Ketua investigator Morten Schmidt (Aarhus University Hospital, Denmark) menyatakan bahwa penggunaan NSAID dikaitkan dengan peningkatan risiko AF, tetapi risiko absolutnya masih kecil. Studi ini dipublikasikan pada 4 Juli 2011 di British Medical Journal mencakup 32.602 pasien yang didiagnosis AF / flutter di Denmark utara antara tahun 1999 – 2008 dan 325.918 pasien kontrol (umur dan jenis kelamin dicocokkan) dipilih dari populasi.
Dibandingkan dengan pasien kontrol yang tidak diberikan NSAID, penggunaan NSAIDs non-selektif dikaitkan dengan peningkatan risiko AF/flutter sebesar 17%. Penggunaan COX-2 inhibitor dikaitkan dengan peningkatan risiko yang lebih tinggi. Untuk pasien yang pertama kali menggunakan NSAID atau COX-2 inhibitor dalam 2 bulan pertama, ada peningkatan risiko AF yang lebih besar: 46% untuk NSAID non selektif dan 71% untuk COX-2 inhibitor, dibandingkan dengan pasien kontrol. Belum jelas diketahui mekanisme detail mengenai hal ini.
Dr. Jerry Gurwitz (University of Massachusetts Medical School, Worchester) mengatakan bahwa temuan ini memiliki implikasi yang penting karena prevalensi yang tinggi dari penggunaan NSAID ini, khususnya pada pasien lanjut usia, dan peningkatan prevalensi AF seiring dengan pertambahan usia. Dalam studi lain di Inggris, ditemukan bahwa risiko terbesar justru ditemukan pada kelompok pasien yang menggunakan NSAID dalam jangka panjang, berbeda dengan hasil studi terbaru ini. Dalam kedua uji klinis terdapat kekurangan konsistensi data terkait dosis obat dan respons pasien. Dr. Gurwitz menyatakan bahwa studi terbaru ini memiliki kelemahan dalam hal variabel perancu seperti obesitas. Dalam analisis ini Schmidt dan koleganya tidak memperoleh beberapa data klinis termasuk indeks massa tubuh.
Dari studi terbaru tersebut, disimpulkan: Penggunaan NSAID dikaitkan dengan peningkatan risiko AF. Akan tetapi hasil 2 studi terbaru masih kontradiktif. Tetapi sebaiknya tetap berhati-hati meggunakan NSAID pada pasien dengan risiko tinggi.
Image adopted from www.topnews.in