowati
dr Herman Wihandojo
dr Eddy Suhardi Sarim
Dengan demikian jumlah dokter yang telah dihasil-
kan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran
sejak berdirinya tahun 1957 sampai periode 11-1978
adalah 986 dokter. q
Cermin Dunia Kedoktcran No. 13. 1978
7
background image
GONOBLENNORREA NEONATORUM
dr Siti Tjahjono, dr Widagdo
Bagian Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
R S Dr Kariadi
Semarang
PENDAHULUAN.
Sampai saat ini Gonorrhea masih merupakan problem di
seluruh dunia, bahkan di negara-negara yang sudah sangat maju
sekalipun. Suburnya prostitusi, kurangnya kesadaran berobat
sampai sembuh; kurangnya pengertian masyarakat serta
adanya phenomena pingpong mempersulit pemberantasan
gonorrhea. Malangnya penyakit ini bisa menyebar ke mata,
bahkan juga mengenai mata bayi-bayi yang baru lahir.
Penyakit ini termasuk golongan oculo-genital disease
yakni penyakit dari tractus genitalis yang dapat menyebar
ke mata. Lebih lanjut dapat merusak cornea dan lebih ke
dalam lagi menyebar ke rongga orbita berakibat menurunnya
visus bahkan kebutaan total.
Berbagai usaha telah diambil guna melindungi mata bayi-
bayi yang baru dilahirkan dari penyakit ini, namun masih
didapatkan beberapa kegagalan.
GEJALA KLINIK
Gonoblennorrhea neonatorum adalah conjunctivitis puru-
lenta yang disebabkan Neisseriagonorrhoeae. Kuman-kuman
yang berada pada jalan lahir menyebabkan infeksi pada mata
bayi yang baru dilahirkan. Masa inkubasi menurut MAY adalah
12 jam sampai tiga hari, sedang menurut DUKE ELDER
adalah satu sampai tiga hari.
Pada penyakit ini dikenal beberapa stadium :
q
Stadium infiltrasi. -- Setelah masa inkubasi, mata terlihat
bengkak dan merah, palpebra sangat oedematous dan tegang.
Untuk dapat melakukan pemeriksaan sering mata harus kita
buka dengan spatula. Dari rima palpebra keluar sekret
se-
rous/sero-sanguinus, sedikit purulent. Kelenjar lymphe preau-
riculair dapat pula membengkak, bahkan dapat sampai timbul
supurasi. Suhu tubuh naik. Pada preparat hapus sekret mata
yang dicat dengan
pewarnaan Gram, didapatkan kuman N
gonorrhoeae dan erythrocyt.
q
Stadium blennorrhea . -- Setelah lima hari supurasi makin
menghebat dan sekret menjadi purulent. Pada saat ini mudah
timbul ulkus cornea karena epitel cornea rusak disana-sini
disertai tanda-tanda nekrosis. Bila keadaan ini dibiarkan tanpa
pengobatan, terjadilah ulkus cornea perforatus dan kuman
mulai masuk ke dalam bola mata dan mengakibatkan endoph-
thalmitis. Kuman bahkan dapat menjalar ke jaringan rongga
orbita dan menimbulkan tanda-tanda panophthalmitis. Ini
merupakan komplikasi terberat.
Pada stadium ini pemeriksaan preparat hapus sekret mata
akan dijumpai kuman N gonorrhoeae serta leucocyt p m n.
q
Stadium penyembuhan.-- Pembengkakan mulai berkurang,
nyeri berkurang, discharge akan menghilang dalam waktu
dua sampai tiga minggu akan tetapi cornea sudah mengalami
kehancuran total dan timbul jaringan parut sedangkan con-
junctiva tetap merah dan tebal sampai beberapa minggu.
Diagnosa gonoblenorrhea neonatorum ditegakkan dengan
adanya gejala klinik yang tersebut diatas dan pemeriksaan
preparat hapus sekret mata yang mengandung kuman
N
gonorrhoeae.
DIFFERENTTAL DIAGNOSA
q
Inclusion conjunctivitis. -- Suatu conjunctivitis purulenta
yang disebabkan oleh Chlamidya oculo-genitale. Radang ini
sering menyerang bayi-bayi yang lahir dari ibu yang men-
derita urethritis nonspecificans. Keadaan penyakitnya tidak
sehebat gonoblenorrhea.
