Rating : ratings 0.0%

Zotepine : Respon minggu pertama sebagai prediktor perbaikan minggu ke-4

(17-Mar-2010)
Oleh: TMB
Print Preview
Zotepine : Respon minggu pertama sebagai prediktor perbaikan minggu ke-4Kalbe.co.id - Dari panduan penatalaksanaan yang ada, seperti dari American Psychiatric Association’s Practice Guideline fo the Treatment of Patients with Schizophrenia, menganjurkan kepada para klinisi untuk sebaiknya melakukan pengawasan terhadap respon pemberian terapi minimal 3 – 4 minggu sebelum dilakukan peningkatan dosis ataupun penggantian terapi. Indetifikasi terhadap pasien-pasien yang tidak memberikan respon terhadap antipsikotik yang dilakukan pada waktu yang lebih awal akan mencegah penggunaan antipsikotik yang tidak efektif sehingga akan mencegah efek samping yang mungkin akan terjadi, menurunkan waktu perawatan di rumah sakit, dan tentunya akan mengurangi beban pembiayaannya. Dari meta-analisis yang ada menunjukkan bahwa dampak klinis pengguaan antipsikotik pada minggu pertama biasanya memberikan hasil yang lebih baik daripada 2 – 3 bulan selanjutnya.

Zotepine, yang merupakan salah satu antipsikotik atipikal, dari studi yang ada menujukkan bahwa salah satu hasil yang ada memberikan dampak dimana perbaikan gejala positif pada 2 minggu pertama dari pemberian zotepine ini dapat digunakan untuk memperkirakan perbaikan gejala pada minggu selanjutnya.

Dalam studi ini dilibatkan sebanyak 135 pasien skizofrenia akut (berdasarkan DSM-IV), yang diberikan  terapi zotepine dengan dosis 150 mg/ hari selama empat minggu. Derajat perbaikan gejala-gejala psikopatologi dinilai setiap minggu dengan menggunakan BPRS (Brief Psychiatric Rating Scale) dan subklasnya untuk parameter gejala positif, negatif, maupun gejala-gejala secara umum yang terjadi. Definisi perbaikan ataupun respon klinis yang digunakan adalah jika terjadi perbaikan ataupun penurunan derajat gejala yang dinilai dari parameter yang dipakai  (dalam hal ini BPRS) yaitu sebesar 20% pada minggu ke-4.

Hasil dari perhitungan parameter tersebut selanjutnya dilakukan perhitungan statistik. Dalam studi tersebut sebanyak 100 subyek dapat menyelesaikan penelitian dan memenuhi persayaratan untuk dilakukan uji statistik, sebanyak 35 drop out dikarenakan tidak kooperatif (13 pasien), 10 pasien mendapatkan haloperidol ataupun dosis zotepin dinaikkan, sedangkan sebanyak 12 pasien mengundurkan diri dikarenakan adanya efek samping,  diantaranya adalah: ngantuk, asthenia, dan pusing. Dan dari 100 subyek memberikan respon terhadap perbaikan BPRS mulai pada minggu pertama setelah pengobatan zotepine ini dan perbaikan BPRS pada minggu pertama secara bermakna lebih baik daripada minggu ke-2 (p < 0,001). Respon perbaikan BPRS pada minggu ke-4 terjadi pada sekitar 78%, sedangkan sisanya merupakan kelompok yang tidak memberikan respon (non-reponder). Perbaikan BPRS pada minggu pertama ini ternyata dapat dipakai sebagai prediktor perbaikan gejala pada minggu ke-4 dengan sensitivitas sebesar 77% dan spesifitas sebesar 77%, sedangkan perbaikan pada minggu ke-2 jika digunakan sebagai prediktor perbaikan gejala pada minggu ke-4 mempunyai derajat sensitivitas sebesar 83% dan spesifitas sebesar 91%.

Dalam jurnal tersebut disimpulkan bahwa, perbaikan gejala-gejala positif yang terjadi pada minggu ke-2 dengan pengobatan zotepine dapat digunakan untuk memperkirakan perbaikan gejala hasil pengobatan pada minggu ke-4.

Bookmark and Share
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/Durolane-120x50
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/banner_default_120x50
Calendar of Events