Rating : ratings 0.0%

Transplan Sel Punca Berpasangan untuk Mieloma Multipel Memperbaiki Ketahanan Hidup Pasien

(21-Jul-2011)
Oleh: AAM
Print Preview
Transplan Sel Punca Berpasangan untuk Mieloma Multipel Memperbaiki Ketahanan Hidup Pasien
Kalbe.co.id - Pasien-pasien dengan mieloma multipel yang tidak pernah mendapat terapi sebelumnya terbukti dapat hidup lebih lama ketika mereka menerima transplan sel punca autolog diikuti transplan alogeneik dari saudara sekandung yang cocok, dibanding mereka yang hanya menerima transplan autolog. Temuan ini terungkap melalui sebuah studi multicenter di Eropa, yang dipublikasikan online di Journal of Clinical Oncology awal Juli 2011. Menurut laporan dalam publikasi tersebut, kemoterapi dosis tinggi (high-dose chemotherapy, HDT) plus transplantasi sel punca autolog merupakan baku emas penatalaksanaan mieloma multipel pada pasien berusia 65 tahun ke bawah. Di lain pihak, transplantasi sel punca alogeneik dengan pengondisian mieloablatif dapat menurunkan angka kejadian relaps, tetapi terkait dengan toksisitas derajat berat; meskipun demikian, regimen pengondisian lewat pengurangan intensitas ternyata mampu menurunkan derajat keparahan toksisitas dan mortalitas terkait terapi.

Sejumlah studi yang membandingkan kedua pendekatan di atas secara langsung selama ini membuahkan hasil yang berbeda-beda. Karena itu, dr. Bo Bjorkstrand dan kolega dari Karolinska Institute, Stockholm, Swedia, melakukan sebuah studi prospektif pada para pasien mieloma multipel yang tidak pernah mendapat terapi sebelumnya. Pasien-pasien tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mendapat terapi berupa HDT plus transplantasi sel punca autolog diikuti pengondisian lewat pengurangan intensitas plus transplantasi sel punca alogeneik. Kelompok kedua menerima transplantasi autolog saja. Pengelompokan pasien dilakukan berdasarkan ketersediaan donor saudara sekandung dengan HLA yang identik. Sebanyak 108 pasien masuk di kelompok autolog-alogeneik dan 249 pasien di kelompok autolog saja. Setelah 60 bulan, melalui analisis intention-to-treat, ketahanan hidup bebas-progresi aktual terungkap secara bermakna lebih baik pada kelompok autolog-alogeneik (35%) dibanding kelompok autolog saja (18%; p=0,001).

Angka ketahanan hidup keseluruhan tercatat sebesar 65% pada kelompok pertama dan 58% pada kelompok kedua (p=0,006). Mortalitas tak-terkait relaps setelah 24 bulan terlapor "cukup baik" pada kedua kelompok, 12% pada kelompok pertama dan 3% pada kelompok kedua. Di antara para pasien yang menerima pengondisian lewat pengurangan intensitas dan transplan alogeneik, insidens graft-versus-host disease (GvHD) akut derajat 2-4 tercatat sebesar 20%, sementara insidens GvHD kronis yang terbatas dan yang ekstensif terlapor sebesar 31% dan 23%. Tim peneliti menggarisbawahi bahwa kurva ketahanan hidup terus menurun pasca-transplantasi autolog tunggal, tetapi tetap stabil pasca-transplantasi alogeneik. Dengan demikian, adanya kemungkinan bahwa cukup banyak pasien yang terselamatkan dapat menjelaskan mortalitas terkait terapi dan morbiditas GvHD.   

"Kami menganjurkan agar semua pasien yang dinilai layak menjalani HDT dan memiliki saudara sekandung dengan HLA identik dipertimbangkan sebagai kandidat untuk pengondisian lewat pengurangan intensitas dan transplantasi sel punca alogeneik, sebagai bagian dari penatalaksanaan lini pertama," dr. Bjorkstrand menyimpulkan.


Image adopted from www.medindia.net


Bookmark and Share

Related Articles:

http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/kalbazen_sg_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/captensin_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/banner_default_120x50
Calendar of Events