Sekitar separuh dari penelitian-penelitian yang dimuat dalam majalah-majalah terkenal di dunia
menggunasalahkan statistik, demikian dikutip Dr. Arini Setiawati dalam tulisannya pada nomor
ini. Mungkin sedikit mengagetkan kita, tetapi sekaligus ini juga membuka mat
a kita mengenai
sulitnya melakukan penelitian kedokteran secara benar. Itu pun baru satu aspek dari penelitian,
segi statistiknya, belum aspek lainnya. Dengan harapan mengembangkan kualitas serta kuantitas
penelitian
kedokteran di Indonesia, nomor CDK kali ini menyorot uji klinik secara khusus.
dr. Armen Muchtar mengawali nomor ini dengan membahas Prinsip Dasar Uji Klinik. Prinsip-
prinsip dasar ini harus dipahami benar-benar. Melakukan uji klinik secara sembarangan berarti
membuang biaya besar, memboroskan waktu, membahayakan subyek manusia dalam uji klinik
itu, serta hasilnya menyesatkan dokter-dokter lain yang mempercayai hasil uji tsb, sehingga akhir-
nya dapat membahayakan banyak orang.
Artikel berikutnya diajukan oleh Dr. Arini Setiawati, membahas Penggunaan dan Pengguna-
salahan Statistik dalam Percobaan klinik. Statistik memegang peranan yang sangat penting dalam
uji klinik, dalam stadium perencanaan maupun penyelesaian. Maka agar suatu uji klinik efisien dan
efektif, metoda statistik perlu dimengerti sebaik-baiknya.Dalam pendidikan pada fakultas kedok-
teran, mat
a pelajaran statistik terutama diberikan pada tingkat awal sekali dalam pendidikannya.
Maka tidak sedikit dokter yang telah lupa sama sekali mengenai cara-cara menggunakan metoda
statistik dalam mempraktekkan uji klinik. Artikel ini dimaksudkan untuk menyegarkan, sekali-
gus memperdalam pengetahuan kita akan penggunaan statistik dalam uji klinik.
Kemudian dr. Bambang Suharto dari R
D Kalbe Farma membahas titik lemah-titik lemah
dalam percobaan klinik. Kelemahan-kelemahan itu dapat ditelusuri dari (1) latar helakang dan
permasalahan yang mendorong dilakukannya percobaan klinik itu, (2) tujuannya, (3) perencana-
annya , (4) pengorganisasiannya, (5) koordinasi pelaksanaan percohaan tsb, (6) pengendalian
pelaksanaan, serta (7) penilaian (evaluasi) hasil percobaan klinik itu. Kelemahan-kelemahan itu
perlu diketahui sejak awal perencanaan suatu uji klinik, karena sekali uji klinik telah dimulai,
kelemahan tsb. sering tak dapat diperbaiki.
Uji klinik sering memerlukan banyak penderita
scbagai subyek percobaannya. Maka untuk
menyingkat waktu, kadang kala dilakukan uji klinik multi-center. Ini dihahas oleh dr. Iwan
Darmansjah. Karena pelaksanaannya melihatkan banyak orang, maka masalah organisasi sangat
menonjol. Dikatakan sebenarnya suatu uji klinik multi-center lebih sedikit menggunakan pengeta-
huan klinik daripada organisasi.
Kemudian dr. Su tan Assin membahas masalah uji klinik obat-obatan pada anak, dr. RP Sidabu-
tar membahas uji klinik dalam nefrologi hipertensi. Dan Prof. Dr. Kusumanto Setyonegoro dr.
Yul Iskandar membicarakan kesulitan percobaan klinik dalam ilmu psikiatri. Pembicaraan dalam
nomor ini diakhiri dengan masalah etika dalam percobaan pada manusia, yang terutama bertujuan
melindungi subyek-subyek penelitian yang perlu dilindungi, seperti anak-anak, wanita hamil,
penderita gangguan jiwa, serta masyarakat yang terbelakang.
Di samping pembahasan uji klinik, diturunkan juga artikel-artikel menarik tentang Survei Epide-
mikologik, Farmako-kimia, AIHA, serta kisah mengenai rauwolfia, obat kuno yang masih kita
pergunakan itu. Semoga bermanfaat.
2 Cermin
Dunia Kedokteran No. 25, 1982