Rating : ratings 0.0%

Clevedipine, Pilihan Baru Terapi Hipertensi Emergensi

(17-Jun-2010)
Oleh: ASL
Print Preview
Clevedipine, Pilihan Baru Terapi Hipertensi EmergensiKalbe.co.id - Hipertensi emergensi merupakan spektrum klinis dari hipertensi dimana terjadi kondisi peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol yang berakibat pada kerusakan organ target yang progresif. Berbagai sistem organ yang menjadi organ target pada hipertensi emergensi ini adalah sistem saraf yang dapat mengakibatkan hipertensi ensefalopati, infark serebral, perdarahan subarakhnoid, perdarahan intrakranial; sistem kardiovaskular yang dapat mengakibatkan infark miokard, disfungsi ventrikel kiri akut, edema paru akut, diseksi aorta; dan sistem organ lainnya seperti gagal ginjal akut, retinopati, eklamsia, dan anemia hemolitik mikroangiopatik.

Dalam kondisi hipertensi emergensi, tekanan darah harus diturunkan secara agresif dalam hitungan waktu menit sampai jam.

Clevidipine merupakan obat antihipertensi intravena golongan penghambat kanal kalsium dihydropyridine (Calcium channel blocker/CCB). Seperti yang telah kita ketahui bahwa obat antihipertensi golongan CCB mempunyai 3 golongan obat di dalamnya yaitu golongan diphenylalkilamines, benzothiazepines dan dihydropyridine. Golongan dihydropyridines adalah golongan CCB yang paling selektif terhadap otot polos pembuluh darah dibandingkan golongan CCB lainnya yang non-selektif (mempunyai afinitas juga pada otot jantung). Clevidipine ini merupakan obat golongan dihydropiridine generasi 3 yang pertama tersedia dalam bentuk intravena.

Seperti yang kita ketahui, kalsium bekerja sebagai sinyal penghantar dan berperan dalam eksitasi dan kontraksi otot jantung dan otot polos pembuluh darah. Ion kalsium akan berdifusi secara pasif dari ekstraseluler ke dalam intraseluler melalui kanal kalsium. Sel otot mempunyai 2 tipe kanal kalsium yaitu tipe L dan tipe T. Kanal kalsium tipe L kadarnya relatif lebih banyak di otot polos pembuluh darah jika dibandingkan dengan otot jantung.

Clevidipine yang juga termasuk dalam golongan CCB, bekerja dengan menghambat kanal ion kalsium tipe L sehingga terjadi dilatasi arteriol perifer dan terjadi penurunan tekanan darah dan tekanan intraventrikular. Selain itu clevidipine menurunkan tekanan darah arterial dengan cara menurunkan resistensi vaskular sistemik tetapi tidak berefek pada kapasitas pembuluh darah vena.

Salah penelitian mengenai efikasi dan keamanan clevidipine pada pasien hipertensi emergensi (VELOCITY = The Evaluation of the Effect of Ultra-Short Acting Clevidipine in the Treatment of Patients with Severe Hypertension) diterbitkan dalam jurnal American Journal of Health-System Pharmacy bulan Mei 2010. Penelitian dengan disain open-trial, single-group, uji klinis fase III ini mengambil sampel sebanyak 126 pasien hipertensi emergensi. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian clevidipine butyrate dengan laju infus 2 mg/jam dan disesuaikan sesuai kebutuhan dengan penambahan dosis 2 kali lipatnya setiap 3 menit sampai target tekanan darah sistolik tercapai. Target tekanan darah sistolik dibuat dalam kisaran 20-40 mmHg dari rata-rata batas atas dan batas bawah tekanan darah sistolik. Outcome yang dinilai adalah persentase dari pasien yang mencapai target tekanan darah dalam 30 menit setelah pemberian clevidipine inisial, perubahan frekuensi denyut jantung selama 30 menit pemberian clevidipine, dosis clevidipine yang dibutuhkan, proporsi dari pasien yang berhasil diganti menjadi terapi oral dan waktu (menit) mencapai target tekanan darah sistolik dalam kurun waktu 30 menit tersebut.

Hasil penelitian ini adalah sebanyak 88,9% pasien mencapai target tekanan darah sistolik dengan waktu rata-rata pencapaian target tekanan darah sistolik adalah 10,9 menit. Penggantian terapi (switch therapy) menjadi terapi antihipertensi oral dalam waktu maksimal 6 jam pasca penghentian terapi clevidipine tercapai pada 91,3% pasien.

Selain itu efek samping pemberian clevidipine yang ditemukan adalah sakit kepala (6,3 %), mual (4,8%), rasa tidak nyaman di dada (3,2%) dan muntah (3,2%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah clevidipine mempunyai efikasi yang baik sebagai antihipertensi intravena dengan profil keamanan yang cukup baik untuk terapi hipertensi emergensi.

Kesimpulan
  1. Hipertensi emergensi adalah kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol yang berakibat pada kerusakan organ target yang progresif.
  2. Dalam kondisi hipertensi emergensi, tekanan darah harus diturunkan secara agresif dalam hitungan waktu menit sampai jam.
  3. Clevidipine merupakan obat antihipertensi intravena golongan penghambat kanal kalsium dihydropyridine (Calcium channel blocker/CCB) yang bekerja menghambat kanal kalsium tipe L yang lebih dominan di arteriol.
  4. Clevidipine bekerja mendilatasi arteriol perifer tanpa terjadi dilatasi vena sehingga curah jantung dapat dipertahankan,
  5. Clevidipine mempunyai efikasi yang baik untuk terapi hipertensi emergensi dengan profil keamanan yang dapat ditoleransi dengan baik.

Bookmark and Share

Related Articles:

http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/captensin_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/vbloc_(120x50)
Calendar of Events