
Kalbe.co.id - Studi penelitian mengenai kaitan Folat dan homosistein dengan keadaaan depresi, dilakukan di Jepang sebagaimana yang dipublikasi E
uropean Journal of Clinical Nutrition, Januari 2010 menunjukkan adanya kaitan kadar folat yang rendah dengan gejala depresi pada pria di Jepang.
Sebagai latar belakang penelitian, bahwa folat dan homosistein mempunyai peranan terhadap keadaan depresi, namun hasil studi epidemiologi terhadap keadaan depresi sering tidak konsisten, karenanya secara obyektif, studi penelitian ini untuk mengklarifikasi hubungan antara konsentrasi folat dan homosistein dalam serum dan gejala depresi, khususnya pada orang dewasa di Jepang.
Metode studi dengan menggunakan data cross-sectional terhadap 530 orang karyawan terdiri dari 313 pria dan 217 wanita, berusia 21- 67 tahun , yang berpartisipasi dalam survei kesehatan selama periode checkup. Gejala-gejala depresi mengunakan skala dari
the Center for Epidemiologic Studies Depression (CES-D). analisa
Logistic regression diperlukan untuk memperkirakan odds ratio dari gejala depresif yang disesuaikan dengan variabel potensial lainnya yang saling berhubungan.
Hasil studi, secara total sejumlah 113 pria (36,1%) dan 79 wanita (36,4%) mempunyai gejala depresif. Kadar folat serum yang lebih tinggi berhubungan dengan penurunan prevalensi dari gejala depresif pada pria.
The multivariate-adjusted odds ratios (95% CI) dari gejala depresif untuk kuartil terendah sampai tertinggi dari folat dalam serum masing-masing 1 (reference), 0,53 (0,27–1,03), 0,33 (0,16–0,68) dan 0,51 (0,25–1,03) (P=0,03). Dengan hasil temuan ini, diketahui adalah hubungan yang positif antara kadar folat dan homosistein dalam serum serta gejala depresif pada pria (P=0,06). Sedangkan pada wanita , baik folat dan homosistein tidak berkaitan dengan gejala depresi.
Kesimpulan penelitian menemukan bahwa kadar folat dalam serum yang rendah berkaitan dengan peningkatan prevalensi dari gejala depresif pada pria di Jepang.