Terjadi conjunctivitis yang diffus
dan dapat sembuh sendiri tanpa jaringan parut atau rusaknya
cornea. Masa inkubasi adalah sekitar tujuh hari dan peme-
riksaan hapus sekret mata tidak ditemukan kuman gono-
coccus. Pada pemeriksaan scraping epithel conjunctiva di-
dapatkan inclusion bodies.
q
Dacryostenosis/dacryocystitis. Pada kelainan ini yang
menonjol adalah keluarnya sekret serous (D D dengan gono-
blenorrhea stadium infiltrasi). Mata nrocos terus menerus
dan terlihat kotor. Keadaan ini juga sering mengenai bayi.
Pada pemeriksaan hapus sekret mata tidak ditemukan kuman
gonococcus, pada spoeling canalis lacrimalis hasilnya buntu.
KOMPLIKASI
q Ulkul cornea. -- Letak ulkus umumnya di marginal, akan
tetapi dapat juga disentral. Ulkus corneae sentralis inilah yang
paling cepat mengalami nekrosis dan terjadi perforasi.
q
Endophthalmitis , Panophthalmitis. Kedua hal ini dapat ber-
akhir dengan kebutaan total.
PROGNOSA
Apabila penderita mendapat pengobatan yang baik pada
minggu pertama(masih dalam stadium infiltrasi), biasanya akan
8
Cermin Dunia Kedokteran No. 1 3. 1978
background image
sembuh sempurna tanpa bekas. Sedangkan bila pengobatan
pada minggu kedua maka penyembuhannya akan disertai
leucoma atau leucoma adhaerens. Apabila pengobatan baru
diberikan pada minggu ketiga, maka walaupun dapat sembuh
akan disertai kebutaan total akibat terjadinya phthisis bulbi.
Untunglah pada umumnya penderita-penderita gonoblen-
norrhea neonatorum datang berobat pada minggu pertama,
sebab perhatian orang tua terhadap bayi biasanya cukup baik
sehingga cepat mencari pengobatan.
PENGOBATAN
Gonoblennorrhea
neonatorum stadium infiltrasi dan
stadium blennorrhea sangat infeksius, sehingga perlu di
rawat dan diisolasi. Sekret harus selalu dibersihkan dari per-
mukaan mata.
Topikal diberikan tetes mata, umumnya tetes antibiotika
seperti Neosporin; Statrol; Soframycin atau Sodium penicil-
lin yang dibuat tetes mata 10.000 IU/cc. Pemberian harus
sesering mungkin, dapat 15 menit, 30 menit atau tiap jam
tergantung hebatnya proses. Pengobatan dihentikan sampai
pemeriksaan sekret mata tidak ditemukan N gonorrhoeae
lagi. Juga diberikan antibiotika secara sistemik.
PENCEGAHAN
Yang paling utama adalah pengobatan terhadap ibu bayi.
Sedang terhadap bayinya dikenal berbagai macam cara pen-
cegahan/prophylaxis.
q
Prophylaxis secara CREDE.
Usaha pencegahan ini dicetus
kan pada tahun 1881 oleh CARL SIEGMUND FRANC CRE-
DE
(1879). PadE metoda ini dipakai AgNO
3
2% satu tetes
pada mata bayi-bayi yang baru dilahirkan. AgNO
3
mempu-
nyai daya bakterisid terhadap kuman gonococcus. Cara ini
ternyata sangat efektif,
dimana timbulnya ophthalmia neo-
natorum diklinik obstetri CREDE
di Leipzig ini berhasil
diturunkan dari 7,8% menjadi hanya 0,17%.
Di Amerika, BARSAM (1958) menyelidiki jumlah kebuta-
an akibat gonoblennorrhea
neonatorum pada anak-anak
sekolah. Angka ini dibandingkan dengan jumlah bayi-bayi
yang mendapat prophylaxis CREDE pada tahun anak-anak
tersebut dilahirkan. Ternyata pada tahun 1958 didapatkan
angka 0,3%.
