Rating : ratings 0.0%

Kalbe Peduli di Situ Gintung, 3 April 2009

(17-Apr-2009)
Oleh: IDS/NFA
Print Preview
Kalbe Peduli di Situ Gintung, 3 April 2009Kalbe.co.id - Indonesia berduka kembali, tepatnya hari Jumat tanggal 27 Maret 2009 yang lalu, sekitar jam 5 pagi, Tanggul Situ Gintung, yang terletak di Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, jebol. Jebolnya tanggul tersebut mengakibatkan banjir bandang yang menyebabkan sekitar 100 orang tewas dan sekitar 1.000 kepala keluarga kehilangan tempat tinggalnya atau bahkan rusak akibat kejadian tersebut. Kejadian tersebut banyak yang menyebutkan sebagai "tsunami kecil", sungguh memilikan tsunami bisa terjadi di ibukota negara. Memang benar kata pepatah yang menyebutkan Untung Tak Dapat Diraih Malang Tak Dapat Ditolak, kehidupan didepan kita adalah rahasia Allah, untung maupun malang sering datang tiba-tiba tanpa disangka. Sedih rasanya bila melihat dan membaca pemberitaan di media, rasanya ingin sekali membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah itu.

Setelah Tim GESIT dari Entrostop yang sudah melakukan kegiatan sosial selama sepekan di Situ Gintung, tim dari Hexpharm Jaya (HJ) dan Medical Kalbe Farma turut membantu meringankan korban pasca bencana pada tanggal 3 April 2009. Tim dokter Kalbe dari medical departemen yang terlibat yaitu dr. Artati, dr. Kupiya Timbul, dr. Fransiska Sally, dr. Veronica, dr. Harvian serta dr Intan Diana diundang untuk menyumbangkan tenaga dalam acara Baksos peduli Situ Gintung oleh Tim Hexpharm Jaya (HJ), dibawah koordinasi Ibu Ratih.

Tim medical Kalbe hanya berbekal tenaga dan alat-alat pemeriksaan secukupnya berangkat dari kantor Cempaka Putih sekitar pukul 8.30 WIB dan langsung bertemu dengan koordinator lapangan yang ada di Universitas Islam Nasional (UIN). Seluruh obat-obatan disediakan oleh Tim HJ. Setelah bertemu dengan Korlap, tim Medical Kalbe langsung diantar ke tempat kejadian sekaligus posko kesehatan yang secara kebetulan dipusatkan di satu tempat yaitu di belakang Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Cirendeu yang letaknya tak jauh dari tempat kejadian. Pilu, sedih, dan terpekur melihat pemandangan bekas sapuan banjir bandang akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa pada akhirnya kita bisa ikut melihat kejadian tersebut secara langsung. Sampah masih berserakan dimana-mana, lumpur dan tanahpun masih terlihat basah.

Di kiri kanan UMJ tampak didirikan beberapa posko bantuan baik makanan, tumpukan pakaian, posko kesehatan dan lain-lain. Sepertinya semua instansi baik pemerintah maupun swasta sangat peduli terhadap penderitaan masyarakat yang tertimpa musibah, terlihat pula banyak sekali rombongan yang datang membawa bantuan yang tak kunjung putus. Hingga akhirnya sewaktu rombongan kita datang ke Posko, disanapun ternyata telah ada tim kesehatan yang siap membantu masyarakat.

Akhirnya atas inisiatif Dokter Koordinator yang ada di posko, kita disarankan untuk langsung berkeliling di lapangan atau jemput bola. Seluruh dokter Kalbe dan apoteker HJ (sekitar 12 apoteker) dibagi dalam 2 kelompok, kelompok I akan dikirim ke Posko Kesehatan di Fakultas Kedokteran dan Kelompok II akan diterjunkan ke rumah-rumah tempat pengungsian para korban (door to door). Rombongan tim medis Kalbe kesulitan untuk mencari tempat yang memang sangat membutuhkan walaupun sudah dipandu oleh anggota posko. Kelompok II mengunjungi sekitar 33 kepala keluarga yang ditempatkan di rumah-rumah kontrakan sementara. Ternyata banyak sekali korban yang telah diperiksa oleh dokter dari tim medis lain yang berkeliling memantau kesehatan mereka.

Karena di Posko Kesehatan UMJ sudah banyak dokter yang melayani, akhirnya tim I Kalbe Peduli tetap melakukan kunjungan dari rumah ke rumah dan ke tempat pengungsian. Pasien yang berhasil diobati oleh Tim Baksos jauh diluar perkiraan sebelumnya, dan penyakit yang terdata adalah : ISPA, HIPERTENSI, DIARE, ASMA, Hematom ringan dan kurang tenaga. Semoga upaya dari tim Kalbe Peduli ini dapat berguna bagi masyarakat yang manjadi korban.

Bookmark and Share