Rating : ratings 0.0%

Aspirin Diragukan Efektifitasnya Sebagai Prevensi Primer Kejadian Kardiovaskular Pasien Diabetes

(05-Feb-2010)
Oleh: YYA
Print Preview
Aspirin Diragukan Efektifitasnya Sebagai Prevensi Primer Kejadian Kardiovaskular Pasien DiabetesKalbe.co.id - Sebuah metaanalisis yang dilakukan oleh dr. Giogria De Berardis dan rekan dari Consorzio Mario Negri Sud, Maria Imbaro, Italia, memperlihatkan bahwa menfaat pemberian aspirin sebagai terapi pencegahan primer terhadap kejadian kardiovaskular pada pasien-pasien diabetes melitus hingga kini belum jelas benar.
    
De Berardis dan rekan mengingatkan bahwa hampir semua guideline merekomendasikan pemberian aspirin sebagai terapi pencegahan primer kejadian kardiovaskular pada pasien-pasien diabetes. Pasien-pasien diabetes adalah kelompok pasien dengan risiko tinggi kejadian kardiovaskular, sehingga pemberian aspirin bermanfaat bagi pasien-pasien diabetes. Namun dalam kenyataannya, manfaatnya tidaklah sebesar yang diharapkan.
    
Dr. Giogria De Berardis dan rekan melakukan sebuah tinjauan terhadap data-data penelitian yang membandingkan efektifitas aspirin dengan plasebo (atau tanpa aspirin) pada pasien diabetes tanpa penyakit kardiovaskular. Pada saat semua data dibandingkan satu sama lain, para ahli tidak menemukan perbedaan yang bermakna secara statistik antara kelompok yang diberikan diterapi aspirin dengan kelompok plasebo (atau tanpa aspirin), dalam hal risiko kejadian kardiovaskular, kematian kardiovaskular, kematian karena semua sebab, infark miokard atau stroke. Bila dibandingkan berdasarkan jenis kelamin, pemberian aspirin pada pria tampaknya mengurangi risiko infark miokard sebesar 43%, namun tidak terjadi penurunan secara bermakna pada wanita.

Para ahli menambahkan bahwa efektifitas pemberian aspirin sebagai pencegahan primer lebih rendah dari yang diharapkan bukan hanya pada pasien-pasien diabetes, namun juga pada pasien-pasien risiko tinggi lainnya. Hal ini bukan berarti bahwa aspirin tidak efektif, namun efektifitasnya lebih rendah daripada yang diperkirakan sebelumnya dan hal ini berarti bahwa para klinisi harus memilah dengan seksama, pasien-pasien mana saja yang memiliki kemungkinan yang lebih besar mendapatkan manfaat terapi aspirin.
    
Karena efektifitas aspirin sebagai terapi pencegahan pada pasien diabetes kini kontroversial, maka para ahli kini sedang menjalankan 2 penelitian besar: A Study of Cardiovascular Events in Diabetes (ASCEND) dan the Aspirin and Simvastatin Combination for CardiovascularEvents Prevention Trial in Diabetes (ACCEPT-D). Hingga kini, hasil kedua penelitian besar tersebut memperlihatkan penurunan risiko kejadian vaskular dengan terapi aspirin, walau belum ada kepastian mengenai apakah manfaat aspirin ini sudah sesuai yang diharapkan dan dapat mengimbangi risiko efek samping perdarahan. Hingga kini, sambil menunggu hasil kedua penelitian tersebut, para klinisi lebih direkomendasikan untuk mengurangi risiko kardiovaskular pada pasien-pasien dengan cara menyarankan pada pasien untuk menghindari rokok, memberikan terapi statin, antihipertensi golongan penghambat ACE (angiotensin converting enzyme) dan mempertahankan kontrol gula darah yang baik, sebelum memberikan terapi aspirin pada pasien-pasien diabetes.

Kesimpulan :

  • Manfaat pemberian aspirin pada pasien-pasien diabetes dengan risiko kardiovaskular hingga kini masih kontroversial
  • Menunggu hasil penelitian lebih lanjut, sebelum memberikan terapi aspirin pada pasien-pasien diabetes, para ahli menyarankan agar para dokter mendorong pasien agar melakukan modifikasi gaya hidup, memberikan terapi statin, antihipertensi golongan penghambat ACE (angiotensin converting enzyme) dan mempertahankan kontrol gula darah yang baik.

Bookmark and Share

Related Articles: