Dalam studi tersebut, sejumlah tikus betina dikelompokkan menjadi dua: kelompok diet kontrol dan kelompok diet suplemental (2,5x kontrol). Diet diberikan menjelang kawin, selama kehamilan, dan semasa menyusui. Pada masa menyusui, anak-anak tikus dari setiap kelompok diet maternal secara acak dibagi lagi ke dalam kelompok diet kontrol dan kelompok diet suplemental (n=55 pada masing-masing kelompok, baik kelompok induk tikus maupun kelompok anak tikus). Diet diberikan selama 31 minggu dan kanker kolorektal diinduksi dengan azoxymethane saat anak tikus berusia 5 minggu. Pada nekropsi, sejumlah parameter kanker kolorektal, sebagaimana tingkat proliferasi epitel kolorektal, apoptosis, dan metilasi DNA global, diukur pada anak-anak tikus.
Hasilnya, suplementasi asam folat maternal semasa kehamilan secara bermakna menurunkan risiko kanker kolorektal sebesar 64% pada keturunannya (OR 0,36; 95% CI 0,18 - 0,71; p=0,003). Anak-anak tikus kelompok diet kontrol yang diberi suplementasi asam folat pasca-penyapihan memperlihatkan multiplikasi tumor yang jauh lebih tinggi dibanding kelompok lainnya (p <0,05). Suplementasi asam folat maternal dan pasca-penyapihan berinteraksi menurunkan proliferasi epitel kolorektal (p <0,05). Suplementasi asam folat maternal maupun pasca-penyapihan secara bermakna mengurangi kerusakan DNA pada kolon dan rektum (p <0,05). Suplementasi asam folat maternal secara bermakna meningkatkan metilasi DNA global (p=0,007), sementara suplementasi asam folat pasca-penyapihan secara bermakna menurunkan metilasi DNA global (p <0,001).
Simpulannya, suplementasi asam folat dapat mencegah perkembangan kanker kolorektal pada keturunan dengan cara meningkatkan metilasi DNA global, menurunkan proliferasi epitel, dan mengurangi kerusakan DNA pada kolon dan rektum.
Image adopted from colon-cancer101.com