"Sekitar satu dari lima pasien yang baru mendapat perawatan di rumah sakit kami memiliki tingkat vitamin C begitu rendah namun pasien jarang diberikan suplemen vitamin." "Kebanyakan dokter hanya tidak menyadari masalah ini," lanjut Dr Hoffer. "subklinis kekurangan vitamin C dan D masing-masing dikaitkan dengan kelainan psikologis, jadi kami memeriksa aspek ini dalam percobaan klinis kami. Baik kekurangan vitamin C dan D tersebar luas di antara pasien akut yang dirawat di rumah sakit, tapi hal ini sebelumnya tidak diketahui jika kelainan biokimia akan menimbulkan kelainan klinis yang bermakna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai apakah pemberian vitamin C dan D dapat meningkatkan keadaan mood pasien akut yang dirawat di rumah sakit. Dengan menggunakan instrumen yang tervalidasi, gambaran kondisi mood dinilai.
Para peneliti mempelajari pengaruh vitamin C (500 mg dua kali sehari) atau vitamin D (1000 IU dua kali sehari) terhadap mood para pasien akut yang dirawat di rumah sakit. Dari studi tersebut diperoleh data yang menunjukkan bahwa, suplementasi vitamin C dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi vitamin C dalam plasma dan leukosit mononuklear, serta dengan penurunan sebesar 34% gangguan mood (perasaan hati). Meskipun suplemen vitamin D dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi plasma D 25-hidroksivitamin, namun tidak ada pengaruh yang signifikan pada mood.
Dalam kesimpulannya Dr. John Hoffer, menyatakan bahwa suplementasi vitamin C mungkin bermanfaat memperbaiki mood pasien-pasien akut yang dirawat di rumah sakit.
Image adopted from www.aafp.org