Silver Conjunctivitis
atau
chemical conjunctivitis
sering
terjadi pada pencegahan secara CREDE ini. Tetapi keadaan
ini menjadi jauh berkurang setelah digunakan konsentrasi
AgNO
3
yang lebih encer, yaitu 1%. Tetapi disini pelaksanaan-
nya menjadi kurang praktis sebab AgNO
3
inipun sering ber-
ubah konsentrasinya. Apabila mengalami evaporasi dan de-
komposisi oleh cahaya, konsentrasi menjadi lebih pekat dan
ini bisa menimbulkan
silver conjunctivitis
lagi. Kekurang-
praktisan dan mudah berubahnya konsentrasi AgNO
3
1 %
ini, menyebabkan pemakaian AgNO
3
1 % kurang disukai.
Untuk mengatasi ini semua telah dilakukan berbagai usa-
ha. Di negara Belanda diusahakan larutan AgNO
3
yang di
masukkan dalam ampul untuk pemakaian satu kali. Namun
perlu juga berhati-hati terhadap kemungkinan masuknya
bagian-bagian kecil gelas ke dalam mata.
Pada tahun 1976 LOENDERSLOOT mengutarakan adanya
anjuran pemakaian 10 ml larutan AgNO
3
dalam flexiole.
Larutan ini tidak akan mengendap pada dinding dan dapat
disimpan selama setengah tahun.
q
Prophylaxis dengan antibiotika.
Drug of choice adalah
penisilin, walaupun pemakaian tetes penisilin banyak yang
menentangnya. Pada percobaan-percobaan dikatakan hasil-
nya cukup baik namun sering menimbulkan hypersensitivity
dan mata menjadi kemerahan. Juga dilakukan percobaan
percobaan dengan erythromycin
(WOCHTER
dan PENNO-
YER, 1956) dengan hasil baik. MARGILETH (1757) men-
coba memakai bacitracin, sedangkan MARTINEZ dkk (1952)
mencoba efek pemakaian Terramycin dengan hasil baik.
Menurut MASSEY dkk (1976) pemakaian tetracyclin H Cl
topikal pada mata hanya mempunyai efek bakteriostatik.
Dalam bentuk salep 1 -- 2%, efek bakteriostatiknya hanya
sekitar enam jam.
Bentuk-bentuk lain lebih singkat lagi, dalam bentuk oli
1% efeknya kurang dari dua jam. Sedangkan larutan dalam
air 1% atau 2% efek bakteriostatiknya kurang dari 20 menit.
Hasil penyelidikan ini sesuai dengan pendapat BARSAM
dkk yang berpendapat bahwa pencegahan dengan AgNO
3
1 % (yang mempunyai efek bakterisid) hasilnya lebih baik
bila dibandingkan dengan cara-cara yang lain.
DATA YANG DAPAT DIKUMPULKAN DI BAGIAN MATA
FK-UNDIP/RSDK
Angka-angka gonoblennorrhea
neonatorum di Indonesia
kurang kami ketahui, juga jenis prophylaxis apa yang diguna-
kan di kota-kota lain di Indonesia ini. Sebagai ilustrasi kami
laporkan kasus-kasus gonoblennorrhea
neonatorum yang
berobat dibagian mata
F K-UNDIP/RSDK Semarang selama
empat tahun (1974 -- 1977).
TABEL 1 : JUMLAH
PENDERITA
GONOBLENNORRHEA
YANG BEROBAT DI BAGIAN MATA F K-UNDIP/
RS DR KARIADI, SEMARANG (1974-1977).
Gonoblennorrhea
Gonoblennorrhea
Th
Neonatorum
Anak
Dewasa
Juml se-
Pria
Wanita
Jumlah % Pria Wnt Jumlh
luruhnya
1974
16
17
33 (76,9%)
3
7
10
43
1975
13
10
23 (56,1%)
8
10
18
41
1976
14
20
34 ( 61,8%) 14
7
21
55
1977
15
22
37 ( 49,3%) 24
14
38
75
58
69
127 (59,4%) 49
38
87
214
Dari kedua tabel 1 dan 2 terlihat jelas
bahwa penderi-
ta-penderita gonoblennorrhea
neonatorum baik yang ber-
obat maupun yang dirawat, selalu lebih banyak dibandingkan
penderita-penderita dewasa dan anak-anak. Prosentase rata-
rata penderita neonatus yang berobat = 59,4% sedangkan yang
dirawat = 72,9% dari seluruh penderita. Ini menunjukkan
perhatian orang tua terhadap penyakit bayinya jauh lebih
besar dibandingkan penderita-penderita yang lebih dewasa,
dimana pengobatannya selalu ditunda-tunda atau bahkan tidak
berobat sama sekali. Kemungkinan lain adalah jumlah kasus
dewasa dan anak-anak memang lebih sedikit dibanding neo-
natus.
