Sebuah pemeriksaan urin yang dilakukan secara acak, menggunakan ACR urin, menjadi metode yang disukai untuk mendiagnosis adanya mikroalbuminuria, yang merupakan faktor risiko nefropati diabetes, penyakit jantung, dan kematian. Walaupun, beberapa studi telah menilai manfaat penggunaan UAC dalam pemeriksaan urin secara acak untuk diagnosis mikroalbuminuria.
Dr.Luciana V. Viana, dari rumah sakit de Clinicas de Porto Alegre dan Federal University of Rio Grande do Sul, Porto Alegre, Brasil, dan koleganya mengukur albumin urin di antara 199 pasien dengan diabetes tipe 2. Dan pasien diikuti selama 4,1-8,8 tahun.
Suatu kurva receiver operating characteristic (ROC) dibuat untuk menentukan titik batas UAC yang bermakna untuk prediksi nefropati diabetes. Sebuah UAC = 14 mg / L diperkirakan nefropati diabetes dan prediksi untuk ini dan hasil lainnya dibandingkan dengan pemeriksaan mikroalbuminuria secara tradisional (ACR = 30 mg/g dan ekskresi albumin urin [UEA]= 30 mg/24 jam). Hasilnya frekuensi nefropati diabetik adalah sebesar 31,7% (23,5% penurunan laju filtrasi glomerulus, 13,6% makroalbuminuria); kejadian kardiovaskular baru sebesar 26,4%; dan kematian sebesar 8.50%. Dari analisis statistik dengan menggunakan Cox-analysis mengungkapkan bahwa UAC sebesar 14 mg/L akan meningkat 4,30 kali lipat risiko untuk hasil nefropati diabetik, 3,25 untuk kejadian kardiovaskuler, dan sebesar 5,51 untuk kematian.