Uji klinis acak yang membandingkan injeksi intra-artikuler hyaluronic acid vs plasebo pada Osteoartritis (OA) lutut yang memenuhi kriteria inklusi. Dilakukan analisa terhadap perubahan dari baseline (keadaan awal) pada minggu ke-4, ke-8, ke-12, ke-16, ke-20, dank e-24, menggunakan model Bayesian random effects. Dilakukan analisa multivariat untuk menyesuaikan korelasi waktu. Meta-regresi dilakukan untuk menyesuaikan confounder potensial.
Dari 54 uji klinis mencakup 7.545 pastisipan. Kualitas 54 uji klinis ini berbeda dalam berbagai aspek. Effect size (ES) menunjukkan kelebihan asam hialuronat pada minggu ke-4 (0.31; 95% CI 0.17 – 0.45), mencapai efek puncaknya pada minggu ke-8 (0.46; 0.28 - 0.65), dan setelah itu efeknya mulai menurun, dengan residu yang masih dapat dideteksi pada minggu ke-24 0.21; 0.10, 0.31). Hasil terapi hyaluronic acid konsisten pada uji klinis dengan kualitas tinggi dan pada analisa multivariate yang menyesuaikan korelasi hubungan waktu.
Injeksi hyaluronic acid intra-artikuler efektif pada minggu ke-4, dan mencapai puncak keefektifannya pada minggu ke-8, dan terdapat residu yang dapat terdeteksi pada minggu ke-24. Efek puncak dari hyaluronic acid (0.46; 0.28 - 0.65),lebih baik daripada analgesik (acetaminophen) (ES = 0,13 ; 0,04 – 0,22), NSAIDs (ES = 0,29; 0,22 – 0,35) dan COX-2 inhibitor (ES = 0,44; 0,33 – 0,55). Effect size Hyaluronic acid > 0,2 dianggap relevan / baik secara klinis untuk kasus nyeri kronik seperti OA. Hyaluronic acid dapat digunakan untuk keadaan klinis tertentu serta dapat dikombinasikan dengan terapi lain.
Image adopted from www.aafp.org