Cermin
Dunia Kedokteran
No. 1 3. 1978
11
background image
TABEL 2 :JUMLAH
PENDERITA
GONOBLENNORRHEA
YANG BEROBAT DI BAGIAN MATA F K-UNDIP/
RS DR KARIADI, SEMARANG (1974-1977).
Th
Gonoblennorrhea
Gonoblennorrhea
Jumlh
se-
Neonatorum
Anak
Dewasa
luruhnya
Pria
Wanita
Jumlah % Pria
Wnt
Jumlh
1974
3
2
5 (62,5%)
3
--
3
8
1975
13
10
23 (77,0%)
4
2
6
29
1976
12
15
27 (70,1%)
10
1
11
38
1977
10
21
31 (72,1%)
4
8
12
43
38
48
86 (72,9%)
21
11
32
118
Apabila kedua tabel tersebut kita perhatikan, tampak
bahwa penderita-penderita yang menolak untuk dirawat se-
makin sedikit. (Perlu diingat bahwa penderita-penderita neo-
natus umumnya berobat pada stadium awal, jadi harus di
rawat). Pada tahun 1974 terdapat 33 penderita neonatus
yang berobat. Dari jumlah ini hanya lima penderita yang
mau dirawat. Dalam tahun 1975 semua penderita neonatus
bersedia dirawat (23 penderita). Sedangkan pada tahun 1976
dan 1977 masih ada tujuh dan enam penderita yang menolak
dirawat. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran berobat sam-
pai sembuh sudah semakin tinggi walaupun belum memuas-
kan benar. Namun harus diingat kemungkinan penuhnya
tempat dimana penderita sementara terpaksa berobat jalan.
Dengan penerangan yang lebih intensif dan kesadaran ber-
obat yang makin tinggi, diharapkan di tahun-tahun men-
datang tidak ada penderita gonoblennorrhea yang menolak
untuk dirawat.
KEPUSTAKAAN
1. BARSAM P C: Specific prophylaxis of gonorrheal ophthalmia
neonatorum.
New
Engl
JMed
274:731-734, 1966.
2. CREDE: Report from the obstetrical clinic in Leipzig, Preven-
tion of eye inflamation in the newborn.AmJDisChild 121:3-5,
1971.
3. DUKE ELDER S:
System
of
ophthalmology
Vol-lll, part-1.
London. Henry Kimpton, 1965.
4. FORBES G B AND FORBES G M: Silver nitrate and the
eyes of the
newborn.
Am JDis
Child
121:1-3, 1971.
5. HEIDE JVD: Blennorrheae neonatorum.
Ned T Geneesk
121:1190, 1977.
6. MASSEY et al: Effect of drug vehicie on human ocular retention
of topically applied tetracycline.
Am J of Opht
81 (2):
151-156, 1976.
7. PERRERA C A:
May s
manual of the disease
of the e ye.
21 th
ed. Baltimore. William and Wilkins Coy, 1957.
DON T RISK YOUR GOOD MEDICAL REPUTATION !
Always have a few ampoules of K A L M E T H A S O N E
®
ready to save life in
emergency cases :
o ANAPHYLACTIC SHOCK
STATUS ASTHMATICUS
HEPATIC COMA
· PEMPHIGUS VULGARIS
COMPOSITION :
each ampoule contains Dexamethasone Sodium Phosphate
equivalent to Dexamethasone Phosphate .....................4.0 mg
DOSAGE:
I.V. or I.M. dose ranges from 4 to 20 mg depending on
the severity of the disease.
PRESENTATION:
Boxes of 3 ampoules of 1 ml KALMETHASONE
®
injections.
12
Cermin
Dunia Kedokteran No.
13.
1978