Lycopene merupakan komponen nutrisional yang menjanjikan untuk mencegah terjadinya kanker prostat. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa asupan lycopene secara teratur dan tingginya kadar karotenoid dalam darah berkaitan dengan menurunnya risiko terjadi kanker prostat. Studi eksperimental menunjukkan lycopene menghambat pertumbuhan tumor prostat dan proliferasi sel kanker prostat. Bukti klinis mengenai manfaat lycopene untuk prostat terbatas pada pasien dengan kanker prostat atau neoplasia prostat intraepitelial high grade. Kemungkinan manfaat lycopene pada pasien dengan BPH yang berisiko terjadinya kanker prostat pernah disebutkan sebelumnya tapi belum diteliti.
Studi awal (acak, buta ganda, kontrol plasebo) dilakukan oleh Schwarz dan rekan-rekan yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition tahun 2008 meneliti apakah asupan suplemen lycopene menghambat perkembangan penyakit pada pasien dengan BPH, memperbaiki petanda klinis diagnostik dan gejala BPH. Empat puluh pasien dengan BPH mendapatkan suplemen lycopene 15 mg/hari atau plasebo selama 6 bulan. Yang dinilai adalah efeknya terhadap status karotenoid, petanda klinis diagnostik proliferasi prostat, dan gejala penyakit. Primary endpoint studi ini adalah penghambatan atau penurunan kenaikan kadar prostate specific antigen (PSA) dalam serum.
Setelah suplementasi selama 6 bulan, terjadi penurunan kadar PSA (sebanyak 0,74 μg/L) pada kelompok yang mendapat lycopene (p < 0,05) sedangkan pada kelompok plasebo, tidak terdapat perubahan. Kadar lycopene dalam plasma meningkat pada kelompok yang mendapat lycopene (p < 0,0001) tetapi tidak mempengaruhi kadar karotenoid lain (termasuk ß-karoten, lutein, zeaxanthin, ß-cryptoxanthin) dalam plasma. Prostat membesar pada kelompok plasebo setelah dinilai dengan trans-rectal ultrasonography (TRUS) dengan p < 0,05 dan digital rectal examination (DRE) dengan nilai p < 0,01. Prostat tidak membesar pada kelompok yang mendapat lycopene. Gejala penyakit yang dinilai dengan International Prostate Symptom Score (IPSS) membaik pada kedua kelompok dan lebih bermakna pada kelompok yang mendapat lycopene.
Kesimpulan dari para peneliti berdasarkan studi pilot ini adalah lycopene dapat menghambat perkembangan penyakit BPH dan memperbaiki gejala BPH pada pasien.
Image adopt from www.eng.ege.edu.tr