Rating : ratings 0.0%

Studi Vinorelbine plus Cisplatin utk NSCLC

(16-Jul-2010)
Oleh: IWA
Print Preview
Studi Vinorelbine plus Cisplatin utk NSCLCKalbe.co.id - Kanker paru merupakan kasus yang relatif banyak dijumpai dalam pengobatan penyakit kanker pada umumnya, baik dinegara maju dan berkembang diseluruh dunia, maka diperlukan pengobatan kemoterapi dengan regimen yang relatif aman dalam menanggulanginya. Pengobatan kombinasi untuk penderita kanker paru tipe NSCLC cukup beragam. Salah satunya adalah studi pengunaan Vinorelbine ditambah Cisplatin sebagai kemoterapi adjuvan.

Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Dr. Butts CA dan rekan-rekan dari Kanada, serta dipublikasi dalam jurnal Clinical Oncology, 2010  menunjukkan bahwa kemoterapi adjuvan dengan regimen kombinasi vinorelbine dan cisplatin cukup menjanjikan pada kanker paru.

Sebagai resume, tujuan studi didasarkan bahwa kemoterapi adjuvan dengan Cisplatin atau  Adjuvant cisplatin-based chemotherapy (ACT), saat ini diterima sebagai pengobatan standar dalam melengkapi  reseksi stadium II dan III A  tipe non-small-cell lung cancer (NSCLC). Follow up jangka panjang merupakan hal penting untuk memberikan benefit /keuntungan dan toksisitas lambat. Karenanya para peneliti ingin melaporkan data terkini dari Overall survival (OS) dan  disease-specific survival (DSS).
 
Sebagai subyek & metode studi, dilakukan pada pasien yang sudah menjalani reseksi stadium IB NSCLC secara lengkap (T2N0, dengan N = 219) atau II (T1-2N1, dengan N = 263) secara acak dengan 4 siklus vinorelbine + cisplatin serta observasi. Seluruh analisa berlandaskan pada dasar intention-to treat (ITT).

Hasil studi menunjukkan Median follow-up selama 9,3 tahun (range antara 5,8 sampai 13, 8 tahun, dan sebanyak 33 subyek, tidak dapat difollow-up), terdapat 271 kematian dalam 482 penderita yang secara acak dilakukan. Regimen kombinasi ACT menunjukkan adanya benefit / kelebihan , dengan hazard ratio [HR] 0,78 dan 95% CI, 0,61 - 0,99; P = 0,04). Terdapat hubungan interaksi antara stadium penyakit (P = 0,09; HR untuk stadium II, 0,68; 95% CI, 0,5 – 0,92; P =  0,01; sedangkan stadium IB, HR, 1,03; 95% CI, 0,7 to 1,52; P = 0,87). Regimen ACT menghasilkan perpanjangan DSS (HR, 0,73; 95% CI, 0,55 – 0,97; nilai P = 0,03). Sedangkan dengan observasi saja, dihubungkan dengan resiko kematian yang lebih tinggi pada kanker paru (nilai P = 0,02), dengan tanpa perbedaan dari penyebab kematian karena penyebab lain atau keganasan primer dan sekunder diantara kedua kelompok tersebut.  

Kesimpulan studi dengan perpanjangan follow up pada pasien yang mendapatkan kemoterapi adjuvan, menunjukkan adanya manfaat dalam hal survival (kelangsungan hidup). Tidak ada peningkatan kematian dari penyebab lain pada kelompok kemoterapi tersebut.

Bookmark and Share

Related Articles:

http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/ciplastin_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/banner_default_120x50
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/paxus_(120x50)
Calendar of Events